Home / Sinopsis Drama Korea / Sinopsis Goblin Episode 8 Bagian Kedua Drama Korea

Sinopsis Goblin Episode 8 Bagian Kedua Drama Korea

[Baca juga: Sinopsis Goblin Episode 8 Bagian Pertama Drama Korea]

Shin berusaha menyogok Malaikat Maut untuk meminta bantuannya dengan menawarkan kupon ayam, tapi Malaikat Maut menolak, mengatakan bahwa dia punya caranya sendiri.  Shin ditinggal oleh mereka berdua yang lagi sangat cemburu, sehingga membuat langit bergemuruh dengan guntur yang tiba-tiba.

Malam itu, ketika Tae Hee tiba di rumah, dia terkejut mendapati piano lamanya ada di ruang tamu.

Setelah sekolah, Eun Tak didekati oleh murid lain, yang menanyakan bagaimana ujian masuk perguruan tingginya dan di universitas mana dia mendaftar. Mereka berdua adalah siswa yang baik, dan siswi  itu khawatir bahwa Eun Tak akan bersaing  secara langsung dengannya. Kemudian dia bertanya apa hantu itu mengatakan Eun Tak akan diterima di universitas pilihannya, dan Eun Tak menjawab dia bisa melihat mereka, tapi mereka tidak mengatakan apa-apa. Teman sekelasnya mengungkit bahwa mereka telah sekelas selama tiga tahun tapi baru hari inilah mereka berbincang lama, kemudian mendoakan agar dia berhasil dalam wawancara univeritasnya. Dan Eun Tak berkata hal yang sama.

Saat dia dalam perjalanan menuju wawancaranya, Eun Tak teringat saat berlari bersama Shin untuk ujian masuknya dan tersenyum. Dia senang kembali ketika mendapati Shin menungguinya, sampaik dia menyadari bahwa Shin membawakannya syal warna merah yang ia lupa bawa sebelum wawancaranya.

Shin mengenakan syal itu di lehernya dan memberikan nasihat terakhir agar dia tidak gugup. Shin bertanya apa dia masih marah, dan Eun Tak berkata bahwa rencananya begitu tapi dia gagal karna syal itu. Shin menyinggung bahwa  Eun Tak cemburu dengan cinta pertamanya , dan mengakui dia menyukainya.

Mereka nggak ngambek-ngambekan lagi, Eun Tak tersenyum dan melambaikan tangannya. Saat Eun Tak telah berada di atas bus, terdengar suara teriakan – seorang wanita  dicopet oleh seorang pria yang mengendarai sepedanya dengan kencang. Saat pengendara sepeda itu lewat, dia menatap Shin, dan sekarang kita dalam pikiran Shin, yang bisa melihat masa depan pria itu: Beberapa saat kemudian, si pencuri itu menabrak meja seorang penjual dan jatuh ke tengah jalanan, dimana mobil berlalu lalang.

Sebuah taksi menabrak si pengendara sepeda itu dan tergelincir di jalan, menyebabkan tabrakan beruntun. Bus berusaha menghindarinya,  dan sebaliknya berakhir menabrak sebuah mobil, dan malapetaka kembali datang karna bus itu ditabrak sebuah truk dan terbalik. Jalanan menjadi sangat kacau dan mengerikan, terutama bus yang membawa banyak penumpang. Dan kita melihat banyak penumpang yang terluka parah.

Kita kembali ke masa sekarang, beberapa menit sebelum kecelakaan itu terjadi, dan Shin bertanya-tanya mengapa Eun Tak ada di dalam bus namun dia tidak ada di dalam penglihatannya.

Di atas bus, seorang anak laki-laki berkata ibunya akan membunuhnya jika dia kembali gagal dalam wawancara. Temannya menyuruhnya untuk tidak berbicara seperti itu, sementara di dekat mereka, Eun Tak tersenyum pada seorang bayi yang ada di di genggaman ibunya.

Tak jauh, sekelompok malaikat maut telah berdiri, menunggu untuk menjalankan tugas mereka. Seorang malaikat maut yang berkumis komplain ketika seorang junior membawakan Malaikat Maut secangkir kopi. Malaikat Maut memberitahunya bahwa dia yang melarang si junior untuk membawakannya kopi, karna masih kesal dengan tagihan makan malam di malam sebelumnya.

Ada banyak nyawa yang akan melayang sehingga mereka telah memanggil bantuan dari departemen lain, dan Malaikat Maut menangani lebih banyak lagi. Dia membuka kartu kematiannya, dan melihat pasangan ibu dan anak, dan berpikir dia harus mempersiapkan surga lain.

Tapi Shin bertindak, menggunakan kemampuan pintu portalnya untuk membantunya mendatangi si penjual jalanan itu lebih cepat dan menyuruhnya menutup jualannya dan pulang lebih awal. Pria tua itu protes, dan Shin menawarkan diri untuk membeli semua barang-barangnya (tumpukan kardus berisi kaos kaki) – dan dia hanya memiliki beberapa menit sebelum kecelakaan itu terjadi.

Kemudian saat si pencuri itu mengayunkan sepedanya melewati Shin, Shin menendangnya, membuat si pencuri terjatuh di pinggir jalan bukannya di tengah jalan.

Pencuri itu mengenali Shin dari halte bus dan menuduhnya telah mengikutinya, sementara Shin membuat sepeda pria itu terbang di udara dan menjatuhkannya di depan matanya.

Shin memegang beberapa dompet yang telah dicuri pria itu, dan kemudian melemparkannya padanya saat Shin menyebutkan jumlah uang yang telah ia curi. Shin menambahkan bahwa dia hampir membuat banyak orang mati karna perbuatannya, dan menyebutkan bahwa orang yang ia curi dompetnya akan didiagnosis mengalami patah tulang dan butuh waktu pemulihan 3 pekan, dan akan kehilangan pekerjaannya jika beristirahat selama itu, sehingga korban itu bekerja tanpa memakai gips selama tiga pekan.

Pencuri itu menodongkan sebuah pisau lipat pada Shin, mendesak untuk mengetahui siapa dia. Shin berkata bukan keinginannya untuk menyelamatkan orang seperti dia, tapi akan ada efek samping akibat mencampuri kehidupan manusia. Dia memperingatkan pencuri itu untuk tidak berpikir hukumannya sudah berakhir, dan berkata bahwa dia akan dihukum bahkan setelah kematiannya.

Shin berkata, “Mata untuk mata  dan gigi untuk gigi. Ini adalah caraku melakukan sesuatu. Ini akan sedikit menyakitkan. Kalau mau, tahanlah.”

Tiba-tiba pergelangan tangan pria itu terputar dan patah, dan dia mengerang kesakitan. Busnya lewat, dan tidak terjadi apapun.

Di halte bus selanjutnya, Malaikat Maut dan rekan-rekannya bersiap-siap saat bus itu datang, karna mengira akan terjadi kecelakaan. Saat bus berhenti, Eun Tak mengenali Malaikat Maut dan melambai padanya, dan Malaikat Maut juga melambai padanya tanpa berpikir.

Juniornya menganga bahwa manusia bisa melihat mereka, tapi Malaikat Maut terdiam karna alasan yang berbeda – Eun Tak ada di atas bus, tapi dia tidak ada dalam daftar kematian. Yang lainnya bertanya-tanya apa artinya itu, tapi Malaikat Maut mengumumkan tidak akan ada kecelakan hari ini.

Malaikat Maut telah menebak apa yang terjadi, dan melihat di seberang jalan dimana ada Shin disana. Sementara  para malaikat maut lainnya bingung apa yang sebenarnya telah terjadi karna belum pernah mengalami kejadian ini sebelumnya. Si junior kagum bahwa keajaiban benar-benar terjadi dan si kumis komplain bahwa ada banyak administrasi yang harus mereka urus karna mujizat ini.

Shin muncul tepat dibelakang para malaikat maut, yang begitu terkejut melihat kehadiran goblin di depan mereka. Dia mengajak Malaikat Maut bicara, dan mereka berada di rumah teh, dimana Malaikat Maut menuduh Shin terus campur tangan dengan kehidupan manusia, dan Shin sedih bahwa Eun Tak hampir meninggal hari ini dan Malaikat Maut tidak memberitahunya tentang hal itu.

Malaikat Maut berkata jika itu takdirnya maka tidak bisa dihindari, tapi Shin menyela ucapannya dengan mengatakan, “Hanya kematian yang tidak bisa kuberikan untuk diriku sendiri. Haruskan aku mencampuri kehidupan semua manusia untuk dia?”

Kemudian Shin menyebutkan beberapa hal yang menarik perhatiannya tentang kecelakaan hari ini, dia merasa kecelakaan yang terjadi hari  ini aneh. Dia telah meramalkan kecelakaan itu beberapa hari lalu, tapi Eun Tak tidak ada disana. Selain itu, dia melihat masa depannya sepuluh tahun dari sekarang, namun kecelakaan ini pastinya akan menewaskannya.

Malaikat Maut menjawab karna kecelakaan yang Shin lihat bukan bagian dari takdirnya, karna Eun Tak memiliki kekasih seorang goblin yang akan mengubahnya untuknya. Malaikat Maut menambahkan  dengan nada suara yang kesal, mengatakan jiwa yang terhilang memiliki pacar siluman, semua orang yang harusnya mati akhirnya tetap hidup dan membuatnya lembur bekerja.

Malaikat Maut bertanya apa Shin tidak mempertimbangkan untuk kembali menjadi debu, tapi dia terkejut melihat Shin sangat serius dengan ucapannya. Shin menjawab, “Apa maksudmu kembali menjadi abu? Apa seperti menjadi debu, angin atau hujan? Dan disebar?”

Malaikat Maut terkejut mendengar bahwa Eun Tak bisa memegang pedang itu, dan Shin berkata dia hampir membunuhnya karna hal itu. Terlebih lagi, dia belum pernah merasa sesakit itu. Malaikat Maut menyarankan bahwa Shin seharusnya memberitahu Eun Tak apa yang terjadi ketika Eun Tak mencabut pedangnya, tapi Shin tidak setuju, ingin menyembunyikannya selama mungkin: “Selama delapan puluh tahun.” Tapi dia bertanya-tanya apa itu bisa.

Suasana hati Eun Tak lagi baik setelah dia menyelesaikan wawancaranya, dan dia semakin bahagia ketika melihat Shin datang dengan mobilnya di halte bus. Dia melihat sebuah bungkusan yang berisi kaos kaki di kursi belakang, dan Shin menjawab itu menandakan 10-20 tahun kedepan dari orang yang dia selamatkan tadi. Eun Tak bertanya apa Shin memutuskan menjual semua kaos kaki ini untuk menikahinya selama 10-20 tahun kedepan karna dia mengatakan Shin tidak bekerja.

Shin bertanya apa Eun Tak mau membantu, dan dia setuju, mengatakan bahwa wawancaranya sudah selesai, dan mulai sekarang dia akan lebih memperhatikannya. “Apa maksudmu?,” tanya Shin.

Kemudian, Eun Tak melatih lengan otot-ototnya, mengumumkan bahwa lain kali dia akan memastikan pedangnya bisa langsung ia cabut. Kemudian Shin melihat kupu-kupu putih terbang di dekat mereka, dan meminta Eun Tak keluar agar dia bisa bicara. Itu permintaan yang aneh, tapi Eun Tak setuju.

Ketika Eun Tak telah keluar, Shin berbicara dengan kupu-kupu itu (alias dewa), setengah memohon bahwa dia telah cukup dihukum, dan setengah berdebat bahwa dewa kupu-kupu itu yang menunjukkannya masa depan Eun Tak yang memaksanya menggunakan tangannya. Pada akhirnya Shin hanya mondar-mandir di ruangan mengejar kupu-kupu itu, dan Eun Tak bertanya-tanya apa dia masih sakit.

Ketika Shin muncul, Eun Tak bersumpah bahwa dia tidak melihat apa-apa. Tapi dia tidak perduli, dan memasang wajah yang sendu. Shin berkata, “Aku sungguh tidak suka ini. Harus menyukaimu. Itu tindakan paling bodoh bagiku.”

Eun Tak cukup terkejut mendengar ungkapan perasaannya, dan Shin berkata, “Tidak apa-apa kalau tidak dengar.” Eun Tak menjawab dia mendengar semuanya, dan Shin menjawab, “Bagus.” Ketika baru selesai mandi, Eun Tak akhirnya senag karna menerima sebuah ungkapan cinta.

Sunny kembali minum sendirian,  sambil menghitung pejalan kaki yang lewat di depan tokonya. Malam  ini, angka 50 adalah Malaikat Maut sendiri yang muncul di depan jendelanya dan memegang ponselnya. Sunny berlari untuk memeriksa ponselnya, dan ketika dia melihat 10 panggilan tak terjawab, Sunny beralasan dia tidak pernah telepon sehingga dia berhenti memeriksa ponselnya.

Mereka keluar berjalan-jalan, dan Malaikat Maut berkata dia sedang bekerja lembur saat terpikir ingin katakan sesuatu. “Aku tidak punya agama,” ucap Malaikat Maut. Dia telah menjawab pertanyaannya dengan terlambat, dan Sunny hampir tidak percaya dia menelponnya sepuluh kali hanya untuk mengatakan itu. Tapi Malaikat Maut malah mengatakan dengan bangga bahwa dia ingin memberitahunya secepat mungkin.

Terpesona, Sunny memanggilnya manis, dan Malaikat Maut begitu bingung sehingga Sunny bertanya apa tidak ada wanita lain yang pernah mengatakan itu padanya. Pertanyaan itu mengejutkannya, dan Malaikat Maut mulai berkata bahwa dia tidak pernah punya wanita lain. Sunny langsung menyela ucapannya, mengatakan itu bagus dia tidak punya wanita lain.

Kemudian Sunny menawarkan agar mereka saling menjawab pertanyaan dengan terus terang, dan menjelaskan nama aslinya adalah Kim Sun, sebuah nama yang diusahakan oleh orang tuanya meskipun miskin sehinggga membayar seseorang untuk mencarikannya nama yang baik, untuk memastikan sebuah kehidupan yang baik untuknya. Dia lebih suka Sunny dibanding nama aslinya, karna merasa dia lebih cerah, dibanding nama aslinya yang kedengarannya sedih seolah-olah ada yang terjadi di masa lalu. Saat Sunny menjelaskan, kita kembali flashback ke ratu muda sebelum dia menjadi ratu, yang berusaha menyeimbangkan mangkuk di pundaknya.

Nama itu juga yang ditulis Shin sekarang di sebuah kuil.

Sunny bertanya pada Malaikat Maut siapa nama aslinya, dan berjanji tidak akan tertawa meskipun aneh dan tidak cocok untuknya. Malaikat Maut ragu-ragu, tak tahu bagaimana untuk menjawab.

Di kuil, Shin akan menulis nama yang kedua, dan matanya tampak berkaca-kaca karna air mata.

Flashback: Kembali saat dia masih menjadi manusia, Shin diberikan sebuah pedang baru yang bersinar yang diberikan oleh raja muda, yang berkata dia memberikannya dengan amarah dan kekhawatiran. Dia memberitahu Shin untuk pergi sejauh mungkin dan jangan kembali, dan Shin protes bahwa dia telah melaksanakan semua perintah raja, dan ini adalah negaranya dan adiknya dan rakyatnya ada disini. Raja melihat bahwa Shin telah memahami kekhawatiran raja, dan dia membuatnya sebagai titah raja.

Di waktu sekarang, Shin mulai menulis nama kedua. Saat dia melakukannya, rasa sakit yang teramat sangat menembus dada Malaikat Maut, seakan-akan tulisan tangan itu menikamnya. Sunny menawarkan untuk membantunya tapi Malaikat Maut menolak dan menatap matanya dan mata Sunny menjadi sayu. Malaikat Maut menginformasikannya bahwa dia tidak melihatnya hari ini, dan minta maaf karna tidak mengantarnya pulang.

Sementara itu, Eun Tak bertanya-tanya kemana Shin pergi.

Duk Hwa menemani Shin ke kuil, dan mengingat pesan kakeknya yang memberitahunya untuk mengingat dengan baik hari ini di tahun-tahun dia akan melayani Shin. Kakek menjelaskan bahwa mereka adalah orang-orang yang Shin rasa perlu dibalas budinya, dan ketika Duk Hwa bertanya tentang pedang yang tertancap di dada Shin, dan kakek memberitahunya untuk tidak membicarakannya dengan Shin.

Shin menempelkan kedua nama itu di lampion dan menerbangkannya ke langit. Suara Kakek menjelaskan bahwa pedang itu adalah imbalan dan hukumannya, itulah alasan keberadaannya dan petunjuk untuk kebinasaannya.

Saat Eun Tak menapaki jalanan di malam itu, suara Shin bernarasi, “Kamu adalah hidup dan matiku. Dan aku suka padamu. Jadi aku menyimpam rahasia ini dan memohon izin kepada yang di atas. Semoga kamu tidak tahu untuk satu hari lagi. Semoga kamu tidak tahu untuk 100 tahun lagi.”

Shin melihatnya lewat di toko buku favoritnya, dan mulai akan mengikutinya. Tapi tiba-tiba, rak-rak buku bergerak sendiri dan menutupinya. Dan kemudian rak buku terangkat, menunjukkan seseorang datang dengan pakaian serba merah – dia adalah si Nenek Dewa.

Malaikat Maut kembali melihat lukisan ratu, berpikir ada sesuatu yang tidak beres dan itu bermula dari orang ini.

Setelah menunggu Shin sepanjang malam pulang ke rumah, Eun Tak pergi menemui Malaikat Maut untuk menanyakan sesuatu yang mengganggunya. Dia kembali teringat ucapan Shin yang akan pergi segera setelah dia bertemu dengan pengantinnya, dan bertanya apa persisnya yang akan terjadi jika dia mencabut pedangnya – Kemana dia akan pergi.

Si Nenek Dewa memberitahu Shin, “Cepat cabut pedang itu. Cabut pedang itu dan kembalilah menjadi abu.” Shin bertanya alasannya, dan si nenek dewa berkata bahwa dia telah hidup cukup lama. Si nenek ajaib menambahkan bahwa dia bahagia ketika Eun Tak hidup, dan menyuruh Shin untuk membuat keputusannya.

Shin berkata, “Sangat ironis. Aku tidak tahu keputusan apa yang kamu ingin aku ambil. Ketika aku terlahir sebagai Kim Shin, pasti kamu yang menciptakanku. Apa aku bukan anakmu?” Si Nenek Dewa berkata bahwa itulah mengapa dia memberitahunya demi kebahagiaan anaknya, Kim Shin. Si nenek dewa mengatakan bahwa dia akan mendapatkan apa yang paling diinginkan oleh Shin – agar Eun Tak tetap hidup.

Dan kemudian dia mengatakan hal yang mengerikan, “Jika kamu tidak kembali jadi abu, Eun Tak akan mati.”

Di waktu yang sama, Eun Tak akhirnya mengetahui segalanya, dan mendengar bahwa Shin akan meninggal ketika dia mencabut pedangnya.

Si nenek dewa mengatakan bahwa Eun Tak dilahirkan dengan takdir untuk mencabut pedangnya, dan bahwa Shin yang memberinya takdir itu ketika menyelamatkan nyawanya. Eun Tak akan jadi tidak berguna jika tidak melakukan tujuan hidupnya, dan tidak akan ada alasan untuk keberadaannya. Dia memperingatkan, “Jadi jika gagal mencabut pedang itu, dia akan terus menghadapi maut. Aku yakin itu sudah terjadi berulang kali.”

Tiba-tiba tabrakan bus itu menjadi masuk akal, dan si nenek dewa mengatakan bahwa akan ada kecelakaan lebih buruk yang akan terjadi dari sebelumnya, dan bahwa Shin hampir membunuhnya dengan tangannya sendiri.

Air mata jatuh dari mata Shin saat dia bernarasi, “Satu hari setelah 100 tahun. Saat cuaca cukup baik, aku berharap dapat memberitahunya bahwa dialah cinta pertamaku. Aku meminta izin dari yang diatas.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*