Home / Sinopsis Drama Korea / Sinopsis Goblin Episode 11 Bagian Pertama Drama Korea

Sinopsis Goblin Episode 11 Bagian Pertama Drama Korea

Sumber Dok Gambar: tvN Korea Selatan 

[Baca juga: Sinopsis Goblin Episode 11 Bagian Kedua Drama Korea]

Setelah Malaikat Maut memberitahu Shin bahwa Sunny adalah reinkarnasi adiknya, mereka berdua datang ke restoran ayam Sunny.

“Sun,” panggil Shin dan kemudian memeluknya dengan erat. Malaikat Maut menarik Shin atas perintah Sunny, dan berkata bahwa mereka masih belum bisa memastikannya.

Shin: “Apa kau benar-benar Sun?” Sunny: “Kenapa memangnya kalau saya? Apa yang terjadi dengannya?” Malaikat Maut berkata ceritanya panjang, dan Sunny bertanya: “Mengapa ada kisah yang panjang antara pria ini dan saya?”

Shin: “Saya adalah kakakmu. Saya merindukanmu, Sun.” “Saya Sunny,” teriak Sunny.

Malaikat Maut menjelaskan bahwa orang ini adalah kakaknya di kehidupan sebelumnya, tapi Sunny tak percaya dan malah menuduh Malaikat Maut mengarang cerita yang tak masuk akal agar bisa melihatnya.  “Kau pasti merindukanku,” tambah Sunny dan Malaikat Maut tersenyum kecil.

Shin mendorong Malaikat Maut dan bertanya apa Sunny tak mengingat apapun, dan Sunny hanya berkomentar bahwa dia terlalu rapi dan menawan untuk menjadi seperti ini.  Dia setuju untuk mendengarnya, dan bertanya dia siapa di kehidupan sebelumnya.

“Kau adalah Ratu Goryeo. Dan saya adalah seorang pejuang,” ucap Shin. Shin antusias saat Sunny berkata dia ingat sekarang, tapi ternyata mengingatkan Shin untuk membayar 5 dollar ubi bakar yang ia beli kemarin. “Kehidupan masa lalu? Ratu? Apa kau sedang bercanda?”

Dia mengusir mereka keluar dari restoran tepat saat Eun Tak datang. Eun Tak bertanya apa yang sedang terjadi, dan Sunny malah memerintahkannnya untuk melemparkan garam pada mereka berdua, karna menduga ada makhlus halus yang mengikuti sehingga berbicara ngelantur.

Malamnya, Eun Tak dan Malaikat Maut sepakat untuk saling bertukar informasi. Eun Tak menebak bahwa Sunny bukan mantan Shin karna jika memang seperti itu Malaikat Maut akan menjadi murung. Malaikat Maut berkata benar, dan bahwa Sunny bukan seperti itu. Giliran Malaikat Maut akan menanyakan pertanyaannya, dan Eun Tak malah berkata, “Rahasia.” Malaikat Maut merasa dia belum mengajukan pertanyaan apapun, tapi Eun Tak sudah tahu – apa ada pria lain yang datang mencari bosnya.

Malaikat Maut perotes mengapa itu harus menjadi rahasia sementara dia telah memberitahu Eun Tak segalanya. Malaikat Maut bertanya, “Mengapa kau  suka berahasiaan?” Eun Tak: “Untuk kesetiaan.”

Shin datang ke restoran Sunny membawakan sepatu bermotif bunga yang ia sukau, kain dengan warna favoritnya dan  buah kesemek yang ia sukai di kehidupan sebelumnya.

Sunny menjawabnya dengan kesal: “Ini bukan warna kesukaanku. Saya tidak memakai sepatu bermotif bunga. Dan saya tidak makan buah kesemek.” Sunny memberitahu goblin bahwa hanya ini satu-satunya meja yang tersedia dan bisnisnya berjalan dengan baik, dan Shin berkata, “Karena saya ada disini. Saya membawa kekayaan pada orang-orang,” dan Sunny hanya menggelengkan kepalanya.

Eun Tak datang dan mendapati Shin disana. Shin segera pamit pulang dan berpesan agar dia jangan pulang terlambat. Setelah Shin pergi Sunny bertanya, “Pekerja paruh waktu, apa dia satu-satunya untukmu? Apa kau harus melihatnya?” Sunny memberitahu Eun Tak untuk menyampaikan pesannya pada Shin bahwa lain kali sebaiknya dia datang dengan tangan kosong dan membeli ayamnya ketimbang membelikannnya — buah kesemek, sepatu bermotif bunga, dan kain.

Sunny berkata itu demi kebaikan Eun Tak, dan Eun Tak berkata dia sendiri tak tahu apa yang terjadi pada Shin.

Sehingga Eun Tak datang menemui Duk Hwa dan komplain tentang sikap Shin yang sering datang ke tempat kerjanya, sampai dia memiliki pikiran yang tidak-tidak tentang bosnya. Dia merasa kasihan pada Malaikat Maut, dan Duk Hwa memberitahunya bahwa hal itu karna bosnya adalah adik Shin di kehidupan sebelumnya.

Itu merupakan sebuah informasi baru bagi Eun Tak, dan Duk Hwa kembali memberitahukan sebuah rahasia bahwa Malaikat Maut bisa melihat kehidupan seseorang sebelumnya ketika tangan mereka disentuh olehnya. Duk Hwa menebak bahwa Malaikat Maut pasti telah memegang tangan Sunny dan memberitahunya pada Shin. Dan Eun Tak mengkonfirmasinya bahwa dia pernah melihat mereka berdua berpegangan tangan.

Shin datang ke kamar Malaikat Maut dan bertanya apa Malaikat Maut melihat yang lain. Malaikat Maut menjelaskan dia gagal memegang tangannya saat Sunny mencampakkannya. Malaikat Maut menyarankan agar Shin tidak memaksakan diri, karna Sunny tak memiliki kenangan sedikitpun akan masa lalunya.

Shin setuju, bahwa meskipun dia adalah kakak Sun di kehidupan sebelumnya tapi dalam kehidupan ini dia sama sekali bukan apa-apa baginya. Shin berkata sekarang Sunny telah memiliki kehidupannya sendiri, dan mungkin seharusnya dia membiarkan ‘masa lalu menjadi masa lalu.’

Shin berkata  adiknya di kehidupan sebelumnya adalah seorang gadis yang anggun dan elagan: “Bagaimana bisa kepribadiannya begitu sangat berubah?”

Malaikat Maut: “Apanya yang salah dengan kepribadian Sunny? Bukankah sebelumnya kau baik padanya? Apa maksudmu kau tidak menyukai dia yang sekarang?” Shin: “Bukankah kalian berdua sudah putus? Mengapa kau marah?”

Shin memperingatkan jika Malaikat Maut berpikir untuk bisa kembali bersama, dia  harus melupakannya. Shin: “Bagaimana bisa seorang Malaikat Maut berusaha mendekati adikku?” Malaikat Maut: “Saya setuju apa yang tadi kau katakan. ‘Biarkan masa lalu menjadi masa lalu.’” Shin: “Kau bisa melihatnya di tubuhku yang mati. Menjauh dari adikku. Saya akan memercikkan air padamu jika ada” Setelah Shin menghilang, Malaikat Maut bergumam: “Saya tahu drama ini. Saya melihatnya tadi pagi.”

Sunny bertanya apa Eun Tak percaya dengan kehidupan sebelumnya. Eun Tak berkata ya, dan menjelaskan bahwa mereka mengatakan manusia diberikan empat kehidupan – kehidupan menanam, kehidupan menyirami, kehidupan memanen, dan kehidupan menggunakan hasil panen itu yang berarti ada kehidupan sebelumnya dan reinkarnasi.

Sunny  merasa itu terdengar meyakinkan dan kembali bertanya dimana dia mendengar hal itu dan apalagi yang ia dengar. Eun Tak sejenak teringat saat tanpa sengaja mendengar  pembicaraan Shin dan Malaikat Maut tentang bagaimana adiknya melindungi raja muda dengan hidupnya di jaman Goryeo. Dia berkata bahwa orang itu bernama Kim Sun, orang yang sangat berani dalam menghadapi cinta.

Sejenak berpikir, Sunny kemudian meminta Eun Tak mengantarnya ke rumah Shin. Setibanya disana, dia cukup terkejut mendapati Malaikat Maut. Sunny bertanya apa mereka berdua tinggal bersama, dan Shin langsung menarik Eun Tak dan berkata ‘mereka tingga bertiga.’

Shin bertanya apa yang membuatnya datang kesini dan Eun Tak menegurnya bahwa seharusnya Shin mempersilahkannya duduk. Eun Tak menawarkan sesuatu untuk diminum, dan Sunny memilih soju. Malaikat Maut berkata mereka hanya punya bir, tapi Sunny malah mengingatkannya bahwa dia seharusnya tidak bicara padanya. Malaikat Maut segera minta maaf, dan Shin menggelengkan kepalanya: “Bagaimana bisa kepribadianmu berubah seperi itu?”

Sunny mendesak untuk diberikan sebuah bukti bahwa dia adalah adiknya, dan Shin memberikannya lukisan Sun. Shin bertanya apa lukisan itu mengingatkannya akan sesuatu, dan Sunny hanya menjawab: “Dia terlihat muda dan cantik. Ketika saya seusianya, saya jelek.”

Dia bertanya apa yang terjadi pada ratu ini: “Apa dia umur panjang dan hidup bahagia?” Shin menarik dalam nafasnya, dan Eun Tak mengajak Malaikat Maut pergi untuk membiarkan mereka berbicara berdua.

Sunny bertanya apa dia menderita, dan Shin berkata bahwa dia lebih sering berbicara dengan adiknya melalui surat ketimbang melihatnya. Shin berkata membaca surat yang ditulisnya adalah satu-satunya hal yang membuatnya tetap bijaksana di hari-harinya ketika dia berjuang untuk bertahan hidup.

Flashback: Raja muda sedang berlatih memanah saat diberitahu kemenangan Jenderal Kim Shin di perbatasan, tapi sebuah berita tentang kemenangan Kim Shin kembali datang dan membuat panahnya meleset. Park Joong Won berkata bahwa  kemenangan Shin telah  tersebar di sepanjang jalan dan rakyat bodoh telah tertipu dan bahwa pejabat sipil sangat marah tentang hal itu.

Dia menyarankan agar raja muda tidak memujinya, tapi memberitahu Shin bahwa dia mengkhawatirkan keselamatan adiknya karna reputasi Keluarga Kerajaan telah jatuh. Raja muda tampak kesal, sampai ia menarik kencang tali panahnya dan terputus.

Dari kejauhan, Kim Sun diam-diam mengamati raja muda. Dia menyayangkan panahan  Wang Yeo yang meleset dan bergumam, “Dia tidak punya bakat memanah.”

Dia kembali diam-diam mengamati raja muda yang sedang membaca buku, dan bertanya-tanya mengapa dia membaca buku yang sama selama satu setengah jam. Dayangnya menggodainya bahwa ratu pasti akan menilai dia tak punya bakat membaca, tapi Kim Sun menebak pasti ada sesuatu yang sedang mengganggunya.

Kim Sun bertanya-tanya: “Mengapa dia sudah lama tidak mengunjungiku. Dia membuat wanita sakit.”

Kemudian, Kim Sun berlari dengan kencang menyambut raja saat diberitahu dia datang ke istananya. Dia kaget melihat raja ada di depannya, hingga hampir terjatuh, dan raja langsung memegangnya. “Kau sangat berat,” ucap raja muda. Kim Sun: “Seseorang ada dalam pikiranku, itulah mengapa saya seperti ini.”

Raja muda bertanya dia ingin kemana begitu terburu-buru, dan Kim Sun menjawab dengan tersipu malu: “Untuk melihatmu, Yang Mulia.”

Wang Yeo: “Saya akan datang padamu.” Kim Sun: “Saya pikir akan menyenangkan bagi kita untuk bertemu di luar.”

Sayang raja Wang Yeo muda diracuni oleh hasutan kasimnya yang jahat untuk membenci Kim Shin, sehingga raja datang dan melemparkan obat yang dibawa oleh tabib untuk Sun dan melarangnya untuk meminum obat dari siapapun. Sikap raja yang begitu kasar membuat hati Sun sedih.

Saat Kim Shin dan asistennya kembali ke istana, Raja muda datang menemui Kim Sun dan memberitahukan bahwa kakaknya kembali dalam kemenangan. Dia bertanya, “Diantara kami berdua, siapa yang kau harapkan untuk tetap hidup?”

Kim Sun  menatapnya dengan mata yang berkaca-kaca, dan raja muda berkata: “Atau apa kau telah membuat keputusanmu? Tentu saja, entah saya hidup atau kakakmu yang hidup, kau tidak akan kehilangan apa-apa.” Kim Sun: “Kau bodoh, Yang Mulia.”

Raja muda bertanya mengapa dia berpakaian seperti itu dan berasumsi bahwa Kim Sun telah berkabung dalam pikirannya. Raja berkata dia tak tahu apakah musuhnya adalah orang Barbar atau kakaknya, dan Kim Sung berkata, “Park Joong Won adalah musuhmu.”

Raja muda tak percaya, dan malah menyuruhnya membuat sebuah pilihan – apa dia akan hidup sebagai wanitanya atau dia akan mati sebagai adik seorang pengkhianat. Kemudian kita melihat Kim Sun berdiri menunggu Kim Shin, dan sebuah panah mengenai jantungnya, dan dia pun tewas di usia yang masih muda.

Kembali ke masa sekarang: Kim Shin berkata adiknya tidak umur panjang, tapi dia berpikir adiknya memiliki momen-momen yang membahagiakan. “Bahkan saat kematiannya, dia menatap orang bodoh itu,” ucap Shin.

Sunny tiba-tiba memegang dadanya yang terasa sakit, dan bertanya apa raja juga bereinkarnasi. Kim Shin tak tahu, dan Sunny berkata bahwa dia ingin tahu bagaimana tampangnya. Sunny bertanya mengapa dia terdengar sedih seolah-olah kehidupannya terus berlanjut sejak saat itu.

Shin berkata Sunny mungkin tidak akan percaya, tapi dia telah menjalani kehidupannya dengan semua kenangan itu. Sunny memberitahu Shin bahwa dia datang bukan karna dia percaya reinkarnasi, tapi dia datang karna buah kesemek, sepatu bermotif bunga dan kain sutera. Sunny menduga mungkin Shin sangat menyesal karna tidak pernah memberikan barang-barang itu pada adiknya, dan berkata dia sedikit  tersentuh. “Saat seperti ini, kau sama seperti Sun,” ucap Shin.

Sunny memberitahu Shin untuk tidak berbicara begitu santai, hanya karna dia adalah kakaknya di kehidupan sebelumnya. Sunny berkata bahkan saudara yang terpisah akan menjadi canggung ketika mereka bertemu.

“Bagaimana bisa saya tiba-tiba menyambut seseorang yang mengklaim kakakku dari kehidupanku sebelumnya?,” ucap Sunny. Dia berpesan agar Shin tidak berkecil hati, dan pamit pergi.

Saat keluar dari rumah, Malaikat Maut mengikutinya dari belakang. Sunny menyadarinya dan bertanya: “Mengapa kau melihatku ketika kau tidak akan menghentikanku?”

Malaikat Maut: “Bisakah saya menghentikanmu? Sunny: “Bagaimana jika kau menghentikanku? Selanjutnya apa yang akan terjadi diantara kita? Kau bodoh,” dan kemudian pergi.

“Apakah itu kamu atau bukan?,” gumam Shin dan Malaikat Maut datang duduk disampingnya dengan wajah yang murung. Dia kemudian bertanya siapa yang menggambar lukisan adiknya, dan Shin menjawab Wang Yeo. Shin berkata lukisan iu adalah adiknya tapi bagaimana Wang Yeo melihatnya – lukisan itu mengandung iri hatinya, rasa bersalah, kerinduan. Shin berkata itu adalah hal terakhir yang ia gambar setelah membunuh orang-orang itu.

Eun Tak memutuskan kembali ke restoran setelah menduga keadaan Sunny sedang tidak enak badan. Eun Tak memakaikan jaketnya, dan Sunny berkata dia sangat tidak perduli dengan kehidupan sebelumnya, dan juga tidak percaya dengan mereka tapi dia mulai merasa sakit segera setelah meninggalkan rumah itu.

Sunny ingin dibawa  ke rumah, dan menolak pergi ke rumah sakit dan memberitahu Eun Tak bahwa dadanya terus terasa sakit. Sunny berkata rasa sakitnya sangat dalam, dan terasa seperti seseorang sedang berjalan diatas jantungnya.

Eun Tak membawanya pulang, dan setibanya ia di kompleks rumah Sunny, tanpa sengaja Eun Tak bertemu dengan junior Malaikat Maut. Eun Tak terkejut, dan Sunny berkata bahwa orang itu yang menyewa kamar atap.

Junior Malaikat Maut berkomentar dunia ini terlalu kecil — wanita yang tinggal di bawah kamarnya ternyata mengenal pengantin goblin.

Sunny berbaring di ranjangnya dan berkata dia melihat ‘pasangan goblin’ di ponsel Malaikat Maut, dan bertanya apa dia dan Shin adalah pasangan goblin itu. Eun Tak minta maaf karna dia tidak bisa memberitahu siapa  sebenarnya mereka berdua. Sunny bertanya-tanya pada dirinya apa ‘dia’ tidak akan memberitahu siapa atau apa sebenarnya dia, dan apa seharusnya mereka putus.

“Apa kau orang yang normal?,” tanya Sunny dan Eun Tak berkata ya.

Setelah merawat Sunny, Eun Tak berjalan pulang ke rumah, tapi dalam perjalanan dia menyadari ada Shin yang berjalan di belakangnya. Eun Tak berbalik dan bertanya, “Apa yang sedang kau lakukan?”

Shin: “Menunggumu.” Eun Tak: “Sejak kapan?” Shin: “Saya melewati semua langkah yang kau jalani.” Eun Tak tertawa kecil dan berkata: “Hal yang manis untuk dikatakan.”

Mereka berjalan pulang bersama-sama, dan Eun Tak berkata dia merasa kasihan pada bosnya. Eun Tak berkata dia berpikir menjalani hidupnya seperti ‘Eun Tak berada di Wonderland’  — melihat hantu, bertemu dengan goblin, dan Malaikat Maut, sementara kehidupan bosnya tiba-tiba berbalik ke genre yang aneh – kakaknya dari kehidupan sebelumnya adalah goblin, pria yang ia sukai adalah Malaikat Maut, dan pekerja paruh waktunya melihat hantu.

Eun Tak berharap bosnya adalah benar-benar adik Shin, dan berkata bahwa dia orang yang menyenangkan tapi Shin berkata tidak. Shin berkata dia berharap mempunyai kakak sepertinya, dan dia teringat memiliki sosok kakak seperti ‘Tae Hee.’

Mendengar Eun Tak menyebutkan nama itu, Shin langsung cemburu. “Apa kalian sebenarnya berakhir pergi ke restoran itu di Kanada,” ucap Shin. Eun Tak berkata dia tidak akan pergi dengan siapapun disana, dan hanya akan pergi dengannya. Shin berkata kau memang pergi kesana, dan Eun Tak mendesaknya untuk diberitahu bagaimana dia bisa tahu. Shin hanya berlari  dan berkata dengan kesal, “Seharusnya saya tidak menungguimu.”

Hari kelulusan SMA akhirnya tiba, anak-anak lain berfoto bersama sebagai kenang-kenangan sementara Eun Tak hanya duduk sendirian di kursinya. Ponsel Eun Tak tiba-tiba berdering, dan seorang teman sekelasnya menghampirinya dan memberitahukan itu adalah nomor telponnya. Eun Tak bertanya bagaimana dia bisa tahu nomornya, dan teman Eun Tak menjelaskan bahwa dia adalah ketua kelasnya selama tiga tahun berturut-turut yang mengetahui nomor kontak setiap murid, tapi Eun Tak tahu itu. Dia mengucapkan selamat atas kelulusan mereka, dan berharap agar mereka bisa tetap saling berhubungan.

Wali kelas datang dan mengundang para orang tua yang berdiri diluar untuk memberikan anak-anak mereka pelukan atas kelulusan mereka. Para orang tua datang, memeluk anak-anak mereka dan memberikan karangan bunga. Eun Tak tampak kikuk, tapi tak lama ‘nenek/wanita berpakaian merah’ datang dan memeluk Eun Tak untuk memberikannya ucapan selamat. Dia berkata ibunya pasti sangat bangga, sementara suasana di ruangan kelas seketika itu menjadi hening.

Eun Tak mengenali wanita itu adalah orang yang pernah memberinya sekantung bayam. Dia bertanya dengan gugup, “Mengapa anda memelukku?” Wanita berpakaian merah mengelus wajahnya dan berkata: “Karna kau menyenangkan.”

Saat wanita itu menyentuh dengan lembut wajahnya dan berkata, “Saya sangat bahagia,” seketika itu dia teringat dengan seorang nenek tua yang pernah menolongnya saat masih kecil dulu. Eun Tak ingin mengatakan sesuatu, tapi dia segera memberi tanda agar Eun Tak diam. Dia kemudian memberikan seikat bunga dan mengucapkan selamat

Wanita berpakaian merah itu kemudian menghampiri wali kelas yang suka kasar pada Eun tak dan berkata: “Nak. Apa kau tidak bisa menjadi guru yang lebih baik? Apa kau tidak bisa menjadi guru yang lebih baik hati?” Ajaibnya, Wali kelas langsung menangis dengan tersedu-sedu setelah mendengarnya, sampai ia sendiri heran melihat dirinya mengapa tiba-tiba menangis.

Wali kelas Eun Tak keluar ruangan, dan berpapasaan dengan Shin. Shin mengenali orang itu mirip dengan wanita yang dilihatnya di jaman Joseon, dan suara Shin bernarasi: “Satu atau dua dari 100 orang terlahir dengan wajah yang sama dengan kehidupan sebelumnya.”

Flashback di jaman Joseon, tahun ke-12 pemerintahan raja Chuljong. Saat sedang duduk di sebuah kedai makanan bersama seorang kerabatnya, perhatian Kim Shin tiba-tiba tertuju pada seorang pelayan yang membawakan mereka makanan. Kerabatnya bertanya apa yang terjadi, dan Kim Shin berkata sekarang dia juga bisa melihat masa depan mereka.

Pria itu bertanya seberapa jauh masa depan itu, dan Shin menjawab mereka berbicara menggunakan bahasa Joseon tapi tercampur dengan Bahasa asing. Kim Shin bertanya-tanya apa dunia telah menjadi satu, sampai itu sulit untuk dipahami.

Kim Shin berkata tidak hanya itu, tapi merteka juga selalu memegang potongan metal sebesar batu tinta seolah-olah benda itu seperti bayi yang baru lahir yang mereka cintai dan sayangi.  Pria itu tak memahami apa yang sedang dibicarakan oleh Kim Shin, dan Kim Shin melanjutkan bahwa benda itu hitam dan biru dan harus digunakan dengan bijaksana.

Dia menggambarkan bentuknya dengan tangannya, sambil berpose dan berkata: “Klik”

Kembali ke masa sekarang. Shin datang ke ruang kelas Eun Tak sambil membawa seikat bunga di tangannya, tapi ia mendapati telah ada seikat bunga di tangannya. Dia lantas menebak bunga yang ada di tangan Eun Tak diberikan oleh wanita berpakaian merah.

Berjalan keluar dari gedung sekolah Eun Tak, Kim Shin menutup wajah Eun Tak dengan karangan bunga di tangannya, dan kemudian membukanya. Eun Tak bertanya apa yang sedang ia lakukan, dan Shin menjawab: “Menakjubkan. Bagimana saya melihatmu dulu?”

Eun Tak: “Kapan? Di ruang kelas?”  Shin: “Tidak. Dari tempat yang lebih jauh. Itu peristiwa yang aneh dan indah.”

Sumber Dok Gambar: tvN Korea Selatan 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*