Home / Sinopsis Drama Korea / Sinopsis Hwarang Episode 1 Bagian Pertama Drama Korea

Sinopsis Hwarang Episode 1 Bagian Pertama Drama Korea

Sumber Dok Gambar: KBS TV Korea Selatan

Untuk melihat semua tautan sinopsis aktriskorea.web.id, silahkan kunjungi www.sinop.web.id

[Baca juga: Sinopsis Hwarang Episode 1 Bagian Kedua Drama Korea]

Episode ini diawali, dengan sebuah narasi bahwa sekitar 1500 tahun yang lalu, dalam tahun ke-12 Raja Jinheung, Silla adalah yang terkecil dan paling lemah dari Tiga Kerajaan. Raja Jinheung kecil merasa hidupnya berada dalam bahaya karna ketidakstabilitas akan otoritas pemerintahan yang berkuasa. Akhirnya dia hidup dalam persembunyian. Ratu Jiso, sebagai ratu yang berkuasa, kemudian mengumpulkan pria-pria tampan untuk membuat mereka menjadi masa depan Silla yang akan memperkuat tahta.

Dalam perjalanan pulang, Moo Myung (Park Seo Joon) dihadang oleh tiga orang pria. Dia meminta mereka pergi karna hari ini dia sibuk untuk membayar pajak, namun salah satu dari mereka berkata sebuah kota tidak bisa memiliki dua kepala.

Moo Myung berkata kau saja yang jadi kepalanya, dan bahwa dia hanya gugup karna seorang pria tua akan membunuhnya jika dia terlibat masalah lagi. “Apa itu tidak sempurna?,” ucap Moo Myung, dia tidak harus mengalahkan mereka dan mereka bisa menjadi kepala atau pemimpin, atau semacamnya.

Dia akan pergi tapi langkah kakinya terhenti saat salah satu dari mereka menyindir bahwa  ibu Moo Myung tidak memberinya nama ketika membuangnya. Dia menyarankan agar Moo Myung hidup seakan dia telah mati, dan berhenti membuat mereka jengkel.

Bosan diganggu, Moo Myung mengeluarkan dadu dari sebuah kantong kecil dan melemparkannya ke atas dan kemudian menangkapnya dengan tangannya untuk mengundi apa yang harus dia lakukan pada mereka. Dadu menunjukkan ‘pukul hidungnya’ tapi kepala Moo Myung tiba-tiba terasa pening dan dia jatuh pingsan.

Tiba-tiba saja Mak  Moon (Lee Kwang Soo) datang dan mencoba melawan mereka, namun dia malah dipukuli dan ditendang secara membabi buta.

Tak lama, tangan Moo Myung bergerak dan dia bangkit berdiri. “Apa yang sedang kalian lakukan?,” tanya Moo Myung.  Ketiga pria itu ketakutan setelah melihat Moo Myung sadar, sementara Mak Moon berkata dia telah dipukuli dan memintanya untuk tidak membunuh mereka. “Lari! Saya bilang lari,” teriak Moo Myung pada ketiga orang itu.

Ketiganya bergegas lari dengan terbirit-birit sementara Moo Myung mengejar mereka dan Mak Moon mengikutinya dari belakang.

Ketiga pria iseng itu  berlari menyeberang sebuah bukit, dan  melepaskan jembatan untuk menghalangi Moo Myung menyusul mereka. “Apa yang akan kau lakukan sekarang? Datang kesini,” ledek mereka. Mereka bahkan memanggil Moo Myung dengan sebutan ‘Burung Anjing,’ karna dia seperti seekor anjing dan seperti seekor burung.

Moo Myung mundur dan mengambil ancang-ancang sebelum akhirnya berlari kencang dan melompat menuju bukit mereka dengan tangan terlentang selayaknya seekor burung.

Dan kita kemudian beralih ke istana, dimana secara sekilas kita diperlihatkan Ratu Jiso, ibu Raja Jinheung (Kim Ji Soo) yang sedang dibantu oleh para dayang-dayangnya saat berpakaian.

Wi Hwa Kong (Sung Dong Il) ada di penjara dan memukul seekor serangga yang mendarat di lehernya. Dia sepertinya akan memakan serangga itu, tapi terhenti saat seorang panglima datang.

Panglima berpesan agar dia menjaga hormatnya sebelum Ratu Jiso datang untuk menemuinya secara pribadi. “Bagaimana bisa sahabat dekat raja sebelumnya ditahan dalam tempat seperti ini,” ucap Ratu Jiso.

Wi Hwa Kong tertawa kecil, dan berkata bahwa raja yang telah meninggal dan dia tidak mengakhirinya dengan baik. Dia berhubungan dengan salah satu selirnya dan itulah mengapa orang-orang menuduhnya telah membuat kesalahan.

Ratu menebak dia pasti tidak bahagia dengan Kerajaan Suci ini (yang merujuk pada Silla) dan Wi Hwa Kong berkata, “Ini adalah sebuah negara dimana seorang ibu membuang putranya sendiri. Ini adalah sebuah tempat dimana seorang ibu menghabiskan 10 tahun sebagai seorang penguasa dan masih tidak bisa menghilangkan keserakahannya.”

“Tentu saja  saya tidak bahagia dengan itu,” ucap Wi Hwa kong.

Ratu Jiso bertanya apa dia sudah memikirkannya. Wi Hwa Kong menguap di depannya dan bertanya mengapa Ratu Jiso terus mengatakan hal yang sama berulang kali dan apa sebenarnya yang sedang ia rencanakan.

Ratu Jiso menjawab dia berencana mengumpulkan sebuah kelompok pengawal istana yang akan melindungi raja dengan hidup mereka. Dia berkata ini ide yang bagus, tapi para pejabat telah mengambil semua para prajurit biasa.

Wi Hwa Kong bertanya siapa lagi yang mereka miliki untuk melindungi raja, dan apa Ratu akan mengambil  mereka dari Baekje atau mungkin Goguryeo.

Ratu Jiso berkata dia berencana merekrut anak-anak dari para pejabat, dan menginginkannya untuk melatih mereka. Ratu berkata selain pada ayah dan keluarga mereka, dia menginginkan mereka setia pada Raja dan Kerajaan Suci (yang merujuk pada Silla).

Wi Hwa Kong awalnya tak tertarik untuk membantunya, sampai  Ratu memberinya sebuah tawaran yang menarik — jika Wi Hwa Kong sukses melakukannya, ratu bersedia mundur dari tahtanya.

Mereka duduk di dekat sebuah pohon yang rindang sambil memandangi pemandangan ibukota dari kejauhan. Mak Moon meyakinkan Moo Myung bahwa dia tinggal di ibukota, dan Moo Myung berkata itulah mengapa mereka harus menaiki temboknya esok hari. Mak Moon mengungkapkan kekhawatirannya bahwa jika orang seperti mereka menaiki pagar, mereka akan ditembakkan panah dan tombak, dan leher mereka akan dipenggal.

Moo Myung: “Kalau begitu berhenti membicarakan tentang ibukota.” Mak Moon: “Itu adalah rumaku. Tempat itu dimana ayah, ibu dan adik perempuanku  tinggal bersama.” Mak Moon memegang kalung yang ada di lehernya, dan berkata dia akan menggunakannya untuk menemukan ayahnya dan mendapatkan kembali identitasnya.

Mak Moon bertanya apa dia akan benar-benar membantunya. Moo Myung tahu Mak Moon telah menghabiskan 100 hari untuk bisa masuk kesana dan bahwa dia juga akan pergi kemanapun yang ia suka bahkan jika itu ibukota.

“Kita semua manusia. Mengapa mereka melarang  orang-orang dari kelas yang lebih rendah untuk pergi kesana,” ucap Moo Myung.

Mak Moon memanggilnya ‘Burung Anjing” dan bertanya mengapa dia tak kenal takut. Moo Myung berkata hanya mereka yang memiliki banyak hal yang takut dan jika kau tak memikki apapun, kau tidak akan bisa memiliki ketakutan.

Tiba-tiba saja dia teringat dengan pajak yang harus ia bayar hari ini, sehingga dia bergegas pulang ke rumah. Disana dia lega karna tak mendapati pria tua si penagih, namun sebuah panah melesat di depannya dan untungnya hanya mengenai sebuah tiang di dekatnya.

Dia bertanya dengan ketus apa Moo Myung pernah bertanya-tanya mengapa ibunya meninggalkannya disini. Moo Myung berjalan mundur karna ketakutan dan pria tua itu berkata tidak ada seorang pun yang akan menyambutnya di dunia ini. “Itulah mengapa kau tak punya nama,” ucap si pria tua.

Dia kembali melemparkan sebuah panah untuk menggertaknya, dan memperingatkan jika dia tak punya uang untuk membayar pajak, tetangganya akan dipukuli. Moo Myung memelas bahwa dia punya alasan, tapi pria tua itu tak mengindahkan alasannya dan melemparkan panahnya.

Moo Myung melompat di udara untuk menghindar, tapi dia malah terkena sebuah panah dan jatuh pingsan. Untungnya, panah yang satu ini tumpul.

Sementara itu, di istana ratu diberikan sebuah surat dari Pa Oh  yang menginformasikan bahwa mereka akan melewati Gerbang Timur pukul 2 pagi. Ratu menggeramas suratnya karna  jengkel setelah Maek Jong berani datang tanpa seizinnya, dan Panglima berkata dia akan mengawalnya dengan diam-diam.

Pagi-pagi buta, Maek Jong (Park Hyung Sik) ditemani Pa O tiba di gerbang ibukota dan menutupi sebagian wajah mereka dengan kain dimana telah ada panglima dan seorang pekerja istana menunggui mereka.

Pekerja istana itu menebak dia adalah Putra Mahkota, dan kagum dengan pertemuan pertama mereka. Tapi tak disangka, panglima diam-diam mengeluarkan pedangnya dan menebasnya dari belakang saat Maek Jong dan Pa Oh telah pergi jauh.

Moo Myung memanjat tembok ibukota di pagi-pagi buta,  dan sesampainya diatas dia begitu terkejut setelah melihat beberapa kepala manusia digantung diatas sebuah kayu. Dia membantu Mak Moon naik ke  atas, dan menutup rapat mulutnya  saat dia berteriak ketakutan setelah melihat kepala-kepala itu.

“Bagaimana jika kita berubah seperti mereka?,” tanya Mak Moon dengan ketakutan.

Moo Myung mencoba menenangkannya  dan mengingatkan bahwa tujuan kedatangannya kesini adalah untuk bertemu dengan adiknya. Moo Myung menutup mata Mak Moon yang masih ketakutan saat melewati kepala manusia yang tergantung itu.

Kemudian diam-diam  mereka mencuri beberapa pakaian yang digantung, dan Moo Myung juga mengambil sebuah topi dari anyaman bambu.

Penampilan mereka lebih rapi dengan pakaian curian itu dan sudah terlihat seperti warga yang tinggal di ibukota. Mereka berjalan-jalan di pasar, dan Mak Moon kagum dengan keadaan sekelilingnya.

“Aku  tak tahu tempat seperti ini ada,” ucap Mak Moon.

Mak Moon bertanya apa yang harus mereka lakukan sekarang, dan Moo Myung menjawab mereka harus menemukan keluarganya dengan kalungnya. Namun perut Mak Moon tiba-tiba berbunyi keras karna lapar sehingga mereka pergi untuk mencari makan.

Banyak orang berkumpul mendengarkan sebuah kisah yang diceritakan oleh A Ro (Go Ara) tentang ‘seorang wanita yang tidak bisa mati dengan mudahnya.’ Dia menceritakan bagaimana seorang wanita mampu bertahan dengan menggambar sebuah tahi lalat di wajahnya dan bagaimana wajahnya akan berubah jika mereka melihat tahi lalatnya.

Salah seorang dari pendengarnya bertanya apa wanita itu berakhir membunuh si pria, dan A Ro lanjut bercerita bagaimana tengah  malam wanita itu membuat si pria beristirahat di kakinya dan mengatakan ini saat menatapnya. A Ro menatap  tajam seorang pria di depannya, dan berkata dengan penuh penghayatan ‘Mengapa kau dan aku bertemu?’, ‘Mengapa kau hanya melukaiku?’, ‘Apa saya mencintaimu?’ “Kau ada di dalam diriku.’ Orang-orang yang mendengar kata-kata terakhir itu pun menjadi luluh.

Maek Jong juga sedang duduk di dekat mereka dan ikut mendengarkan cerita A Ro. Dan beberapa saat kemudian Pa O datang dan mendapatinya sedang tertidur pulas. Dia terbangun dan mendapati A Ro sudah menghilang sehingga dia bertanya pada seorang pelayan dimana dia bisa menemukan wanita yang tadi menceritakan sebuah cerita.

Moo Myung dan Mak Moon datang di sebuah tempat yang dipenuhi dengan orang-orang yang asyik bermain judi. Mak Moon menunjukkan kalungnya pada seorang pria dan bertanya apa dia bisa menemukan seseorang dengan kalung yang sama. Orang itu berkata barangnya tidak lazim, dan jika dia pergi ke Dayiseo atau Okta, seseorang mungkin akan tahu sesuatu.

Seorang pengunjung mencurigai dia bukan orang sini, sehingga Mak Moon berusaha meyakinkan mereka bahwa dia dari Ibukota. Pria yang tadi menanyai Mak Moon bermain judi dengan seorang pria, tapi  diam-diam dia telah bekerja sama dengan si pengocok dadu sehingga kali dia berhasil  menang.

Pria yang kalah itu tak puas dan mendesak untuk kembali bermain dan si pria curang itu menawarkan untuk mempertaruhkan lehernya jika dia berminat. Dia memperlihatkan sebuah kotak yang berisi leher, namun Moo Myung melihat kecurangan yang telah dia lakukan.

Sambil menutupi wajahnya dengan topi, dia menawarkan diri untuk  ikut bermain.  Moo Myung menolak saat pria itu menawarkan akan memberikan semua penghasilan yang ia dapatkan hari ini, dan sebaliknya Moo Myung meminta leher pria itu jika dia menang.

Moo Myung bertaruh untuk angka yang lebih tinggi, dan menahan tangan si pengocok dadu dan menyarankan agar mereka langsung membukanya. Karna ketakutan pria curang itu menahan tangan Moo Myung  dan bertanya siapa dia.

“Saya? Burung Anjing,” ucap Moo Myung. Pria curang itu mengangkat topinya dan mengenali siapa sebenarnya Moo Myung. Dia berbisik agar kali ini Moo Myung melepaskannya dan sebagai gantinya dia akan membiarkannya pergi.

Moo Myung berkata tidak dan mendesaknya untuk membuka dadu-dadunya agar mereka bisa melihat siapa yang akan menang. Pria curang itu membanting mejanya, dan Mak Moon memanas-manasi pengunjung lain bahwa orang ini telah berbuat curang.

Segera setelah terjadi kekacauan, Mak Moon dan Moo Myung memanfaatkan kesempatan untuk meloloskan diri. Karna dikejar oleh anak buah pria curang itu, Moo Myung dan Mak Moon memilih berpisah dan mengambil arah yang berbeda dan memutuskan akan bertemu di penginapan terdekat di gerbang istana.

Moo Myung menarik perhatian mereka, namun dia berhasil meloloskan diri dari kejaran.

Sebuah kedai teh yang ramai didatangi pengunjung ternyata dipenuhi dengan pelayan wanita yang cantik-cantik. Wi Hwa Kong ternyata telah bebas, dan datang minum di kedai itu. Dia memanggil si pemilik dengan isyarat jarinya, dan bertanya apa ini adalah toko tehnya.

Joo Ki mengkonfirmasinya dan bertanya mengapa. Wi Hwa Kong berkata dia melihat toko lain di depan dengan atmosfir yang sama. Joo Ki menjelaskan itu adalah klien mereka dan menginformasikan bahwa sebuah toko besar di sebelahnya adalah  toko utama mereka dan ini adalah sebuah cabang.

Wi Hwa Kong berkata dia tidak terlihat sangat kompeten, tapi bisa menjalankan bisnisnya dengan sangat baik. Joo Ki bertanya apa ini pujian atau kutukan. Wi Hwa Kong tiba-tiba saja menarik kera bajunya dan berkata dia sedang mencari sesuatu yang spesial.

Joo Jin mengira ‘sesuatu yang spesial itu wanita’ namun Wi Hwa Kong mengoreksi bahwa dia sedang mencari pria. Dia bertanya apa Joo Ki tahu pria muda dan cantik.

Dia kemudian membawa Hwa Kong ke sebuah toko dan menjelaskan tempat ini  adalah Dayiseo yang mengikuti semua jenis tren terbaru. Dimana kita melihat di ruangan itu dipenuhi pakaian, perhiasan, begitu pula sepatu dan banyak pria dan wanita yang memilih satu persatu barang kesukaan mereka.

A Ro datang ke penadah minuman alkohol dan menuntut untuk dibayarkan upahnya selama tiga bulan. Si pemilik arak memberikan upahnya, tapi sepertinya A Ro tak puas dengan bayaran yang ia terima. Pria itu menuduh A Ro telah meminum alkoholnya, meskipun A Ro bersikeras  membantahnya.

Untuk membela diri, A Ro menyarankan agar mereka bertanya pada kantor pemantauan pasar, tapi  si Ahjusi malah  mengomelinya, “Apa karna saya memanggilmu ‘Nona’ kau berpikir kau adalah bangsawan?” Ahjussi berkata bahwa meskipun  ayah A Ro seorang  bangsawan dengan posisi tertinggi, tapi jika ibunya seorang petani, mereka sama saja.

Dia memanggil A Ro pencuri dan  karna kesal disebut pencuri,  dia mengambil arak yang paling mahal dan meneguknya sampai habis. “Saya akan mengambil bayaranku di dalam perutku sekarang,” ucap A Ro.

A Ro mabuk berat dan dia berjalan dengan sempoyongan di pasar. Tanpa sengaja dia melihat  dua anak kecil yang diam-diam mencuri dua roti, dan dia berlari dengan sempoyongan untuk mengejar mereka tapi dia malah bertabrakan dengan Moo Myung.

Sumber Dok Gambar: KBS TV Korea Selatan

Untuk melihat semua tautan sinopsis aktriskorea.web.id, silahkan kunjungi www.sinop.web.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*