Home / Sinopsis Drama Asia / Sinopsis Drama Jepang / Sinopsis Majo No Jouken (Forbidden Love) Episode 6 Drama Jepang

Sinopsis Majo No Jouken (Forbidden Love) Episode 6 Drama Jepang

Untuk menemukan kebahagiaan mereka, Michi dan Hikaru memutuskan untuk melarikan diri bersama. Ibu Hikaru bergegas mengejar mereka. Dia terhenti di depan palang kereta api, dan memohon pada Michi untuk mengembalikan Hikaru.  Sayang, mereka mengabaikannya dan memilih pergi.

Di atas kereta api Hikaru bertanya, “Apa kau baik-baik saja” Apa kau menyesalinya?” Michi: “Bagaimana denganmu?” Hikaru: “Selama saya bersamamu, Sensei.” “Saya bukan lagi seorang guru. Dan kau bukan lagi seorang murid,” ucap Michi.

Mereka turun dari kereta, dan bingung mereka harus pergi kemana sehingga Hikaru memutuskan untuk melemparkan sebuah koin – jika ekor mereka ke utara dan jika kepala mereka ke selatan. Koin yang Hikaru lempat tersangkut dan berdiri tegak, sehingga Michi bertanya apa ini artinya mereka tidak bisa pergi kemana-mana.

Hikaru mengambil koinnya dan berkata tidak — mereka sendiri yang akan memutuskan mereka pergi kemana bukan ditentukan oleh sebuah koin.

Di tempat kerja, Kiriko memberikan sebuah dokumen pada Masaru dan ternyata didalamya dia menyisipkan sebuah catatan kecil yang isinya untuk meyakinkan Masaru bahwa dia tak perlu mengkhawatirkan kejadian semalam yang terjadi diantara mereka berdua.

Ibu Hikaru datang menemui Masaru di kantornya, dan menceritakan bahwa Michi dan Hikaru telah melarikan diri. Dia meminta bantuan Masaru untuk memberitahu orang tua Michi perihal kejadian ini, dan menambahkan: “Kita berdua adalah korban disini.”

Masaru datang ke rumah sakit dan melaporkan kejadian yang sebenarnya pada ibu Michi. Masaru menceritakan bagaimana Michi tak menjawab telponnya, dan bertanya apa dia tahu kemana Michi pergi. Masaru berkata bahwa Hikaru masih dibawah umur, dan keluarganya tidak akan tinggal diam, dan kemungkinan Michi akan dituduh telah melakukan penculikan.

Ibu Michi minta maaf pada Masaru dan berkata dia sama sekali tak tahu apa-apa, dan dia merasa sama sekali tak mengenal Michi. Ibu Michi sekali lagi menundukkan kepalanya untuk meminta maaf pada Masaru atas perbuatan Michi yang meninggalkannya, dan memilih melarikan diri bersama muridnya.

Hikaru mengganti seragam SMA-nya dengan pakaian yang baru, dan memberikan waktu untuk Michi menjawab telpon dari ibunya. Di telpon, Ibu berkata bahwa dia tahu Michi sedang bersama Hikaru, dan bertanya apa yang akan ia beritahu pada orang tua Hikaru dan bagaimana dengan Masaru.

Michi minta maaf: “Tapi harus sekarang, jika saya melepaskannya sekarang, saya akan menyesalinya.” Ibu berpesan ketika Michi telah membereskan masalahnya, dia bisa memberitahunya, dan berjanji akan merahasiakan hal ini pada ayahnya. Michi menangis dan mengucapkan terima kasih dan kemudian menutup telponnya.

Hari telah menjelang malam dan mereka memutuskan menginap di sebuah hotel – sebuah kamar dengan dua buah tempat tidur. Saat Hikaru mandi, Michi sejenak merenung dan kemudian memberanikan diri untuk menelpon Ibu Hikaru.

Ibu Hikaru yang sedikit mabuk, mengangkat telponnya dan awalnya mengira Hikaru yang menelpon. Michi menolak untuk memberikan telpon itu pada Hikaru, dan berkata bahwa dia tidak mengharapkan pengampunan darinya, namun mengakui bahwa sama seperti dia yang pernah mengatakan Hikaru adalah segalanya baginya – begitu pula sekarang Hikaru adalah segalanya baginya.

Dia memperingatkan bahwa Michi telah menghancurkan masa depan dan kehidupan Hikaru, namun Michi berkata bahwa Hikaru sendirilah yang harus memutuskan masa depannya sendiri. Michi meminta pengertiannya, dan ibu Hikaru berkata bahwa pada akhirnya perasaan Hikaru padanya akan bertambah dingin dan Hikaru akan kembali padanya.

Saat Hikaru selesai Mandi, Michi segera menyudahi perbincangan mereka di telpon. Dia mencoba ingin memberitahunya siapa yang tadi dia telpon, namun Hikaru memotong ucapannya dan malah menyuruhnya mandi.

Michi dan Hikaru berbaring di ranjang mereka masing-masing, namun mata mereka tak bisa terpejam, sampai akhirnya Michi memilih berbaring di ranjang Hikaru. Hikaru berkata dia sedang memikirkan kemana mereka akan pergi, dia ingin mengetahui tentang ayahnya, dan teringat memiliki seorang paman yang tinggal di dekat Kooriyama, adik ayahnya.

Hikaru berkata dia tak tahu apa-apa tentang ayahnya kecuali lukisan ayahnya yang ada di rumah sakit. Dia memberitahu Michi bahwa Ayahnya meninggal saat dia masih berusia tujuh tahhun, dan  yang ia ingat hanyalah ayahnya sangat sibuk sampai dia jarang pulang ke rumah. Hikaru mengakui dia penasaran apa yang ayahnya pikirkan tentang dirinya, namun dia merasa sedih dia adalah putra satu-satunya ayahnya, namun tak tahu apa-apa tentang ayahnya.

“Saya juga ingin mengetahui tentang ayahmu. Saya juga ingin mengetahui lebih banyak lagi tentang dirimu,” ucap Michi.

Dr. Godai datang menemui ibu Hikaru dan tiba-tiba saja memeluknya, namun dia berusaha melepaskan dirinya. Ibu Hikaru berkata bahwa meskipun seorang dokter departemen kepala internal obat-obatan telah mengundurkan diri seperti yang diinginkan oleh Dr. Godai, dia tidak akan membiarkannya melakukan sesukanya.

Dia berkata bahwa Hikarulah yang akan mengambil alih rumah sakit ini. Dr.Godai berkata bahwa masih membutuhkan waktu yang lama bagi Hikaru untuk mendapatkan lisensi prakteknya. Dr. Godai bertanya apa Ibu Hikaru akan melindungi rumah sakit ini sampai waktunya tiba, ditambah beberapa rumor yang meragukan kemampuan ibu Hikaru untuk memimpin rumah sakit ini. Dia menambahkan bahwa ibu Hikaru tak punya pilihan lain selain bersandar padanya.

Hikaru dan Michi datang ke Kooriyama, tapi setibanya mereka disekolah tempat Paman Hikaru mengajar, mereka diberitahu bahwa Paman telah berhenti dan membangun sebuah rumah sukarela untuk para yatim di dekat Inawashiro dan tinggal disana.

Mereka datang ke alamat yang diberikan, dan setibanya disana Paman mengenali Hikaru, meskipun telah sepuluh tahun mereka tak bertemu. Michi memperkenalkan diri dan Paman bertanya, “Apa dia kekasihmu?”.

Awalnya Paman mengira dia hanya bercanda karna Michi tampak lebih dewasa, tapi setelah Hikaru berkata bahwa dia tidak sedang bercanda, Paman tak bertanya lebih banyak lagi dan mempersilahkan mereka masuk. Di tempat itu, Michi dan Hikaru disambut baik oleh Paman begitu pula anak-anak yatim disana. Michi dan Hikaru bahkan  secara sukarela mengajar anak-anak matematika dan menggambar.

Kemudian Paman dan Hikaru duduk di padang bersama sambil menyaksikan anak-anak bermain bola  bersama Michi. Paman menceritakan tentang ayah Hikaru, yang sejak kecil sudah keren dan tampan dan bermimpi menjadi seorang dokter meskipun mereka dari keluarga yang miskin. Paman berkata ayahnya berhasil masuk Jurusan Kedokteran dengan hanya sekali tes dan kemudian membuka rumah sakit, meskipun rumah sakit itu tidak sebesar sekarang.

Paman berkata bahwa Ayahnya sangat suka melukis, dan Hikaru berkata dia suka lukisan pantai ayahnya. Paman berkata bahwa ayahnya bekerja sangat keras untuk pasiennya sampai akhirnya ia jatuh sakit, dan bahwa ayahnya selalu memikirkan bagaimana membuat orang lain bahagia. Meskipun Paman berkomentar bahwa ayahnya cukup bodoh karna menurutnya ayahnya seharusnya hidup untuk dirinya sendiri dan keluarganya.

Malamnya Ibu Hikaru teringat adik suaminya sehingga ia segera menelponnya, untungnya Paman bersikap seolah-olah Hikaru tidak datang ke tempatnya. Michi mendengar perbincangan mereka di telpon, dan mereka berdua keluar untuk bicara.

Michi melihat bulan biru di atas langit dan Paman berkata itu adalah sebuah bulan yang jarang untuk dilihat, dan itulah mengapa diberikan simbol sebuah mimpi yang tidak akan menjadi kenyataan. Paman berkata baginya mimpi yang tidak akan menjadi kenyataan adalah istrinya dan putranya kembali hidup.

Paman menceritakan bahwa putranya bunuh diri lima tahun yang lalu ketika di bully, dan isrinya menyusulnya; dan itulah mengapa dia membangun sekolah ini untuk membantu menghilangkan kesedihan bagi mereka yang kehilangan keluarga mereka.

Paman memberitahu Michi bahwa dia juga memikirkan perasaan ibu Hikaru dan tidak bisa sepenuhnya mendukung mereka berdua karna memahami rasa sakit orang tua yang kehilangan anak mereka. Dan Hikaru tanpa sengaja mendengar perbincangan mereka.

Paman bertanya apa rencana mereka. “Akan sangat sukar untuk melanjutkan sebuah perjalanan yang tak berujung,” tambahnya.

Di dalam, Hikaru mengumpulkan keberaniannya dan menelpon ibunya. Dia minta maaf, dan berkata, “Saya tidak bisa menjadi seperti ayah. Saya ingin hidup untuk orang yang kucintai. Aku ingin bersama dengan orang yang kucintai. Saya ingin hidup untuk membuatnya bahagia.” Namun ibunya mendengar suara anak-anak yang memanggil Hikaru di telpon, dan ia bisa menebak Hikaru sekarang ada dimana.

Ayah telah sehat dan kembali ke rumah. Belum sempat memberitahu apa yang sesungguhnya terjadi pada Michi, bel pintu mereka tiba-tiba berbunyi. Jun datang dan bertanya pada ibu Michi tentang keberadaan Michi dan Hikaru. Jun berjanji tidak akan memberitahu siapapun, namun Ibu Michi mengaku dia tak tahu apa pun.

Jun pulang ke rumahnya, dan ia bergegas masuk ke kamarnya setelah mendapati ayahnya kembali mabuk berat sampai melempari kaca lemari mereka dengan sebuah gelas.

Kiriko menaruh curiga setelah mendapati hari ini Masaru tidak masuk kerja. Setelah bertanya pada seorang rekan kerjanya, dia segera menelpon Michi dan memperingatkan agar ia segera pergi dari sana. Sementara, Masaru akhirnya tiba di Kooriyama, setelah diberitahu oleh ibu Hikaru tentang keberadaan mereka.

Meskipun berat Hikaru dan Michi terpaksa segera berkemas untuk pergi, dan Paman mengantar mereka ke kota dengan mobilnya. Dalam perjalan Paman memberikan beberapa nasihat bagi mereka berdua.

 “Apa yang menunggu kalian berdua, adalah kesedihan dan kesulitan,” ucap Paman. Paman berkata dia berpikir tak ada hal yang tak berarti di dunia ini, dan itulah yang ia percayai sehingga membangun rumah amal itu.

Paman bercerita bahwa ketika istri dan anaknya meninggal, dia berpikir juga ingin mati, tapi dengan mempercayai hal itu membuatnya menjalani hidup sejauh ini. “Karna ada kesedihan dan kesukaran. Pada akhirnya saya berpikir akan ada kebahagiaan dan kegembiraan,” ucap Paman. Paman berpesan seberapa sulitpun apa yang akan mereka hadapi sekarang, dia berharap Michi dan Hikaru untuk tetap hidup.

Dalam perjalanan menuju kota, mobil mereka berpapasan dengan taksi yang dinaiki oleh Masaru, dan sepertinya dia mencurigai mobil itu membawa Michi dan Hikaru. Sesampainya mereka di kota dan sebelum berpisah, Paman berharap agar dia bisa kembali bertemu dengan Hikaru.

Hikaru menyempatkan diri membeli minuman sebelum berangkat pergi, meninggalkan Michi sendirian menunggu di dalam mobil. Tapi Michi tak menyangka Masaru tiba-tiba muncul d depannya. Michi menggelengkan kepalanya saat Masaru memohon agar Michi keluar dari mobilnya dan mereka kembali pulang. Sehingga Masaru terpaksa menarik Michi keluar dari mobil, dan memaksa untuk pulang bersamanya.

Michi menolak, dan Masaru terpaksa menamparnya dan memberitahu bahwa semua orang mengkhawatirkannya. Dia menarik Michi untuk ikut dengannya, untungnya ada Hikaru yang segera berlari dan mendorong Masaru.

Masaru balik memukul  Hikaru dengan bertubi-tubi dan berkata bahwa karna dirinya Michi akan kehilangan segalanya. Tapi dari belakang, Michi memukul kepala Masaru dengan kopernya, dan ia pun rebah sehingga mereka bergegas masuk ke dalam mobil.

Michi segera menghidupkan mesin mobil dan pergi. Masaru gagal menghentikan mereka, dan ia berteriak sekencang-kencangnya: “Kalian mencoba apa untuk keluar dari ini? Tidak ada tempat dimanapun bagi kalian untuk bersembunyi.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*