Home / Sinopsis Drama Korea / Sinopsis Goblin Episode 9 Bagian Pertama Drama Korea

Sinopsis Goblin Episode 9 Bagian Pertama Drama Korea

Sumber Dok Gambar: tvN Korea Selatan

Untuk melihat semua tautan sinopsis aktriskorea.web.id, silahkan kunjungi www.sinop.web.id

[Baca juga: Sinopsis Goblin Episode 9 Bagian Kedua Drama Korea]

Dalam keadaan putus asa, Eun Tak bertanya apa benar bahwa Shin akan lenyap selamanya dari dunia ini, dan Malaikat Maut mengkonfirmasi bahwa itu adalah takdir pengantin siluman.

Malaikat Maut berkata: “Jika kamu cabut pedang itu, dia akan kembali menjadi abu dan terpencar dalam angin. Dia akan sirna selamanya dari dunia ini menuju dunia lain.” Malaikat Maut mencoba menenangkan Eun Tak bahwa itu bukan salahnya, dan mengklarifikasi bahwa dia bukan kaki tangan Shin sehingga tidak memberitahunya yang sesungguhnya. Malaikat Maut mengklaim bahwa Shin yang memutuskan untuk tidak memberitahunya, dan dia hanya memberikan jawaban kepadanya yang tulus yang ia cari.

Dan Malaikat Maut menambahkan bahwa saat ini dia pun berada di pihaknya, Eun Tak berterima kasih meskipun dia menangis. Eun Tak menangis dengan terisak-isak saat mengemasi barang-barangnya, menangis saat mengatakan ini juga bukan rumahnya. “Aku rasa aku tidak punya rumah di kehidupan ini,” ujar Eun Tak sambil menangis, dan kemudian membawa Tuan Buckhweat dan barang-barang lainnya untuk pergi.

Setelah memberitahu Shin tentang nasib kematian yang akan dihadapi oleh Eun Tak jika Shin tidak menarik pedangnya, si Nenek ajaib meninggalkan toko buku, dan bertemu dengan Duk Hwa diluar. Dia bertanya apa Duk Hwa ingin pergi minum karna dia sedang kesal sekarang, dan Duk Hwa setuju – tapi jika dia yang mentraktir karna dia masih belum punya kartu kredit.

Saat Shin sedang merenung bertanya pada langit suatu hari setelah seratus tahun dia berharap saat cuaca bagus dia bisa memberitahu Eun Tak bahwa dia adalah cinta pertamanya,  Eun Tak mengingat kata-kata yang sebelumnya diucapkan oleh Shin padanya karna dia berpikir akan menghilang, dan sekarang menyadari kata-kata itu adalah: salam perpisahannya.

Hujan mulai turun, dan Eun Tak melihat ke langit dan menangis. Malaikat Maut bernarasi bahwa hari itu, Eun Tak berjalan di atas air mata seseorang untuk waktu yang sangat lama.

Shin kaget mendapati kamar Eun Tak kosong, khawatir bahwa Eun Tak telah melarikan diri. Malaikat Maut mencoba untuk memberitahu apa yang telah terjadi, tapi Shin telah lebih dulu keluar sebelum dia sempat mengatakannya, menggunakan pintu depan — sebuah pintu potal  mendatangi tempat-tempat yang dia kira akan didatangi oleh Eun Tak.

Tidak bisa menemukannya, Shin bertanya kepada para hantu yang biasa menghantui Eun Tak, tapi tak satupun dari mereka yang melihatnya. Shin akhirnya bertanya pada Malaikat Maut dimana tempat kerja paruh waktu Eun Tak, dan Malaikat Maut menyerahkan kupon toko ayam itu, seolah-olah dia telah menunggu untuk pertanyaan ini.

Dan Malaikat Maut akhirnya mengakui bahwa dia telah memberitahu Eun Tak yang sesungguhnya tentang pedang itu. Ketika Shin meminta penjelasan mengapa, Malaikat Maut berkata itu karna dia berada di pihak Eun Tak, dan hanya mengatakan, “Aku tidak mau kau mati.” Malaikat Maut secepatnya menjelaskan tidak ada alasan mendalam untuk itu – hanya saja dia sedikit bosan jika Shin lenyap.

Malaikat Maut berkata, “Kau boleh marah padaku.” Dengan nada yang meluap-luap, Shin berkata mana bisa dia marah sekarang, padahal sebelumnya Malaikat Maut berharap dia mati, tapi sekarang Malaikat Maut tidak mau dia mati. Meskipun pahit, Malaikat Maut akhirnya menyadari bahwa sekarang dia mulai menyukai Shin.

Shin pergi ke toko ayam dan hanya mendapati sebuah papan pengumuman tergantung bahwa mereka mencari pekerja paruh waktu, tapi saat dia pergi, Shin berpapasan dengan Sunny. Shin melihat masa depannya, dimana dia memberitahu Malaikat Maut untuk tidak pernah menghubunginya lagi, dan di waktu sekarang, mereka berdua berhenti sesaat setelah berjalan beberapa langkah.

Berdiri di depan pintu tokonya, Sunny  berbalik, melihat tepat pada Shin dan berkata, “Oraboni?.” Menyadari kata itu adalah ucapan yang sering diucapkan oleh adiknya di zaman Goryeo, Shin menatapnya dengan tajam. Tapi ternyata kata-kata itu hanya dialamatkan Sunny padanya karna mengira dia sedang mencari pekerjaan paruh waktu. Ketika Shin berkata bahwa dia sedang mencari pekerja paruh waktu yang bekerja disini, Sunny bertanya-tanya dengan penuh curiga mengapa seseorang yang mengenakan pakaian mahal mencari pegawainya yang hanya memiliki upah 6 dolar 30 sen sejam — apa dia yang membuatnya menangis.

Shin bertanya, “Dia menangis?,” yang hanya mengkonfirmasi kecurigaan Sunny. Sunny berubah  ketus pada Shin, menuntut untuk mengetahui apa dia meninggalkannya karna dia telah menikah. “Aku belum menikah, tapi aku punya pengantin. Jadi, kamu bisa menganggapku sudah menikah.”

Di rumah, Malaikat Maut bertanya apa Shin telah menemukan Eun Tak, dimana Shin menjawab dengan aneh bahwa Malaikat Maut seharusnya menyerahkan dokumen Eun Tak terlebih dahulu, agar dia setidaknya tahu kapan Eun Tak akan meninggal. Malaikat Maut berkata bahwa Shin mendoakan dia meninggal, tapi Shin berkata mereka harus tahu bagaimana dan lokasi dia akan meninggal, sehingga mereka berdua bisa menyelamatkannya.

Malaikat Maut menolak untuk mempercayai bahwa Eun Tak bisa saja segera meninggal, karna  yang ia percayai bahwa dia tidak berniat membuatnya meninggal. Shin hanya menghela nafasnya bahwa pasti ada tujuan yang lebih besar, dan bertanya-tanya bagaimana mereka adalah siluman dan malaikat maut, tapi gagal menyelamatkan seorang gadis.

Malaikat Maut setuju akan menyerahkan dokumennya, tapi dia khawatir jika terjadi hal buruk. Shin berkata  lakukan saja, dan jika hidup Eun Tak dalam bahaya dia seharusnya bisa merasakannya, jika Eun Tak sungguh-sungguh mencarinya di ambang kematian.

Malaikat  Maut akhirnya menyerahkan dokumen Eun Tak pada juniornya, dan menyuruhnya secepatnya memprosesnya. Ketika juniornya bertanya tentang Eun Tak sebagai pengantin goblin, Malaikat Maut memerintahkan juniornya untuk diam dan menyantap roti lapisnya.

Shin mendapati teman sekelas Eun Tak sedang mencarinya di rumah lamanya, karna hasil ujian masuk perguruan tinggi telah keluar dan Eun Tak tidak datang ke sekolah untuk mengambilnya. Shin mengambil hasil ujian Eun Tak dari tangannya dan kembali sambil menunjukkan hasil ujian itu di depan wajahnya dan menyuruhnya untuk menjelaskan apa maksudnya. Gadis itu berkata bahwa nilai-nilainya bagus dan cukup untuk membantunya  bisa masuk universitas di Seoul.

Saat merenungkan hasil ujian Eun Tak di rumah, Shin tampaknya telah memutuskan sesuatu, saat dia memberitahu Malaikat Maut untuk memberikan hadiah kaos kaki yang ia beli dari penjual jalanan.

Cuaca berubah menjadi aneh saat Shin merenungkan apa yang diucapkan oleh si nenek ajaib padanya. Saat  dia menatap bulan yang berwarna merah itu dari atas gedung pencakar langit, Shin berpikir jika dia akan memutuskan apa akan menjadi debu, maka dewa harus menyiapkan alasan untuk memaksa tangannya.

Bahkan hal yang aneh juga terjadi di dunia, saat  junior Malaikat Maut pergi untuk mengumpulkan sebuah jiwa, dia malah mendapati seorang pria tua kembali bangkit dari kematiannya setelah kartu kematiannya terbakar. Malaikat Maut memutuskan bahwa sekarang adalah waktu yang tepat untuk memberikan  juniornya kaos kaki, menduga kaos kaki itu adalah permintaan maaf dari siluman karna telah menyebakan kekacauan.

Malaikat Maut menegur Shin saat dia pulang ke rumah, memberitahu bahwa dia memahami perasaannya, tapi itu bukan alasan bagi dia untuk bermain-main dengan hidup manusia. Shin hanya menjawab bahwa dia ingin seseorang melihatnya – dia berharap orang itu adalah dewa dan bahkan lebih baik jika orang itu adalah Eun Tak. Dan Malaikat Maut menyesali hari saat dia memberitahu Eun Tak yang sesungguhnya.

Kakek berusaha menjelaskan ada banyak sekali makhluk aneh di dunia ini pada sekertarisnya yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata, yang sepertinya mengaitkan pada Shin yang tidak pernah menua. Kakek berkata bahwa Shin yang telah memilihnya sebagai sekertaris, dan Shin lah yang membuat seorang anak yang tidak memiliki impian dan uang  dan memasukkannya ke sebuah universitas untuk mewujudkan impianya, dan berharap sekertaris mengingat itu.

Duk Hwa tahu bahwa Paman Shin adalah penyebab dibalik cuaca aneh ini, dan menawarkan diri untuk membantunya menemukan Eun Tak. Duk Hwa menebak bahwa Eun Tak tidak dapat pergi jauh karna tak punya uang dan akan menggunakan caranya sendiri untuk menemukannya. Kita kemudian melihat sebuah kupu-kupu dewa yang terbang disekitar area tempat bermain ski, dan mendarat di sebuah pondok kecil.

Pondokan itu ternyata adalah tempat rental peralatan ski dimana Eun Tak bekerja. Dia membaca tentang cuaca aneh yang terjadi di Seoul, tanpa ekspresi apapun dan kita mendengar suara Duk Hwa berkata bahwa dia telah menemukannya.

Eun Tak kembali memikirkan bagaimana Shin menolak untuk memberitahu yang sesungguhnya, dan bagaimana Shin berkata bahwa itu hanya untuk membuatnya ‘tampan.’ Di waktu sekarang, Eun Tak menyebutnya orang gila brengsek, dan mengingat dia tersenyum pada Shin dan akan mencabut pedangnya di hari pertama turun salju.  Sekarang dia dikelilingi oleh salju, dan Eun Tak berkomentar ada terlalu banyak salju.

Eun Tak berbalik dan mendapati Shin berdiri disana sedang menatapnya, dan hanya berkata, “Mari pulang.” Eun Tak menjawab bahwa dia tidak punya rumah, dan mengklaim bahwa Shin hanya menahannya karna ingin mati.

“Sekarang aku tahu semuanya. Dia bilang aku adalah alat yang akan mengakhiri keabadian siluman,” tambah Eun Tak, dan Shin menatapnya dengan tatapan simpati saat mengakui bahwa dia melewatkan waktu untuk memberitahunya. Tapi Shin berkata bahwa dia senang karna telah melewatkannya, jika mungkin, dia akan melewatkan setiap kesempatan mengatakannya sampai dia mati.

“Tapi aku tidak boleh begitu,” tambah Shin. “Pedangku berlumuran darah ribuan orang dan menanggung beban setiap kehidupan. Aku tidak punya hak untuk memutuskan. Jadi cabutlah pedangnya. Kumohon.”

Eun Tak sejenak berpikir sebelum menjawab bahwa dia tidak mau bahkan jika dia mati, dan menambahkan bahwa mereka lebih baik pura-pura tidak saling kenal. “Jauhi aku dan hiduplah untuk waktu yang  lama, Pak Kim. Apa kau mengerti? Jangan pernah muncul lagi. Jika aku melihatmu lagi, aku akan sungguh membunuhmu,” ucap Eun Tak.

Shin terus mengawasi Eun Tak di tempat kerjanya, dan mengikutinya kemanapun dia pergi di hari yang sangat sibuk itu. Suatu hari, Eun Tak berjalan di depan Shin tanpa berbalik untuk melihatnya, dan ketika dia akhirnya berbalik, dia mendapati tak ada seorang pun disana.

Tapi ketika dia kembali berbalik ke langkah awalnya, dia mendapati Shin berdiri di depannya. Dia menyerahkan hasil tes ujiannya dan dengan nada yang datar berkata kerjanya bagus, dan Eun Tak menyebut itu hanya sebuah alasan. Shin berkata bahwa dia tahu itu hanya sebuah alasan, tapi dia bahagia karna bisa menemuinya.

Eun Tak bertanya sambil menangis, “Apa kamu ingin aku hidup denganmu atau mati bersamamu?.” Eun Tak mengingatkan Shin bahwa dia akan membunuhnya jika dia muncul lagi, dan sekarang memberitahunya untuk datang lebih dekat padanya agar dia bisa mencabut pedangnya.

Shin menurut, yang hanya semakin membuat Eun Tak lebih marah. Shin bahkan memegang tangannya dan menaruhnya di dadanya, tapi malah sebaliknya Eun Tak memohon padanya agar dia tidak melakukannya. Semakin takut, Eun Tak memukul dadanya untuk melepaskan tangannya,  dan Shin perlahan melepaskan tangannya saat Eun Tak mulai menangis.

Eun Tak menyalahkan Shin karna memiliki agenda tersembunyi saat Shin memberitahunya bahwa dia mencintainya, yang sekarang mendorong Eun Tak untuk bertanya apa dia mencintainya. “Tidak? Apa kamu bahkan tidak mencintaiku?,” tanya Eun Tak.

Tapi sebaliknya, Shin menjawab, “Aku takut. Aku sangat takut. Itulah kenapa aku ingin kamu terus mengatakan kalau kamu membutuhkanku. Aku ingin kamu memintaku untuk bahkan melakukan itu.” Shin juga menambahkan bahwa dia ingin suatu alasan yang juga  akan menjadi izinnya, dan dengan alasan itu dia berharap akan bisa terus hidup bersamanya.

Eun Tak masih menangis saat kedunya saling menatap, tanpa berkata sepatah katapun. Kemudian selanjutnya kita melihat Eun Tak menatap keluar dari aparteman kecilnya, dan dia melihat Shin menunggu di seberang jalan.

Di tempat kerjanya, Eun Tak sejenak bernafas karna udara dingin, tanpa menyadari salju masuk melalui atap. Salju yang terjatuh menyebabkan beberapa peralatan ski terjatuh dan dia berakhir terkena rak dan terjatuh tak sadarkan diri dalam sebuah gudang yang kosong.

Shin pulang ke rumah, dan ketika Malaikat Maut datang ke kamarnya, dia berkata bahwa Eun Tak tidak ingin pulang ke rumah. Tapi Malaikat Maut memiliki masalah yang lebih besar: Dia tidak pernah mendapatkan kartu nama secepat ini, dan dia baru saja menerima kartu kematian Eun Tak, yang tidak bisa dilihat oleh mata Shin tapi bisa dilihat oleh Malaikat Maut.

Malaikat Maut berkata dengan khawatir, “Seolah-olah ada orang yang ingin dia mati. Orang itu bukan aku dan yang jelas bukan kamu.” Merasa terpukul, Shin berkata dia orangnya, karna dia telah diberitahu — jika dia hidup, Eun Tak akan mati. “Itulah takdir kami. Itu hukumanku. Ini rencana lebih besar dari Dewa.”

Malaikat Maut memberitahunya untuk tidak menjadi lemah, dan berkata bahkan jika itu yang diinginkan oleh Dewa, itu bukan keinginan mereka berdua. Malaikat Maut memerintahkan agar Shin secepatnya menemukan Eun Tak dalam  sejam. Shin kembali ke tempat ski untuk mencari Eun Tak saat ucapan si nenek ajaib terus terngiang di telinganya tentang takdir maut yang akan dihadapi oleh Eun Tak.

Eun Tak terbaring  di lantai, dan kenangannya bersama Shin muncul dalam pikirannya. Air mata keluar dari mata Eun Tak yang tertutup saat dia mengingat pertemuan terbaru mereka di tengah salju. Dan dia dengan lemah berkata, “Aku membutuhkanmu. Lakukan itu juga. Aku mencintaimu.”

Sumber Dok Gambar: tvN Korea Selatan

Untuk melihat semua tautan sinopsis aktriskorea.web.id, silahkan kunjungi www.sinop.web.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*