Home / Sinopsis Drama Asia / Sinopsis Drama Taiwan / Sinopsis Miss in Kiss Drama Taiwan Episode 1

Sinopsis Miss in Kiss Drama Taiwan Episode 1

Sinopsis Miss in Kiss Drama Taiwan Episode 1

Semua Dok Gambar LINE TV.

Episode awal Miss in a Kiss diawali dimana kita mendengar suara pohon yang tertanam di gedung sekolah Zhi Shu dan Yue Qin bernarasi bagaimana para murid-murid mulai berkumpul sambil menggantung sebuah tali berwarna merah di ranting pohon untuk mendoakan kesuksesan cinta mereka tahun ini. Suara pohon itu bercerita telah seratus tahun lamanya sejak ia pertama kali datang kesini menyeberangi laut dan tiba di tempat ini, dan tak tahu kapan semuanya dimulai ketika orang-orang mulai memanggilnya ‘Pohon Lunar Tua.”

Telah dikelilingi oleh pasangan yang jatuh cinta, si pohon mengakui dia belum merasakan tanda-tanda umur yang tua. Tapi sesaat setelah Yue Qin berjalan mendekati pohonnya sambil memegang sebuah surat cinta di tangannya untuk mengungkapkan perasannya pada Zhi Shu, si pohon berkata dia merasakan sebuah perasaan yang belum pernah dirasakannya sebelumnya.

Si pohon bertanya-tanya, “Siapa dia? Gadis mana dia? Apa itu kamu gadis paling beruntung di seluruh dunia.”

Melihat Zhi Shu kebetulan berjalan ke arahnya, Yue Qin (Esther Wu) segera menyodorkan surat pengakuan cintanya di depan teman-teman sekolahnya sambil menundukkan kepalanya dengan tersipu malu. Zhi Shu (Dino Lee) hanya menatapnya dengan dingin, dan sebelum berjalan pergi dia hanya berkata, “Tidak terima kasih.”

Yue Qin terkejut dengan penolakan kasarnya, sementara teman sekolahnya yang melihat kejadian tersebut segera merekam kejadian memalukan ini di ponsel mereka masing-masing, dan menguploadnya di Laman Pohon Rahasia dengan judul postingan ‘si badut dari kelas F ditolak oleh si jenius dari kelas A.’ Berita panas tersebut menjadi bahan pergunjingan satu sekolah dimana Yue Qian hanya menjadi bahan tertawaan.

Yue Qin bahkan menjadi bahan olok-olokan oleh teman-temannya. “Mengungkapkan cinta pada Zhi Shu? Apa kau tak punya kaca di rumah?” teriak  teman-temannya. Yue Qin sampai menutup telinganya dengan kedua tangannya karna gerah mendengar semua teman-temannya mulai mencibirnya.

Yue Qin segera datang menemui kedua sahabatnya dan menceritakan  apa yang telah terjadi. “Kau pasti sudah kehilangan akal sehatmu. Kau sudah tahu dia pasti tidak akan menerimamu,” ucap Xiao Sen, namun Yue Qin berkata dia telah menyukai  Zhi Shu selama dua tahun sehingga dia tak menginginkan tahun-tahun SMA nya berakhir tanpa Zhi Shu mengetahui bagaimana perasaannya.

Yue  Qin menceritakan pada kedua temannya bagaimana dia menghabiskan sepanjang malam untuk menulis surat cinta, dan kita melihat bagaimana susah payahnya Yue Qin mengulangi beberapa kali menulis isi surat cinta yang pas untuk Zhi Shu.

Isi surat Yue Qin berbunyi: “Saya Yue Qin dari Kelas F. Saya yakin kamu tak tahu siapa saya tapi saya tahu banyak hal tentang kamu. Karna saya tak pernah punya kesempatan bisa bicara dengan kamu, saya memutuskan menulis surat ini untuk mengakui perasaanku. Saya berharap bisa mengenalmu lebih baik. Saya suka kamu, Zhi-shu Jiang.”

Sahabat Yue Qin menyarankan Yue Qin untuk berhenti memimpikan hal yang tidak mungkin. “Memangnya kenapa kalau dia Zhi Shu Jiang?,” ucap Xiao Sen. Xiao Sen menambahkan bahwa Zhi Shu hanya siswa top yang mendapat nilai tertinggi ujian akhir semester nasional, memiliki IQ 200, tampan dan kaya dan hal itu tidak membenarkannya untuk menjadi brengsek.

Yue Qin tahu mereka berusaha membuatnya merasa lebih baik, meskipun dia menganggap dirinya memang bodoh. Yue Qin berkata seandainya dia bisa mengembalikan waktu di hari pertama mereka sekolah, dia berharap tidak bertemu dengannya.

Flashback: Zhi Shu berdiri di aula di depan para murid-murid baru termasuk Yue Qian memberikan pidato mewakili teman-temannya. Sementara dia berpidato, para murid perempuan terpukau dengan  ketampanannya tanpa terkecuali Yue Qin sampai ia mencari tahu dimana kelasnya.

Yue Qin cemberut, dan tak lama Ah Jin (Gong Yi Teng) datang bergabung. Dia telah mendengar berita yang tersebar di seluruh sekolah, dan bertanya untuk mengkonfirmasi, “Kau benar-benar menyukai pria si kutu buku seperti dia.”

Yue Qin memintanya untuk berhenti mengganggunya menanyai hal itu, namun Ah Jin berkata bahwa seluruh sekolah membicarakan tentang hal itu dan itu hampir membuatnya gila. “Dua tahun yang lalu saya telah mengklaimmu setelah pelukan cinta kita,” ucap Ah Jin.

Flashback: Yue Qin tak sengaja menabrak Ah Jin saat berlari masuk ke ruang kelas dimana dia hampir terjatuh setelah baru saja mencari kelas Zhi Shu. Untungnya ada Ah Jin yang memeganginya – namun Ah Jin tak kuat memeganginya dan pada akhirnya mereka berdua jatuh ke lantai.

Yue Qin mengingatkan bahwa dia telah memberitahunya berkali-kali bahwa itu bahkan bukan sebuah pelukan; meskipun demikian Ah Jin  memegang wajah Yue Qin dan berkata, “Perlawananmu sia-sia. Hubungan kita telah ditakdirkan oleh nasib.”

Yue Qin tak berkata apa-apa, dan memilih balik ke ruang kelas bersama kedua sahabatnya.

Pak Guru masuk ke kelas dan mengajukan sebuah pertanyaan pada kelas F apa yang terjadi pada tahun 1977. Xiao Sen maupun Mei Mei tak menjawab saat ditanyai oleh Pak Guru, dan tak satupun dari kelas F yang tahu jawabannya. Pak Guru lantas berkata, “Tidak apa-apa tidak mengetahui pelajarannya. Yang paling penting adalah menikmati pelajaran.”

Pak Guru kemudian mengeluarkan gitarnya, dan berkata apa yang terjadi di tahun 1977 adalah dia merilis album pertamanya. Ruangan kelas segara menjadi riuh, dan Pak Guru mulai menyanyi sambil memainkan gitarnya, sementara sebagian murid menutup telinga mereka.

Pak Guru berhenti bernyanyi karna mendapati seorang murid hanya asyik bermain dengan ponselnya, sehingga dia menggertak akan mengubah ponselnya menjadi pesawat kertas. Si murid minta maaf, dan Ah Jin ikut campur, berkata dengan santai, “Apa yang perlu diributkan? Pakaikan saja airplane mode sehingga itu bisa terbang!”

Ah Jin tertawa sendiri, meskipun yang lainnya menganggap ucapannya sama sekali tidak lucu. “Sebelum kau mencoba untuk bersikap keren, tolong ngaca dulu,” ucap Pak Guru. Pak Guru berkata bahwa Ah Jin selalu berusaha untuk menjadi seorang pahlawan dengan membantu orang lain dan menjunjung tinggi keadilan melalui sikap yang terburu-buru, namun dia memina Ah Jin mendengar dengan baik ucapannya: “Kau baru saja mengumpulkan dua poin angka buruk.”

Ah Jin segera ditertawai oleh teman-temannya, namun Pak Guru berkata karna final kompetisi memasak semakin dekat, dia akan memberinya kesempatan untuk menyelamatkan dirinya. Pak Guru berkata apabila Ah Jin  berhasil, dia akan membuat sekolah bangga dan mengamankan masuknya ke perguruan tinggi.

Pak Guru berkata ini jalan yang terbaik, dan memintanya untuk tidak menghabiskan waktunya pada hal yang lain.

Ah Jin berdiri dari tempat duduknya dan berkata dengan penuh percaya diri, “Saya telah memiliki sebuah rencana. Ketika saya memenangkan kompetisi memasak dan ketika mereka memintaku untuk berpidato, saya akan menyatakan cintaku pada Yue Qin. Saya akan mengalahkan Zhu Shu Jiang.”

Teman-teman sekelas segera menyoraki Ah Jin, sementara pikiran Yue Qin hanya tertuju pada Shi Zhu. “Saya tahu saya terlalu tergesa-gesa,” ucap Yue Qin dalam hatinya. “Tapi apa hebatnya tentang seorang pria yang bahkan tidak akan membaca suratku? Saya pasti telah buta. Pria tak punya hati. Saya tidak akan lagi mengejarmu. Mulai dari sekarang, kau tidak lagi ada di dalam duniaku.”

Sementara itu, di kelas A Pak Guru mengumumkan bahwa Zhi Shu telah diundang untuk mengunjungi Pusat Institut Fisika untuk mempelajari tentang penelitian mereka akan Penumbuk Hadron Raksasa.

Pulang sekolah, Ah Jin bertanya mengapa Yue Qin tampak murung, namun dia segera berhenti untuk bertanya lebih lanjut setelah diberi tanda oleh Mei Mei dan Xiao Sen untuk diam. Dia mengalihkan pembicaraan mereka, menyinggung rumah baru Yue Qin, dan menyarankan agar mereka datang untuk membuat pesta rumah baru.

Mei Mei dan Xiao Sen setuju, namun Yue Qin merasa itu bukan ide yang tepat karna rumahnya dipenuhi dengan barang-barang yang dibuat ayahnya dari bahan-bahan sisa, yang berbeda dari rumah-rumah lainnya. Yue Qin mengakui bahwa dia sebenarnya berharap tinggal di sebuah rumah dengan kerangka jendela berwarna putih, dan menginginkan rumahnya mirip dengan dongeng dari Eropa.

“Jangan khawatir, saya akan membangun satu untukmu,” ucap Ah Jin dan Mei Mei menyela ucapannya, “Ah Jin, Yue Qin tumbuh besar bersama ayahnya dan dia hanya memiliki satu putri yang berharga. Tidak akan mudah untuk menikahinya.” “Tidak apa-apa, saya bisa bergabung dengan keluarganya,” balas Ah Jin.

Mereka kebetulan berpapasan dengan Zhi Shu, sehingga Ah Jin memanggilnya dengan ketus dan mengkritiknya karna sama sekali tidak membaca surat dari Yue Qin. Zhi Shu mengabaikannya, namun Ah Jin mendorongnya ke tembok dan memperingatkan bahwa memperlakukan Yue Qin dengan semena-mena berarti memacu perkelahian dengannya.

Yue Qin berusaha menghentikan Ah Jin, namun Ah Jin bertanya dengan ketus pada Zhi Shu, “Siapa yang memberimu hak untuk melukai Yue Qin?” “Otakmu harus digoreng! Bagaimana  bisa kau menolak gadis seperti Yue Qin?” ucap Ah Jin. Sebelum pergi, Zhi Shu hanya menjawab, “Karna saya tidak suka orang bodoh.”

Setelah Zhi Shu mengatakan Yue Qin bodoh, Zhi Shu pun meninggalkannya. Ah Jin pun marah dengan Zhi Shu. Yue Qin lalu melihat fotonya yang menangis cengeng di depan pohon rahasia. Yue Qin juga melihat komentar buruk yang membahas tentang foto dirinya. Yue Qin,”Ini sungguh menggelikan. Dua tahun yang lalu. Saya sungguh jatuh cinta dengan….”.

Akhirnya, Yue Qin menuliskan komentar tentang fotonya sendiri yang dipos di laman pohon rahasia.  Yue Qin menuliskan komentar bertuliskan,”Yue Qin  sesungguhnya adalah gadis yang pintar. Dia selalu mengingat setiap hari apa yang terjadi di kantin sekolah. Dia pandai mengutuk dan main kartu. Dia selalu berpakaian lengkap. Satu hal Yue Qin bahkan dianugerahi sertifikat bayi yang sehat oleh dewan kota ketika dia masih kecil. Dia juga memenangkan kompetisi berlari bayi”.

Yue Qin menikmati menulis komentar online tersebut dan membahas lebih dalam tentang dirinya sendiri. Yue Qin lalu menuliskan kembali tulisan tentang dirinya di laman pohon rahasia, Yue Qin menuliskan,”Kepalanya sebenarnya besar ketika dia masih kecil. Dia anak yang pintar. Dia bisa menjawab pertanyaan yang dilontarkan padanya. Semua orang bilang dia adalah gadis yang pintar”. Yue Qin tertawa sendiri menuliskan komentarnya. Tak lama, ayah Yue Qin memanggilnya karena dia sudah memasak makanan buat sang anak. Tanpa disadarinya, Yue Qin mempos komentarnya itu atas namanya sendiri.

Yue Qin pun makan siang bersama ayahnya. Ayah Yue Qin memandangi rumah baru mereka dan menganggap rumah yang mereka miliki sekarang adalah buah dari kerja keras mereka. Yue Qin lalu mengungkapkan pendapatnya bahwa dia kadang melihat rumahnya terlihat seperti sedikit bengkok.

Ayah Yue Qin menolak pendapat anaknya itu, ayah Yue Qin,”Saya mendesainnya sendiri dan membangunnya dengan tanganku sendiri. Ini berbeda dari kontraktor yang tidak jujur itu. Rumah kita dibangun dengan bahan yang kuat dan bagus. Rumah ini akan tahan dalam waktu yang lama”. Yue Qin pun kagum dengan ayahnya. Ayah Yue Qin menegaskan dia bekerja keras membangun rumah tersebut demi kepentingan anaknya tercinta. Ayah Yue Qin lalu memandangi langit2 rumahnya dan berbicara kepada mendiang istrinya. Ayah Yue Qin,”Sayang apakah kamu lihat rumah ini dibangun buatmu juga, diatas sana di surga?. Kami akhirnya memiliki tempat yang disebut rumah”.

Ayah Yue Qin menangis karena anaknya kini bisa memiliki sebuah rumah, dan meminta istrinya jangan lagi kuatir di surga. Ayah Yue Qin lalu bertingkah seperti mendiang istrinya, dan membuat Yue Qin tertawa. Ayah Yue Qin dan anaknya lalu mendengar berita tentang angin topan. Yue Qin lalu kuatir dengan angin topan tersebut, namun sang ayah meminta Yue Qin untuk jangan kuatir dengan angin topan.

Ayah Yue Qin yakin dengan pasti bahwa rumah mereka akan tetap berdiri kokoh hingga Yue Qin menikah nanti. Namun Yue Qin menegaskan dia tidak akan tinggal di rumah mereka setelah dirinya menikah nanti. Ayah Yue Qin lalu merasa sedih bila anaknya pergi meninggalkannya. Karena ayahnya bersedih, Yue Qin lalu meminta ayahnya untuk makan. Ayah Yue Qin ingin tahu rencana pernikahannya anaknya, namun Yue Qin belum memiliki rencana pernikahan apapun. Yue Qin merasa dirinya masih seorang siswi SMA.

Ah Jin bersama Mei2 dan Xiao Sen mendatangi rumah baru Yue Qin tanpa diketahui olehnya. Ketiganya kagum dengan rumah baru Yue Qin, namun Mei2 melihat rumah baru Yue Qin itu terlihat sedikit bengkok, Xiao Sen menanggapi,”Iya terlihat sedikit bengkok. Mungkin rumah ini terinspirasi dari Menara Pisa”.

Ah Jin lalu mengetuk pintu rumah Yue Qin, Ah Jin,”Yue Qin, istriku, bapak mertua”. Ayah Yue Qin tak senang ketika Ah Jin memanggilnya sebagai ayah mertua. Lalu ayah Yue Qin membuka pintu rumahnya. Disisi lain, Zhi Shu pun berjalan bersama murid lainnya. Seorang murid memandangi tubuh seksi dari  seorang murid wanita. Murid wanita itu memandangi Zhi Shu dari belakang dan terkagum dengan ketampanannya.

Ah Jin pun mengucapkan selamat atas rumah baru yang dimiliki oleh Yue Qin sambil memberikan hadiah kepadanya. Mei2 dan Xiao Sen juga mengucapkan selamat kepada ayah Yue Qin atas rumah barunya dan memberikan hadiah kepadanya. Ah Jin lalu menyapa ayah Yue Qin sembari berlutut di hadapannya. Ah Jin,”Saya adalah menantu masa depan Anda. Saya adalah Zhi Zhu Jin ( Ah Jin). Tolong biarkan Yue Qin kepadaku. Saya janji akan menjaganya. Saya akan mencintainya selamanya”.

Yue Qin tak senang dengan sikap Ah Jin tersebut, dan Ah Jin terus memegang tangan ayah Yue Qin. Ayah Yue Qin malah merasa takut dengan sikap Ah Jin tersebut. Yue Qin menyahut,”Dia hanya sedang bercanda”, Ah Jin menjawab,”Saya tidak bercanda”, sambil terus memegang tangan ayah Yue Qin dan memanggilnya ayah. Namun ayah Yue Qin meminta Ah Jin jangan lagi bercanda dan menyuruh Yue Qin untuk mengantar ketiga temannya melihat2 rumah baru mereka. Ayah Yue Qin ingin membuat makan malam sehingga mereka berlima dapat makan malam bersama.

Yue Qin lalu mengajak kedua temannya, sedangkan Ah Jin menawarkan dirinya untuk membantu ayah Yue Qin memasak. Yue Qin menjelaskan kepada Mei2 dan Xiao Sen bagaimana ayahnya menggunakan bahan kayu daur ulang dalam membangun rumah mereka. Xiao Sen pun kagum dengan kreatifitas dari ayah Yue Qin. Namun Mei2 tetap merasa rumah Yue Qin terlihat sedikit miring, Yue Qin menanggapi,”Sesungguhnya, saya pikir rumah ini juga sedikit miring”.

Yue Qin ingin tahu mengapa kedua temannya datang ke rumahnya. Xiao Sen pun menjelaskan padanya bahwa mereka datang ke rumah baru Yue Qin karena Ah Jin yang menyuruhnya mereka. Ah Jin takut Yue Qin terus bersedih sehingga dia menyuruh keduanya datang dan menghibur Yue Qin. Mei2 merasa Ah Jin adalah pria yang baik karena dia begitu perduli dengan Yue Qin, dan tidak seperti Zhi Shu. Tak lama, ayah Yue Qin menyuruh semua teman anaknya berkumpul karena dia sudah memasak makanan.

Ah Jin lalu ingin membantu ayah Yue Qin membawa masakan ayah Yue Qin sambil terus memanggilnya ayah. Ayah Yue Qin lalu menyuruh Ah Jin jangan memanggil dirinya ayah karena dia bukan ayah Ah Jin. Namun Ah Jin dengan percaya diri tetap memanggil ayah Yue Qin sebagai ayahnya; dan percaya dia bisa menikah dengan Yue Qin. Yue Qin lalu menyuruh para temannya untuk segera makan karena ayahnya adalah seorang koki yang handal. Xiao Sen memuji ayah Yue Qin yang pandai dalam memasak dan membangun rumahnya sendiri. Lalu semua teman Yue Qin pun makan bersama, dan Ah Jin mempersilahkan Yue Qin makan sambil tetap memanggil ayah Yue Qin sebagai ayahnya.

Ayah Yue Qin lalu menjelaskan bagaimana dia membutuhkan waktu selama lima tahun untuk membangun rumah barunya itu. Ah Jin,”Oh.. lima tahun. Anda sudah bekerja keras. Ayah saya akan belajar dari Anda bagaimana membesarkan sebuah keluarga dari Anda, oke?”, sambil menyodorkan makanan kepada Yue Qin. Namun Yue Qin tak mau menyantapnya sehingga  ayah Yue Qin memegang tangan Ah Jin sehingga dia sendiri yang menyantap makanan itu, dan membuat semuanya tertawa. Ayah Yue Qin pun ingin berkata jujur bahwa dia bukanlah seorang yang ahli.

Ayah Yue  Qin menyombongkan bagaimana dirinya membangun rumahnya hanya dalam waktu tiga bulan. Ayah Yue Qin membangun rumahnya itu karena dia teringat janji kepada mendiang istrinya untuk membuat Yue Qin bisa bahagia. Yue Qin adalah motivasi terbesar sang ayah untuk membangun rumah itu. Ah Jin merasa sama karena Yue Qin adalah motivasi dalam hidupnya.

Yue Qin lalu mengajak semuanya bersulang buat ayah dan ibunya yang sudah berada di surga. Namun Ah Jin lalu berteriak, Ah Jin,”Ibu… bahagia buatmu..”, dengan penuh semangat. Yue Qin dan ayahnya malah merasa aneh dengan sikap Ah Jin itu.

Zhi Shu berada di ruangan penelitian bersama dengan para murid lainnya. Professor menjelaskan,”Ini adalah mesin dari Hadron Collider  menggunakan kemampuan magnet super untuk meningkatkan kecepatan partikel lain seperti kecepatan cahaya lalu membuat keduanya saling bertabrakan guna mempelajari hal mendasar sebuah partikel. Partikel menggunakan ukuran satu fentometer. Satu fentometer adalah satu juta denominator dari nanometer. Ini sungguh kecil. Bahkan mikroskop berteknologi tinggi dunia tidak bisa mengamatinya”.

Professor itu menjelaskan jika penelitiannya berhasil, maka semua murid termasuk Zhi Shu tidak hanya akan bisa tahu tentang materi partikel yang ada di dunia, namun mereka juga akan mengerti evolusi dari setiap spesies era masa lalu hingga sekarang. Professor itu menambahkan ada efek negatif dari partikel yang dibuat dari mesin tersebut yakni bisa menciptakan butterfly effect, bahkan gempa bumi, juga gangguan penerbangan. Namun professor itu yakin dampak negatif itu tidak akan terjadi dalam percobaannya.

Lalu professor itu memperlihatkan komputerisasi dari mesin tersebut yang adalah bagian penting dari mesin tersebut. Professor itu memberitahukan dia belum tahu dampak apa yang terjadi jika tombol komputerisasi tersebut ditekan. Tak lama, tiba2 saja seorang murid wanita hampir terjatuh, dan Zhi Shu menggapainya, namun murid wanita itu menekan tombol dari komputerisasi mesin tersebut. Setelah murid wanita itu menekan tombol tersebut, rumah Yue Qin pun berguncang seakan terjadi gempa. Yue Qin,”Ini gempa bumi..”. Zhi Shu dan para murid lainnya terkaget karena mesin itu mengeluarkan bunyi sirene sebagai tanda bahaya.

 

One comment

  1. ini sama dengan drama korea playfull kiss/naughty kiss.uhhh..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*