Home / Sinopsis Drama Korea / Sinopsis Goblin Episode 6 Bagian Kedua Drama Korea

Sinopsis Goblin Episode 6 Bagian Kedua Drama Korea

[Baca juga: Sinopsis Goblin Episode 6 Bagian Pertama Drama Korea]

Eun Tak melihatnya dan sedikit tersentuh karna dia melihatnya begitu lama saat mendekatinya. Dia bertanya apa ada bedanya jika Shin menatapnya selama itu, dan mengingat sebelumnya dia berkata tidak bisa melihat masa depannya ketika usianya 20 atau 30 tahun. Shin berbohong bahwa dia masih tidak bisa melihat masa depannya.

Shin berkata biasanya dia bisa tahu apakah masa depan manusia baik atau buruk, tapi padanya dia tidak bisa. Eun Tak berpikir hal itu karna dia adalah jiwa yang terhilang, dan lebih  memilih untuk berpikir positif, bahwa  dia bisa membuat keputusannya sendiri untuk masa depannya.

Eun Tak masih berharap dia bisa mengetahui bagaimana nantinya dia ketika berusia 20 tahun dan 30 tahun dan Shin berkata, “Kamu hanya akan seperti kamu yang sekarang. Kamu akan tetap cantik.” Eun Tak bercanda bahwa dia mungkin jelek selama satu atau dua hari. Dan Shin berkata bisa saja satu atau dua bulan.

Saat mereka berjalan, Eun Tak bertanya apa dia memiliki semacam kriteria saat memutuskan menjadi penjaga seseorang , dan Shin berkata tidak – dia hanya memilih berdasarkan pada suasana hatinya hari itu, dan cenderung memilih anak-anak dibanding dewasa. Shin menjelaskan orang pertama yang menawarkan bantuan kepadanya saat dunia terlepas dari genggamannya adalah seorang anak. Dia kembali teringat di momen ketika meminta untuk melayaninya saat berada di zaman Goryeo.

Eun Tak bertanya mengapa dia menolong ibunya ketika dia dewasa, dan Shin berkata bahwa dia sedang bermurah hati karna mabuk dan ibunya memohon keselamatan bukan untuk dirinya sendiri.

Mata Eun Tak berkaca-kaca karna dipenuhi air mata dan berkata, “Kamulah yang menjawab doa permohonan bantuannya. Rasanya seperti keajaiban.” Eun Tak menangis bahagia, sebuah air mata bersyukur dan Shin menatapnya untuk  waktu yang lama sebelum mengangkat tangannya  dan meletakannya di atas kepalanya.

Eun Tak tersenyum dan berkata dia tidak seharusnya menekan kepalanya seperti ini, tapi mengusap rambutnya dengan lembut. Dia menunjukkan Shin bagaimana caranya dengan berjinjit dan mengusap kepalanya dengan lembut. Shin selama  beberapa saat melamun, dan menatap matanya.

Shin akhirnya tersadar dari lamunannya dan menarik tangannya, dan mengatakan bahwa ini pasti hari ketika dia tampak jelek.

Eun Tak menyusulnya dengan kesal, tapi suasana hatinya menjadi gembira ketika mereka tiba di rumah dan dia mendapati bahwa Shin telah menyiapkan sebuah pohon natal untuknya. Eun Tak memberitahunya bahwa dia telah egois selama ini karna dia khawatir Shin akan mengusirnya jika dia mencabut pedangnya dan dia juga khawatir Shin akan menemukan seseorang setelah dia menjadi tampan.

Eun Tak mendekatinya untuk bertanya, “Kamu tidak akan mengatakan pendapatku salah?” Shin: “Haruskah?” Eun Tak mengumumkan dengan tersenyum bahwa dia akan membuatnya tampan, karna sebuah permintaan dari orang baik sepertinya, hampir pasti akan membawa hasil baik. Eun Tak bertanya dimana mereka harus melakukannya dan Shin menjadi panik.

“Hari ini? Sekarang?,” tanya Shin. Eun Tak menggulung lengan bajunya, dan Shin bergegas berpura-pura untuk menjawab telponnya dan  keluar dari rumah.

Shin datang ke ruangan teh Malaikat Maut dan meminta alkohol sebelum membagikan berita besar itu. Malaikat Maut bertanya apa Eun Tak tahu makna dari mencabut pedangnya, dan Shin berkata tidak, dan menambahkan bahwa dia khawatir karna Eun Tak tergila-gila padanya.

Malaikat Maut tak percaya, dan Shin berdebat bahwa Eun Tak memintanya untuk menikahinya segera setelah mereka bertemu dan mengatakan ‘aku cinta padamu’ yang membuatnya bimbang. “Tidak ada alasan baginya untuk tidak menyukaiku,” ucap Shin.

Malaikat Maut berkata tentu saja ada, seperti perbedaan usia dan saat dia kuliah pria muda dan tampan berbaris mengejarnya. Shin: “Kenapa kalau usiaku 900 tahun?”

Malaikat Maut memberitahunya untuk berhenti memalsukan umurnya, dan mengatakan bahwa dia berusia 939 tahun, tapi Shin berkata sebenarnya dia berusia 938 karna  dia lahir di awal tahun. Dan mereka berdua tertawa dengan perbincangan umur itu.

Shin berkata bahwa ini lebih baik daripada minum dan kemudian berkata dengan prihatin, “Dia satu-satunya yang bisa mengakhiri hidupku. Dia terus membuatku ingin hidup. Lucu, bukan?” Malaikat Mau mengingatkannya bahwa hidupnya baik-baik saja ketika dia belum ada, tapi Shin berpikir itu aneh karna dia tidak bisa mengingat saat-saat itu.

Dia berbaring di ranjang  malam itu dan teringat setiap kali Eun Tak berlari padanya memanggilnya ajusshi, dan dia berkata dengan suara keras, “Berhenti memanggilku. Berhenti memanggilku, Ji Eun Tak. Biarkan aku pergi.” Eun Tak memanggilnya dengan sesungguhnya di luar kamarnya, tapi dia tidak menjawab.

Eun Tak berdiri di luar dan Shin bersandar di pintu dari dalam kamarnya.

Eun Tak  mendapat kunjungan dari gangster rentenir bibinya setelah pulang sekolah, dan berpikir mereka  mulai akan menyerangnya tentang hutang Bibinya, mereka baru saja datang mendekati Eun Tak sebelum akhirnya berkelahi satu sama lain.

Sekertaris Kakek muncul dan menanyai Eun Tak apa dia mengenal para rentenir-rentenir itu, dan kemudian berkata bahwa dia dulu sama seperti mereka. Sekertaris Kim menawarkan untuk mengantarnya pulang dan menelpon polisi untuk melaporkan para rentenir itu, yang masih saja bertengkar bahkan di kantor polisi dan mengakui bahwa mereka tak tahu mengapa mereka terus bertengkar. Yang ternyata, itu semua terjadi karna Malaikat Maut telah mensugesti dalam pikiran mereka bahwa mereka tidak akan pernah berbaikan seumur hidup.

Dalam perjalanan pulang, Eun Tak berbicara tentang betapa baiknya Duk Hwa dan betapa rendah hati dan sederhananya ia, tidak seperti ahli waris orang kaya lainnya. Sekertaris Kim meminta contoh, dan Eun Tak tak bisa memberikan satu contohpun, dan hanya meminta maaf. Sekertaris Kim  hanya diam, meskipun dia tertawa kecil saat mendengar senandung Eun Tak untuk mengisi keheningan  di dalam mobil.

Eun Tak kesal ketika Shin mengabaikannya saat dia pulang ke rumah dan kemudian sepanjang makan malam, dan bertanya pada Malaikat Maut apa Shin mengalami kesulitan saat mereka duduk dan mengupas bawang putih. Malaikat Maut berkata bahwa Shin tidak ingat masa lalunya, tapi berkata dia tak tahu apa-apa tentang hal itu. Eun Tak tidak percaya dengannya, dan Malaikat Maut mengancam akan menyebut namanya tiga kali dan Eun Tak berhenti mengganggunya.

Malaikat Maut berkata seratus tahun lalu dia harus menyebut nama tiga kali, tapi sekarang orang mati mendengarnya setelah hanya satu panggilan, dan Eun Tak berkata pekerjaannya pasti sulit. Dia mengatakan  jiwa terhilang yang membuat pekerjaannya semakin sulit, dan Eun Tak dengan lembutnya menawarkan untuk mengupas sendiri bawang putihnya. Malaikat Maut kemudian memberitahunya, “Siluman itu lahir di awal tahun. Dia setahun lebih muda dari yang dia katakan. Hanya itu yang bisa aku beritahu. Semoga berhasil.”

Eun Tak bertanya mengapa Malaikat Maut menemukannya di usianya 9 tahun dan kemudian 19 tahun, dan Malaikat Maut memberitahunya bahwa 9, 19 dan 29 datang yang terburuk tepat sebelum kamu menjadi sempurna.

Dia menatap Eun Tak dengan tajam dan berpikir dalam hatinya dalam bentuk narasi, “Kamu akan bertemu malaikat maut pada usia 29 tahun. Meskipun dia bukan aku. Itulah takdir jiwa yang terhilang. Dunia ini membutuhkan keteraturan dan 9 merupakan angka rendah terdekat sebelum 10, angka sempurna yang menjadi simbol Yang Mahakuasa. Aku berharap saat itu pun kamu beruntung.” Malaikat Maut hanya memberitahu Eun Tak bahwa dia bermimpi indah di malam sebelum dia menemukannya.

Eun Tak akhirnya bertemu dengan Shin di pojok ruangan dan bertanya apa dia marah. Shin berkata dia tidak marah tapi menjawab dengan sinis, “Memangnya kamu siapa? Siapa kamu hingga harus terus memanggilku? Kamu sangat berisik. Kenapa kamu membuatku gugup? Kenapa kamu membuatku bingung? Memangnya kamu siapa? Seharusnya kamu mencabut pedang itu saat aku memintamu, karena itulah gunamu.”

Terluka dengan ucapannya, Eun Tak berkata dia bersedia mencabut pedangnya, dan Shin yang tidak mau bicara padanya.  Eun Tak berkata mungkin Shin bisa membuang waktu karna telah lama hidup, tapi dia manusia biasa dimana baginya waktu adalah emas dan uang, dan mereka sebaiknya melakukannya hari ini.

Tapi Shin berkata, “Aku tidak mau hari ini. Besok. Hari ini terlalu indah. Aku ingin jalan-jalan denganmu.” Esok datang dan sekali lagi Shin mengubah pikirannya dan berkata besok, bukan hari ini karna cuaca buruk dan harus menjemputnya nanti. Lusanya Shin berkata, “Besok. Satu hari lagi.”

Kakek menangis ketika Shin memberitahu tentang rencananya, dan Shin memikirkan tangan kanannya di Goryeo yang telah melayaninya dengan setia dan menusukkan pedangnya ke jantungnya sambil menangis, dan ratu yang meninggal karna dirinya.

Shin menyerahkan gulungan tua lukisan ratu pada kakek dan memintanya untuk membakarnya dan berkata betapa dia sangat meyesal karna belum menemukan orang-orang yang perlu ia balas budinya. Shin memintanya untuk menjaga pengantin mudanya dan memastikan dia akan makan dengan teratur dan mendapat pendidikan dan hidup dengan baik tanpa kehadiran dirinya, dan berkata itu adalah kewajiban terakhir Kakek.

Dengan air mata di matanya, Kakek berkata dengan penuh hormat bahwa dia akan melaksanakan perintahnya dengan sebaik-baiknya dan Shin kemudian memegang kedua tangan Kakek.

Selanjutnya, Duk Hwa menatap kartu kredit barunya dengan perasaan tidak percaya, dan Shin memberitahunya untuk tidak terikat dengan kartu kredit tetapi hiduplah dengan bebas, dan bahwa ini adalah imbalan untuknya. Duek Hwa berkata dia tidak melalukan apapun untuk diberikan imbalan.

Shin mengusap dengan lembut kepala Duk Hwa dan berkata dia sudah bekerja keras mendewasakan dirinya dan Duk Hwa berkata tanpa berpikir, “Aku sayang Paman.” Mendengarnya Shin tersenyum, sementara Duk Hwa hanya memandangi kartu kreditnya dengan berseri-seri, tak menyadari apa maksud semua ini.

Kemudian  Shin memberitahu seseorang dengan nada yang datar bahwa dia meninggalkan dokumen berharga di kamar ini. Shin berkata pada saat dia menghilang, tanda lahir Eun Tak di lehernya juga akan menghilang. “Saat itu terjadi, hapus ingatannya. Jangan biarkan dia menyalahkan diri sendiri,” pinta Shin.

Tiba-tiba Malaikat Maut menjawab dengan suara melalui telpon, “Apa katamu? Keraskan suaramu. Disini terlalu berisik. Aku tidak bisa mendengarmu.” Mereka lagi video call, dan Shin berusaha menyuruh Malaikat Maut menggunakan perangkat telinganya, tapi Malaikat Maut berteriak, “Ya. Aku memegangnya jauh dari telingaku. Aku bisa melihat wajahmu.” Dan Shin terpaksa menutup telponnya.

Eun Tak merenungkan sikap Shin beberapa hari terakhir dan hal-hal yang ia ucapkan: “Saya suka berjalan denganmu,” dan “Aku senang menjemputmu.” Bahkan sekarang Shin diam-diam datang menghampirinya dan berkata, “Aku senang mengamatimu.”

Eun Tak bertanya mengapa belakangan ini dia baik padanya, dan kemudian meminta Shin untuk mengulurkan tangannya. Shin mengulurkan tangannya pada Eun Tak, dan dia menulis sebuah huruf Mandarin Kuno di telapak tangannya dan bertanya apa artinya. Shin memberitahu artinya ‘mendengar,’ dan  Eun Tak kemudian berterima kasih dan berkata selamat malam.

Shin berdiri disana selama beberapa saat dengan tangan yang terbuka, masih terpengaruh dengan momen itu. Sementara Eun Tak hanya langsung berlari ke kamarnya dan menulis arti dari huruf itu. Sepertinya itu tulisan itu dari buku harian Shin, sayang dia masih mengalami kendala dalam menerjemahkannya sampai membuatnya prustasi.

Shin lama duduk di kamarnya sambil memandangi tangan yang dipegang oleh Eun Tak, dan kemudian membawakan hadiah ke kamar Eun Tak. Eun Tak membukanya dengan sangat bahagia, dan Shin memberitahunya bahwa itu adalah 5 juta yang dia harapkan, dan benda yang dia butuhkan ketika berumur 20 tahun  dan berkencan dengan teman kuliahnya.

Eun Tak bertanya mengapa dia mendadak memberikan semua barang-barang ini padanya, dan Shin hanya menhawab, “Hari ini pedang.”  Dia setuju untuk menarik pedangnya dan kemudian bertanya, “Adakah cinta di antara barang-barang ini?”

Membutuhkan waktu sejenak baginya untuk menjawab, tapi Shin berkata, “Tidak,” dan Eun Tak berkata dia hanya penasaran.

Kemudian mereka pergi masuk ke sebuah pintu dan berakhir di sebuah taman yang begitu luas yang dipenuhi dengan buang soba. Eun Tak berlari dengan bahagia dan bertanya apa bunag pemberiannya berasal dari sini. Eun Tak berkata dia masih ingat makna bunga-bunga itu, dan Shin kembali berkata, “Kekasih.”

Eun Tak bertanya apa tempat ini spesial untuknya, dan Shin menyebutnya, “Disinilah awal dan akhirku.” Shin meminta Eun Tak untuk menarik pedangnya sekarang, dan terlebih dahulu Eun Tak mengeluarkan sebuah buku catatan dan berkata dia menginginkan Shin untuk terlebih dahulu menyetujuinya. Itu sebuah kontrak di antara mereka berdua (dan kita tidak melihat semua isinya), dan salah satunya meminta Shin untuk mendengarkan panggilannya di hari salju pertama turun setiap tahunnya, karna dia akan menunggu.

Shin kembali teringat dengan perbincangannya dengan Malaikat Pencabut Nyawa, ketika mengatakan berencana akan meninggal sebelum hari pertama salju turun. Ketika Malaikat Maut bertanya mengapa, Shin berkata, “Aku tidak mau merusak salju pertamanya.”

Shin menandatangani kontraknya, dan saat dia telah melakukannya, salju mulai turun. Eun Tak melihat sekelilingnya dengan kagum dengan hujan salju pertama yang ia lihat, dan menyadari bahwa Shin yang telah melakukannya. Shin berkata dia minta maaf karna egois dan menambahkan, “Tapi aku ingin sesuatu yang bisa dikenang.” Eun Tak berkata mereka seharusnya cepat-cepat dan membuatnya tampan, dan Shin setuju inilah saatnya.

Eun Tak bertanya apa dia ada permintaan terakhir, dan Shin berkata, “Setiap kesempatan yang kulalui bersamamu bersinar. Karena cuacanya baik, karena cuacanya buruk, dan karena cuacanya cukup baik, aku sangat menyukai setiap kesempatan itu. Selain itu, apapun yang terjadi, ini bukan kesalahanmu.”

Eun Tak bertanya dengan khawatir apa dia akan menjadi sapu, tapi Shin tertawa dan berkata itu tidak akan terjadi. Merasa tenang, Eun Tak berkata dia akan mencabut pedangnya, dan kemudian mendekatkan tangannya untuk menyentuh pedang itu, yang menyala di depannya.

Shin menutup matanya.

Tapi ketika dia akan menyentuh pedang itu, pedang itu menghilang dan dia tidak bisa menyentuhnya. Dia mencoba sekali lagi, tapi pedang itu malah menghilang di depannya.

Shin bertanya apa dia telah menggunakan tekanannya, dan Eun Tak berkata dia bisa melihatnya, tapi tidak bisa menyentuhnya. Mata Shin melotot dan dia mulai berkata bagaimana mungkin pengantin  goblin, tapi Eun Tak menyela ucapannya untuk mengatakan bahwa dia lebih kaget darinya.

Shin menuntut agar kontrak itu dikembalikan, sehingga dia bisa membakarnya, tapi Eun Tak tiba-tiba berkata, “Aku paham. Pasti ini alasannya, sekarang aku mengerti. Pangeran yang dikutuk, yang di dongeng-dongeng itu.” Shin bertanya, “Ada apa dengan  mereka?” Eun Tak menarik kera baju Shin dan  mendekatkan wajahnya padanya. “Sebuah ciuman,” ucap Eun Tak, saat dia berjinjit dan mencium bibirnya.

Mata Shin membelalak, dan sebaliknya salju malah mulai kembali naik ke atas langit.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*