Home / Sinopsis Drama Korea / Sinopsis Goblin Episode 5 Bagian Pertama Drama Korea

Sinopsis Goblin Episode 5 Bagian Pertama Drama Korea

Sumber Dok Gambar: tvN Korea Selatan

Untuk melihat semua tautan sinopsis aktriskorea.web.id, silahkan kunjungi www.sinop.web.id

[Baca juga: Sinopsis Goblin Episode 5 Bagian Kedua Drama Korea]

Kim Shin mengantar Eun Tak pulang ke hotel, tapi di jalan dia hanya diam dan tak mengucapkan sepatah katapun. Eun Tak sejenak menoleh padanya, dan memberitahu Kim Shin bahwa dia bisa berjalan dari sini. Kim Shin segera menghentikan mobilnya tanpa menoleh sedikitpun saat Eun Tak keluar dari mobilnya.

Kim Shin kembali ke  rumah, dan sejenak membayangkan senyuman manis Eun Tak. Namun tiba-tiba saja dia jatuh tersungkur dan memegang dadanya karna rasa sakit di jantungnya akibat sebuah pedang yang masih tertancap disana.

Dalam perjalanan menuju hotel, Eun Tak mendengarkan penyiar radio di headsetnya yang berkata, “Kehidupan adalah campuran dari berbagi macam genre. Genre apa harimu hari ini? Sebuah komedi romantis? Sebuah keanehan tapi fantasi yang indah? Melodrama yang sedih?”

Namun dia segera melepaskan hedsetnya, setelah muncur suara bising di telinganya. Sesosok hantu wanita tiba-tiba muncul di depannya, dan dia berusaha berpura-pura mengabaikannya, namun hantu itu terus mengekorinya.

Hantu wanita itu minta maaf karna telah membuatnya takut, dan kemudian meminta bantuannya. Dia meminta Eun Tak  pergi ke tempat tinggalnya dan mengisi kulkasnya. Hantu itu berkata bahwa dia belum lama mati, dan khawatir ibunya akan sedih ketika datang ke tempat tinggalnya dan melihat kulkasnya yang kosong. Eun Tak berkata dia tak punya uang, tapi kemudian terpikir sebuah ide.

Dia datang ke tempat tinggal hantu itu, mengisi kulkasnya dengan banyak makanan dan minuman sekaligus merapikan kamarnya. Beberapa saat kemudian ibu hantu itu datang dan terharu setelah melihat tempat tinggal putrinya yang rapi dan isi kulkasnya yang penuh dengan makanan.

Hantu itu sejenak memandangi ibunya sebagai perpisahan terakhir, dan kemudian datang ke toko teh Malaikat Pencabut Nyawa. Malaikat Pencabut Nyawa menghidangkan secangkir teh mistis untuknya dan berkata, “Kau telah melakukan yang terbaik dalam hidup ini. Jaga dirimu saat kau berpindah ke tingkat berikutnya.” Hantu perempuan itu menangis dan kemudian meminum tehnya.

Sunny sengaja datang di jembatan  untuk bisa bertemu dengan pria idamannya, dan dia cukup beruntung karna sepertinya Malaikat Pencabut Nyawa juga sengaja datang kesana. Sunny menghampirinya dan bertanya, “Apa ini? Sebuah kebetulan? Tidak untukku. Mengapa kau tidak menelpon? Saya menunggu. Kau bilang akan menelpon.”

Malaikat Pencabut Nyawa berkata dia akan menelponnya sekarang dan beranjak pergi. Sunny menghentikannya dan Malaikat Pencabut Nyawa menjelaskan bahwa telponnya ada di rumah dan dia akan menelponnya.

Sunny berkata, “Ini candaan!” bahwa mereka baru saja bertemu. Sunny menawarkan agar mereka minum kopi di sebuah kafe bersama ketimbang sebuah telpon. Di kafe, Malaikat Pencabut Nyawa menunduk sambil meneguk minumannya dengan sedotan. Sunny mengetuk meja dan bertanya, “Apa kita hanya akan minum kopi?”

Sunny berkata matahari telah terbenam, dan dia telah duduk seperti itu selama sejam. Sunny menawarkan bagaimana kalau mereka berkata hai dan bertanya bagaimana kabar mereka satu sama lain.

Segera Malaikat Pencabut Nyawa menunduk dan menyapanya dengan halus: “Bagaimana kabarmu?” Sunny melakukan hal yang serupa, bertanya bagaimana kabarnya, bagaimana dengan cincinnya dan apa dia tak punya telpon.

Malaikat Pencabut Nyawa menjawab cincinnya baik-baik saja dan dia tak punya telpon. Sunny bertanya, “Kau tidak ingat namaku, kan?”  Malaikat Pencabut Nyawa menjawab, “Sun Hee.” Sunny mengklarifikasi  ‘Sunny, bukannya Sun Hee’ dan kemudian tertawa kecil menyebutnya seorang ‘pria yang lucu.’

Sunny bertanya mengapa dia menatapnya, dan Malaikat Pencabut Nyawa menjawab bahwa dia tak bisa menahannya ketika melihatnya tersenyum. Tapi saat ditanya siapa namanya, dan Malaikat Pencabut Nyawa segera terdiam seperti orang kebingungan.

Kemudian kita melihat dia duduk bersama Goblin di rumah ditemani minuman alkohol. Keduanya lagi galau dengan perasaan mereka  — Malaikat pencabut Nyawa berkata dengan nada yang lesu, “Dia bertanya siapa namaku, tapi saya tak ingat siapa namaku,” sementara Goblin hanya mengangguk-angguk seolah-olah mendengarkan.

Lain lagi dengan goblin yang membayangkan indahnya senyuman Eun Tak dan berpikir dalam hatinya, “Senyuman bahagianya terpantul dalam sinar matahari. Itu mengingatkanku momen kehidupanku yang terenggut. Saya telah memutuskan saya harus menghilang sebelum saya merasakan lebih kuat merindukan kehidupanku. Sebelum saya menjadi lebih bahagia dibanding sekarang. Ini adalah keputusan yang harus kubuat untukmu. Saya harus mengakhiri hidupku.”

Malaikat Pencabut Nyawa  menoleh pada Goblin dan berkata dia  bisa mendengar suara hatinya: “Apa kau benar-benar akan mati?” Goblin berkata ya, sebelum salju pertama tahun ini. Dan mereka kembali minum untuk mengobati hati mereka yang lagi galau.

Duk Hwa berdiri di lobby hotel dan hanya bisa kesal setelah melihat tagihan yang harus ia bayar untuk Eun Tak. Setelah melihatnya datang dia menunjukkan tagihan itu dan bertanya, “Apa kau sudah minum?” Duk Hwa mengomelinya bahwa kulkas di kamarnya telah kosong dimana semua makanan telah lenyap dan bahkan botol minuman.

Eun Tak berkata dia punya alasan, dan meminta Duk Hwa untuk membayarkan tagihannya karna dia tak punya uang. Duk Hwa memberikan tagihan itu pada Eun Tak dan berteriak,” Saya juga tidak punya uang.”

Eun Tak menyalakan lilin di kamar hotelnya dan bel pintu kamarnya berbunyi. Dia mengira yang datang adalah Duk Hwa tapi ternyata Kim Shin. Dia bertanya apa yang sedang Kim Shin lakukan disini dan apa Duk Hwa telah memberitahunya segalanya.

Kim Shin bertanya tentang apa, dan Eun Tak menjawab, “Saya diomeli oleh Duk Hwa.” Eun Tak menunjukkan daftar tagihan dan meminta Kim Shin untuk membayarkannya. Dia berjanji akan membayarnya kembali segera setelah dia menerima gaji kerja paruh waktunya.

Kim Shin sejenak terdiam, dan Eun Tak bertanya, “Apa kau tak bisa melakukannya?.” Eun Tak mengungkit bahwa Kim Shin yang sebenarnya meminumnya, dan bahwa sisanya dia gunakan untuk hal yang bermafaat. Eun Tak mengancam jika Kim Shin tetap mengabaikannya, dia akan meniup semua lilin yang ada disini, dan akan membuatnya datang dan masuk dari ruangan ini sepanjang hari.

Kemudian dengan kekuatan supranaturalnya, semua lilin yang ada di kamar Eun Tak mati. Kim Shin berkata. “Kau tidak akan membuat permohonan lagi. Tidak perlu untuk itu. Saya akan tetap berada disampingmu mulai dari sekarang.”

Kim Shin mengajaknya untuk pulang, dan Eun Tak bertanya rumah siapa. Kim Shin menjawab rumahku: “Kau adalah pengantin goblin.” Eun Tak bertanya, “Ahjussi, apa kau mencintaiku?,” dan Kim Shin menjawab dia akan jika Eun Tak menginginkannya. Goblin berkata bahwa dia mencintainya, tapi kemudian kita melihat dari balik kaca jendela hujan tiba-tiba turun.

Bukannya bahagia mendengar ungkapan cinta itu, mata Eun Tak berkaca-kaca dan bertanya, “Apa kau segitu membenciku? Seberapa banyak kau harus membenciku sampai membuatmu sesedih ini? Hujan turun di luar sana.” Eun Tak menahan air matanya dan berkata  lupakan saja, dan bahkan jika Kim Shin membencinya dan  dia membuatnya sedih, dia akan tetap pergi untuk tinggal dengannya.

Eun Tak menyadari bahwa saat ini dirinya bukan dalam posisi untuk pilih-pilih dan dia hanya perlu mengeluarkan pedangnya.

Eun Tak kemudian mengemasi barang-barangnya dan pergi menuju rumah goblin. Dalam perjalanan dia bertanya siapa namanya, namun karna melihat goblin hanya terdiam sambil mengemudikan mobilnya, Eun Tak berkata dia tidak bertanya karna sepenasaran itu.

Eun Tak menyadari bahwa hubungan mereka ambigu entah itu antara pernikahan dan teman serumah. Eun Tak berkata dia akan menjadi istri goblin, dan seharusnya mengetahui siapa nama suaminya. Goblin berkata bahwa kadang-kadang, dia bernama Yu Jung Shin atau Yu Ji Shin dan saat ini dia bernama Yu Shin Jae. ” Tapi dia kemudian memberitahu nama aslinya ‘Kim Shin.’

Mereka tiba di rumah, dan kebetulan Malaikat Pencabut Nyawa ada di depan pintu. Eun Tak menawarkan untuk membuangkan sampahnya, namun Malaikat Pencabut Nyawa menolak. Dia bertanya pada goblin mengapa Eun Tak baik padanya, dan Kim Shin menjawab bahwa dia akan tinggal disini mulai hari ini. Malaikat Pencabut Nyawa teringat dengan suara hati Kim Shin yang ia dengar beberapa waktu lalu bahwa dia telah memutuskan untuk segera mengakhiri hidupnya.

Itu berarti Kim Shin akan segera meninggal,  dan dia melemparkan plastik sampahnya dan dengan ajaibnya sampah itu sampai di truk pembuangan sampah. Dia bersikap ramah pada Eun Tak dan mempersilahkannya masuk.

Tapi mereka harus tertahan di depan rumah karna baik Kim Shin atau pun Malaikat Pencabut Nyawa kebingungan dengan kode rumahnya. Eun Tak bertanya apa mereka tak tahu kode nomor masuknya, dan  Kim Shin memberitahunya bahwa mereka tak perlu menggunakan kode untuk bisa masuk ke dalam.

Eun Tak berkomentar bahwa itu mengingatkannya seolah-olah mereka akan masuk ke rumah berhantu di sebuah taman bermain yang menakutkan dan menyenangkan dan kau bertanya-tanya apa kau bisa keluar hidup-hidup, dan beberapa saat kemudian keduanya menghilang disampingnya dan Kim Shin ada di depannya untuk membukakan pintu.

Eun Tak masuk ke rumah, Dan Duk Hwa yang lagi mabuk terkejut dengan kedatangannya. Dia bertanya mengapa Eun Tak ada disini dan sejak kapan. Kim Shin menjawab bahwa  Eun Tak akan tinggal disini, dan menyuruh Duk Hwa untuk memberikan kode masuk pintu.

Duk Hwa memberikan passwordnya dan bertanya (Mengapa dia tinggal disini dan bagaimana dengan saya?). Kim Shin tak memberinya penjelasan dan hanya menyuruhnya meneguk minuman yang ada di tangannya agar dia bisa cepat sadar dari mabuknya.

Kim Shin membawa Eun Tak ke sebuah ruangan yang tampak masih berantakan dengan dipenuhi banyak barang-barang. Goblin maupun Malaikat Pencabut Nyawa berdebat tentang dekorasi kamarnya sampai Eun Tak menghentikan mereka dan mengklaim. “Ini adalah kamarku.” Dia setuju mengambil ide mereka sebagai dekorasi untuk kamarnya agar adil.

Eun Tak minta izin untuk tidur di sofa di ruang tamu atau di taman bunga untuk hanya hari ini, namun Kim Shin menyuruhnya tidur di kamarnya. Eun Tak bertanya, “denganmu?.” Kim Shin berkata tidak, dan pada akhirnya dia membawa bantalnya ke kamar Malaikat Pencabut Nyawa dengan wajah memelasnya untuk bisa numpang tidur.

Goblin berkata dia bisa tidur di ranjangnya, dan Malaikat Pencabut nyawa bisa tidur di sofa. Tapi, Malaikat Pencabut Nyawa protes bahwa goblin tidak bisa menodai tempat tidurnya.

Malaikat Pencabut Nyawa menyarankan agar Kim Shin tidur di sofa, tapi dia menolak. Malaikat Pencabut Nyawa menyuruhnya pergi ke hotel, dan goblin berkata dia tak bisa tidur jika Eun Tak sendirian. Malaikat Pencabut Nyawa  keluar dari kamarnya untuk membuat Eun Tak tidur di taman bunga, namun Kim Shin langsung berdiri di depan pintu dan  setuju untuk tidur di sofa dan memohon agar dia berbaik hati pada Eun Tak.

Eun Tak membawa barang-barangnya di  kamar Kim Shin dan tertarik melihat sebuah buku yang ada di meja. Di dalam buku itu, dia bahagia mendapati daun  maple pemberiannya yang ternyata disimpan oleh Kim Shin. Sepertinya buku itu adalah buku harian Kim Shin, dan Eun Tak  tak tertarik untuk membaca apa isinya karna  tak memahami huruf China.

Kemudian kita diperlihatkan bagaimana Kim Shin menulis di buku hariannya tentang bagaimana kengerian perang yang terjadi di sebuah tanah asing sewaktu dulu dia menjadi seorang jeneral. Dia menulis dewa disini dan di Goryeo sama saja, dan bagaimana cucu dari anak kecil yang meninggalkan Goryeo bersamanya, dan semua keturunannya telah dikubur.

Buku hariannya juga berisi tentang harapannya terhadap dewa untuk memberikannya kematian dan pernah menganggap kehidupan ini adalah sebuah hadiah, tapi pada akhirnya ini adalah sebuah hukuman. Dia tak pernah melupakan semua orang yang telah meninggal dan itulah mengapa dia merindukan untuk bisa mengakhiri hidupnya, namun dewa  menjadi tuli terhadap tangisnya.

Kim Shin tidur terlentang di sofa dan bertanya apa Malaikat Pencabut Nyawa telah melihat dewa. Kim Shin berkata dia telah melihatnya dan dia adalah seekor kupu-kupu. Kim Shin berkata jika dewa membiarkannya melihat wajahnya, setidaknya dia bisa membencinya, dan Malaikat Pencabut Nyawa setuju.

“Seandainya dewa  hanya memberikan kesulitan  yang bisa kau atasi, menurutku dia mengira saya terlalu hebat,” ucap Kim Shin. Malaikat Pencabut Nyawa bertanya apa itu terlalu sulit untuknya, dan goblin meyakinkannya dia tidak akan menangis dalam dekapannya.

Eun Tak bangun di pagi hari dan bergumam, “Dia memilki segalanya, tapi kamarnya masih terasa kesepain. Dia datang ke dapur setelah memakai seragam sekolahnya, dan kagum mendapati keduanya sibuk membuat sarapan pagi.

“Indahnya,” ucap Eun tak. Eun Tak berkata sudah sangat lama sejak seseorang memasak untuknya, tapi Kim Shin berkata, “Saya tidak bilang ini untukmu.”

Pada akhirnya, Eun Tak sarapan dan berterima kasih atas makanannya. Dia membawa piring kotornya ke dapur dan berjanji mulai besok dia akan mengurus makanannya dan  juga akan mencuci pakaiannya. Kim Shin berkata itulah yang mereka lakukan setiap hari, sampai akhirnya dia menyadari mengapa rumah sebesar ini tak menyewa seorang pembantu rumah tangga setelah melihat bagaimana keduanya menerbangkan pisau makan dengan kekuatan supranatural mereka.

Eun Tak kemudian mengambil sebuah surat dari kantongnya dan membacakan dengan suara yang keras tentang isi ‘surat permohonannya’ — yang pertama dia berharap hujan tidak terlalu sering turun dan meminta Kim Shin untuk tetap bahagia selama dia tinggal di rumah ini; yang kedua  dia meminta Malaikat Pencabut Nyawa untuk bicara padanya jika ada sesuatu yang tidak membuatnya bahagia dan tidak akan berencana untuk membawanya ke dunia orang mati dan yang ketiga dia memberikan nomor telponnya untuk  bisa bisa dihubungi dalam keadaan darurat, dan jangan hanya muncul di depannya tanpa memberitahu.

Setelah Eun Tak pergi, baik goblin maupun malaikat Pencabut Nyawa bertanya-tanya apa Eun tak sedang menganggap enteng mereka karna tidak punya telpon.

Kemudian Duk Hwa datang membawakan mereka masing-masing sebuah ponsel. Malaikat Pencabut Nyawa dengan antusias memilih ponsel yang berwarna hitam dan memberikan yang berwarna biru pada goblin.

Duk Hwa mencoba menjelaskan bahwa yang mereka pegang itu adalah ‘smartphone’ dan goblin mengklaim dirinya sudah tahu dan menyarankan agar Duk Hwa menjelaskannya  pada Malaikat Pencabut Nyawa yang belum pernah melihatnya.

Duk Hwa memberitahunya bahwa telpon ini sangat canggih tapi Kim Shin bersikeras bahwa dia tahu bagaimana  cara menggunakannya. Sampai dia ketahuannya belangnya ketika Kim Shin salah mengartikan maksud Duk Hwa yang menyuruh mereka  masuk ke situs applikasinya – sementara Kim Shin mengira dia akan pergi ke suatu tempat.

“Apa jauh?,” tanya Kim Shin dan Duk Hwa hanya menggelengkan kepalanya.

Kemudian kita melihat keduanya menggunakan smartphone mereka untuk bicara tatap muka. Malaikat Pencabut Nyawa agak kebingungan, sampai goblin menginstruksikannya untuk menjauhkan tangannya dari telinganya. Goblin menggelengkan kepalanya saat Malaikat Pencabut Nyawa berkata, “Saya tidak bisa melihatmu.”

Sumber Dok Gambar: tvN Korea Selatan

Untuk melihat semua tautan sinopsis aktriskorea.web.id, silahkan kunjungi www.sinop.web.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*