Home / Sinopsis Drama Korea / Sinopsis Majo No Jouken Episode 7 Drama Jepang

Sinopsis Majo No Jouken Episode 7 Drama Jepang

Sambil menyetir mobilnya, ucapan Masaru masih terngiang dalam pikirannya yang memintanya untuk kembali pulang ke rumah. Hal yang sama terjadi pada Hikaru, dia diam-diam memandangi Michi dan ucapan Masaru juga terngiang dalam pikirannya bahwa karna dirinya, Michi akan kehilangan segalanya.

Tangan Michi bahkan gemetar saat ucapan Masaru terngiang dalam pikirannya bahwa tidak ada lagi tempat bagi mereka berdua untuk bersembunyi. Karna ketakutan, dia mengemudikan mobilnya dengan kecepatan penuh, tapi ada sebuah mobil datang dari arah yang berbeda, untungnya Michi segera membanting strinya ke kanan. Mobil mereka masuk ke pinggir jalan, dan mereka berhasil terhindar dari kecelakaan maut, sayang mobil yang mereka bawa rusak total.

Hikaru berinisiatif untuk segera pergi dan meninggalkan mobil sewaan mereka yang rusak, apalagi Masaru telah mengetahui nomor plat mobil mereka.

Mereka terpaksa berjalan kaki. Michi bertanya apa Hikaru baik-baik saja setelah melihat dia terus memegang bagian perutnya, tapi Hikaru meyakinkan Michi bahwa dia baik-baik saja. Michi bertanya, “Mereka tidak tahu apa yang kita alami, bukan? Saya kira tidak ada seorang pun yang memahami kita,” saat melihat sebuah mobil yang berjalan melewati mereka tanpa berhenti.

Michi masih stres dengan apa yang barusan mereka alami, dan dia terus berjalan tanpa memperhatikan Hikaru yang berhenti dan melihat sebuah sebuah ladang yang di penuhi dengan hamparan bunga yang ada di depan matanya.

Hikaru mengajak Michi untuk melihatnya dan berkata: “Seperti apa yang dikatakan Pamanku. Tak ada hal yang tak berarti dalam hidup. Seandainya kita tidak berjalan, maka kita tidak akan melihat bunga-bunga yang indah ini. Mari kita percayai bahwa pada akhirnya hal yang baik akan datang.” Hikaru memberikan sebuah bunga yang ia petik pada Michi, dan mereka berdua tersenyum.

Michi membawa Hikaru ke rumah sakit untuk memeriksakan kondisinya, dan dia diberitahu oleh dokter bahwa Hikaru mengalami pergelangan kaki yang keseleo, tapi juga tulang rusuknya patah. Michi tak tahu itu, dan dokter berkata seharusnya Hikaru pasti mengalami sakit yang teramat sangat. Dokter menyarankan agar Hikaru tinggal di klinik ini selama dua atau tiga hari di bawah pengawasan. Saat dokter bertanya apa yang terjadi, Michi memilih diam.

Sementara itu, ibu Hikaru segera meninggalkan ruang rapat setelah menerima telpon dari Masaru. Setelah  ibu Hikaru pergi, Dr. Godai memberitahu para petinggi rumah sakit bahwa Hikaru telah berpacaran dengan guru wali kelasnya. Mereka cukup terkejut dan Dr. Godai berkata dia sendiri tidak memahami motif anak kaya, atau orang tuanya membesarkannya dengan kurang baik, menyindir ibunya.

Masaru melaporkan bahwa Michi dan Hikaru berhasil meloloskan diri, dan meninggalkan mobil yang dirental di dekat sebuah jalanan gunung. Masaru menebak mereka mungkin berada di rumah sakit setelah diberitahu oleh seseorang yang melihat mereka tampak terluka.  Dia menduga Masaru dan Michi masih belum jauh, sehingga  menyarankan untuk melaporkan polisi untuk mendapatkan surat perintah pencarian.

Michi menemani Hikaru, dan saat bertanya apa dia lapar, perut Hikaru tiba-tiba berbunyi. Keduanya lantas tertawa, meskipun Hikaru meminta Michi untuk tidak membuat tertawa karna masih merasa sedikiit sakit di bagian rusuknya.

Michi keluar untuk membelikannya makanan, dan tanpa sengaja dia mendengar seorang polisi yang datang mencari Hikaru di lobby rumah sakit. Saat polisi itu datang ke kamar perawatan Hikaru, kamarnya telah kosong dan mereka berhasil meloloskan diri. Hikaru berusaha menahan sakitnya, dan mereka bergegas menaiki sebuah bus menuju ‘Kooroyama.’

Kiriko datang menjenguk Masaru di rumahnya setelah tidak masuk kerja dan mendapatinya begitu prustasi setelah kepergian Michi. “Saya hampir mendapatkannya. Saya hampir bisa membawa Michi pulang. Tapi entah mengapa dia tahu saya datang,” ucap Masaru.

Dia menebak Kiriko yang telah memberitahu Michi. Dia bertanya dengan nada yang meluap-luap, “Mengapa? Kiri-chan, bukankah kau berada di pihakku?” Kiriko bersikeras bahwa dia tak tahu Michi dan Hikaru ada dimana setelah Masaru mendesaknya.

Masaru menyruhnya pergi, tapi Kiriko bertanya, “Apa saya tidak bisa? Michi tidak akan kembali padamu. Mungkin terdengar kejam, tapi kau harus melepaskannya.”

Kiriko berkata dia menyesal telah memperkenalkan Michi padanya, dan mengakui bahwa seharusnya dia mengungkapkan perasaannya padanya dari awal. Dia meminta Masaru untuk melihatnya mulai dari sekarang, tapi Masaru malah menyuruhnya pergi dari rumahnya. Kiriko tak berkata apa-apa, selain menuruti perkataannya.

Michi dan Hikaru datang ke pinggir pantai dan saat Michi sedang berbaring, diam-diam Hikaru menggambari pasir pantai dengan sebuah kayu di tangannya. Michi kemudian mengajak Hikaru untuk tinggal di daerah ini. “Ini tempat yang terbaik. Kita tidak akan lari sepanjang waktu,” ucap Michi. “Saya akan mencari pekerjaan. Kita akan tinggal di suatu tempat bersama-sama. Dan semua orang akan menerima kita.”

Michi naik di atas sebuah tangga, dan mendapati sepasang burung  yang bersatu, yang menggambarkan hubungan mereka berdua. Melihatnya, Michi tersenyum bahagia begitu pula Hikaru.

Keesokan harinya, Michi memutuskan pergi mencari sebuah aparteman untuk mereka tinggali. Dia menemukan sebuah apartemen yang kecil dan murah. Dan ketika ditanya dia akan tinggal dengan siapa, Michi terpaksa  berbohong bahwa dia akan tinggal bersama adik laki-lakinya.

Saat dia berjalan pulang, Michi tertarik melihat sekelompok murid yang sedang berolahraga di lapangan sekolah, yang dibimbing oleh guru mereka – seolah ia merindukan pekerjaannya sebagai guru dulu.

Seseorang menelpon ke rumah, dan Ibu mengira orang itu adalah Michi. Dia mendesak Michi untuk mengatakan sesuatu, tapi yang menelpon ternyata adalah Jun. Sayang saat ayahnya pulang, Jun segera menutup telponnya.

Ayah Jun bertanya dengan nada yang meluap-luap apa dia sedang menelpon ibunya atau polisi. Jun hanya diam, tapi karna tersinggung dengan tatapannya, ayah Jun  yang pemabuk  malah melempari barang-barang ke tubuh Jun.

Malam itu, Michi dan Hikaru duduk bersama di pinggir pantai sambil memandangi bintang di langit. “Ketika saya dewasa nanti, apa mereka akan memaafkan kita?,” tanya Hikaru. “Kalau seperti itu, saya berharap waktu akan berjalan lebih cepat.”

Ibu Hikaru dan Masaru bertemu dan berusaha untuk memprediksi lokasi berikutnya yang kemungkinan akan didatangi oleh Hikaru dan Michi melalui peta. Ibu Hikaru bertanya apa Masaru masih berniat untuk menikah dengan Michi, dan Masaru hanya menjawab, “Anda tidak akan memahami perasaanku.”

“Itu perkataanku. Kau tidak akan memahami perasaanku,” ucap Ibu Hikaru.

Michi dan Hikaru kemudian datang ke aparteman yang mereka sewa pagi-pagi, dan mendapati tempatnya cukup kotor. Michi mmberitahu bahwa mulai besoka dia akan mulai bekerja dia tempat bisnis lokal, dan bertekad akan beketja keras.

Hikaru berkata bahwa ketimka sembuh, dia juga akan bekerja. Michi kaget mendengar ucapannya, dan mengakui bahwa dia menginginkan agar Hikaru setidaknya menyelesaikan SMA-nya. “Jauh didalam lubuk hatimu, apa kau tidak ingin kuliah?” tanya Michi.

“Saya tidak menyesalinya. Karena ini adalah dunia kebebasan kita,” ucap Hikaru.

Kemudian mereka pergi berbelanja barang-barang dapur dan peralatan makan untuk  mereka gunakan sehari-hari. Puas berbelanja, mereka kemudian singgah ke pantai favorit mereka, dan berfoto bersama.

Di rumah mereka makan malam bersama, dan Michi bertanya bagaimana rasanya. Hikaru berkata masakannya keras, meskipun dia tetap menyantapnya, dan Michi berjanji mulai dari sekarang ia akan berusaha yang terbaik.

Michi bekerja sebagai buruh di tempat pelelangan ikan, yang cukup menguras tenaga meskipun demikian dia melakukannya dengan sepenuh hati saat mendorong gerobak berisi es dan memilah-milah ikan. Usai bekerja, dia pulang ke rumah dan mendapati Hikaru  duduk merenung sendirian di pinggir pantai.

Malamnya, Michi telah terlelap tidur karna kelelahan sementara Hikaru sulit memejamkan matanya. Dia berbalik memandangi Michi dan berkata, “Sensei, saya tidak pernah memberitahumu hal penting  itu, bukan? Meskipun kau sudah mengatakannya padaku. Tapi saya belum.”

Hikaru: “Saya mencintaimu Hirose Michi-san. Saya mencintaimu.”

Keesokan harinya, sepulang ia dari tempat kerjanya, Michi memutuskan untuk menelpon. Dia  lega setelah diberitahu oleh ibunya bahwa hari ini ayahnya kembali ke sekolah. Michi meyakinkan ibunya bahwa dia baik-baik saja, dan menceritakan bahwa dia juga telah menyewa sebuah apartemen kecil dan tinggal dengan Hikaru dan telah mendapatkan sebuah pekerjaan.

Michi memberitahu ibunya bahwa dia telah memasak, tapi tidak berjalan dengan lancar dan mengakui bahwa ibunya ada benarnya bahwa dia seharusnya  belajar memasak. Dengan mata berkaca-kaca, Michi memberitahu ibunya bahwa selama ini dia telah banyak bersandar padanya, dan belum membalas apapun tapi malah membuat masalah.

Ibu tak marah sedikitpun, tapi menyuruh Michi kembali apabila dia tiba-tiba mendapat halangan. “Hal yang alami bagi seorang anak untuk membuat masalah,” ucap Ibu. Sebelum menutup telponnya, Ibu bertanya apa ada seseorang bernama Kinoshita di kelasnya.

Michi segera menelpon Jun untuk menanyakan kabarnya setelah diberitahu oleh ibunya bahwa  Jun pernah datang ke rumahnya untuk mencarinya. Untungnya setelah mendengar telpon rumahnya berbunyi, Jun berhenti untuk mengiris nadinya dengan sebuah pecahan kaca karna prustasi dengan perilaku ayahnya di detik-detik terakhir.

Jun hanya diam dan berusaha menahan air matanya saat Michi bertanya apa terjadi sesuatu. Tapi sesaat setelah ayahnya pulang, Jun segera menyembunyikan gagang telponnya di  belakangnya. Michi mendengar suara ayahnya yang mabuk pulang  dan bertanya, “Apa dia yang memukulimu?”

Jun bertanya, “Apa yang bisa kau lakukan? Kau bukan lagi seorang guru, jadi apa bisa kau mengatasinya?,” dan kemudian menutup telponnya.

Sesampainya  di rumah, Michi kemudian menceritakan pada Hikaru tentang keadaan Jun yang dipukuli oleh ayahnya. Tanpa berpikir panjang, Hikaru mengajak Michi untuk pergi ke rumah Jun, karna dia mengenal kepribadian Jun dengan baik dimana dia tidak akan keluar untuk meminta tolong.

Namun, Michi memperingatkan Hikaru bahwa dia khawatir seseorang mungkin akan melihat mereka jika mereka pergi ke Tokyo, yang berakibat mereka mungkin juga harus lari dari tempat ini.

Sementara itu, Ibu Hikaru duduk merenung di ruang kantornya sambil memandangi lukisan pantai suaminya yang disukai oleh Hikaru, sampai akhirnya dia menebak tempat yang mungkin didatangi oleh putra kesayangannya.

Malam itu, Michi dan Hikaru tak bisa memejamkan mata mereka karna memikirkan keadaan Jun. Dan keesokan harinya, Michi malah mendapati Hikaru duduk di stasiun kereta api untuk pergi menemui Jun di Tokyo.

Michi memberitahu Hikaru bahwa dia telah cuti kerja hari ini, dan akan menggantikan Hikaru pergi ke Tokyo menemui Jun karna kondisinya belum sembuh betul. Hikaru kemudian menitipkan sebuah novel pada Michi berjudul ‘Persahabatan’ untuk diberikan pada Jun.

“Dipukuli hanya satu hal. Tapi hal yang paling membuatnya menderita adalah mungkin karna kesepian,” ucap Hikaru. “Saya memilikimu. Tapi saya pikir dia tidak memiliki siapapun.”

Hikaru kemudian bertanya apa dia telah menghancurkan kehidupannya. Dia memberitahu Michi bahwa Masaru tunangannya mengatakan bahwa karna dirinya, Michi akan kehilangan segalanya. Michi menebak itulah yang telah mengganggunya, dan kemudian berkata, “Seandainya hidupku pernah dibuat berantakan, saya akan menerimanya asalkan kau ada.”

Kereta telah tiba, dan sebelum pergi, Michi meminta Hikaru, “Jangan pernah meninggalkanku sendiri. Jangan pernah.”

Hikaru: “Saya berjanji. Saya tidak akan pernah meninggalkanmu sendiri.” Tapi setelah kereta yang membawa Michi berangkat, ibu Hikaru telah datang ke daerah persembunyian mereka.

Ayah Jun yang mabuk kembali memukuli Jun untungnya Michi datang tepat waktu ke apartemennya. Ayah Jun  berusaha melarang saat Michi ingin masuk ke rumahnya, sehingga mendorong Jun melemparkan sebuah gelas minuman ayahnya ke dinding untuk menarik perhatian Michi. Michi menerobos masuk dan mendapati keadaan Jun yang memprihatinkan akibat ulah ayahnya.

Ayah Jun berkata bahwa tak ada yang bisa Michi lakukan, dan menyinggung perilakunya yang menggoda siswanya sendiri dan lari dari sekolah. Dia berkata orang seperti Michi tak punya hal untuk memberitahunya sesuatu.

Ayah Jun mendesak Michi untuk meninggalkan rumah mereka, dan Jun berdiri dan melepaskan bajunya untuk memperlihatkan luka memar yang ada di sekujur tubuhnya. Michi begitu terkejut sampai dia menangis setelah melihat luka itu, sementara ayah Jun berusaha  berkata bukan dia yang telah melakukannya.

Michi segera mengambil kain untuk menutupi tubuh Jun, dan berkata pada ayah Jun: “Benar, saya tidak memiliki hak untuk mengatakan sesuatu. Dan sebagai wali kelasnya, saya bahkan tidak melihat apapun. Tapi apa kaki dibuat untuk menendang dan menginjak orang? Seberapa sulitpun itu, bukankah mereka ada agar kita bisa bergerak maju? Apa tangan untuk memukul orang? Bukankah mereka ada  untuk menyentuh dan memeluk orang yang kau sayangi?”

Michi membawa Jun pergi dari rumah ayahnya dan menyuruhnya untuk sekarang tinggal di rumah orang tuanya. Michi berkata dia berharap bisa tinggal bersamanya, tapi sekarang dia tidak bisa melakukannya. Michi memberikan buku titipan Hikaru, dan memberitahunya bahwa Hikaru sebenarnya ingin datang untuk menemuinya. Michi pamit pergi, tapi sebelum itu dia berpesan agar Jun menghubunginya jika terjadi sesuatu.

“Ingat, kau tidak sendirian,” tambah Michi. Michi begitu terkejut saat untuk pertama kalinya Jun memanggilnya ‘sensei’ dan mengucapkan terima kasih atas bantuannya. Michi berkata tapi ia bukan lagi gurunya, namun Jun berkata, “Apapun itu, kau tetap guruku.”

Setelah Michi pergi, Jun membuka lembar demi lembar novelnya, dan mendapati di setiap lembar halamannya ada  gambar karakter dia murung, sedih dan bahagia, yang digambar oleh Hikaru.

Michi kembali ke daerah tempat ia bersembunyi, tapi sesampainya di apartemannya ibu Hikaru telah menungguinya dengan ditemani dua polisi  untuk menangkap Michi. Michi diseret masuk ke mobil polisi, dan meskipun ia berteriak sekencangnya memanggil Hikaru, namun Hikaru sama sekali tak mendengar suaranya.

Di dalam apartemen, Hikaru telah memasak makan siang untuk mereka berdua sambil mengatur foto dia dan Michi yang telah ia cuci di album foto, tanpa menyadari bahwa ibunya telah melacak keberadaan mereka dan menangkap Michi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*