Home / Sinopsis Drama Korea / Sinopsis Goblin Episode 14 Bagian Pertama Drama Korea

Sinopsis Goblin Episode 14 Bagian Pertama Drama Korea

Sumber Dok Gambar: tvN

Untuk melihat semua tautan sinopsis aktriskorea.web.id, silahkan kunjungi www.sinop.web.id

[Baca juga: Sinopsis Goblin Episode 14 Bagian Kedua Drama Korea]

Kim Shin akhirnya berhasil mencabut pedang yang bersarang di jantungnya dengan bantuan tangan Eun Tak, dan pedang itu berhasil menghabisi Park Joong Won.

Sesaat setelah membunuh Park Joong Won, tubuh Shin perlahan melemah. Malaikat Maut menangis  sementara Shin memegang pedangnya untuk membantunya tetap berdiri berkata, “Maafkan aku. Akhirnya aku bisa mengabari paduka tentang kematianku yang gagah berani.

Shin menyentuh wajah Eun Tak dan berkata: “Berjumpa denganmu adalah hadiah daalam hidupku.”

“Tidak,” ucap Eun Tak. “Kamu bilang tidak akan melepaskan tanganku. Kamu sudah berjanji.” Shin berjanji pada Eun Tak bahwa dia akan datang sebagai hujan, akan datang sebagai salju pertama, dan dia akan memohon pada Dewa agar mengizinkannya melakukan itu.

“Jangan pergi seperti ini,” tangis Eun Tak. “Aku mencintaimu.” Shin: “Aku juga. Aku mencintaimu. Aku sudah melakukan itu tadi,” dan perlahan tubuh Shi lenyap.

Setelah tubuh Shin lenyap, kilat  menggelagar di langit, dan  waktu tiba-tiba menjadi  lambat dan ingatan orang-orang yang pernah bertemu dengan Shin terhapus dari ingatan mereka satu persatu. Semua tulisan tentang Shin di buku harian Eun Tak menghilang satu persatu begitu pula tiga kata ‘Itu cinta pertama’ di sebuah halaman terbakar — dan semua kenangan akan Shin perlahan akan menghilang dari ingatan Eun Tak.

Di detik-detik terakhir, Eun Tak menyadari hal itu akan terjadi, dia bergegas mengambil sebuah buku catatan di bukunya dan menulis dengan tergesa-gesa, “Ingatlah.  Kau harus mengingatnya. Dia tinggi dan memiliki senyum yang sendu. Dia akan datang sebagai salju pertama. Dia akan menepati janjinya. Ingatlah kamu adalah pengantinnya.”

Di sebuah dunia lain, Shin berjalan di tengah gurun pasir dan sesaat setelah sebuah kupu-kupu terbang terdengar suara Dewa berkata, “Kamu telah dihapus dari ingatan  dari orang-orang yang mengenalmu. Itu demi ketenangan mereka dan itu adalah karunia-Ku. ”

Suara wanita berbaju merah juga  memberitahu Shin bahwa  Dewa berkata hukumannya telah selesai sehingga dia bisa melupakan semuanya dan tidur dan beristirahat dengan tenang. Tapi dia melihat mata sang siluman dipenuhi air mata.

Shin berlutut di depan Dewa dan memohon: “Sekarang aku melihat pilihan apa yang kubuat. Sekarang aku berharap untuk tetap disini. Aku akan tetap ada dan menjadi hujan. Aku akan menjadi angin. Aku akan menjadi salju pertama. Aku memohon izin-Mu untuk satu hal ini saja.”

Suara Shin bernarasi, “Namun di tempat ini bahkan aku pun tidak ada disini.”

Di suatu tempat, Nenek ajaib kemudian bercerita pada  seorang pria yang merupakan reinkarnasi ajudan Shin bahwa sang siluman bertahan sendirian seperti itu dan dia terjebak di tempat di antara kehidupan ini dan akhirat, antara cahaya dan kematian, dan tempat yan ditinggalkan oleh Dewa. “Dia terjebak selamanya,” ucap Si Nenek.

Pria itu bertanya apa yang akan terjadi pada siluman, dan Si Nenek berkata entahlah: “Kenangan akan segera terlupakan dan hanya kehampaan dahsyat yang akan tersisa. Dia akan terus berjalan dalam kehampaan itu. Apa yang akan terjadi padanya setelah perjalanan tiada akhir itu? Dimana dia akan tiba?”

Sembilan tahun kemudian

Eun Tak telah menjadi  wanita dewasa, dan berprofesi sebagai Produser di sebuah stasiun radio.  Seorang temannya datang memberikan naskah mereka  dan  memberitahunya tentang hujan lebat yang sedang turun di luar. Dia menggerutu karna mengira cuaca hari ini akan cerah, tapi malah sebaliknya.

Ji Eun tak berkata dia tidak membawa payung, namun rekannya berkata itu bukan masalahnya. Eun Tak dengan santai berkata mereka tidak bisa menghentikan hujan, melainkan mereka bisa menulis ulang pembukaannya. Dia setuju dengan lagu pertama yang mereka pilih, berpendapat bagus jika memulai hari yang suram dengan lagu yang ceria.

Dia kemudian memerintahkan asistennya untuk menghilangkan kata-kata yang tidak cocok dengan cuaca hari ini, dan seorang rekan mereka mengingatkan  tersisa delapan menit sebelum mereka mengudara.

Saat akan pulang, Eun Tak  hanya berdiri di depan gedung kantornya karna tak membawa payung, tapi melihat hujan yang turun, dia tiba-tiba saja menangis.

Eun Tak datang ke sebuah café dan di belakangnya ada Malaikat Maut yang mengantri untuk memesan pesanannya mengenakan pakain yang santai, namun Eun Tak sama sekali tak mengenalinya.

Sesampainya ia di rumah, Eun Tak sejenak teringat dengan seorang pria yang ia temui di restoran tadi — mirip dengan seorang pria berpakaian serba hitam yang pernah datang ke rumahnya saat ia masih kecil dulu. Tapi kemudian dia segera meyakinkan dirinya jika dia hanya keliru, karna kejadian itu terjadi 20 tahun yang lalu.

Dia memegang kalung di lehernya dan bertanya-tanya pada dirinya, “Apa ini kenang-kenangan dari Ibu? Sejak kapan aku punya kalung ini?” Sementara itu di dunia lain, Shin terus berjalan di sebuah hamparan padang pasir yang luas.

Suara Shin bernarasi, “Di gurun itu dia sangat kesepian hingga terkadang dia berjalan mundur. Dia ingin melihat jejak kaki di depannya.”

Eun Tak sedang menulis dan membolak-balik lembaran halamannya sampai ia mendapati sebuah tulisan kecil yang terbakar di buku catatannya. Dia bertanya-tanya pada dirinya, “Mengapa hanya bagian ini yang terbakar.”

Dia kemudian singgah ke restoran Sunny dan meminta soju. Sunny bertanya apa Pak Kepala memarahinya lagi, padahal  hari ini acara radionya cukup bagus. Eun Tak menjawab bagus itu percuma, dan dia hampir dipecat karna iklan mereka sedikit dan mereka ribut karna hujan yang tiba-tiba datang.

Eun Tak memesan ayam goreng, dan tak lama ‘Ketua Kelasnya’ juga datang di restoran Sunny sambil membawa beberapa tumpukan berkas di tangannya. Eun Tak membawakan sebotol bir di mejanya, dan bertanya apa dia memenangkan sidangnya. Ketua kelasnya hanya menjawab dia tidak akan bisa meninggalkan kantor seandainya menang.

Dia bertanya apa Eun Tak ingin kencan buta, dan Eun Tak menjawab dia tidak suka pengacara. “Kali ini koki,” ucap Ketua Kelas dan menambahkan bahwa koki itu kerap mengisi acara memasak dan dia mirip dengan anak anjing saat tersenyum dan manis.

“Mengapa aku mengencani tipe priamu?,” tanya Eun Tak. Ketua kelas membalas: “Kenapa aku mengencani penggemar acaramu? Dia selalu menonton acaramu saat jam makan siang.” Eun Tak menggodainya saat bertanya apa hanya dia yang bisa dijual olehnya.

Sunny datang bergabung, dan berkata pada Eun Tak: “Juallah dirimu saat ada yang mencoba menjualmu.” Sunny berkata dulu jadi cinta pertama seseorang adalah hal termudah baginya, tapi kini tidak ada pria yang mengajaknya minum kopi.

 “Ya, jangan jadi seperti dia,” ucap Ketua Kelas dan Suny malah tersinggung. Ketua kelas  menjelaskan bahwa dia merasa Sunny bisa menjadi contoh sempurna untuk membuat Eun Tak mengerti.

“Hanya diakah temanmu, Eun Tak?” tanya Sunny dengan kesal, dan Ketua Kelas balik berkata, “Apa hanya ini tempat yang bisa kamu datangi untuk minum?”

Setelah kembali meneguk segelas soju, Eun Tak memandangi hujan yang turun dari  kaca jendela dan kemudian berkata, “Hujan yang turun dan minuman yang pahit. Aku juga memiliki dua teman yang mengkhawatirkanku. Ini hari yang indah”

Usai minum di tempat Sunny, dia berjalan pulang ke rumah dan dua hantu yang mengenalinya bertanya-tanya mengapa sekarang dia tidak bisa melihat mereka, padahal Eun Tak adalah pengantin siluman. Seorang hantu berkomentar bahwa  dahulu Eun Tak adalah pengantin siluman, tapi umurnya telah 29 tahun dan sang siluman belum juga muncul, dan dia hampir menjadi janda.

Eun Tak tiba-tiba saja menangis dengan tersedu-sedu di dalam kamarnya. “Kenapa aku terus merasa seperti ini?” tanya Eun Tak pada dirinya.

Sementara itu kembali ke dunia lain – di sebuah padang pasir, Shin berjalan dengan tertatih-tatih sambil memegang sebuah surat perjanjian dia dan Eun Tak di tangannya, namun  tiba-tiba saja saat ia terjatuh karna kelelahan dan secarik kertas di tangannya terlepas dan terbang terbawa angin.

Saju turun, dan Eun Tak hanya memandangi salju itu dengan tatapan kosong, tanpa mengerti apa maksudnya.

Eun Tak duduk di sebuah bangku  sambil memegang kue ulang tahun di tangannya. Dia bertanya-tanya dalam hatinya, “Apa yang telah kulupakan? Siapa yang telah kulupakan?” Eun Tak kemudian menyalakan sebuah lilin kue ulang tahunnya, dan kembali Eun Tak bertanya-tanya dalam pikirannya, “Wajah siapa yang telah kulupakan? Janji apa yang telah kulupakan hingga kesedihanku begitu mendalam.”

“Seseorang, siapapun tolong aku,” ucap Eun Tak dalam pikirannya. Permintaan Eun Tak malah menggema sampai ke dunia lain tempat Shin berada.

Setelah Eun Tak meniup lilin kue ulang tahunnya, dengan ajaibnya di tangan Shin muncul asap dan seperti sebelumnya dia tiba-tiba muncul di depannya, dengan pakaian prajuritnya. Panggilan itu berhasil mengembalikan Shin ke dunia manusia.

Eun Tak menoleh, dan Shin berdiri disana sambil menatapnya dengan mata yang berkaca-kaca. Dan sejenak kita kembali flashback dengan  pertemuan pertama Shin dan Eun Tak saat dia meniup lilin kue ulang tahunnya dan berhasil memanggilnya di pinggir pantai.

Shin menghampirinya dan memeluknya dengan erat, sementara mata EunTak langsung menangis dengan tersedu-sedu. Tapi tak lama, dia melepaskan pelukan Shin dan minta maaf, meyakinkannya bahwa kadang peurubahan suasana hatinya sangat parah.

Eun Tak kembali bertanya-tanya, “Apa yang sedang ku lakukan? Kenapa aku yang minta maaf?” Eun Tak bertanya dengan ketus pada Shin, “Apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu memelukku? Kamu mengenalku? Siapa kamu.”

Shin hanya menjawab: “Aku yang ada di perjanjian.” “Perjanjian?,” tanya Eun Tak dengan bingung. Setelah melihat penampilannya dari atas sampai ke bawah, Eun Tak menebak dia adalah seorang aktor, tapi Shin melihat ID Eun Tak, dan kemudian bertanya, “Apa impianmu terwujud?”

Eun Tak sama sekali tak mengerti dengan maksud ucapannya, dan Shin hanya berkata dia bangga padanya. Eun Tak berterima kasih, meskipun dia kembali bertanya mengapa tadi Shin memeluknya dan mengapa dia terus berbicara dengan santai kepadanya.

Shin tak bisa berkata apa-apa lagi setelah sebelumnya dia telah diberitahu oleh Dewa bahwa dia telah dihapus dari ingatan orang-orang yang mengenalnya demi ketenangan mereka.  Shin kemudian hanya berkata, “Selama kamu hidup tenang, aku baik-baik saja. Hanya itu yang kuperlukan.”

Eun Tak bertanya, “Apa kamu sedang berakting,” dan kemudian menginformasikan bahwa bagian drama bukan di gedung ini tapi di paviliun belakang, dan kemudian berjalan pergi.

Tapi hanya berjalan beberapa langkah Eun Tak kemudian berbalik dan selama beberapa detik memandangi Shin, dan kemudian bertanya mengapa dia bisa kesini tanpa kartu identitas. “Karena seseorang memanggilku,” jawab Shin.

Kemudian Shin datang ke perusahaan dengan mengenakan pakaian prajuritnya dan memanggil nama Duk Hwa, sementara Duk Hwa  maupun sekertaris Kim hanya dibuat heran dengan kehadirannya. Dia akan diusir keluar oleh pihak keamanan, namun Sekertaris Kim memerintahkan mereka untuk melepaskan Shin dan mendengarkan penjelasannya.

Shin lalu berjalan untuk memeluk Duk Hwa saat berkata: “Kupikir aku tidak akan lagi bertemu denganmu. Aku senang melihatmu.” Namun Duk Hwa menyuruhnya berhenti, dan bertanya, “Kamu siapa? Kamu mengenalku?”

“Aku pamanmu, kakakmu,” ucap Shin. Duk Hwa mengira dia hanya orang gila, dan kemudian mendatangi sebuah restoran untuk makan siang bersama Sekertaris Kim.

Di restoran, Duk Hwa masih kepikiran dengan pria aneh yang tadi datang ke kantor yang mengaku sebagai pamannya. Duk Hwa memberitahu Sekertaris Kim bahwa keberadaan Paman merupakan rahasia Grup Chunwoo, hal yang tidak diketahui olehnya dan kakeknya. Dan Sekertartis Kim berkomentar bahwa satu orang lagi baru saja mengetahuinya.

“Siapa?” tanya Duk Hwa. Sekertaris Kim bertanya untuk mengkonfirmasi apa nama pamannya adalah Kim Shin, dan Duk Hwa malah tertawa, karna merasa marganya pamannya seharusnya  Yu, bukannya Kim.

Duk Hwa bertanya siapa Kim Shin, dan Sekertaris Kim tak berkata apa-apa selain menyuruhnya untuk kembali makan. “Rahasia keluarga? Setiap penerus korporasi punya cerita menyedihkan seperti itu,” ucap Duk Hwa. Duk Hwa meyakinkan Sekertaris Kim untuk tidak khawatir, dan kemudian bertanya bagaimana caranya agar ia bisa naik jabatan.

“Sudah bertahun-tahun aku makan siang dengan seollongtong,” ucap Duk Hwa. “Aku akan makan ini dan melindungi perusahaanku. Seperti seorang penerus korporasi.” Sekertaris Kim segera meralat ucapan Duk Hwa barusan bahwa seharusnya ‘perusahaan semua karyawan’ yang melindunginya dengan baik. Sekertaris Kim kemudian memberitahu Duk Hwa bahwa jam makan siang telah habis, dan Duk Hwa terpaksa bergegas menghabiskan makanannya.

Shin berdiri di luar restoran ayam Sunny untuk melepaskan kerinduannya, meskipun Sunny sama sekali tak mengenali dirinya.

Kemudian Shin datang ke toko teh Malaikat Maut, dan Malaikat Maut yang kebetulan berada disana menyadari kehadirannya. Shin berdiri di depan kaca jendelanya, dan kembali teringat saat sembilan tahun lalu dia akhirnya mengumumkan kematiannya yang gagah berani di depan Malaikat Maut.

 “Kau masih saja memakai topi yang jelek itu,” gumam Shin. Malaikat Maut: “Apa kamu siluman yang menurut rumor kembali dari kehampaan?”

“Rumor tentang diriku kebanyakan salah,” ucap Shin dan berjalan pergi, namun ia tiba-tiba berhenti saat Malaikat Maut kembali berkata dengan mata yang berkaca-kaca, “Sepertinya kamu tidak kembali menjadi abu atau terserak dalam angin maupun hujan. Tentu saja kamu tidak berubah menjadi sesuatu yang mengerikan.”

Shin masuk ke toko teh Malaikat Maut dan bertanya apa yang terjadi karna ia mengira Malaikat Maut pasti tidak akan mengingatnya. “Segala hal seharusnya berubah menjadi kehampaan,” ucap Shin. Malaikat Maut berkata itu terjadi pada semua orang, tapi ia bisa mengingat kenangannya. Malaikat Maut berkata ia tak yakin mengapa hal itu bisa terjadi, tapi ia memiliki satu hipotesis:

Dan kemudian kita flashback: Pada pertemuan Duk Hwa yang dirasuki Dewa dengan wanita bergaun merah. Duk Hwa alias Dewa berkata bahwa saat itu dia sedang lengah, dan Wanita Bergaun Merah berkata jika dia memang akan memihak, dia meminta untuk membiarkan kenangan Yeo tetap ada.

Duk Hwa bertanya mengapa, dan Wanita Berpakaian Merah berkata ini sungguh menyedihkan bagi Shin dan Eun Tak, dimana seluruh dunia menutup diri kepada mereka, dan itulah mengapa selain mereka seseorang harus mengingat kisah cinta mereka. Dan Duk Hwa tiba-tiba berkata, “Mengapa saya merasa menemukan pintu yang akan membuka kembali dunia yang tertutup itu. Apa aku tidak menutupnya secara permanen?”

Kembali ke Shin dan Malaikat Maut. Malaikat Maut bertanya bagaimana bisa ia kembali. Shin menjawab, “Karna perjanjian itu.” Malaikat Maut mengakui bahwa dia sungguh senang Shin bisa kembali, dan Shin berkata dia senang ada seseorang yang menyambutnya.

Malaikat Maut kemudian minta maaf karna terlambat mengatakan hal yang seharusnya ia ucapkan sembilan tahun yang lalu. Dia berkata minta maaf karna tidak bisa melindungi istrinya, maupun Shin, yang telah melindungi Goryeonya.

“Aku dicintai tapi aku tidak mencintai siapapun. Tolong maafkan aku,” ucap Malaikat Maut dan Shin pun mengangguk. Malaikat Maut tersenyum kecil, dan berkata, “Kamu perlu potong rambut.”

Shin telah merubah penampilannya menjadi lebih rapi dengan rambut pendeknya. Dia duduk di ruang tamu dan minum bersama Malaikat Maut, dan mengungkapkan kebahagiaannya karna akhirnya ia bisa pulang ke rumahnya, namun Malaikat Maut mengingatkannya bahwa rumah ini adalah milknya karna kontrak sewanya akan berakhir sepuluh tahun lagi.

Shin bertanya bagaimana kabar Sunny, dan Malaikat Maut berkata dia tidak bertemu dengannya: “Merindukannya adalah hukumanku selama sembilan tahun terakhir ini. Bagaimana pun selamanya aku adalah pendosa.”

Malaikat Maut bertanya apa Shin telah bertemu dengan Eun Tak. Shin berkata Eun Tak tidak mengingatnya dan sekarang dia menjadi produser di sebuah stasiun radio. Perbincangan mereka tergangggu saat Malaikat Maut mendengar kedatangan Duk Hwa, sehingga Shin secepatnya bersembunyi di belakang kursi.

Duk Hwa datang dan memanggil Malaikat Maut ‘Paman Penyewa’ dan memberitahukan tentang orang aneh yang tadi datang ke kantor. Tapi ia tiba-tiba bertanya, “Jika kamu pamanku, berarti kamu pamanku. Kenapa kamu kupanggil ‘Paman Penyewa?”

Malaikat Maut hanya diam, dan Duk Hwa kembali bertanya, “Kalau dipikir-pikir, kapan kau mulai tinggal disini?” Malakat Maut menjelaskan semuanya ada di kontrak sewa. Duk Hwa heran melihat dua botol bir yang ada di atas meja, dan Malaikat Maut segera berkata dia suka memegang dua bir; tapi ia tak berkutik saat Duk Hwa melihat kaki di belakang sofa.

Duk Hwa mengenali dia adalah pria aneh yang tadi datang ke kantor, dan melihat dia telah mencukur rambutnya. “Aku suka gaya baru ini,” ucap Shin saat membelai rambutnya dan kemudian  memberitahu Duk Hwa bahwa dia adalah teman ‘Paman Penyewa.’

Malaikat Maut segera menyuruhnya pergi untuk menghilangkan kecurigaan Duk Hwa, dan Shin menurut. Sebelum pergi Shin mengomentari pakaian Duk Hwa yang sungguh mencolok, sementara Duk Hwa bertanya-tanya dengan bingung, “Apa yang terjadi? Apa Paman Penyewa adalah rahasia dari kelahiranku?”

Shin keluar lewat pintu depan, tapi Duk Hwa malah mendengar suara pintu dibanding di lantai atas. Duk Hwa ingin naik untuk memeriksannya, sehingga Malaikat Maut memerintahkan Duk Hwa melihat matanya untuk membuatnya lupa atas apa yang baru saja ia dengar.

Sementara itu, ternyata Shin datang ke bekas kamar Eun Tak dan memandangi seluruh ruangannya dengan penuh kerinduan.

Sumber Dok Gambar: tvN

Untuk melihat semua tautan sinopsis aktriskorea.web.id, silahkan kunjungi www.sinop.web.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*