Home / Sinopsis Drama Korea / Sinopsis Goblin Episode 13 Bagian Kedua Drama Korea

Sinopsis Goblin Episode 13 Bagian Kedua Drama Korea

[Baca juga: Sinopsis Goblin Episode 13 Bagian Pertama Drama Korea] 

Tapi Malaikat Maut mengakui bahwa dia yang telah membunuhnya karna telah memberinya pedang itu: “Saya yang telah membunuh mereka semua. Aku ingat. Aku adalah Wang Yeo.”

Shin mendorongnya ke tembok dan berkata dengan nada yang  meluap-luap: “Kau benar. Sudah kukatakan kepadamu. Kamu membunuh mereka semua. Kamu terus membunuh bahkan sampai membunuh dirimu sendiri.”

Air mata menetes di wajah Malaikat Maut saat Shin lanjut berkata, “Kau tidak bisa melindungi wanitamu, pengikut setiamu, Goryeo-mu, bahkan dirimu sendiri. Tidak satu pun bisa kamu lindungi. Sun … Adikku melindungimu dengan nyawanya. Seharusnya kamu hidup. Seharusnya kamu tetap hidup dan tewas oleh pedangku. Seharusnya kamu buktikan dengan kematianmu bahwa aku memang seorang pengkhianat, seperti katamu.”

Shin berkata dia yakin Sun tahu bahwa saat Park Joong Won mengatakan ‘Kim Shin,’ maka ‘Kim Sun’ akan menjadi berikutnya bahwa dia akan digunakan untuk menekannya, karena itulah adiknya memilih tewas disana sebagai adik seorang pengkhianat, daripada harus menjadi kelemahannya.

“Untuk menyelamatkanmu,” tambah Shin.

Malaikat Maut terus menangis saat berkata bahwa  dia memakaikan cincin giok itu dengan paksa ke jari Sun, dan bahwa sekarang cincin itu dia berikan lagi padanya di kehidupan ini. Dia memohon pada Shin untuk membunuhnya,  tapi Shin bertanya: “Inikah yang kamu inginkan? Kamu akan mengabaikan dirimu sendiri lagi? Dosa membunuhmu sudah kamu lakukan sendiri. Itu sudah cukup.”

Eun Tak mengembalikan cincin giok Sunny dan minta maaf setelah menyimpannya selama beberapa hari karna memikirkan apa harus memberikan cincin itu padanya. Eun Tak bertanya apa Sunny tidak ingin menanyakan sesuatu padanya.

Sunny berkata untuk apa karna semua sudah jelas, dan mengakui bahwa dia tidak tahu akan mendapatkan cincinnya kembali seperti ini. Sunny memandangi cincin gioknya, dan berkata: “Kesedihan, dosa, dan kerinduan seseorang adalah milikku. Peramal itu hebat.”

Sunny lantas bertanya apa dosa Eun Tak. Eun Tak tak mengerti, dan Sunny berkata bahwa dia telah mendengar Eun Tak adalah pengantin goblin. “Kenapa kamu terikat kepada kakakku?,” tanya Sunny.

Eun Tak menjawab dengan tersenyum: “Karena ini takdir kami.” Sunny bertanya apa Eun Tak juga melakukan hal yang aneh – seperti terbang seperti burung. Eun  Tak berkata dia tidak seperti itu, tapi tiba-tiba dia teringat ucapan Malaikat Maut bahwa takdirnya adalah mengakhiri  kehidupan goblin.

Eun Tak segera tersadar dari lamunannya saat Sunny memanggil namanya. Eun Tak berkata bahwa dia bisa meredakan hujan agar tidak mengganggu orang-orang, dan dia juga bisa membuat salju pertama turun lebih cepat agar orang merasa senang.

Sunny kemudian bertanya, “Mengapa kakakku berubah menjadi siluman?” Eun Tak menjawab, “Karena dunia memerlukan keajaiban. Keajaiban aneh  dan cantik.”

“Kata siapa,” tanya Sunny. Eun Tak: “kataku.”

Sunny: “Bagaimana dengan Malaikat Maut? Karena semua orang akan mati?”

Eun Tak: “Karena ada kematian, maka hidup ini mengagumkan.”

Kebersamaan mereka terganggu saat Park Joong Won tiba-tiba datang di restoran Sunny karna tahu dia adalah reinkarnasi Kim Sun. Sunny tak bisa melihatnya, tapi Eun Tak bergegas berdiri di depan Sunny untuk melindunginya. Park Joong Won memperingatkan Eun Tak untuk tidak ikut campur karna sekarang belum gilirannya. “Saya akan menghabisimu setelah dia,” ucap Park Joong Won.

Eun Tak  menyuruh Sunny untuk secepatnya mengambil pemantik dari saku mantelnya, tapi Sunny malah kebingungan, bertanya untuk apa. Sementara Park Joong Won berkata bahwa Raja Yeo sudah seperti putranya sendiri, tapi Sun merusak segalanya.

Park Joong Won mendekat untuk menyerang Sunny, tapi Eun Tak secepatnya melindunginya dan tanda lahir yang ada di belakang lehernya bersinar sehingga membuat Park Joong Won tak bisa mendekati mereka.

Park Joong Won segera menghilang sementara Eun Tak jatuh pingsan.

Sunny dan Eun Tak pulang, dan Eun Tak meyakinkan Sunny bahwa dia baik-baik saja. Sunny bertanya, “Tadi dia bicara dengan siapa? Sinar hijau apa tadi? Katamu kamu manusia? Jangan-jangan kamu hanya terlihat seperti manusia, tapi bukan manusia sungguhan?”

Eun Tak tertawa kecil, dan berkata, “Ini juga kali pertamaku.” Eun Tak menyuruh Sunny masuk terlebih dahulu dan akan segera menyusulnya setelah berbicara sebentar dengan Shin. Sunny bertanya apa Shin bilang akan mampir, dan Eun Tak menjawab bahwa kalau dia memanggilnya, Shin tak punya pilihan lain selain datang padanya.

Eun Tak segera menyalakan pemantiknya dan meniupnya, dan Shin pun muncul di hadapannya. “Bagaimana kabarmu?,” tanya Shin. Eun Tak langsung berlari memeluknya dan berkata, “Aku merindukanmu.”

“Aku juga,” jawab Shin. Tapi saat memeluk Eun Tak, Shin melihat tanda lahir di belakang lehernya nyaris menghilang. Eun Tak tak tahu alasannya, dan Shin menjelaskan bahwa kalau memudar, berarti dia dalam bahaya besar dan Shin mungkin tidak bisa merasakan keberadaannya sehingga Eun Tak meyakinkan Shin bahwa dia akan berhati-hati dan lebih waspada.

Shin bertanya apa Eun Tak melihat Park Joong Won lagi. Eun Tak  berkata ya, tapi bukan dia sasarannya melainkan Sunny, adiknya. Shin memberitahu Eun Tak untuk lebih mengkhawatirkan dirinya, karna ada orang lain yang akan melindungi Sunny.

Kemudian Malaikat Maut menulis sebuah dokumen tentang Park Joong Won ‘jiwa yang terhilang’ yang telah tewas pada tahun 1097 yang sejak saat itu menghindari Malaikat Maut dan sekarang dia bertemu dengannya di tahun 1997 tapi dia berhasil lolos darinya lagi.

Malaikat Maut memberikan dokumen yang ia tulis semalam tentang ‘Park Joong Won,’ dan Juniornya mengenali dia adalah jiwa yang berhasil lolos 20 puluh tahun yang lalu. Malaikat Maut berkata bahwa dia diskors sehingga tak bisa melaporkannya sendiri dan menjelaskan bahwa usia Park Joong Won 900 tahun dan dia bisa hidup dari emosi kelam manusia dimana mereka tak bisa mengalahkannya meski ada yang melihatnya. Malaikat Maut menyarankan agar mereka memasukkannya dalam daftar maka setidaknya mereka bisa mengendalikannya, dan juniornya bersedia untuk melaporkannya tengah malam ini.

Malaikat maut juga diberitahu oleh juniornya bahwa dia telah mendapat kartu nama Ji Eun Tak, dan Malaikat Maut melihat bahwa Eun Tak tinggal memiliki waktu sepekan.

Eun Tak duduk di depan cermin dan penasaran melihat tanda lahirnya di belakang lehernya yang hampir memudar. Dia teringat ucapan Park Joong Won, dan menduga-duga Park Joong Won akan mengejarnya.

Malaikat Maut dan Shin bertemu dan Malaikat Maut menginformasikan tentang kartu nama Eun Tak yang ia dapatkan.  Shin menebak bahwa Park Joong Won terlibat, dan Malaikat memberitahu Maret 2017. Shin berkata tanggal tidak begitu penting, tapi Malaikat Maut berkata, “Tetap saja kurasa kamu perlu mengetahuinya.”

Shin memberitahu Malaikat Maut bahwa Park Joong Won menggangu adiknya dan memintanya untuk melindungi Sunny: “Meski hanya sekali, lindungi dia seperti dia melindungimu.”

Malaikat Maut tiba-tiba bertanya, “Hari itu, kenapa kamu terus maju? Kamu tahu kamu akan mati disana saat itu.”

“Aku ingin mengatakan hal yang tidak bisa kusampaikan,” ucap Shin. “Sejak kamu memberikanku pedang itu, aku sudah meminta waktu untuk berbincang, tapi kamu, raja dan adik iparku, hanya menyuruhku bertarung di perbatasan lain. Hanya saat kamu yakin aku akan mati, kamu baru memperlihatkan wajahmu.”

“Apa yang sebenarnya ingin kamu katakan?,” tanya Malaikat Maut.

“Raja sebelummu mengatakan dia menjagamu dengan mengabaikanmu,” jawab Shin. “Raja sebelummu, kakak tirimu, istrimu, adikku, aku, jenderalmu yang setia, kami semua menyayangimu. Saat itu aku ingin memintamu memberikan sebuah perintah padaku. ‘Aku memberikan pedang ini karena kecemasan dan kewaspadaan.’ ‘Penggal kepala Park Joong Won.’ Itu saja.”

“Aku sama sekali tidak tahu kalau pedang itu akan berakhir di dadaku,” tambah Shin.

Namun saat dia berbalik akan pergi, Shin tiba-tiba saja menyadari sesuatu. Dia teringat ucapan Park Joong Won saat mereka bertemu bahwa Shin tidak akan bisa melukainya dengan pedangnya meskipun 900 tahun telah berlalu.

“Kenapa bisa seperti ini?,” gumam Shin. “Aku sudah sejauh ini tapi aku harus menggunakan pedang ini lagi.”

Kilat tiba-tiba menggelegar sehingga Malaikat Maut bertanya ada apa, dan apa pedang itu menyakitinya lagi. Shin berbalik dan berkata, “Ternyata memang itulah tujuan pedang ini. Untuk menyerang Park Joong Won.”

Saat sedang mengenakan lipstik di bibirnya, Sunny tiba-tiba saja teringat dengan kenangannya saat membubuhkan ciuman di kertas berisi nomor telponnya yang ia berikan pada Malaikat Maut, dan tanpa ia sadari kenangan itu malah membuatnya menangis.

Dia keluar rumah, dan Malaikat Maut  diam-diam mengikutinya dari belakang. Dia terus mengikutinya bahkan ketika Sunny datang ke jembatan –tempat pertemuan pertama mereka, sampai ia terkejut saat Sunny bertanya, “Sudah berhari-hari seperti ini, kamu membuntutiku, ya?’

“Tidak. Jalan kita tumpang tindih,” jawab Malaikat Maut dengan kikuk.

Sunny: “Berkat kamu, rasanya aku seperti berkencan denganmu, Kim Woo Bin.”

Malaikat Maut: “Tapi kenapa? Bagaimana kamu bisa ingat?”

Sunny: “Karena kamu melakukan kesalahan saat menghipnotisku.”

Flashback di malam saat Malaikat Maut memerintahkan pikiran Sunny untuk melupakan semua saat sedih dan sulit, baik di kehidupannya sebelumnya atau saat ini, dan juga melupakannya.

Kembali ke masa sekarang, Suny berkata: “Kamu memintaku unuk mengingat momen bahagia saja, tapi kamu memintaku melupakanmu. Itu sebuah kontradiksi. Setiap ingatan dimana kamu hadir, bahkan segala kesedihan dan kesulitan itu, semuanya membuatku bahagia.”

“Jadi apa aku memberikan nyawaku untuk melindungimu telah memberimu akhir bahagia?,” tanya Sunny. Air mata menetes di wajah Malaikat Maut saat Sunny kembali berkata, “Melihat penampilanmu yang begitu muda, dahulu kamu tidak berumur panjang, bukan?”

“Setiap hari hatiku remuk karena merindukanmu. Karena aku bodoh,” ucap Malaikat Maut. Sunny  menghapus air matanya dan berkata, “Sebaiknya kamu cepat menyadarinya. Tapi kenapa aku jatuh cinta lagi padamu di kehidupan ini? Apa karena kamu begitu tampan?”

 “Mari kita benar-benar putus hubungan kali ini,” ucap Sunny saat melepaskan cincin gioknya. “Dalam kehidupan ini, aku tidak mau jatuh cinta padamu. Ini satu-satunya hukuman yang dapat kuberikan kepadamu.”

Dia memasukkan cincin giok itu ke saku jaket Malaikat Maut dan berkata, “Selamat tinggal, Paduka,” dan kemudian berjalan pergi dari hadapannya.

Seorang anak kecil diganggu oleh dua anak remaja yang merebut paksa kuenya yang telah dibelikan oleh neneknya. Dia tak terima neneknya dikatai  pengemis, sehingga mengulurkan tangannya dan berteriak ‘bom angin.’ Awalnya kedua remaja nakal itu menertawainya dan bahkan mendorongnya, tapi setelah mencoba sekali lagi angin benar-benar berhembus sampai membuat kedua anak nakal itu berlari ketakutan.

Ternyata itu ulah Shin, tanpa sepengetahuannya. Anak kecil itu sangat bahagia saat  melaporkan pada Eun Tak bahwa dia bisa membuat bom angin. Anak kecil itu bertanya bagaimana Eun Tak bisa tahu dia bisa membuatnya, dan Eun Tak berkata bahwa waktu seusianya dia pernah mengatakan  akan menjadi pengantin goblin setelah dewasa dan itu terjadi.

Eun Tak berpesan agar dia tidak menggunakan bom anginnya sembarangan karena berbahaya, dan anak itu berjanji hanya akan memberitahu neneknya.

Setelah anak kecil itu pergi, Eun Tak menghampiri Shin dan berkata, “Tadi kamu keren juga.” Shin kemudian mengajak Eun Tak bepergian bersama, dan hal itu membuat Eun Tak terkejut. Eun Tak menduga saat ini Shin sedang senang, dan dia hanya mengangguk.

Kemudian mereka menginap di sebuah villa, menghabiskan waktu bersama sepanjang hari. Eun Tak begitu  bahagia dan bahkan memotret Shin dan memeluknya dari belakang saat dia sedang memanggang.

Shin bahkan berbaring di pangkuan Eun Tak dan tak berkedip sedikitpun saat.

Mereka kemudian duduk diluar dan saat Shin berkata dia memiliki hadiah untuknya, Eun Tak langsung menutup matanya – seolah mengharapkan sebuah ciuman darinya tapi Shin sebaliknya memberikan sebuah salinan surat perjanjian.

Shin berkata mereka masing-masing harus menyimpan satu salinan agar Eun Tak bisa mengingatnya, dan Eun Tak berkata itulah mengapa dia berusaha membuat satu salinannya hanya saja saat itu tertangkap basah. Tapi Eun Tak segera memanjat tubuh Shin untuk merebut salinan asli yang ada di tangannya, dan Eun Tak malah menghadiahinya sebuah kecupan.

Malamnya, Shin duduk sendirian di kamarnya dan menangis dengan tersedu-sedu saat membaca salah satu permintaan di surat perjanjian yang ditulis oleh Eun Tak bahwa di hari salju pertama turun setiap tahunnya, goblin setuju untuk ia panggil dan akan menunggunya.

Dia menangis dengan terisak-isak saat kembali terkenang  beberapa perbincangannya dengan Eun Tak.

Kita kembali flashback saat Shin berkata pada Eun Tak: “Aku tidak boleh sedih selama 1000 tahun.”

Eun Tak: Aku tidak selalu kesakitan.

Shin: “Aku siluman tabah yang menerima takdirku dan menjalani hidupku.”

Eun Tak: “Aku pengantin siluman yang tabah dan menerima takdirku serta menjalani hidupku.”

Shin: “Tidak ada kesedihan yang abadi. Tidak ada pula cinta yang abadi.”

Eun Tak: Menurutku ada.

Shin: “Mana yang kamu pilih? Kesedihan atau cinta?”

Eun Tak: “Cinta yang menyedihkan.

Shin diam-diam datang ke tempat kerja Duk Hwa, meskipun ia masih kesulitan mengubah sifat pemalasnya, untuk melihatnya  yang terakhir kali.

Dia juga datang ke restoran Sunny dan hanya berdiri dari luar memandanginya. Dia lega melihat Sunny tampak baik-baik saja dan sehat, dan dia berharap di kehidupan ini baik pada Sunny.

Shin datang menjemput Eun Tak di kampusnya, dan tak berkedip sedikitpun saat memandangi Eun Tak berjalan perlahan menghampirinya dan tersenyum padanya.

“Aku hanya perlu memikirkanmu dan kamu langsung muncul. Barusan aku memikirkanmu, Kim Shin,” ucap Eun Tak.  Eun Tak bertanya mengapa dia datang ke kampusnya, dan Shin menjawab, “Aku ingin menemuimu. Dan mau minta bantuan.”

Shin berkata ini tentang Park Joong Won, dan Eun Tak berkata bahwa dia cukup penasaran ‘Kenapa sekarang dia memilih untuk menampakkan diri’ setelah gentayangan selama 900 tahun. Shin berkata dia ingin meminta Eun Tak berani untuk sementara waktu, dan  Eun Tak mengangguk saat berkata dengan penuh bangga, “Aku pengantin siluman.”

Shin membawa Eun Tak  melalui sebuah pintu portal, dan mereka tiba di atap sebuah gedung tinggi. Eun Tak menunjukkan pemantik di tangannya untuk memastikan bahwa dia akan segera memanggilnya setelah Shin menelponnya.

Sebelum pergi, Shin tiba-tiba saja mencium Eun Tak dengan penuh hasrat dan berjanji dia akan segera kembali.

Shin tiba-tiba muncul di depan Park Joong Won dengan memegang sebuah pedang di tangannya. Tapi Park Joong Won berkata bahwa Shin tidak dapat membinasakannya dengan pedang itu, dan Shin berkata dia tahu itu.

“Bisa kita mulai pertarungan terakhir kita?,” ucap Shin.

Park Joong Won: “Bagaimana kamu bisa tahu aku akan kemana?”, dan kemudian ia menghilang dari pandangan Shin.

Park Joong Won muncul di depan Eun Tak, tapi sayang kali ini Eun Tak sudah tidak bisa melihatnya setelah tanda lahir di belakang lehernya yang memudar.

Sementara itu, saat Malaikat Maut berada di rumah dia melihat tanggal kematian di kartu nama Eun Tak yang jatuh tanggal 11 Maret 2017 karena serangan jantung. Dan dia kemudian melihat jam di tangannya.

Kita kembali ke atas gedung. Eun Tak akhirnya menyadari sesuatu bahwa Park Joong Won menunggu tanda lahirnya memudar untuk memanfaatkannya menarik pedang Shin yang tertancap di jantungnya.

Sayang dia tak melihat Park Joong Won yang telah berdiri di depannya, dan saat Shin menelponnya untuk segera memanggilnya dengan  pemantik, Park Joong Won mencengkeram erat leher Eun Tak. Untung saja, Eun Tak kembali berusaha menyalakan pemantiknya.

Dia berhasil, dan Shin langsung muncul di depannya dan mendorong Park Joong Won. Tapi Eun Tak tiba-tiba memegang pedang Shin yang ada di tangannya untuk menusuk dirinya sehingga Shin langsung menghilangkan pedangnya.

Eun Tak memberitahu Shin bahwa dia sudah tahu kenapa Park Joong Won muncul sekarang, karena ingin merasukinya untuk mencabut pedang yang tertancap di jantung Shin. “Aku tidakdirkan untuk tetap mati jika bukan karena kamu,” ucap Eun Tak.

Eun Tak mendesak Shin untuk secepatnya menikamnya, tapi Shin tak bergeming dan Park Joong Won berhasil merasuki tubuhnya.

Meminjam tubuh Eun Tak, Park Joong Won berkata, “Sekarang kamu akan mati di tanganku.”

Park Joong Won telah memegang pedang yang ada di jantung Shin untuk mencabutnya, tapi Malaikat Maut tiba-tiba muncul  dan memanggilnya dengan suara yang keras, “Park Joong Won, jawablah panggilanku, hai jiwa yang telah meninggal,” dan rohnya berhasil keluar dari tubuh Eun Tak.

Eun Tak jatuh pingsan, tapi Shin tetap memegang tangannya untuk menarik pedang yang tertancap di jantungnya. Pedang itu berhasil keluar dengan sebuah cahaya berwarana kuning, dan tanpa ragu Shin langsung menebas Park Joong Won dengan pedang itu.

Park Joong Won: “Beginilah akhirnya. Namun aku tidak akan binasa dengan sia-sia. Aku mengambil nyawamu sekali lagi. Lihat. Akhirnya adalah kebinasaan.” Dan pada akhirnya, roh Park Joong Won hancur seperti abu.

Shin menoleh pada Malaikat Maut dan berkata, “Maafkan aku. Akhirnya aku bisa mengabarkan kematianku yang gagah berani,” dan Malaikat Maut tak kuasa menahan tangisnya.

Pedang itu pun lenyap dari tangan Shin, dan saat Eun Tak telah sadar dia bergegas berlari memeluknya  setelah menyadari apa yang terjadi.

“Tidak, tidak” tangis Eun Tak sementara mungkin semacam partikel-partikel kecil berwarna kuning beterbangan di udara, yang keluar dari tubuh Shin.

 “Bertemu denganmu adalah imbalan untuk hidupku,” ucap Shin saat menyentuh wajah Eun Tak.

Eun Tak: “Tidak. Kumohon. Kamu pernah mengatakan tidak akan melepaskan tanganku. Kamu sudah berjanji padaku.”

Shin: “Aku akan datang saat hujan. Aku akan datang saat salju pertama. Aku akan memohon pada dewa untuk mengizinkanku melakukan itu.”

“Jangan lakukan itu. Jangan pergi seperti ini,” tangis Eun Tak. “Aku mencintaimu. Aku mencintaimu.”

Shin: “Aku juga. Aku mencintaimu. Aku sudah melakukan itu disana tadi.”

Shin menatap Eun Tak dengan sebuah senyuman kecil di wajahnya  dan tanpa berkedip sedikitpun saat memandanginya untuk yang terakhir kalinya, dan  beberapa detik kemudian tubuhnya perlahan hancur dan menghilang.

Sepeninggal Shin, Eun Tak pun menangis dengan tersedu-sedu.

 

One comment

  1. aaahhhh shin :(( really really gomawoo unnie for this sinop.. cepet bangett yaa 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*