Home / Sinopsis Drama Korea / Sinopsis Goblin Episode 6 Bagian Pertama Drama Korea

Sinopsis Goblin Episode 6 Bagian Pertama Drama Korea

Sumber Dok Gambar: tvN Korea Selatan

Untuk melihat semua tautan sinopsis aktriskorea.web.id, silahkan kunjungi www.sinop.web.id

[Baca juga: Sinopsis Goblin Episode 6  Bagian Kedua Drama Korea]

Saat Shin dan Eun Tak kembali ke restoran favorit mereka di Quebec, Shin tiba-tiba terjebak dengan penglihatan dimana Eun Tak berusia 29 tahun. Eun Tak dengan bangga memberitahu Sunny di telpon bahwa perjalanannya menyenangkan dan jarang tersesat, dan menunggu seseorang untuk ikut bergabung dengannya, dan Shin menyadari bahwa dia tidak ada disana bersama Eun Tak di masa depannya.

Dia berpikir, “Lama setelah kematianku kamu masih disini. Kamu telah melupakanku dan hidupmu menjadi sempurna dengan kepergianku. Aku harus menghilang. Untuk membuatmu tersenyum. Ini keputusan yang harus kuambil. Aku harus mengakhiri hidupku.”

Dia membayangkan menghapus dirinya sendiri dari semua kenangan mereka dan berkata dengan suara keras, “Pada akhirnya itulah keputusan yang kuambil,” dan kemudian berlinang air mata. Sementara Eun Tak berumur 19 tahun mendengar kata-kata itu dan menatapnya dengan penuh kebingungan dan bertanya-tanya mengapa Shin menatapnya dengan sedih.

Malaikat Maut berpakaian rapi, dan kita melihat Sunny membawa seorang teman untuk ikut bergabung dengan kencannya. Semua ini adalah rencana Sunny, dan berkata bahwa ‘kau harus menemui pria saat dia bersama temannya, cerita mereka tidak sama dan mereka melakukan kesalahan dan kesalahan itulah sikap asli pria.’

Teman Sunny melihat keluar jendela sesaat setelah Malaikat Maut dan Duk Hwa tiba dan menghela nafasnya bahwa siapa saja yang berkencan dengan para pria itu pasti bahagia. Sunny setuju dengan tersenyum lebar.

Shin dan Eun Tak tampak murung, dan ketika Eun Tak memberanikan diri untuk mengetuk pintu kamarnya, dia mengabaikannya. Shin sepertinya telah memutuskan sesuatu dan kemudian keluar menuju ruang tamu.  Tanpa memberikan penjelasan dia berkata, “Cabut pedangnya. Kumohon.”

Eun Tak bingung, tapi Shin bersikeras dan berkata, “Aku ingin berhenti berpikir bahwa aku bisa memilih.” Eun Tak bertanya dengan gugup keputusan apa yang telah ia buat. Shin berkata dia hanya menginginkan sebuah jawaban, sehingga Eun Tak berkata belum waktunya karna dia belum menyelesaikan penyelidikannya. Eun Tak mengakui bahwa dia mencari informasinya di internet tapi berkata dia tidak menemukan informasi apapun, seakan-akan ada yang menghapusnya.

Eun Tak mengingat  apa yang sebelumnya Shin beritahu tentang menjadi pengantin siluman – bahwa jika dia menemukan sesuatu tentangnya, dia akan sangat membencinya. Sekarang dia tahu sesuatu itu adalah pedang, tapi dia tak tahu bagaimana dia akan membencinya, sehingga dia tahu masih ada yang belum diberitahu oleh Shin.

Eun Tak bertanya, “Apa kamu telah melakukan sesuatu yang buruk dan karna itukah semua catatan tentangmu lenyap? Jika kamu dihukum karena sesuatu, akan salah jika mencabut pedangnya. Apa kamu pengkhianat? atau semacamnya?”

Shin kembali teringat saat berada di medan pertempuran di zaman Goryeo, dan momen ketika raja mengkhianatinya. Kita sejenak melihat Malaikat Maut, dan kemudian kembali ke Shin.

Shin menatap Eun Tak dengan datar dan berkata, “Ya. Kamu benar. Aku sibuk berusaha bertahan hidup. Hidupku tidak tercatat dalam sejarah. Aku berusaha sekuat tenaga, tapi kematianku pun tidak terhormat. Keadaan tidak akan menjadi lebih baik dengan pendekatanku terhadap Raja. Tapi aku malah mendekatinya. Dan dengan setiap langkah yang kuambil, orang-orang yang tidak bersalah kehilangan nyawanya. Dosaku tidak terampuni dan kini aku dihukum. Pedang ini adalah hukuman.

Eun Tak mendengarkan dengan air mata di matanya, dan Shin bertanya, “Namun, meskipun ini hukuman, bukankah 900 tahun itu cukup?”

Eun Tak berkata dengan lembut, “Tidak. Itu bukan hukuman. Dewa tidak akan memberimu kemampuan itu sebagai hukuman jika kamu sungguh orang jahat. Jika kamu sungguh orang jahat, dia hanya akan menciptakan siluman. Dia tidak akan menyuruhmu bertemu pengantin siluman untuk mencabut pedangnya.

Ucapannya benar-benar membuat Shin terharu, dan air mata  menetes di  pipinya. Eun Tak menyeka air mata Shin, dan  air matanya pun menetes saat Eun Tak melakukannya.

Eun Tak memberitahu Shin, “Aku tidak tahu dahulu kamu orang seperti apa, tapi kamu dicintai begitu mendalam,“ yang membuat Shin kembali menangis. Eun Tak mengklarifikasi bahwa yang ia maksud berbuat buruk adalah seperti mencintai istri raja dan dipenjara karna hal itu atau sejenisnya, dan minta maaf karna telah menyebutnya pengkhianat.

Shin bertanya apa dia bisa menjadikannya lebih tampan sekarang, yang masih dipercaya Eun Tak bahwa itu yang akan terjadi ketika dia mencabut pedangnya. Eun Tak berkata ya dan Shin bernafas dengan lega sampai Eun Tak berkata, “Ya, saya tidak akan.”

“Apa?,” tanya Shin dengan heran dan Eun Tak bertanya apa dia berpikir seperti ini selama 900 tahun dan menangis bahwa dia merasa kasihan padanya. Shin bertanya apa Eun Tak tidak bisa konsisten dengan ucapannya.

Mengabaikan ucapan Shin, Eun Tak berkata dia menangis karna dia sedih, tapi bagaimana Shin memintanya secara cuma-cuma: “Kamu tidak berusaha cukup keras untuk menjadi lebih tampan.” Dia menyarankan Shin bahwa dia harus memberi hal yang nyata daripada menuntut belas kasihan.

Eun Tak masih menangis, dan berpikir bahwa kehidupan Shin lebih meyedihkan dibanding kehidupannya, dan bergumam sambil menangis, “Aku akan menghukum mereka semua!” Dia tiba-tiba menghentikan perbincangan mereka untuk pergi kerja, dan memberitahunya untuk memikirkan apa sebenarnya yang ia inginkan.

Kebingungan, Shin bertanya apa uang, rumah, perhiasan atau semacam itu. Eun Tak berbalik padanya dan berkata dengan dramatis, “Kamu pikir itu benar-benar yang kuinginkan?.” Shin bertanya dengan ragu, “Kalau begitu, maksudku hal yang akan kulakukan untukmu jika kamu membutuhkannya?.” Apa cinta?,” tanya Eun Tak. Shin mengangguk, dan Eun Tak berkata, “Tidak bisakah kamu berpikir untuk membelikan rumah penuh perhiasan serta uang  dan mengisinya dengan cinta?”

Shin berteriak padanya untuk pergi kerja, dan Eun Tak mengingatkannya bahwa dia tadi sudah memberitahunya, tapi mungkin ingatannya payah karna dulu dia adalah seorang prajurit. Dan Shin mengomel akan ucapannya.

Ketika Shin sendirian, Shin bertanya-tanya bagaimana Eun Tak menghibur dan menangis dengannya tapi tidak mau mencabut pedangnya, dan bagaimana dia bisa berkesimpulan seperti itu saat sedang sedih. Dia mengingat Eun Tak yang berusia 29 tahun dengan sebuah senyuman menyapa teman makan siangnya dalam penglihatannya dan tiba-tiba menjadi cemburu bahwa dia telah meninggal dan Eun Tak bertemu dengan seorang pria baru.

Kencan Sunny dan Malaikat Maut dimulai dengan saling memperkenalkan diri satu sama lain, dan Duk Hwa memberitahu mereka bahwa pekerjaannya adalah pewaris perusahaan, dimana para gadis itu tidak menanggapi dengan serius ucapannya.

Malaikat Maut bingung dan berkata dia bekerja di bidang jasa, dan tidak bisa lebih jauh memberikan penjelasan akan pekerjaannya. Sunny bertanya apa dia punya nama hari ini, dan Malikat Maut tersenyum dengan berseri-seri sebelum mengumumkan dengan penuh bangga, “Kim Woo Bin.”

Teman Sunny menebak bahwa dengan nama seperti itu dan sebuah pekerjaan di bidang jasa, dia pasti seorang pramusaji di kelab. Sunny bertanya kartu namanya, dan Malaikat Maut menjadi lesu karna menyadari bahwa dia seharusnya telah mempersiapkannya.

Tapi kemudian perhatian para gadis itu mengarah pada Duk Hwa setelah teman Sunny mendapati lewat artikel di internet bahwa Duk Hwa benar-benar adalah pewaris perusahaan. Sunny tiba-tiba menjadi baik hati dan perhatian pada Duk Hwa, yang membuat marah Malaikat Maut. Dia menjadi sangat marah sampai ruangan itu menjadi sangat gelap dan asap hitam muncul di sekitarnya, dan Duk Hwa menoleh padanya dengan khawatir.

Malaikat Maut berkata, “Saya mau pergi,” dan Duk Hwa tidak keberatan ditinggalkan bersama kedua  wanita itu. Tapi maksud Malaikat Maut adalah bagi Duk Hwa untuk mengatakannya dan memerintahkannya dengan menggunakan kemampuannya untuk mengendalikan pikiran seseorang.  Duk Hwa langsung berdiri dan pergi, dan Malaikat Pencabut Nyawa melakukan hal yang sama pada teman Sunny, dan kemudian membuat Sunny melupakan apa yang baru saja dia lakukan.

Ketika mereka telah berdua, Malaikat Pencabut Nyawa memberikan cincin gioknya. Dia menerimanya dengan bahagia, dan sebagai gantinya meminta nomor telpon Duk Hwa, yang sekali lagi membuat Malaikat Penvabut Nyawa menjadi kesal. Tapi Sunny berkata bahwa jika dia benar-benar Duk Hwa yang ia ceritakan, maka Duk Hwa adalah tuannya. Malaikat Pencabut Nyawa bingung, dan Sunny mengklarifikasi, “Dia adalah tuan tanahku.”

Sunny berkata ada banyak yang ingin ia bicarakan dengannya, jadi Malaikat Pencabut Nyawa mau tak mau mengeluarkan ponselnya dari kantongnya untuk mencari nomor Duk Hwa. Dia hanya meraba-raba ponselnya sehingga Sunny menawarkan untuk membantu, dan Malaikat Pencabut Nyawa segera mundur kebelakang saat Sunny akan menyentuh tangannya. Sunny berpikir dia melemparkan ponselnya padanya, tapi Malaikat Pencabut Nyawa segera menutupinya dengan berterima kasih yang sebesar-besarnya.

Sunny menanyakan pinnya dan ketika Malaikat Pencabut Nyawa berkata dia tak punya, Sunny berpikir bahwa dia sepertinya selalu saja tidak punya banyak hal. Dia membuka nomor kontaknya, yang terdiri dari: Duk Hwa, Siluman, Pengantin siluman dan Sunny bukan Sun Hee.  Sunny tertawa, karna menduga siluman adalah nama sebuah toko, karna dia mengenal sebuah kedai kue beras dengan nama siluman.

Malaikat Maut pulang dan mendapati Shin meminum pil obat, dan bertanya apa obat manusia itu manjur untuknya. Shin berkata dia memilih antara alkohol dan obat, dan Malaikat Maut memilih alkohol dan mengeluh atas fakta bahwa Sunny menyebutnya aneh karna dia tidak punya kartu nama untuk diberikan padanya.

Shin berkata, “Kamu menipunya dengan baik. Dia pikir kamu manusia.” Malaikat Maut mengerutkan dahinya dan bertanya apa dia mengalami gangguan atau putus asa, dan Shin berkata dia hanya sakit. Memikirkan semua kata-kata buruk yang ia ucapkan pada Eun Tak, Shin berkata semua ucapannya sekarang berbalik menyerangnya, dampaknya besar karna telah mencampuri kehidupan dan kematian manusia.

Shin menghela nafasnya bahwa dia  begitu tua tapi tidak bijaksana seperti usianya dan Malaikat Maut berkomentar, “Kau hanya tambah tinggi.” Mengabaikan ucapannya, Shin berkata setelah hidup selama ini, dia seharusnya tahu apa yang tidak seharusnya ia ucapkan, dan bertanya-tanya apa dia pantas mati.

Malaikat Maut mengejutkannya saat berkata bahwa tidak ada jiwa yang pantas mati. Shin menatapnya dengan pengharapan, dan kemudian Malaikat Maut menambahkan, “Kecuali kau.” Shin memelototinya, dan  Malaikat Maut merasa bersalah dan mengatakan bahwa itu hanya sebuah candaan.

Malaikat Maut bertanya apa ada sesuatu yang terjadi pada Eun Tak, memanggilnya ‘jiwa yang terhilang, dan Shin menjelaskan bahwa Eun Tak menangis dan dia menangis dan dia merasa kasihan padapanya, tapi tidak akan mencabut pedangnya dan tak tahu kenapa. Malaikat Maut bertanya, “Kamu menangis? Kamu menangis di depan jiwa yang terhilang?” Malaikat Maut berkata dia sudah habis sekarang, menegaskan bahwa wanita suka pria yang terus terang, bodoh dan cuek. Shin: “Itu alasanmu menangis di hadapannya setelah kamu melihatnya?” Malaikat Maut merasa tersudut, dan Shin menyuruhnya untuk kembali minum.

Malaikat Maut memberitahunya untuk memutuskan apa akan membuat Eun Tak menyukainya atau membencinya, mengingatkannya bahwa dia bukan Hamlet. Shin kembali bernostalgia dan mengatakan, “Shakespeare, orang itu. Aku bilang, ‘Lakukan atau tidak,’ Lalu dia menulis mahakarya.” Malaikat Maut memuntahkan minumannya.

Ketika Malaikat Maut bertanya apa dia mau pergi ke rumah sakit untuk diperiksa, Shin bertanya apa sakit ini bisa disembuhkan ketika rasa sakitnya berasal dari pedang. Malaikat Maut mengingat Shin bertanya-tanya di malam sebelumnya apa Dewa tidak meremehkannya atas apa yang bisa dia atasi, dan tiba-tiba saja dia membuka tangannya dengan lebar. “Karena kamu sangat sedih, apa kamu mau dipeluk?,” tanya Malaikat Maut

Shin meresponnya dengan memanggil pedang silumannya dan mengayunkannya di depannya.

Sunny mengagumi cincin gioknya dan merasa cincin itu sudah pasti adalah miliknya. Eun Tak bahagia untuknya ketika dia mendengar bahwa pria aneh dan tampan itu yang memberikannya sebuah cincin, dan Sunny berkata dia masih sangat tampan dan masih sangat aneh, tapi ketika dia melihat wajahnya dia melupakan semuanya.

Eun Tak berpikir bahwa cincinnya pasti sangat tua, dan dibelakang mereka, sesosok hantu tiba-tiba muncul dari sebuah meja  dan mengatakan bahwa dulu pacarnya juga memberinya sebuah cinicin. Kemudian tiga hantu tiba-tiba muncul di depannya untuk meminta bantuan, setelah mendengar bahwa dia telah membantu  seorang hantu losmen dan mengabulkan permintaannya.

Eun Tak mencoba mengabaikan mereka, tapi Nenek hantu itu bertanya apa Eun Tak bisa menanyakan siluman itu nomor kemenangan lotre, dan menawarkan bahwa dia bisa membeli lotrenya sendiri, dan Eun Tak sepertinya sangat menyukai dengan ide hantu itu.

Dia bergegas pulang ke rumah dan Shin secepatnya duduk dan bersikap dengan alami. Eun Tak bersikap manis di depannya dan memujinya, menyebutnya contoh sempurna dengan menjadi dirinya sendiri. Segera setelah dia meleleh dengan  kata-kata pujiannya, Eun Tak menanyakan nomor kemenangan lotre untuk pekan ini, dan Shin menjawab dia tak tahu. Tapi kemudian Eun Tak berkata bahwa jika dia tahu nomor loternya, dia akan punya waktu untuk mencabut pedangnya, dan tanpa pikir panjang Shin langsung memberikan nomornya padanya.

Keesokan harinya, Eun Tak membagikan nomor lotre itu pada si hantu Nenek dan Shin menangkap basah ulahnya. Eun Tak bersumpah nenek itu dahulu adalah wanita yang baik dan dia pantas mendapatkan ini, dan bahwa dia akan muncul dalam mimpi anak-anaknya dan memberitahunya.

Eun Tak memberitahu Shin bahwa dia mau ke perpustakaan karna ujian sudah dekat dan bergegas pergi, tapi ternyata malah datang ke sebuah toko dan berusaha untuk membeli kartu lotre. Kasir berkata anak dibawah umur tidak bisa membeli lotre, sehingga Eun Tak kembali dengan pakaian yang berbeda dan mencoba yang ketiga kalinya, tapi dia tetap saja gagal. Dia berusaha meyakinkan kasir bahwa ini nomor lotre kemenangan hari ini, dan menawarkan akan memberikannya setengah jika dia membelikannya, tapi kasir itu malah mengusirnya keluar.

Shin ada disana dan menangkap ulahnya sekali lagi, dan Eun Tak menggerutu bahwa Shin sepertinya bisa tahu semuanya. Shin berkata hantu nenek itu juga tidak mendapat kesempatan untuk memberitahu putranya, dan Eun Tak berkata Shin seharusnya membuatnya tidur, karna ini tahun yang buruk bagi perkebunannya karna hujan hanya turun di Seoul. Eun Tak menatapnya seolah-olah dia menuduh Shin.

Shin berkata untuk membela diri bahwa bukan dia yang mengurus hujan, dan bahwa tidak akan ada pemenang pekan ini sehingga uangnya akan ditahan. Shin berkata mereka adalah petani yang baik dan jujur, dan mereka akan bermimpi aneh dari penjaga mereka.

Eun Tak tiba-tiba berpikir dia sangat tampan. Shin bertanya-tanya mengapa Eun Tak sangat bahagia padahal dia tidak bisa membeli lotrenya pekan depan, dan Eun Tak memberitahunya bahwa dia akan menginjak 20 tahun dalam dua bulan lagi dan akan ada lotre baru setiap minggunya.  Dia menunjuk dengan jari bentuk pistol pada goblin, dan Shin memberitahunya untuk tidak bicara padanya.

Eun Tak berbalik dan melihat bahwa Shin benar tentang angka lotre yang akan menang. Dan di dalam toko, kasir menyadari bahwa Eun Tak ternyata benar dan dia jatuh pingsan dari kursinya.

Nenek hantu berterima kasih pada Eun Tak ketika mendengar berita baik itu, dan Eun Tak bertanya mengapa dia sudah tidak bisa menemui gadis dari losmen itu. Si nenek hantu berkata bahwa berkat Eun Tak dia naik ke sana, dan menunjuk pada langit dengan jarinya, dan mereka berdua menyadari bahwa nenek juga akan pergi kesana. Si nenek hantu kemudian memberitahu Eun Tak untuk hidup bahagia dengan goblin, dan mereka berdua tersenyum dengan hangat.

Di rumah, Eun Tak sejenak merenung dan bertanya pada Malaikat Maut apa dia bisa bertemu dengan Dewa jika mati nanti. Eun Tak berkata dia ingin berteriak padanya: “Siluman itu penjaga yang kesepian. Orang-orang tidak tahu. Ketika kita akan meninggalkan dunia ini, ada seseorang yang mendorong kita disini. Tapi aku tahu. Karena itu, aku berencana untuk mencabut pedangnya. Ketika dicabut dia akan tampan. Lalu dia akan menjadi penjaga yang bersinar.”

Malaikat Maut tiba-tiba menjadi khawatir setelah mendengarnya dan tanpa sengaja memanggil Eun Tak dan kemudian mengoreksi dirinya dan memanggil jiwa yang terhilang. Malaikat Maut berkata bahwa dia bisa saja kehilangan  nilainya dan mungkin akan diusir, tapi Eun Tak berkata dia pantas menerimanya. “Hidup itu sementara. Kita datang dan pergi. Kita bisa hidup dalam mimpi buruk meski saat sedang tidak bermimpi,” ucap Eun Tak.

Eun Tak membayangkan semua kekerasan yang dia alami dari Bibi dan keluarganya, dan berkata bahwa dia sangat bahagai sejak pindah kesini, rasanya seperti mendapat sedikit surga. Dengan tersenyum lebar, Eun Tak berkata bahwa dia ingin membalas kebaikannya, oleh karna itu dia akan mencabut pedangnya.

Dia tak tahu apa maksudnya bagi goblin unutk menjadi lebih tampan, tapi dia menyadari bahwa Malaikat Maut selalu menyemangatinya untuk mencabut pedangnya. Sementara Malaikat Maut merasa ngeri mendengarnya, mungkin karna merasa bersalah.

Malaikat Maut kembali bekerja, dimana dia melihat seorang pria buta menyeberangi jalan. Dia tidak melihat Nenek cantik lewati di belakangnya. Nenek cantik nan ajaib itu pergi ke sebuah rumah sakit dimana dia berpapasan dengan seorang gadis kecil yang sepertinya bisa melihat wajahnya yang sesungguhnya, dan dia memberikan isyarat pada gadis kecil itu untuk diam.

Si nenek cantik mengunjungi seorang anak laki-laki yang menderita kesakitan, dan dia meletakkan tangannya di kening anak laki-laki itu dan berkata  dia sudah terlalu banyak menderita, dan saatnya untuk jangan menderita lagi.

Malaikat Maut menjalani hari kerjanya dengan melelahkan, dimana seorang wanita meminta untuk dilahirkan kembali menjadi Kim Tae Hee dalam kehiduan  berikutnya (dimana Malaikat Maut menyerahkannya sebuah tiket yang tertulis bahwa dia berada dalam urutan 92.414.945), dan sepasang suami istri bertengkar karna si pria tidak ingin menjadi suaminya lagi dalam kehidupan berikutnya.

Pria buta dengan  tenangya berjalan melewati pintu akhirat seperti yang diperintahkan oleh Malaikat Maut, tapi dia sangat senang setelah mendengar suara gonggongan yang akrab di balik pintu. Penuntun anjingnya Happy ada disana, dan Malaikat Maut berkata bahwa Happy telah menunggunya seharian dan akan menuntun jalannya.

Malaikat Maut melewati jembatan penyeberangan yang biasa ia lewati dalam perjalanan pulang dan mengambil sebuah kartu nama yang terjatuh di jalan. Kartu nama tentang sebuah iklan peminjaman uang, tapi dia melihat dengan cemburu nama yang tertera di kartu itu.

Dia begitu terkejut saat Sunny datang mendekat, dan dia begitu panik sampai memakai kembali topinya untuk membuatnya tak terlihat. Sunny memikirkannya ketika dia berada di jembatan, dan komplain dengan suara yang keras mengapa dia  tidak mengangkat telponnya dan bertanya-tanya siapa sebenarnya pria itu.

Malaikat Maut menatapnya dengaan ekspresi yang datar dan berpikir, “Saya adalah Malaikat Maut.” Dia berpikir dengan sedih bahwa mereka malaikat maut hanya bisa bergerak sesuai perintah, tapi Sunny tiba-tiba mengganggu pikirannya saat berkata dia akan membunuhnya karna dia telah melukai harga dirinya. Sunny  menelponnya, tapi ponselnya berdering dan Sunny bisa mendengarnya.

Awalnya Malaikat Maut tidak menyadarinya karna dia terpaku dengan cincin giok yang dikenakan oleh Sunny di jarinya, dan kemudian Malaikat Maut terkaget untuk segera mematikannya. Sunny menjadi takut dan melihat ke sekelilingnya, dan tidak sengaja dia terpeleset di jalanan yang licin. Dia sepertinya akan jatuh, tapi dia terhenti dan menggantung di udara.

Ternyata: Malaikat Maut menundukkan badannya di bawahnya, dan menahannya di atas belakangnya. Tapi hal itu malah semakin membuat Sunny ketakutan dan bergegas berlari sekencang mungkin dari sana  dan meninggalkan Malaikat Maut yang menyaksikannya pergi sambil menghela dalam nafasnya.

Sunny datang  ke restoran dan bertanya pada Eun Tak dengan nafas yang tergopoh-gopoh apa dia percaya dengan hantu, dan Eun Tak melihat dengan gugup  dua hantu yang berdiri di dekat pintu masuk sebelum mengatakan bahwa tidak ada yang namanya hantu.

Sunny tidak khawatir lagi dengan kejadian aneh yang dia alami barusan, dan teringat memberitahu Eun Tak untuk tidak datang bekerja selama beberapa minggu agar bisa fokus dengan ujian masuk perguruan tinggi.

Shin duduk di rumah sambil merenungkan apa yang Eun Tak inginkan darinya, dan kemudian teringat dengan ucapannya bahwa Eun Tak menginginkannya tetap bahagia selama dia tinggal di rumah ini. Dia bertanya-tanya apa itu yang benar-benar yang diinginkan oleh Eun Tak, jika memang benar dia berada dalam posisi yang sulit.

Shin  menunggu Eun Tak diluar sebuah toko buku, dan saat Eun Tak berjalan mendekatinya dimana dia fokus melihat catatannya, Shin berpikir dalam hatinya, “Kehidupan berjalan mendekat ke arahku. Kematian berjalan mendekat ke arahku. Dari hidup sampai mati. Kamu berjalan ke arahku tanpa lelah. Lalu aku katakan sesuatu seperti ini. ‘Aku tidak sedih. Ini cukup baik. Harus.”

Sumber Dok Gambar: tvN Korea Selatan

Untuk melihat semua tautan sinopsis aktriskorea.web.id, silahkan kunjungi www.sinop.web.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*