Home / Sinopsis Drama Korea / Sinopsis Goblin Episode Empat Bagian Pertama Drama Korea

Sinopsis Goblin Episode Empat Bagian Pertama Drama Korea

Sumber Dok Gambar: tvN Korea Selatan

Untuk melihat semua tautan sinopsis aktriskorea.web.id, silahkan kunjungi www.sinop.web.id

[Baca juga: Sinopsis Goblin Episode Empat Bagian Kedua Drama Korea]

Guntur dan kilat bergemuruh, saat Eun Tak menunjuk pada pedang yang tertanam di jantung goblin. Eun Tak mengakui bahwa dia melihatnya sejak pertama kali mereka bertemu dan bertanya, “Itu menjadikan aku apa? Apa aku masih bukan pengantin goblin?” Shin menatapnya untuk waktu yang lama dan berkata, “Sepertinya kamu memang pengantin goblin.”

Eun Tak tersenyum meskipun sebenarnya ia tak tahu apa artinya menjadi pengantin goblin, dan bertanya dengan riang apa sekarang dia menjadi berharga, dan itu artinya Shin tidak akan meninggalkannya. Shin menjawab untuk sekarang, “Karena mungkin aku harus pergi lebih jauh lagi.”

Shin bertanya mengapa dia tidak bilang jika bisa melihatnya selama ini, dan Eun Tak berkata mulanya dia hanya bersikap sopan dan kemudian takut dengan konsekuensinya. “Apa kamu akan melamarku? Bagaimana dengan kuliahku? Apa aku akan menjadi goblin?,” tanya Eun Tak.

Eun Tak ingin mengetahui apa hal pertama yang harus ia lakukan sebagai pengantin wanitanya, dan Shin memberitahunya untuk menunggu disini dan kemudian lari menuju kamar Malaikat Pencabut Nyawa. “Dia melihat pedangnya! Dia menunjuk pedangnya seperti ini!,” teriak Shin.

Malaikat Pencabut Nyawa menyuruhnya keluar tapi Shin dengan nada yang meluap-luap berkata, “Dia bisa melihat pedangnya! Dia adalah pengantinku! Saya akan mati!.” Malaikat Pencabut Nyawa tidak kaget dengan yang namanya kematian dan berkata, “Lalu kenapa? Bukankah itu bagus? Bukankah itu sebabnya kamu mencari pengantinmu? Pengantin yang akan mengubahmu menjadi abu?”

Shin dengan gagap berkata, “Memang begitu selama ini.” Malaikat Pencabut Nyawa bertanya apa dia takut atau bahagia telah menemukan pengantinnya, dan  Shin mulai bolak balik di kamarnya dan mengatakan bahwa sebagian dirinya lega untuk menemui akhir keabadian ini, “tapi keabadian tidak seburuk itu.” Dia mengakui bahwa sebagian dirinya masih ingin hidup, dan Malaikat Pencabut Nyawa menyarankan bahwa dia akan membawa Eun Tak.

Malaikat Pencabut Nyawa komplain tentang berkas-berkasnya yang akan membuatnya bekerja lembur di malam hari, tapi  Shin tahu bahwa maksudnya adalah Eun Tak akan mati, dan Shin secepatnya berkata, “Kau benar. Kita akhirnya membangun pertemanan.” Eun Tak bosan menunggu dan membunyikan bel pintu dan Shin berkata dengan nada mendramatisir, “Kematian memanggilku.” Malaikat Pencabut Nyawa: “Makhluk baik yang membunyikannya.”

Malaikat Pencabut Nyawa melihat bahwa Shin tidak pernah berkata jahat untuk membuat Eun Tak membencinya, dan Shin menghela nafasnya, mengingat semua kata-kata dingin yang pernah diucapkannya padanya, “Aku memilih mati. Itu akan lebih mudah.”

Malaikat Pencabut Nyawa dan Goblin keluar bersama-sama, dan Eun Tak mulai menceritakan kehidupannya yang menyedihkan, dan sekarang bibinya meninggalkannya dan tak punya rumah, dan Malaikat Pencabut Nyawa mendukungnya, terutama ketika dia mendengar Shin akan tetap tinggal.

Eun Tak meminta untuk tinggal disini, bahkan jika Shin harus mengadopsinya, dan bersumpah bahwa dia akan tumbuh dengan baik, seperti kaktus. Malaikat Pencabut Nyawa langsung setuju, dan Shin memelototinya.

Eun Tak mulai menceritakan kehidupannya yang menyedihkan, dan Malaikat Pencabut Nyawa berbisik di telinga Shin, “Aku tahu cerita ini. Aku pernah melihat dramanya.” Eun Tak menyimpulkan  bahwa saat dia diabaikan oleh bibinya, dia tahu tidak ada dewa, sambil memandangi Shin. Dia memohon padanya untuk menyelamatkannya.

Matanya melotot dan bertanya bagaimana seorang gadis ingin diselamatkan padahal akan tinggal bersama dengan seorang Malaikat Pencabut Nyawa. Berpikir dengan cepat, Eun Tak berkata konon cahaya paling gelap di bawah lampu, “kamu bisa menjadi lampuku dan mencegahnya dari membawaku.”  Malaikat Pencabut Nyawa mulai berkata bahwa temannya Shin akan membiarkannya membawanya, tapi Shin menyela ucapannya dan menyuruh Eun Tak masuk ke dalam. Eun Tak tidak perlu diberitahu dua kali, dan menganga melihat sekelingnya.

Goblin dan Malaikat Pencabut Nyawa berdebat tentang rahasia satu sama lain yang terungkap,  dan Shin marah pada Malaikat Pencabut Nyawa dan berkata bahwa persahabatan mereka bertahan kurang dari lima menit sebelum mengancam gadis miskin itu. Malaikat Pencabut Nyawa membantah bahwa Shin yang membuatnya menunggu di luar dalam cuaca dingin ini.

Shin muncul dengan sebuah ide untuk menyingkirkan Eun Tak, dan memberinya sebuah amplop berisi uang. Amplop itu berisi 5.000 dolar yang ia inginkan, tapi Eun Tak menyorong amplop itu dan berkata sudah terlambat – dia telah melihat rumahnya. Dia menyebutnya ini rumah yang sangat sempurna untuk membesarkan anak, dan bertanya istri seperti apa yang ia inginkan, dan Eun Tak melakukan yang terbaik tampil manja dan menarik di depannya.

Shin mengingatkannya bahwa dia tidak menyukainya, dan Eun Tak menarik kembali kata-katanya, dan kemudian memikirkan di kepalanya bahwa dia tampan, keren dan matanya seperti bintang. Eun Tak menduga Shin bisa mendengarnya, dan Shin mengakui bahwa dia telah berbohong tentang hal itu. Dia tak tahu pasti bagaimana dia bisa mendengarnya ketika dia diculik, tapi dia berpikir itu mungkin ada kaitannya dengan tanda di lehernya.

Eun Tak seketika itu tak bersikap manis di depannya dan menyebutnya seorang penipu, marah karna selama ini dia sangat berhati-hati untuk tidak memikirkannya, dan membuatnya memikirkan yang lain untuk memastikan tidak memikirkannya sepanjang waktu.

Shin: “Kamu baru saja mengaku kamu memikirkanku saat itu. Aku bingung.” Eun Tak tidak mengerti apa maksud ucapannya dan bertanya apa dia harus membongkar tasnya atau tidak, dan Shin memberitahunya ada solusi lain.

Kita langsung beralih: Kakek menunjukkan Eun Tak kamar barunya di hotel dimana Duk Hwa tinggal, hanya satu lantai di bawah. Duk Hwa terkejut karna kembali bertemu dengan Eun Tak setelah di toko buku, dan kakek tidak memberitahunya mengapa dia berbicara dengan Eun Tak dan hanya menawarkan layanan Duk Hwa seolah dia seorang pelayan.

Duk Hwa berdebat bahwa kakek memiliki banyak sekertaris untuk hal itu, tapi Kakek tak punya cara lain selain menawarkan kartu kreditnya, dan Duk Hwa langsung menunduk sebagai bentuk layanannya.

Kakek berkata bahwa Duk Hwa tidak bisa diandalkan, dan memberikan Eun Tak kartu namanya agar dia bisa menghubunginya kapanpun. Eun Tak menganga menyadari bahwa Kakek adalah seorang pimpinan, dan Duk Hwa dengan bangganya memperkenalkan dirinya bahwa dia adalah penerusnya. Kakek membawanya keluar dengan menarik telinganya dan menyuruh Eun Tak beristirahat.

Eun Tak kagum dengan kamar hotelnya yang mewah dan berlari di sekitar kamarnya sambil berteriak, “Daebak!,” dan mencoba semua yang ada di dalamnya. Kebahagiaannya tidak berlangsung lama, dan dia menyadari betapa kesepian dan dan menakutkannya di kamar yang luas ini.

Di lantai bawah, Duk Hwa bertanya siapa gadis itu, dan Kakek hanya berkata untuk memastikan semua kebutuhannya terpenuhi karna sesuatu yang sangat penting bergantung padanya. Ketika Duk Hwa bertanya apa, Kakek menjawab itu adalah kartu kredit Duk Hwa.

Duk Hwa singgah ke rumah Paman Shin untuk komplain tentang Kakek, tapi malah mendapati Shin duduk di depan berbagai jenis pil obat, mulai dari pil untuk depresi, gangguan bipolar hingga insomnia. Dan Shin berkata bahwa dia sangat senang, dan suasana hatinya terus berubah dari senang lalu sedih, kesepian lalu bahagia.

Shin meminum pilnya dan pergi, dan kemudian Malaikat Pencabut Nyawa datang dan meneguk pil yang sama, dan berkata dia mengalami gejala yang sama dan penasaran apa artinya ketika kau menangis saat bertemu wanita yang belum pernah kau temui.

Di tempat kerja keesokan harinya, Eun Tak melihat serbet sambil menonton program TV tentang kesehatan jiwa, dan pakar bintang tamunya tak lain dan tak bukan adalah si Nenek Ajaib, yang membicarakan tentang tanda-tanda gangguan kesehatan jiwa.

Saat dia menjelaskan gejala gangguan bipolar – tiba-tiba belanja secara berlebihan atau kepercayaan diri yang ekstrim, kita melihat Shin membeli semua yang ia lihat di siaran home shopping, dan tiba-tiba berdiri di depan Duk Hwa dan Malaikat Pencabut Nyawa  sambil menantang, “Siapa yang mau pergi sauna denganku?”

Si Nenek Ajaib berkata bahwa gejala utama dari depresi adalah hipokondria, dan kita melihat Shin mengeluh pada Malaikat Pencabut Nyawa bahwa dia mungkin terkena tukak lambung. Malaikat Pencabut Nyawa tidak merasa simpati dan berkata dia tidak akan mati tanpa perut, dan berkata bahwa dia akan mati ketika pengantinnya mencabut pedangnya.

Seketika itu suasana hati Shin menjadi buruk dan dia berteriak, “Oh, apa saya harus mati saja? Kenapa tidak pergi beritahu itu padanya saja? Suruh dia untuk membunuhku karena aku tidak pantas untuk hidup.” Malaikat Pencabut Nyawa bertanya apa dia akan menangis, dan Shin berbisik dengan hati yang hancur, “Aku berusaha keras untuk tidak menangis.”

Eun Tak berangkat ke sekolah dan terhenti saat melihat cuaca yang mendung dan hujan yang tiba-tiba turun, bertanya-tanya apa Shin lagi murung. Shin duduk di tamannya dan memandangi daun maple yang diberikan oleh Eun Tak, dan Eun Tak menatap langit dan menggerutu, karna menduga Shin tidak bahagia dia menjadi pengantin wanitanya.

Dia tambah kesal dengan hujan yang turun karna akan berangkat ke sekolah, ketika Duk Hwa tiba-tiba muncul dengan mobil sport mewahnya dan menawarkan untuk mengantarnya. Eun Tak memintanya untuk tak perlu berbicara sopan padanya, tapi dia menolak karna tahu dia sedang diawasi. Dan tak jauh, sekertaris kakeknya memang sedang mengawasinya.

Duk Hwa menjadi sorotan dengan memakirkan mobilnya di depan sekolah Eun Tak dan membukakannya pintu, sementara Eun Tak berusaha menyembunyikan wajahnya. Dia mengancam akan melakukannya lagi besok jika dia tidak keluar dari mobil, sehingga Eun Tak setuju.

Murid  jahil itu meledeknya dan membicarakannya, dan itu pertama kalinya Duk Hwa mendengar namanya. “Kau Ji Eun Tak?,” tanya Duk Hwa, setelah mengingat namanya. Dia akhirnya menyadari bahwa buku goblin yang ia beli bukanlah sebuah kebetulan, dan bahwa Eun Tak mengenal pamannya.

Duk Hwa sangat penasaran untuk mengetahui hukuman emas yang diberikan Shin pada Bibinya, tapi Eun Tak tahu dengan apa yang sedang ia bicarakan dan menduga Bibinya harus membayar denda.

Bibi dan kedua anaknya membawa emas batangan itu kepada si pemilik toko perhiasan untuk ditukar dengan uang. Mereka sangat mencurigakan ketika menjawab dimana mereka mendapatkan emasnya sehingga si pemilik toko perhiasan menelpon polisi, dan melaporkan bahwa batangan emas itu curian.

Bibi bersumpah pada detektif bahwa mereka tidak mencurinya dari bank, dan bahwa batangan emas itu dari keponakannya. Tapi ketika ditanya nama dan tempat tinggal mereka, mereka tidak bisa mengingatnya, sepertinya ingatan mereka telah dihapus.

Duk Hwa  datang ke rumah dan bertanya mengapa Eun Tak menjadi pengantin goblin. Malaikat Pencabut Nyawa hanya berkata bahwa dewa sedang nakal, dan Duk Hwa menarik kesimpulan bahwa itu berarti depresi Shin disebabkan oleh Eun Tak yang bukan tipenya.

Malaikat Pencabut Nyawa sama depresinya, dan Duk Hwa memberitahunya bahwa piring yang baru saja ia bekukan adalah piring favorit pamannya, tapi saat menyebutkan Pemerintahan Louis, Malaikat Pencabut Nyawa malah memecahkan piringnya.

Duk Hwa kaget dan  berkata dia tidak akan mengadukannya, dan menyarankan agar Malaikat Pencabut Nyawa berusaha berbicara dengan wanita yang membuatnya menangis pertama kalinya. Duk Hwa berpikir itu mungkin bukan kali pertama dia melihatnya, dan meskipun Malaikat Pencabut Nyawa tidak mengingatnya, wanita itu mungkin mengingat sesuatu.

Tapi Malaikat Pencabut Nyawa berkata itu adalah pertemuan pertama mereka, menjelaskan saat wanita itu mengibaskan rambutnya dan bibirnya. Duk Hwa tertarik dengan bibir wanita itu dan penasaran dengan ceritanya, tapi hanya itu yang diberitahu oleh Malaikat Pencabut Nyawa. Kemudian Malaikat Pencabut Nyawa kembali ke jembatan dimana dia bertemu dengan Sunny, berharap agar dia bisa bertemu dengannya lagi. Tapi sebenarnya Malaikat Pencabut Nyawa sudah punya nomor telponnya???

Di suatu tempat seorang pria tua meninggal di ranjang rumah sakit, ditemani oleh seorang wanita yang memegang tangannya hingga akhir.

Shin mengenakan jas hitam dan mengabaikan saat Malaikat Pencabut Nyawa menggodainya apa dia akan pergi ke pernikahan atau pemakaman. “Apa ini alsannya orang bilang kalau pernikahan itu kematian?’ ucap Malaikat Pencabut Nyawa dengan penasaran. Shin bertanya bagaimana kemampuan Bahasa Inggrisnya, dan berkata bahwa dia membutuhkan bantuannya.

Eun Tak pulang ke kamar hotelnya yang luas dan melihat ke sekelingnya, berharap untuk bertemu dengan Shin. Dia berusaha fokus mengerjakan pekerjaan rumahnya tapi tak bisa berhenti bertanya-tanya mengapa Shin sama sekali tidak menghubunginya. Pada akhirnya Eun Tak berada di depan pintunya, mendesak Shin untuk berhenti menghindarinya dan membiarkanya masuk.

Dia mengancam akan menyalakan lilin yang sangat besar yang telah ia bawa. Namun dia tidak menyalakannya, dan hanya bertanya-tanya dengan nada yang sedih apa dia harus terus menunggu dan sampai kapan.

Pria tua yang baru saja meninggal mendatangi ruangan teh Malaikat Pencabut Nyawa, tapi Shin yang menungguinya diruangan itu. Saat dia berjalan masuk melalui pintu, pria tua itu berubah menjadi anak muda – pria yang sama yang pernah dibantu oleh Shin di Paris. Shin berkata sudah lama, dan anak itu kagum karna Shin sama sekali tidak menua.

Shin bertanya mengapa dia tidak menulis jawaban yang ia berikan pada ujian matematikanya yang ia ikuti di hari mereka bertemu, dan anak muda itu berkata berapa kalipun dia mencoba untuk mendapatkan jawaban dari soal matematika itu, dia hanya mendapatkan jawaban yang berbeda. Sehingga dia menulis jawaban yang salah, dan berkata dia tidak bisa memecahkan soalnya. Shin menjawab, “Tidak. Kau menjawab soalnya dengan baik. Pilihanmu adalah jawabanmu satu-satunya dalam kehidupan.”

Anak muda itu tersenyum karna menyadari apa maksud ucapannya, dan Shin memujinya karna telah menjadi seoang pengacara yang menolong banyak orang yang tidak beruntung. Anak muda itu berkata bahwa dia ingin membayar untuk roti lapisnya, dan kembali berkata dia tidak punya pilihan karna tahu Shin ada disana

Shin memberitahunya bahwa dia memberikan roti lapis itu untuk ribuan orang, tapi sangat langka melihat seseorang yang berkembang seperti dirinya. Shin berkata kebanyakan orang hanya diam saat dalam momen keajaiban itu dan meminta momen keajaiban yang lain. “Mereka bilang bahwa mereka tahu aku disana. Seolah-oklh aku berutang keajaiban pada mereka. Tapi kamu mengubah hidupku. Itulah kenapa aku selalu mendukungmu,” ucap Shin.

Anak muda itu tersenyum, dan berkata dia tahu itu, dan kemudian bertanya kemana dia akan pergi. Shin menyuruhnya untuk kembali ke pintu yang ia masuki: “Akhirat ada di sisi lain.” Anak muda itu memegang gagang pintunya dan berbalik melihat Shin untuk terakhir kalinya, dan anak muda itu kembali menjadi tua. Dia kemudian berjalan menuju sisi lain, dimana sebuah tangga terbentang menuju surga.

Shin berterima kasih atas bantuannya hari ini, dan Malaikat Pencabut Nyawa bertanya mengapa dia harus repot-repot melakukan ini, ketika tidak ada yang memerintahnya. Shin berkata, “Tidak wajib, tapi aku tidak akan sekeren ini jika tidak kulakukan.”

Shin berdiri menunggu yang sepertinya dia sedang berada di lobby hotel tempat Eun Tak menginap, ketika tangannya mulai berasap. Eun Tak meletakkan lilin yang baru saja ia tiup di kamarnya dan bertanya dari mana saja dia dan mengapa Shin menghindarinya. “Apa saya adalah istri yang telah kamu tinggalkan?,” tanya Eun Tak.

Sumber Dok Gambar: tvN Korea Selatan

Untuk melihat semua tautan sinopsis aktriskorea.web.id, silahkan kunjungi www.sinop.web.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*