Home / Sinopsis Drama Korea / Sinopsis Goblin Episode 12 Bagian Pertama Drama Korea

Sinopsis Goblin Episode 12 Bagian Pertama Drama Korea

[Baca juga: Sinopsis Goblin Episode 12 Bagian Kedua Drama Korea] 

Eun Tak berhadapan dengan hantu si kasim jahat dengan penampilannya yang mengerikan berbeda dengan hantu-hantu lain yang pernah ia temui. Dia datang untuk mengkonfirmasi bahwa Eun Tak adalah pengantin goblin, dan kemudian menjulurkan lidahnya, yang membuatnya tampak seram.

Eun Tak memaksakan dirinya untuk bersikap normal saat dia mengusir para hantu yang lain, dan menjelaskan bahwa ini jam sibuk kerja. Para hantu yang lain menggerutu, tapi pada akhirnya mereka menurut pergi. Kasim Park sejenak masih tetap berada disana, dan juga kemudian menghilang.

Setelah dia pergi, perasaan Eun Tak jadi tidak tenang, dan kemudian ingatakan akan tangannya yang hitam dan lidahnya membuat Eun Tak merasa ngeri. Perhatiannya kemudian tertuju pada surat cinta Shin, yang sekali lagi membuatnya kesal.

Sunny minum di rumah sambil memikirkan pengakuan Malaikat Maut tentang identitasnya, dan dengan masing-masing tegukan dia bertanya-tanya antara ingin menemuinya, dan kemudian tidak ingin menemuinya. Dia sebenarnya sudah tahu minuman sojunya akan habis setelah tujuh gelas dan sengaja memulainya dari “Aku ingin bertemu dia.” Kemudian dia memulai permainannya, mengambil lobak asin berbentuk dadu, mengatakan dua hal yang sama saat mengeluarkan lobak dadu itu satu persatu.

Malaikat Maut bertanya pada seorang rekannya sesama malaikat maut apa dia pernah didera dengan bunga persik, memikirkan Sunny yang di malam selebelumnya memukulnya dengan ranting itu. Malaikat maut lain itu berkata pernah, dan memperingatkan bahwa bekasnya bertahan beberapa saat. Kemudian Malaikat Maut bertanya apa dia pernah menginginkan ingatannya kembali, dan rekannya berkata tidak, bahwa itu seperti ingatan yang tidak pernah kau miliki.

Malaikat Maut berkata dia merindukannya. “Jangan,” ucap rekannya. “Kita semua pendosa. Kita tidak tahu apa akibat dari kerinduan itu.” Malaikat Maut memikirkan Sun di  kehidupan sebelumnya, ratu yang meninggal dan menghela nafasnya bahwa dia tahu itu tapi dia tetap merindukannya.

Kemudian dia minum di rumah bersama Shin, dia mengakui bahwa Sunny telah mengetahui identitasnya, dan kemudian bertanya-tanya dimana dia menemukan seranting bunga persik itu di tengah musim dingin. Shin  hanya diam dan berpura-pura mengabaikannya, karna dia tahu dia yang membuat bunga persiknya bermekaran karna saat itu dia lagi bahagia bersama Eun Tak.

Shin berkata karna dia sudah ketahuan, dia seharusnya menggenggam tangan Sunny lagi untuk mengetahui apa dia bisa melihat wajah Shin di kehidupan Sunny sebelumnya. Malaikat Maut protes bahwa melihat kehidupan sebelumnya seseorang sangat sulit, penglihatan itu datang seakan ada yang tiba-tiba memasukkannya padamu. Dia mulai mengatakan tentang kecantikan Sunny yang membuatnya menggila, dan Shin mulai memelototinya dan memperingatkan bahwa yang sedang ia bicarakan adalah adiknya.

Malaikat Maut mengkonfirmasi bahwa dia melihat raja muda itu, dan Shin menggerutu bahwa adiknya hanya memikirkannya, tanpa peduli dengan kakaknya sama sekali.

Eun Tak datang ke depan pintu Malaikat Maut sambil memegang buku catatannya, tapi ketika melihat Shin, dia bergegas pergi. Sayang Shin memanggil buku catatan itu, dan terbang ke arahnya, dan menemukan tulisan hanja-nya yang Eun Tak kopi. Sekarang dia ketahuan, dan Eun Tak mengakui bahwa dia akan meminta bantuan Malaikat Maut untuk mengetahui kisah dibalik surat yang Shin tulis untuk cinta pertamanya. Dia ingin tahu bagaimana akhirnya dan seistimewa apa kisahnya.

“Kamu tahu apa ini?” tanya Shin yang terlihat bingung. Dia berkata ini bukan surat cinta, dimana Eun Tak tidak percaya, karna Duk Hwa telah membantu menerjemahkannya. Tapi Shin berkata bahwa Duk Hwa tidak mungkin bisa membaca ini – itu tidak tertulis dimanapun, dia menyimpannya sendiri, permohonannya pada dewa tentang mengungkapkan cinta pertamanya.

Malaikat Maut membaca dari dekat bahu Shin dan mengkonfirmasi bahwa Shin benar, meninggalkan Eun Tak tampak bingung. Shin dan Malaikat Maut saling menatap satu sama lain dengan kebingungan atas kemampuan Duk Hwa yang bisa mengetahui hal yang seharusnya tidak ia ketahui, seperti tahu bahwa  Malaikat Maut bisa membuat orang lupa. Sekarang mereka memikirkan serentetan kejadian yang melibatkan Duk Hwa yang menambah kecurigaan, seperti tahu bahwa Eun Tak berada di tempat bermain ski, bahkan berani menjual rumah Shin pada Malaikat Maut dan bahkan mengetahui Sunny adalah adik Shin di kehidupan sebelumnya.

Sementara itu, Duk Hwa duduk di sebuah klub malam yang padat, melihat sekumpulan orang-orang yang berdansa di lantai dansa. Dia kemudian melihat mereka dalam gerakan lambat, dengan tatapan serius di wajahnya.

Kita kembali flashback dihari saat Duk Hwa bertemu dengan si nenek/wanita bergaun merah, dan mengajaknya untuk minum bersama. Mereka berdua duduk bersama di sebuah klub malam, dan mereka ternyata sudah saling mengenal – dan sepertinya Duk Hwa adalah dewa yang lain.

Saat Shin dan Eun Tak beremu untuk pertama kalinya di jalanan yang hujan, nenek/wanita bergaun merah berkomentar bahwa akhirnya goblin bertemu dengan pengantinnya, dan Duk Hwa  merespon bahwa itu adalah takdir. Nenek/wanita bergaun merah bertanya mengapa Duk Hwa mempertemukan Wang Yeo (raja) pada Shin: “Kenapa kamu mempertemukan mereka? Seseorang dengan pedang di dadanya dan seseorang yang menusukkannya?” Duk Hwa hanya menjawab: “Itu juga takdir.”

Nenek/wanita bergaun merah tidak setuju bahwa seharusnya dia lebih menahan diri, dan bahwa Shin telah sangat menderita, sudah 900 tahun sejak Kim Shin dihukum. Duk Hwa menjawab, “Sepenting itulah kehidupan manusia.” Kita melihat saat Shin membunuh dalam sebuah medan pertempuran dan membelah sebuah kapal dengan pedangnya, dan nenek/wanita bergaun merah berkata bahwa dia seharusnya menciptakan dunia yang sempurna tanpa dosa sejak awal. “Kalau begitu, tidak akan ada yang mencari dewa,” ucap Duk Hwa.

Nenek/wanita bergaun merah memberitahunya untuk berhenti menyiksa mereka, dan membiarkan mereka untuk saling mengenali satu sama lain dan membuat keputusan mereka sendiri.

Kembali ke masa sekarang, Shin dan Malaikat Maut tiba di klub malam untuk bertanya pada Duk Hwa – saat Shin mendekat waktu menjadi lambat dan udara  berdesis di depannya, seolah itu adalah penghalang antara dia dan Duk Hwa. Shin mengubah gaya bicaranya pada Duk Hwa dari gaya bicaranya yang akrab menjadi begitu formal, dan meminta Duk Hwa untuk memperkenalkan dirinya.

Duk Hwa mengingat ucapan terakhir Shin saat meninggal di sebuah padang: “Jangan berdoa kepada siapapun. Dewa tidak akan mendengarkan.” Kemudian Duk Hwa mengulangi ucapan Malaikat Maut padanya, tentang bagaiman dewa pasti memiliki alasan hingga menghapus ingatannya.

“Saya selalu mendengar,” ucap Duk Hwa. Dia telah memberikan Shin kesempatan untuk meminta kematian, dan bertanya, “Kenapa kamu masih hidup?” Dia berbalik pada Malaikat Maut untuk mengatakan bahwa dia tidak pernah menghapus ingatannya – Malaikat Maut sendiri yang membuat pilihan untuk menghapus ingatannya (dengan meminum teh).

“Dewa hanya mempertanyakan,” ucap Duk Hwa. “Takdir adalah pertanyaanku. Kalian bisa menemukan jawabannya.” Dia menunjuk wajahnya dengan sebuah jari dan memberitahu pada mereka bahwa ini adalah ucapan perpisahan ‘pada anak muda ini’ dan tiba-tiba sekumpulan kupu-kupu muncul dan beterbangan keluar dari ruangan itu.

Tubuh Duk Hwa berhenti bergerak dan jatuh ke lantai saat waktu terhenti. Dia perlahan sadar dan ketika dia melihat pada Shin dan Malaikat Maut, kepribadian lamanya kembali, dan sepertinya dewa hanya sementara meminjam tubuhnya.

Shin dan Malaikat Maut menatap satu sama lain dengan kebingungan sementara Duk Hwa mencoba untuk mencari tahu apa dia baru saja pingsan padahal hanya minum segelas. Shin berkata dengan datar, “Siapapun kamu, biar kuhajar sekali.” Malaikat Maut harus menahannya, dengan mengatakan bahwa Duk Hwa tidak ada hubungannya dengan itu.

Sunny dan Eun Tak makan ubi bakar di penjual keliling di luar rumah sekitar kediaman goblin, dan Sunny berkata bahwa dia sudah tahu Woo Bin yang ia kenal adalah Malaikat Maut. Dan jika itu  benar maka pria yang mengaku sebagai kakaknya pasti benar-benar sudah hidup nyaris seribu tahun. Eun Tak minta maaf karna tidak mengatakan apapun dan mengkonfirmasi bahwa dia secara teknis adalah pengantin siluman.

Eun Tak menyarankan agar Sunny menghubungi Malaikat Maut, dibanding berkeliaran di luar rumah mereka dengan harapan untuk bertemu dengannya. Sunny protes bahwa dia tidak bisa menelpon setelah dia terlebih dahulu yang menyarankan untuk putus.

Kemudian Sunny mengejutkan Eun Tak dengan mengetahui apa yang ingin ia katakan sebelum dia memintanya (sebuah permintaan untuk mengatur ulang jam kerjanya karna sekarang dia telah kuliah). Eun Tak terkesima melihatnya dan bertanya dengan penasaran, “Bos benar-benar manusia, bukan?”

Sekelompok Malaikat Maut tiba di restoran ayam Sunny, dan saat Sunny berbalik mereka terkesima dengan kecantikannya. Junior malaikat maut yang menyarankan agar mereka makan disana, karna Sunny tinggal di flat bawah rumah kontrakannya, dan kemudian Sunny membawakan sepiring ayam gratis. Tapi kemudian dia berkata, “Pekerjaan kalian tidak mudah,” dan mata malaikat maut membelalak – bertanya-tanya apa Sunny tahu siapa mereka.

Malam itu, hantu kasim Park menemui malaikat maut wanita dan dia berbicara dengan akrab padanya. Malaikat maut wanita itu memelototinya dengan dingin, tapi kasim Park bertanya apa dia tidak penasaran siapa dia dan mengapa dia tidak takut berdiri di hadapannya. Dan yang terpenting apa malaikat maut wanita itu tidak ingin tahu siapa dirinya. Dia menyarankan malaikat maut itu menyentuh tangan Sunny, dan mengatakan bahwa dia akan mengetahui dosanya di masa lalu dan juga Kasim Park.

Junior Malaikat Maut datang bergabung dengannya saat dia sedang duduk merenung diluar, dan mengakui bahwa dia memikirkan hal yang tidak seharusnya dia pikirkan. Dan juniornya memperingatkan untuk jangan melakukannya, waktunya tidak baik. Mereka dapat peringatan dari atasan karna kasus Jenghang-dong, untuk tidak melupakan bahwa mereka adalah pendosa.

Juniornya menyerahkan sebuah koper berisi catatan kematian bulan ini, dan Malaikat Maut bertanya-tanya pada dirinya sendiri, “Aku diberikan jawaban atau pertanyaan?”

Dia kemudian melihat kartu nama kematian, dan mendapati salah satu diantaranya ada nama Pimpinan Yu. Dia memberitahu Shin untuk berpamitan untuk yang terakhir kalinya, tapi Shin berkata bahwa dia sudah mengatakan yang ia ingin. Shin meminta Malaikat Maut untuk bertemu dengan Pimpinan Yu dan menyampaikan ucapan Shin agar dia terlahir kembali di kehidupan selanjutnya dimana dia tidak  melayani siapapun dan hidup bebas, dan bahwa Shin sangat bersyukur padanya.

Eun Tak mendengar percakapan mereka, dan Malaikat Maut menyarankannya untuk mempersiapkan diri atas kematian Pimpinan Yu dan terus mengawasi Shin. Sendirian di kamarnya, Shin mulai menangis dengan terisak-isak dan hujan mulai turun.

Duk Hwa sibuk mengomel tentang melakukan pekerjaan kasar yang ia lakukan di perusahaannya ketika Sekertaris Kim datang untuk memberitahukan kematian kakeknya.

Shin menulis sebuah pesan yang akan menandai batu nisan Pimpinan Yu, sementara dia berusaha menahan tangisnya. Batu nisan itu ditempatkan di atas sebuah bukit di Quebec, diantara semua pelayan setia Shin yang telah dikubur.

Eun Tak mendapati Shin duduk di kamarnya dan memeluknya dengan erat. Dia berkata, “Jadi seperti ini rasanya hidup abadi,” tapi kemudian menambahkan bahwa mereka yang ditinggalkan harus hidup lebih kuat, yang merupakan cara yang tepat untuk membalas cinta yang telah ia terima.

Duk Hwa sangat terpukul atas kematian kakeknya, dipenuhi rasa bersalah karna tidak menjadi cucu yang baik bagi kakeknya tercinta. “Sekarang aku harus bagaimana?,” tangis Duk Hwa. “Bagaimana bisa aku hidup sendirian?”

Shin berkata, “Kamu tidak sendirian? Kamu memiliki Paman. Kamu dan paman akan terus bersama, karena itu jangan khawatir.”

Duk Hwa sama sekali tidak merespon dengan usaha Shin, Malaikat Maut dan Eun Tak yang mencoba untuk menghiburnya. Shin bahkan menawarkan akan memberikanya emas, yang sebelumnya Duk Hwa merengek untuk diberikan, dan Malaikat Maut minta maaf karna tidak memberitahunya dari awal untuk memberikannya waktu mempersiapkan diri.

Duk Hwa hanya berterima kasih pada mereka dan minta permisi untuk membersihkan barang-barang dari perak, dan memberitahu Shin bahwa kakek telah mengatur semuanya sebelum kematiannya. Sekertaris Kim telah ditunjuk sebagai CEO, dan Duk Hwa menyadari dia memang belum siap. Dia berjanji akan  mulai belajar bekerja dari bawah, dan juga berkata bahwa dia akan mulai belajar permainan go: “Kemudian aku akan menjadi kakak, ayah, kemudian kakek Paman. Sama seperti Kakekku.”

Presiden (mantan Sekertaris) Kim melihat dokumen terakhir Kakek, dan tersenyum melihat sebuah amplop yang ditandai dengan nama Duk Hwa yang berisi kartu kredit baru. Ada juga sebuah amplop yang dikhususkan untuknya dan itu berisi sebuah surat  yang memberitahunya bahwa dia akan bertemu dengan Shin, yang akan “datang menemuinya menembus hujan dan pergi sebagai api biru,” semua yang kakek tinggalkan adalah miliknya.

Nenek/wanita bergaun merah berpapasan dengan Duk Hwa di jembatan yang tidak asing baginya, dan saat mereka berpapasan, dia bisa merasakan bahwa dewa telah meninggalkannya. Duk Hwa bertanya dengan bingung apa dia mengenalnya, dan nenek/wanita bergaun merah menggambarkannya sebagai anak yang baik, dan memberitahunya untuk mengingat bahwa kebaikannyalah yang akan mendatangkan keberuntungan untuknya.

Duk Hwa mengajaknya untuk minum, dan dia memberitahunya untuk minum dengan seorang wanita yang cantik. Duk Hwa berkata, “Kamu cantik.” “Kamu harus minum bersama manusia,” ujarnya dan melambaikan tangan sebagai salam perpisahan.

Shin dan Malaikat Maut menyiapkan makan malam bersama, dan Malaikat Maut iri bahwa Duk Hwa memiliki paman. Dia menambahkan bahwa dia iri pada semua orang dan belakangan ini merasa hampa, dan Shin mulai menggodainya – tapi kemudian entah mengapa wajah Wang Yeo tiba-tiba menggantikan wajah Malaikat Maut.

Itu hanya terjadi beberapa detik, tapi Shin menyadari bahwa dia melihat sebuah wajah di Malaikat Maut yang sebelumnya tidak pernah ia lihat. Malaikat Maut bertanya wajah siapa, dan Shin menjawab, “Wajah yang tidak seharusnya aku lihat.”

Saat Duk Hwa sedang bekerja di ruang tamu, Shin mondar-mandir di belakangnya, dan mengatakan bahwa dia bangga padanya karna berguna. Kemudian sebuah resume yang ada di tumpukan menarik perhantian Shin, seorang pria bernama Kim Woo Shik.

Di hari pertamanya kuliah, Eun Tak berdandan secantik mungkin, dan meyakinkan Shin atas kekhawatirannya bahwa dia akan baik-baik saja, menunjukkan peralatan korek api yang ada di dalam tasnya. Shin berkata dia melupakan sesuatu, dan Eun Tak menutup matanya dan mencondongkan bibirnya, karna mengira yang Shin maksud adalah sebuah ciuman. Shin tersenyum dan mengenakan sebuah kalung di lehernya, sebuah kalung yang ia beli di Quebec.

Eun Tak bertanya apa arti dari huruf yang ada di kalungnya, dan Shin menjelaskan ‘Takdir ditentukan langit’ – takdir absolut jauh dari kuasa manusia. Kemudian dia melarang Eun Tak tidak boleh kencan buta, tidak boleh menemui Tae Hee, dan pria tidak boleh mendekat dalam radius 30 meter dari kalung itu. Shin menyebut itulah takdir yang ia buat untuknya dan itu adalah keinginan dewa, dan mengantarnya keluar dengan sebuah senyuman.

Segera setelah Eun Tak tiba di kampus, dia merekam sebuah pesan video di ponselnya, menggunakan sebuah applikasi menggambar sebuah kartun disekitar kepalanya. Shin melihatnya saat dia sedang dalam perjalanan di sebuah perusahaan besar, dimana di tempat itu sedang melakukan sebuah wawancara pekerjaan.

Seorang pelamar bernama Kim Woo Sik duduk diluar bersama para pencari kerja lainnya. Shin datang ke lorong gedung itu dimana Woo Sik sedang menunggu gilirannya, dan melihatnya dengan mata yang penuh emosi. Pria itu melihat Shin menatapnya, dan kita melihat sejenak kehidupan masa lalunya saat dia menjadi pengikut setia Shin, pria yang bersumpah akan mengikuti Shin dalam kematian sebelum menusuk pedang ke dada Shin.

Shin memberitahunya bahwa jalannya menuju akhirat pasti sangat kesepian karna Shin hidup, dan meminta maaf. Pria itu tidak mengerti, tapi kemudian pria itu diberitahu bahwa dia mendapatkan pekerjaan, yang membuat keluarganya menangis. Keluarga mereka mungkin mengalami kesulitan hidup, karna tinggal di rumah atap, dan Presiden Kim kemudian menunjukkannya apartemen mewah begitu pula sebuah mobil: “Karena hasil wawancaramu sangat bagus.” Presiden Kim bahkan memberikannya sebuah nama untuk anaknya yang akan lahir, menjanjikan hal yang menakjubkan untuk masa depannya.

Kim Woo Sik bertanya mengapa dia memberinya lebih dari yang pantas dia dapatkan, dan Presiden Kim menjawab, “Kamu telah menyelamatkan negara di kehidupan sebelumnya.” Kim Woo Sik melihat sekelilingnya dengan penuh tanda tanya, dan dari kejauhan, Shin melihatnya dengan penuh rasa terharu.

Shin menelpon Eun Tak untuk mengomelinya karna dia belum juga pulang ke rumah, dan ketika Shin mendesak untuk mengetahui dia ada dimana, dia meniup sebuah korek api, dan Shin mendapati dirinya berada di sebuah foto booth yang kecil.

Eun Tak berkata mereka bisa meninggalkan foto booth-nya lima menit lagi, dan menambahkan: “Mungkin suasananya akan jadi romantis beberapa lama lagi di ruang kecil yang tertutup ini.” Tapi Shin tampak kecewa setelah Eun Tak malah mengeluarkan amplop berisi uang 5 dollar 21 sen yang akan dia gunakan untuk membayar kembali Sunny karna telah membelikan ubi bakar tempo hari. Eun Tak memberikannya alasan untuk bertemu dengan Sunny, karna tahu itu hal itu akan aneh untuk menemuinya meskipun Shin sangat ingin menemuinya.

Kemudian Eun Tak berdiri untuk pergi, tapi Shin menahannya, karna ingin menghabiskan lebih banyak waktu bersama-sama. Shin bertanya bagaimana kuliahnya, dan dia mulai kesal ketika Eun Tak mulai menyebutkan nama Tae Hee, meskipin Eun Tak kemudian menambahkan Tae Hee pindah ke Amerika untuk Bisbol Liga Besar. Shin mulai menyombongkan kemampuannya tentang mengenali bakat sejati yang dimiliki oleh seseorang, dan Eun Tak menyela ucapannya dengan memberinya sebuah kecupan, dan mengatakan dia harus berangkat kerja. Shin jadi malu-malu dan bahagia dengan ciuman tiba-tiba itu, dan memutuskan bahwa dia akan datang setiap hari ditempat kecil dan tertutup ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*