Home / Sinopsis Drama Korea / Sinopsis Goblin Episode 10 Bagian Kedua Drama Korea

Sinopsis Goblin Episode 10 Bagian Kedua Drama Korea

[Baca juga: Sinopsis Goblin Episode 10 Bagian Pertama Drama Korea] 

Shin bertanya bagaimana dia secara spesifik bisa menjadi tipenya, dan Eun Tak menjawab, “Kamu aneh dan indah.” Dan Shin tersenyum tipis mendengarnya.

Eun Tak datang memberikan penghormatan pada teman hantunya, tapi kemudian sesuatu menarik perhantiannya – foto Jung Hyun bersama ibunya yang mengenakan seragam sekolah mereka. Dia segera berlari pada Shin dan memintanya membuka pintu portal ke perpustakaan, dimana Jung Hyun telah menungguinya.

Eun Tak segera berlari ke arahnya dan bertanya apa dia mengenal ibunya. Jung Hyun menjawab, “Kamu pikir kenapa aku ada disisimu?.” Dia dan ibu Eun Tak adalah teman dekat yang berjanji satu sama lain ketika SMA akan memberikan hadiah pada bayi mereka nantinya.

Meskipun Jung Hyun tidak bisa menepati janjinya, dia memiliki sesuatu untuk Eun Tak dan menyuruhnya untuk membuka sebuah loker.

Didalamnya berisi setumpuk buku rekening yang hilang, buku rekening yang sama yang dituduh oleh bibi Eun Tak bahwa dia telah menyembunyikannya. Jung Hyun berkata itu adalah uang asuransi ibunya, dan buku paling atas adalah buku yang terbaru, dan Eun Tak bisa menggunakannya untuk uang kuliahnya. Sambil menangis, Eun Tak bertanya, “Apa ini alasan mengapa kamu tidak bisa meninggalkan dunia ini? Apa karena aku?|

Jung Hyun mengakui bahwa dia menikmati melihat Eun Tak tumbuh dewasa, dan sekarang waktunya baginya untuk bergabung bersama ibunya dan memberitahunya betapa putrinya cantik, pandai dan bahkan masuk ke universitas yang bagus. Air mata menetes di wajahnya saat mengucapkan terima kasih atas semuanya dan berharap bahwa Jung Hyun dan ibunya bisa terus berteman di atas sana. Eun Tak mengucapkan selamat tinggal dan Jung Hyun menghilang.

Shin dan Eun Tak kembali ke pinggir pantai, dimana Eun Tak memberitahu ibunya bahwa Jung Hyun adalaah teman yang baik bagi mereka berdua. Eun Tak berkata dia menyukai semua hal yang ibunya telah lakukan untuknya, dari kue beras, pesta, syal merah, dan Jung Hyun, dan ketika Shin menepuk pundaknya dengan lembut, Eun Tak tersenyum dan berkata, “Kamu juga. Terima kasih sudah membuka pintu itu.”

Eun Tak tertawa ketika Shin menyebut dirinya orang yang baik hati, dan melihat bahwa hujan tidak turun lagi. Shin berkata bahwa dia mencoba mengendalikan dirinya agar NASA tidak membawanya, yang membuat Eun Tak sekali lagi tertawa.

Shin duduk bersama sekertaris Kakek, yang melihat bahwa Shin tidak berubah sedikitpun dan masih berbicara dengan kasar. Shin meminta bantuannya untuk mendapatkan persetujuan dari bibinya untuk bisa menarik uangnya, karna ulang tahun Eun Tak yang ke dua puluh baru September nanti. Shin juga bersyukur karna sekeretaris Kim telah tumbuh dengan baik, dan Sekertaris Kim berterima kasih atas segalanya.

Sekertaris Kim mendapati Bibi Eun Tak di penjara, dimana dia mengakui bahwa uang asuransi itu sudah cair tapi dia tidak bisa jadi wali hukumnya jika berhutang sehingga dia hanya punya satu pilihan dimana dia melunasi semua hutangnya dan setelah itu dia mendapatkan uang asuransinya.

Dia tidak bisa menyetorkan uang itu ke rekeningnya, sehingga dia menaruh uangnya di rekening Eun Tak tapi buku tabungan itu terus menghilang. Sekertaris Kim mengagetkannya, ketika dia memencet tombol ‘menyimpan rekaman di ponselnya,’ dimana dia merekam pengakuan tante Eun Tak yang mencoba mencuri uang pembayaran asuransi ibu Eun Tak. Dia menjelaskan bahwa Bibi Eun Tak memiliki dua pilihan: 1.)  Mengembalikan semua yang telah ia ambil dari Eun Tak dan bebas dari penjara; 2.) Memperumit semua hal dengan menuntut pengasuhan anak dan memperpanjang semuanya selama bertahun-tahun.

Ancaman Bibi yang mengaku mengenal beberapa teman di dunia gelap tidak berefek apa-apa padanya, karna sekertaris Kim lebih mengenal dunia gelap dibanding dirinya, karna dia adalah mantan rentenir.

Kakek bahagia mendengar bahwa Sekertaris Kim telah mengurus permintaan Shin begitu pula mengurus Duk Hwa untuk mempelajari perusahaan dari bawah.

Kemudian Malaikat Maut datang ke sebuah laundry untuk mengambil topinya, dan memberitahu pada si pemilik bahwa topinya dibuat di surga. Dia memikirkan secara mendalam tentang Kim Sun, sampai dia tidak menyadari telah mengubah toko itu menjadi dingin dan bahkan ponselnya membeku. Dia melumerkan es yang membeku si ponselnya, dan menjawab ‘Halo.’

Sunny menduga bahwa Malaikat Maut sedang meneliti cincinnya dan bertanya apa yang sedang dia lakukan. Malaikat Maut menjawab dengan jujur, “Sedang berpikir perlu atau tidak aku memegang tanganmu lagi.”

Malaikat Maut mengganti pakaiannya di rumah, dimana Shin mengenali pakaian yang ia lihat dalam penglihatannya dimana Sunny memberitahu Malaikat Maut untuk tidak menghubunginya mulai sekarang. Shin bertanya, “Hari ini, ya? Bisakah kamu tidak memakainya?,” yang hanya membuat Malaikat Maut mempertanyakan penampilannya, tapi Shin berkata dia ingin tahu apakah sarannya akan mengubah harinya, dan menyarankan untuk memakai sepatu yang nyaman untuk perjalannya yang panjang. Shin berkata, “Kamu terlihat aneh.”

Sunny berdandan secantik mungkin untuk kencannya di Malam Tahun Baru karna tidak ingin menua setahun saat mereka berkencan, sementara Malaikat Maut tampak lucu saat berjalan di jalanan sambil menghindari kontak tubuh dengan para pejalan kaki. Malaikat Maut minta maaf karna datang terlambat dan meminta untuk memegang tangannya sebelum mereka melakukan sesuatu, dan menjelaskan bahwa dia terlalu penasaran untuk bisa menunggu.

Sunny tidak memberinya semudah itu, meskipun dia mengakui bahwa dia ingin memegang tangannya dan juga memeluknya. Tapi dia juga ingin mengenalnya terlebih dahulu tangan siapa yang ia genggam dan siapa yang ia peluk. Malaikat Maut harus menjelaskan siapa dia dan bagaimana dia bisa mengetahui nama aslinya. Sunny berkata dia akan membiarkannya karna hanya tersisa dua jam sebelum memasuki tahun baru. Sunny melihat raut wajahnya yang tampak murung dan menyarankan agar mereka mengakhiri ini sekarang.

Sunny berkata bahwa dia menyukai saat Malaikat Maut menjauhkannya dari mobil dan dia suka melihatnya menyelesaikan soal matematika dengan pensil, tapi dia tidak bisa melakukannya lagi. Sunny berkata bahwa dia bisa menganggap telah mencampakannya, dan dia mengucapkan kata-kata dari penglihatan Shin: “Mulai sekarang jangan menghubungiku lagi. Kalau kebetulan kita berpapasan, jangan menyapaku,” saat dia berjalan pergi.

Pukul 11.30 di Malam Tahun Baru, Shin menunggu dengan tidak sabar sambil mengenakan jaket dan syal di rungan tamu, dam kemudian naik ke atas dan menunggu di depan pintu kamar Eun Tak. Dia akhirnya menyerah dan kembali ke kamarnya. Dan tepat tengah malam, Eun Tak bergegas keluar kamarnya dan mengetuk di depan pintunya, dan malah mendapati Shin tampak murung di atas tempat tidurnya.

Eun Tak menyuruhnya untuk mendengarkan dengan baik saat lonceng jam berbunyi tepat tengah malam, dan dia bersorak bahwa tahun baru berarti dia telah dewasa. Shin  kesal setelah mendengar bahwa Eun Tak akan keluar karna telah memiliki rencana, dan dia segera melompat dari tempat tidurnya dengan kegirangan saat Eun Tak berkata rencananya  adalah bersamanya. Shin bersedia akan melakukan apapun yang ia minta, dan Eun Tak dengan antusias berkata, “Paman, alkohol. Alkohol. Belikan aku alkohol. Di bar tenda. Soju.”

Sehingga mereka pergi ke warung pinggir jalan, dimana Eun Tak meneguk soju pertamanya hanya dalam satu tegukan dan menyadari betapa pahitnya itu. Shin melihat dia begitu lucu dan dia kembali menuangkan segelas soju, yang juga dihabiskan oleh Eun Tak dengan satu tegukan.

Acara minum-minum mereka terganggu oleh kedatangan si pengendara sepeda dengan tangan yang patah yang hampir menyebabkan tabrakan bus beruntun, yang datang bersama gangnya. Tapi Shin sama sekali tidak takut dan meminta  si pengendara sepeda itu untuk menceritakan semua yang ia lihat. Eun Tak menggelengkan kepalanya, tapi Shin bersikeras bahwa dia sedang mencoba untuk menghiburnya, mendeklarasikan bahwa mereka akan berkelahi di luar dan kemudian menghilang. Eun Tak meyakinkan ahjumma yang khawatir itu bahwa kekasihnya akan baik-baik saja.

Shin menghadapi  kelompok itu dengan hanya sebuah alat pengepel. Dia memperingatkan mereka bahwa dia dulunya adalah seorang pejuang, dan tidak akan bersikap baik pada mereka hari ini. Ketika sekumpulan itu datang padanya dengan tongkat dan pipa, Shin mematahkan pengepelnya dan berdiri mengambil ancang-ancang untuk berkelahi.

Dia memukul para penyerang satu persatu, berputar saat sebuah serangan datang dan kemudian menjatuhkan para penyerang lainnya dengan tongkatnya. Di tenda, Eun Tak melihat pertarungan itu, kagum dan kembali menuangkan minuman sojunya.

Kita kembali bergabung dalam pertarungan Shin saat dia memukul kepala seorang penyerang dengan tongkatnya. Dan kemudian pukulan terakhirnya mendarat pada pantat si pengendara sepeda dan kemudian menjatuhkan tongkatnya dengan rasa jijik. Tapi teman-teman si pengendara sepeda kembali menambahkan luka padanya saat menabrakkan ‘barang pribadinya pada pohon.’

Shin kembali ke dalam untuk bergabung dengan Eun Tak, dan tertawa saat Eun Tak bergumam tentang romantisme yang terjadi pada saat pertama kali dia minum. Eun Tak berkata situasi semakin romantis – sebuah bar bercahaya temaram, makanan sederhana, soju pahit. “Romansa ada dimana-mana. Kalau ada satu hal lagi semua akan sempurna. Ciuman pertama,” ucap Eun Tak.

Dia berkata tempo hari ciuman mereka begitu singkat, kemudian memberitahunya untuk tidak bergerak. Ketakutan, Shin mencoba memundurkan kursinya dan menahan nafasnya saat Eun Tak datang dan mencondongkan bibirnya. Kemudian waktu tiba-tiba berhenti.

Shin cukup terkejut mendapati Eun Tak tidak membeku, dan dia mengingatkan Shin bahwa kekuatannya tidak berlaku padanya karna dia adalah pengantin siluman. Eun Tak berkata dia tidak bisa menghindarinya, tapi Shin berkata dia tidak akan, karna sebelumnya saja sudah cukup sulit untuk dia hindari. Dan Shin kemudian mengecup bibir Eun Tak. Dia balik mencium Shin dengan sebuah ciuman lembut dan mengakui bahwa itu sempurna.

Sementara itu, Malaikat Maut yang malang duduk di kamarnya dan bertanya-tanya apa dia yang telah mencampakkan Sunny atau dia yang telah dicampakkan.

Eun Tak bangun di pagi hari lebih awal untuk mempersiapkan beberapa makanan untuk Tahun Baru. Dia menambahkan bahwa dia membeli sejumlah daging berkualitas menggunakan uang yang ia hasilkan dari tempat ski, dan memperhatikan permintaan Malaikat Maut untuk tidak memasukkan daging ke dalam tteokguknya sambil diam-diam curi pandang dengan Shin.

Eun Tak merasa baru kemarin ketika mereka berdua berjalan ke arahnya seperti model menembus kabut untuk menyelamatkannya dari para rentenir dan terlihat sangat keren. Dia tiba-tiba menyadari bahwa dia lupa membeli daun bawang untuk supnya, dan kedua pria tampan itu setuju pergi  ke swalayan bersama-sama.

Kemudian kita melihat Malaikat Maut dan Shin berjalan melewati sebuah terowongan saat mereka kembali membawa daun bawang namun mereka terganggu oleh seorang pengandara yang berteriak pada mereka untuk minggir. Shin berkata bahwa pria itu mendoakan mereka di tahun baru ini dengan menyarankan mereka memakai trotoar dan Malaikat Maut setuju, mereka tidak akan melukai pria itu hari ini.

Malaikat Maut: “Selamat tahun baru.” Shin: “Karena kami keren. Selamat tahun baru.”

Di meja makan, Eun Tak mengucapkan  selamat tahun baru pada mereka berdua, dan Shin balik mengucapkan hal yang sama. Tapi Malaikat Maut berkata dengan murung bahwa dia dan Sunny telah putus. Belum sempat menyantap makanan mereka, Eun Tak bertanya apa yang diucapkan oleh Sunny saat mereka putus, dan Eun Tak menjelaskan arti dibalik ucapan Sunny, mengatakan bahwa Sunny menginginkan Malaikat Maut menghubunginya terlebih dahulu.

Eun Tak mengakui bahwa menjelaskan siapa dia sebenarnya adalah sangat sulit, dan menyarankan bahwa Malaikat Maut seharusnya memberitahu Sunny bahwa dia adalah seorang malaikat ketimbang malaikat maut. Shin memberitahunya untuk tidak bersedih dan semangat, dan menambahkan, “Inilah rasa sakit saat bertumbuh. Usiamu 300 tahun. Kamu masih bertumbuh.”

Tiba-tiba Malaikat Maut berkata bahwa jika menginginkan jawaban, dia harus dekat dengan orang yang memilikinya. Dan kemudian dia memegang tangan Shin, yang membuat Shin ketakutan. Saat Shin berteriak, Malaikat Maut berkata dengan nada yang datar, “Aku tak bisa melihat apapun tentang kamu. Hanya terasa hangat.”

Malaikat Maut pergi saat Shin berteriak padanya: “Apa yang akan kamu lakukan? tanganku. Apa yang akan kamu lakukan dengan tanganku? Ini menjijikkan. Aku harus memotongnya.” Tapi Eun Tak memegang tangan Shin dan meniupnya untuk mensterilkannya.

Kemudian, Shin membawa Malaikat Maut keluar untuk membeli ubi bakar di sebuah penjual keliling yang dekat dengan rumah mereka dimana Eun Tak bersama Sunny kebetulan ada disana. Tapi setelah melihat wajah Sunny ada di depannya, dia tak berkata apa-apa.

Sunny menjelaskan bahwa mereka telah memutuskan untuk tidak saling menyapa jika bertemu, dan atas anjuran Eun Tak, Shin berkomentar bahwa hari ini mereka seperti putih dan kuning telur, karna mengenakan jas kuning dan putih.

Dia memperburuk pernyataannya saat mengatakan bahwa mereka mirip taoge, Sunny mirip batangnya dan Malaikat Maut adalah kepalanya. Sesampainya mereka di rumah, Eun Tak minta maaf karna ucapan Shin tadi yang ceroboh, dan Malaikat maut dengan lembut berkata bahwa setidaknya dia bisa melihatnya.

Saat mereka sendirian, Eun Tak mengomeli Shin karna tidak membawa uang sepeserpun karna bosnya yang harus membayar ubi bakar itu, dan Eun Tak tidak membiarkan Shin untuk mengambilnya. Malaikat Maut keluar dari ruangannya kembali mengenakan seragam malaikat mautnya dan menoleh pada mereka berdua dan menjelaskan pakaian berwarna putih yang tadi ia kenakan: “Konsepku hari ini adalah malaikat.”

Shin merebut ubi bakar itu dan memakannya di dalam kamarnya, dimana dia  kembali memikirkan saat melihat Eun Tak berusia 29 tahun bertemu dengan seorang misterius CEO. Kali ini dia mengingat bahwa kalung itu berasal dari seorang penjual keliling ketika Eun Tak pergi ke Quebec untuk pertama kalimya.

Shin menduga bahwa Eun Tak pasti kembali untuk membeli kalung itu disana sebelum dia bertemu dengan CEO itu. Dan kemudian dia menyadari, “Aku yang belikan itu untuknya,” dan bergegas melakukan perjalanan waktu ke Quebec.

Malaikat Maut mendapatkan nasihat tentang putus cintanya dari seorang psikiater yang telah meninggal, yang bahagia karna memberikan konsultasi terakhirnya sebelum dia melupakan kenangan dalam hidupnya.

Shin kembali ke rumah dan mendapati Kakek yang menungguinya untuk berharap bermain go bersamanya. Saat mereka bermain, Shin berkomentar bagaimana dia terus kalah akhir-akhir ini padahal dia yang mengajarinya bagaimana memainkannya. Kakek tertawa kecil, “Itu karena aku bermain dengan mempertaruhkan nyawaku.”

Saat Shin bersiap untuk meletakkan bagiannya, tiba-tiba dia merasa ada sebuah paksaan dan menjatuhkan dadunya berdasarkan keinginan Kakek. Kakek merayakannya, tapi Shin sudah tahu apa yang akan terjadi, dan duduk terdiam karna kaget.

Kemudian Kakek berada di tempat cukur dan si pemilik bertanya, “Apa Anda akan ke tempat bagus?” Kakek menjawab, “Ya, kurasa begitu.”

Malaikat Maut bergabung minum di siang hari bersama Shin, dan Shin berkata bahwa Malaikat Maut akan segera menerima kartu kematian Kakek. Shin belum memberitahu kakek, karna mempercayai bahwa tidak ada untungnya seseorang tahu ajalnya sudah dekat, dan Duk Hwa juga tak tahu.

Shin berkata bahwa Kakek bertanya bagaimana kabar ‘temannya’ si Malaikat Maut, dan Malaikat Maut berkata bahwa Kakek pasti sudah tahu semuanya. Shin berspeskulasi, “Apa? Tentang kamu diputuskan?”

Malaikat Maut mengakui bahwa dia belum menelpon Sunny, karna jika dia melakukannya dia harus mengakui yang sesungguhnya. Shin berkomentar bahwa Sunny cukup bodoh karna tidak menyadari Malaikat Maut yang memang tampak seperti malaikat maut. Malaikat Maut bertanya apa dia tidak merasakan apapun tentang Sunny, dan Shin berkata dia merasakan sesuatu.

Dia kesal karna Sunny dan adiknya memiliki nama yang sama, sehingga dia bahagia Malaikat Maut dan Sunny putus, karna dia tidak suka dengannya. Malaikat Maut berkata bahwa Shin seharusnya berhenti menjelek-jelekkannya; bukan karna dia ada di pihak Sunny, tapi karna ada sesuatu yang tidak dikatakan padanya tentang kehidupan lampau Sunny: “Kurasa Sunny adalah reinkarnasi adikmu.”

Shin bertanya apa Malaikat Maut yakin bukan dirinya, dan Malaikat Maut mengungkapkan bahwa wajah Sunny di kehidupan lampau sama persis dengan wajah wanita di lukisannya. Shin meminta Malaikat Maut untuk menjelaskan apa yang dia lihat, sehingga Malaikat Maut memberitahunya – bagaimana dia melihat wanita berdiri di tengah sebuah istana, berpakaian putih dan terlihat seperti bangsawan, dimana anak panah menembus jantungnya sebelum dia rebah dengan berdarah.

Shin berkata bahwa dia pernah memberitahunya semua itu, meskipun dia tidak menyebutkan tentang pakaiannya dan tentang panah. Dia bertanya apa lagi yang dilihat oleh Malaikat Maut, sehingga Malaikat Maut menggambarkan bahwa dia melihat seorang wanita ada di sebuah tandu dan tersenyum pada seseorang melalui sebuah jendela kecil, yang bertanya apa dia cantik hari ini. Dia mendengar suara seorang pria yang menjawab, “kamu terlihat … “

“… jelek,” ucap Shi. Malaikat Maut bertanya dengan berhati-hati, “Benarkah dia adikmu?” Shin menjawab: “Ya.”

Kemudian kita melihat sekilas di jaman Goryeo, dimana Wang Yeo yang telah dewasa duduk, yang sangat mirip dengan Malaikat Maut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*