Home / Sinopsis Drama Korea / Sinopsis Goblin Episode 7 Bagian Pertama Drama Korea

Sinopsis Goblin Episode 7 Bagian Pertama Drama Korea

[Baca juga: Sinopsis Goblin Episode 7 Bagian Kedua Drama Korea]

Tak mampu menyentuh pedang goblin, Eun Tak mengerahkan usaha terakhir dengan menyebutkan kisah sebuah dongeng tentang pangeran yang dikutuk dan mendaratkan ciuman di bibir Shin. Mata Shin membelalak dan dia hanya berdiri disana seperti patung, karna sangat terkejut.

Ketika Eun Tak menarik dirinya, Shin bertanya apa dia sudah gila. Eun Tak marah mendengarnya, membela diri bahwa dia berusaha sebisanya untuk membuatnya tampan (berpikir bahwa ini yang akan terjadi ketika dia mencabut pedangnya), dan bahwa dia sedang berkorban: “Kamu pasti sudah sering berciuman, tapi bagiku itu tadi ciuman pertamaku.”

Mulut Shin menganga, dan Eun Tak merasa menyesal bahwa dia tidak seharusnya menyia-nyiakan seperti itu, dan tiba-tiba akan memegang kera bajunya untuk sekali lagi mencoba. Shin mundur kebelakang dan memberitahunya untuk berbicara dari sana, tapi sekarang Eun Tak telah bersikeras akan melakukan segalanya dalam situasi mendesak ini, karna berpikir jika dia tidak bisa menyentuh pedangnya Shin akan meminta semua hadiahnya untuk dikembalikan. Shin bertanya apa yang akan dia lakukan jika itu tidak bekerja lagi, dan Eun Tak hanya menjawab, “Jika tidak bekerja lagi, hanya ada satu jawaban. Cinta sejati.”

Eun Tak mulai berjalan ke pintu, dan Eun Tak berteriak bahwa dia akan mencintainya jika perlu, karna dia tidak akan mengembalikan barang pemberiannya. Shin berbalik dan Eun Tak menabrak tepat di dadanya, dan Eun Tak minta maaf, khususnya karna telah membuat salju turun.

Setelah Eun Tak menyebutkan tentang salju, Shin membuat salju yang turun membeku di udara. Eun Tak bertanya dengan gugup apa dia juga akan mengusirnya, dan Shin berteriak tidak akan, dan berjalan pergi. Eun Tak sangat bahagia dan kemudian menyusulnya sekaligus mengingatkan untuk tidak melupakan dengan perjanjian yang telah ia tanda tangani.

Kembali di rumah, Duk Hwa bertanya sambil menangis apa Paman Shin tidak akan kembali, dan Malaikat Maut memeluk ‘Sertifikast Rumah’ di dadanya dan berkata bahwa Shin telah menjalani kehidupan abadi dan akhirnya binasa, dan bahwa kematian hanyalah dunia lain di sisi pintu lain.

Duk Hwa menangis dengan tersedu-sedu di kursi Shin. Dia bahkan mengeluarkan kartu kreditnya dan menangis, “Aku tidak butuh kartu kredit yang bodoh ini. Tolong kembalilah. Komohon.”

Seketika itu, Shin berjalan melalui pintu depan bersama Eun Tak, dan Malaikat Maut membelakak, sambil memegang sertifikat rumahnya lebih erat. Duk Hwa sangat bahagia melihatnya kembali dan Shin memeluknya dengan erat saat Duk Hwa menangis, “Paman kembali? Apa Paman kembali? Aku sayang Paman.”

Shin menenangkannya dan berkata, “Sudah, sudah. Jadi, paman berpikir, bolehkan paman minta kartu kredit paman kembali.” Air mata Duk Hwa segera mengering. Dia memegang dompetnya saat mengulangi ucapan Malaikat Maut tentang kematian hanya dunia baru di sisi lain pintu itu, dan menyarankan agar Shin seharusnya kembali dimana dia datang.

Malaikat Maut setuju, dan Shin meminta untuk dikembalikan sertifikat rumahnya. Malaikat Maut mengarahkan rasa marahnya pada Eun Tak, dan hal itu mengingatkan Shin untuk meminta kembali tas, parfum dan uang 5.000 dollar yang telah ia berikan padanya.

Sekarang mereka bertiga memegang hadiah perpisahan dari goblin, dan Eun Tak langsung memasang wajah imutnya: “Paman. Aku mencintaimu.” Duk Hwa dan Malaikat Maut menatap mereka, sementara Shin hanya menggelengkan kepalanya. Tiba-tiba saja Malaikat Maut menyorong Duk Hwa  dan berkata di telinga Shin, “Aku juga mencintaimu. Paman!” Shin kesal dan berteriak padanya untuk menutup mulutnya.

Shin bertemu dengan Kakek dan bertanya apa dia sudah membakar lukisannya. Kakek berkata sudah, dan Shin tertawa berharap itu hanya sebuah candaan belaka. Kakek menikmati melihat Shin gelisah, dan Kakek berkata itu adalah hukuman karna begitu bersungguh-sungguh dengan perpisahannya.

Kakek berkata dia akan menyuruh Duk Hwa membawa lukisannya besok pagi, dan ketika Shin berkata dia berterima kasih dan minta maaf, Kakek bertanya apa dia bisa berhenti untuk berusaha mati dan mempertimbangkan untuk hidup. Kakek berkata, “Berkat kamu, beberapa orang di masa lalu bisa berubah kearah positif. Bukankah menyenangkan jika mereka bisa mendapat keuntungan dari keberuntungan atau keajaiban yang aneh tapi indah?”

Diluar, sekertaris Kakek keluar dari mobilnya dan melihat istana besar Shin. Dia bertanya-tanya dengan suara keras, “Seorang pria yang tidak pernah bertambah tua.”

Shin merenungkan kisah yang tak terduga dimana pengantin wanitanya tidak bisa menarik keluar pedangnya, dan penglihatannya akan Eun Tak yang berusia 29 tahun, tapi dia tidak ada di sisinya. Dia bertanya-tanya, “Apa masa depan sudah berubah atau ramalannya yang berubah.” Dia mengakui dirinya senang bisa kembali kesini, dan menyebut dirinya memalukan karena bahagia akan hal seperti itu.

Malaikat Maut memanggil Eun Tak duduk dengannya untuk diberitahu kejadian yang sesungguhnya, dan Eun Tak menceritakan bagaimana dia tidak bisa menyentuh pedangnya meskipun telah melihatnya. Malaikat Maut bergumam bahwa dia telah kembali dengan hidup-hidup, dan Eun Tak menyalahartikan komentar itu diarahkan padanya, dan setuju bahwa dia hampir saja ketinggalan di ladang itu.

Malaikat Maut berpikir bahwa Eun Tak masih tak tahu apa yang akan terjadi ketika dia menarik pedangnya. “Haruskah kuberitahu apa yang akan terjadi? Siluman itu bisa mati karna amarah. Lalu rumah ini akan menjadi milikku,” pikirnya.

Malaikat Maut bertanya-tanya mengapa dia tidak bisa menyentuh pedangnya, dan Eun Tak bertanya apa siluman benar tentang dirinya yang ternyata bukan pengantinnya: “Adakah pengantin lain yang bisa menyentuh pedangnya dan apakah dia cantik?”

Eun Tak berpikir bahwa Shin tidak akan kejam padanya, tapi keesokan paginya, dia bahkan tidak bisa menggigit steaknya karna komentar Shin yang begitu agresif tentang bagaimana satu mulut tambahan untuk diberi makan sungguh membebani, dan mereka sudah kehabisan daging. Dia bertanya-tanya bagaimana mereka akan mencuci semua piring kotornya, dan Eun Tak dengan sukarela menawarkan diri untuk mencucinya.

Kemudian saat Eun Tak mencuci piring, Shin berjalan di belakangnya sambil mengeluh bahwa ada banyak cucian, dan bertanya-tanya apa dia harus membuang semua cuciannya. Dan Eun Tak kembali setuju untuk melakukan semuanya.

Shin terus menempel sepanjang hari saat Eun Tak mencuci pakaiannya, dan ketika dia mulai berkomentar tentang debu yang ada di dalam rumah, Eun Tak mengibaskan handuk yang basah di depan wajahnya.

Eun Tak melakukannya lagi dan lagi, dan mereka  berdua mulai bercekcok. Eun Tak berdebat bahwa Shin tidak seharusnya langsung menyimpulkan bahwa dia bukan pengantinnya hanya karna dia tidak bisa menyentuh pedangnya, dan bahwa Shin akan sangat menyesal jika membuatnya susah.

Eun Tak menyerang balik Shin dengan kata-katanya sendiri, tentang bagaimana dia menyukai setiap hari yang ia habiskan dengannya, karna cuacanya bagus, buruk, atau cukup bagus. Shin mengagetkan Eun Tak saat mengatakan, “Ya, hari ini juga. Kamu begitu bersinar.”

Eun Tak bertanya mengapa dia membuatnya susah, dan Shin menjawab itu berbeda. Dia tidak berpikir demikian, dan menawarkan untuk memperbaiki hubungan mereka berdua, jika Shin benar-benar berpikir dia tidak bisa menjadi pengantinnya. Eun Tak menyarankan untuk menjadi kekasihnya, tapi Shin berkata tidak. Shin juga tidak tertarik dengan kenalan, dan ketika Eun Tak menyarankan penyewa, Shin malah menyuruhnya untuk membayar uang sewa.

Kemudian, Eun Tak komplain pada Malaikat Maut tentang hal itu, dan berkata dia dan Shin sekarang bertengkar. Malaikat Maut menyarankan bahwa mungkin mereka membutuhkan sesuatu yang lebih kuat daripada kutukan. “Sesuatu semacam cinta sejati,” ucap Malaikat Maut. Eun Tak berkata dia sudah mencobanya, dan memikirkan saat mereka berciuman, sementara Malaikat maut bertanya apa sebenarnya yang telah dia lakukan. Dibelakang mereka, Shin menyembunyikan wajahnya dengan malu-malu dan berkata, “Kamu tidak boleh membahasnya. Apa wajar memberi tahu orang lain siapa yang kamu cium?”

Eun Tak mengklarifikasi bahwa tidak berkata apa-apa, tapi Shin yang mengatakannya – dan hal itu tidak ada hubungannya dengannya karna yang ia beritahu adalah ciumannya. Shin: “Hei. Ciuman bukan milik satu orang. Separuhnya milikku.” Eun Tak: “Baiklah ambil saja separuhnya.” Shin: “Tidak, aku tidak mau.” Eun Tak: “Kalau begitu, kuambil semuanya.”Ambillah, dasar serakah.” Mereka ngambek dan pergi ke arah yang berbeda sementara Malaikat Maut bergumam, “Seseorang tidak bisa menelpon karena tidak punya nama. Mereka berdua sungguh ….”

Malaikat Maut kesal sehingga dia meluapkan kemarahannya ketika datang ke kamar Shin dan menuntut agar dia mengusir Eun Tak jika dia memang bukan pengantinnya: “Kamu tidak mau? Tidak bisakah kita mengusirnya dan bahagia bersama seperti dahulu?”

Malaikat Maut terdengar seperti seorang kekasih yang sedang cemburu, dan  Shin bingung dengan penjelasan Malaikat Maut bahwa mereka tinggal dengan tenang sebelum Eun Tak ada disini. Sementara Shin berdebat bahwa Eun Tak tahu terlalu banyak mengenai mereka dan mereka tidak bisa melepaskannya dan membiarkannya buka mulut. Malaikat Maut menatapnya tajam dan berkata bahwa mungkin Shin menginginkan dia tetap tinggal, tapi Shin tidak mengakuinya. Malaikat Maut berpikir Shin bahagia bahwa Eun Tak tidak bisa menarik pedangnya karna dia bisa hidup dan melihatnya lebih lama, dan Shin membela diri bahwa dia pasti sudah gila bahagia tentang hal itu ketika dia telah menunggu untuk meninggal lebih dari 900 tahun.

Sehingga Malaikat Maut dengan bahagia menawarkan untuk menyingkirkannya demi persahabatan mereka, dan dia pasti kesal karna Eun Tak menciumnya tanpa izin. Shin marah karna panik, “Tidak ada persahabatan di antara kita. Teman macam apa yang ingin temannya mati?” Malaikat Maut menunjuk tepat di depan matanya dan berkata, “Lihat? Kamu senang kalau tidak mati.”

Shin bersumpah dia tidak seperti itu, dan bahwa dia hanya berusaha menepati janji seperti seorang pria karna telah menandatangi sebuah kontrak. Malaikat Maut menyerang balik, “Apa kau bukan seorang pria saat memberi sertifikat rumahmu padaku?” Malaikat Maut marah dan keluar dari kamarnya, meninggalkan Shin yang berusaha memanggilnya.

Shin membaca kontrak Eun Tak dan tersenyum lebar pada dirinya sendiri – dimana salah satu permohonannya adalah di hari pertama salju turun setiap tahun, siluman setuju untuk  dipanggil olehnya dan akan menunggunya.

Shin mendapatinya sedang belajar di ruang makan, dan Eun Tak berkata dia ingin lebih dekat ke tempat penyimpanan camilan karna dia berhenti membutuhkan sesuatu darinya. Shin menganggap saat ini suasana hati Eun Tak sedang dongkol, dan Eun Tak memperingatkannya bahwa saat ini dia sedang sensitif karna tengah mempersiapkan ujian masuk.

Eun Tak bertanya dengan lembut apa dia tahu semua jawaban untuk ujian masuk universitas, yang tentu saja Shin tahu. Dia menawarkan akan memberitahunya setelah dia menyelesaikan soal latihannya, dan Eun Tak tiba-tiba sangat senang. Shin agak ragu mengungkit tentang hari ketika salju pertama turun, tapi Eun Tak menyela ucapannya dengan mengatakan  kata ‘pertama-tama’ dan memberitahunya untuk tidak merasa tertekan – saat itu ciuman pertamanya, tapi – Shin menyela ucapannya dengan kesal bahwa dia akan mengatakan hujan salju pertama, dan mereka berdua menjadi kikuk.

Hari ujian masuk perguruan tinggi tiba, dan Shin menemani Eun Tak sampai ke tempat pemberhentian bus dan memberikannya sebuah kotak makan siang. Dia mengambilnya dengan kesal, dan memperjelas bahwa yang dia harapkan bukan sebuah kotak makan siang. Shin menawarkan akan memberinya jawaban jika dia benar-benar menginginkannya, tapi Eun Tak menghentikannya sebelum dia benar-benar tergoda untuk mendengarnya.

Eun Tak menyombongkan dirinya bahwa dia akan mengetahui semua jawabannya, dan Shin begitu terkesan hingga dia mengelus rambutnya dengan lembut sama seperti yang diajarkan oleh Eun Tak. Hal itu  membuat mereka sejenak terbawa dengan suasana hingga tak memperhatikan saat bus telah tiba dan semua murid-murid telah naik.

Mereka menyadari betapa canggungnya itu, dan Shin berkata dia akan membelai bahunya, dan Eun Tak berkata dia akan melihat waktunya. Shin tidak menghentikan waktunya, dan hal itu membuat Eun Tak sangat panik karna khawatir dia akan datang terlambat dalam ujiannya.

Shin berkata, “Jangan khawatir. Apa kamu lupa pacarmu itu siluman?” Eun Tak mengingatkannya bahwa dia tidak ingin menjadi  pacarnya, tapi Shin berkata, “Aku berbohong,” dan kemudian menggenggam tangannya dan mulai berlari.

Waktu seakan menjadi lambat saat mereka berlari di jalan bersama-sama dengan bahagianya, dan Shin membawa Eun Tak masuk ke sebuah pintu dan kembali keluar dari pintu itu setelah membawa Eun Tak ke kampus dengan kemampuan teleportasinya. Saat dia berjalan keluar, seorang pengendara sepeda hampir menabraknya dan berhenti berteriak, saat Shin menghilang dan kembali lagi muncul di depannya.  Ketika si pengendara sepeda itu lewat  di depannya, Shin melihat sekilas akan masa depannya – dimana dia mengendarai sepedanya dengan ceroboh dalam kemacetan lalu lintas dan ditabrak oleh sebuah mobil.

Setelah ujiannya selesai, Eun Tak keluar dan melihat para siswa disambut oleh ibu mereka, sehingga dia tidak bisa menahan dirinya memikirkan ibunya. Dia menatap langit dan melambaikan tangannya dengan sebuah senyuman.

Eun Tak tiba di rumah sendirian, tapi ketika dia tiba, dia mendapati Shin, Malaikat Maut dan Duk Hwa berdiri di depan pintu untuk menyambutnya dengan sebuah kue. Malaikat Maut berkata ini adalah idenya, Shin yang membayarnya dan Duk Hwa yang membelikannya, sambil memegang kue itu untuknya.

Eun Tak sangat tersentuh sampai dia menangis, dan ketiga laki-laki itu kaget. Tapi dia berkata sambil menangis, “Bukan itu. Aku hanya bahagia.” Dia memutuskan akan membuat sebuah permintaan dan meminta agar dia bisa pergi menonton dengan Shin karna dia mendapatkan tiket gratis karna telah mengikuti ujian masuk perguruan tinggi.

Dia meniup lilinnya dan Shin mencoba untuk menghentikannya, tapi dia sudah terlambat dan dia melakukan teleportasi berada di belakang Eun Tak.  Malaikat Maut dan Duk Hwa terkejut ketika dia muncul di belakang Eun Tak, dan Shin hanya memberitahu mereka untuk tidak mencoba dan memahaminya. Shin mengumumkan bahwa keinginannya terkabul dan menyuruhnya untuk bersiap-siap pergi, dan baik Duk Hwa maupun Malaikat maut kecewa karna Shin tidak mengijinkan mereka ikut.

Malaikat Maut berkata ada sesuatu yang penting untuk ditanyakan pada Duk Hwa, dan kemudian bertanya dimana dia mendapatkan kartu namanya, menjelaskan bahwa bentuknya persegi panjang dan warnanya putih dan setiap sudutnya tajam. Duk Hwa berkata dia mendapatkannya dari perusahaan keluarganya, dan Malaikat Maut memohon, “Saya juga menginginkannya.”

Malaikat Maut memikirkan sesuatu yang membuatnya penasaran, dan bertanya pada Duk Hwa tentang menjadi tuan tanah Sunny. Duk Hwa mengkonfirmasi bahwa dia memiliki sebuah gedung kecil atas namanya, kemudian kita melihat Malaikat Maut berdiri di seberang jalan saat Sunny mengunci toko ayamnya karna hari telah malam dan kemudian berjalan pulang ke rumah.

Malaikat Maut mengikutinya dari belakang dan tidak terlihat, ketika seorang pria mabuk berpapasan dengannya dan meminta Sunny untuk tetap membuka restorannya agar dia bisa minum satu minuman lagi. Malaikat Maut memelototinya, dan tiba-tiba saja pria mabuk itu terbang di udara dan mendarat di tanah. Sunny begitu terkejut, dan bertanya-tanya mengapa dia terus melihat hal-hal aneh belakangan ini, dan kemudian berlari pulang dengan ketakutan.

Menungggu film yang akan mereka tonton, keduanya sejenak menghabiskan waktu bermain di mesin pengambil boneka. Shin menawarkan diri akan mengambilkan apapun yang dia inginkan, sayang dia terus saja gagal, dan Eun Tak berkomentar bahwa dia bisa memunculkan emas, tapi tidak bisa mendapatkan sebuah pemantik.

Mereka memutuskan akan menonton film yang menakutkan, dan Shin memberitahu Eun Tak untuk tidak mempermalukannya atau terlalu banyak berteriak, dan Eun Tak berkata dia hidup selama 19 tahun dalam kengerian, dan ini bukan apa-apa.

Ternyata mereka menonton film Gong Yoo berjudul ‘Train to Busan,’ dan sepertinya Goblin takut dengan zombie, karna dia berteriak saat melihat pembunuhan berdarah itu dan malah melemparkan popcorn-nya.

Eun Tak menutup mulut Shin dengan tangannya dan harus minta maaf pada orang-orang yang duduk dekat dengan mereka, dan kemudian Eun Tak komplain karna dia tidak bisa melihat adegan apapun karna diirnya. Eun Tak berkata dia tidak lapar, dan Shin hanya memesan satu sandwich dan bahkan tidak membaginya pada Eun Tak.

Eun Tak bertanya mengapa dia terus mengomelinya dan mengapa dia harus memberinya hadiah itu jika dia akan mengambilnya kembali. Eun Tak berpikir dia sangat aneh memberikan semua barang-barang itu padanya, seolah-olah dia akan pergi, dan kemudian menyadari bahwa semua hadiah itu adalah yang diinginkan semua orang.

Eun Tak bertanya, “Hadiah-hadiah itu seperti hadiah perpisahan. Aku benar, bukan? Apa hadiah-hadiah itu hadiah perpisahan? Apa kamu akan pergi setelah saya mencabut pedangnya?” Shin mengingatkannya bahwa dia harus bersiap untuk pergi begitu pengantinnya muncul, dan Eun Tak bertanya kemana dia akan pergi dan apa dia masih akan pergi.

Tapi Shin menjawab, “Tidak. Aku tidak ingin pergi. Namun, jika pengantinnya sungguh muncul, pilihan tersebut bukan terserah padaku.”

Eun Tak menundukkan kepalanya saat mendengarnya, karna berpikir dia akan pergi dengan wanita lain suatu hari nanti. Shin bertanya apa dia akan melepaskannya, “Tidak, saya tidak akan,” ucap Eun Tak . Eun Tak memberitahunya bahwa Shin bisa pergi ketika dia tidak ada dan menambahkan bahwa dia yang pertama-tama akan pergi sehingga dia tidak akan menyaksikan kepergiannya.

Duk Hwa mengantar Eun Tak ke sekolah keesokan harinya dan mendengar bahwa dia masih Cinderella di rumah, sementara Eun Tak menyebut Shin adalah ibu tirinya yang jahat.

Duk Hwa berpikir itu aneh bahwa pamannya menjadi lemah hanya karna melihat girlgroup di TV, tapi yang dia lakukan hanya marah semenjak bertemu dengan Eun Tak.

Duk Hwa menebak Eun Tak bukan tipenya, dan Eun Tak menggerutu mendengar Duk Hwa menyebutkan girl group dan berkata bahwa semua orang bilang kau akan menjadi cantik saat masuk universitas. “Kamu lihat saja aku saat masuk universitas,” ucap Eun Tak.

Eun Tak kembali pergi ke universitas dan Shin datang menjemputnya dengan membawa seikat bunga di tangannya. Eun Tak berjalan-jalan di sekitar kampus dan berhenti untuk memandangi tim baseball, tapi dia begitu terkejut saat melihat sebuah bola terbang di udara mendekatinya.

Eun Tak menundukkan kepalanya, tapi sebuah sapu tangan menangkap sebuah bola yang sedikit lagi mengenai kepalanya. Dia menengok dan melihat seorang pria tampan berdiri disana. Dia tersenyum dan sepertinya mengenalinya: “Itu kamu? Tae Hee?” Tae Hee juga mengenalnya dan berkata dia semakin cantik dan semakin tinggi, dan kemudian mengelus kepalanya.

Dari kejauhan, Shin menjatuhkan bunganya dan tertawa dengan kesal saat melihat kejadian itu. Dia bertanya-tanya karna cemburu apa pemain baseball itu adalah teman kencan makan siang Eun Tak yang berumur 29 tahun dalam penglihatannya dan awan tiba-tiba menjadi gelap saat terdengar kilat.

Di rumah, Duk Hwa  berusaha membuat Shin keluar dan makan, tapi dia hanya berbaring di ranjang dan bergumam, “Dia menyentuh rambutnya. Aku hampir mematahkan pergelangan tangannya.” Shin menggerutu bahwa seharusnya dia membiarkan pria itu bermain piano, dengan begitu mereka tidak akan bertemu, dan Duk Hwa tidak mengerti sepatah katapun yang dia ucapkan.

Sumber Dok Gambar: tvN Korea Selatan

Untuk melihat semua tautan sinopsis aktriskorea.web.id, silahkan kunjungi www.sinop.web.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*