Home / Sinopsis Drama Korea / Sinopsis “Reply 1988” Episode 2 Bagian Kedua

Sinopsis “Reply 1988” Episode 2 Bagian Kedua

Sinopsis Reply 1988

[Baca juga: Sinopsis “Reply 1988” Episode 2 Bagian Pertama]  

Duk Seon menangis saat kakaknya memberitahu bahwa Nenek sudah ada di tempat yang terbaik sekarang. Dia memberitahu Duk Seon untuk pulang agar mereka bisa secepatnya pergi naik bus ke tempat tinggal nenek. Tapi di telpon Duk Seon tak bisa menahan dirinya dan terus saja menangis.

Ketiga saudara ini naik bus menuju desa tempat tinggal nenek, dan Kakaknya memastikan semua adik-adiknya tidur dan dia mengambil semua tas Duk Seon sehingga dia dapat merenggangkan kakinya. Ketika mereka sampai di tempat tinggal Nenek, kakaknya menyuruh mereka untuk tidak menangis karna harus kuat di depan Ayah dan Ibu.

Sinopsis Reply 1988 2Sinopsis Reply 1988 3

Tapi ketika ketiga saudara ini menginjakkan kaki mereka di rumah duka, pemandangan yang mereka lihat tidak seperti perkiraan mereka. Tampak terlihat seperti sebuah pesta ketimbang rumah duka dimana orang-orang tua bermain kartu dan berbincang satu sama lain sambil makan. Ayahnya tidak menangis seperti perkiraan mereka – tapi dia malah dengan bahagia menyombongkan anak-anaknya di depan warga kampong dan bertemu kenalan lama.

Duk Seon bertanya apa ayah mereka robot karna dia sama sekali tidak bersedih – dan hal yang serupa dilakukan oleh tante mereka. Dan Duk Seon kembali lagi menangis karna merasa kasihan dengan nenek.

Sinopsis Reply 1988 4

Kembali ke Seoul, ketiga sekawan mengganti pakaian sekokah mereka untuk menonton film yang agak cabul tapi ternyata bioskopnya dijaga oleh banyak polisi sehingga ketiganya terpaksa harus membatalkan niat mereka. Mereka kecewa, tapi Dong Ryong berkata mereka bisa pergi ke tempat Taek karna dia sudah meminjam film cabul lainnya.

Keesokan paginya, Duk Seon bangun dari sebuah kamar yang dipenuhi oleh sepupunya, dan melihat ayahnya yang sepertinya sedang menangis. Dia berdiri untuk menghampirinya, tapi tante-tentanya datang membangunkan ayahnya dan dia terlihat tidak sedang menangis.

Sinopsis Reply 1988 5Sinopsis Reply 1988 6

Ketiga sekawan membuka bekal makan siang mereka, dan seperti biasa bekal Jung Hwan slalu yang terbaik, Dong Ryong kimchi dan nasi kari sedangkan bekal Sun Woo tampak lezat tapi rasanya tidak enak karna ibunya tidak jago masak sampai Dong Ryong mengeluh karna keasinan. Sun Woo sempat tersinggung ketika Dong Ryong berkata bahwa di rumahnya tidak seorang pun berta badannya akan bertambah, tak perduli seberapa keraspun mereka mencoba.

Dan di sore hari mereka kembali ke bioskop itu, dan kali ini Dong Ryong telah menyusuh strategi: seragam tentara. Mereka berhasil membeli tiketnyta, dan tak seorang pun yang mengenali mereka ternyata masih di bawah umur.

Sinopsis Reply 1988 7Sinopsis Reply 1988 8

Kecuali ketika Sun Woo keluar dari kamar mandi, dia mendapati teman-temannya sedang berbaris dengan anak-anak lainnya, dengan sorang guru yang tegas di depan mereka. Dong Ryong memberitahu Sun Woo bahwa dia diminta untuk bergabung bersama mereka.

Sementara acara perkabungan berlanjut, dan Duk Seon menjadi jengkel melihat ayahnya hanya mabuk dan menyanyi bersama orang tua di meja. Duk Seon tak mengerti mengapa tak seorangpun yang bersedih.

Kembali ke bisokop, pak guru memukul keras kepala mereka dan ketika dia menegur Dong Ryung akhirnya ketahuan juga ternyata  dia adalah ayahnya. Ternyata yang juga ikut berbaris bersama mereka adalah senior si tukang bully dan anak buahnya, dan ketika Pak Guru mengatakan bahwa kali ini mereka selamat berkat Sun Woo, membuat si tukang bully kembali jengkel.

Sinopsis Reply 1988 9Sinopsis Reply 1988 10

Dia membawa mereka bertiga ke gang kecil dan sedikit menyindiri ketika berterima kasih pada Sun Woo karna sudah menyelamatkan mereka, dan bermaksud untuk kembali memicu perkelahian. Dia kembali memandang kalungnya dan menyuruh Sun Woo untuk melepaskannya, dan ketika Sun Woo menatap matanya dan bukannya menunduk, si senior tukang bully ini malah menarik kalung itu dari lehernya.

Dong Ryong angkat suara dan mengatakan bahwa kalung itu dari ayahnya yang sudah meninggal, si bully sejenak tersadar sampai akhirnya membuatnya berhenti melempar kalung Sun Woo. Tapi dia kembali berulah menyinggungnya dengan mengatakan kata-kata kasar, “Jadi kenapa? Apa kamu bisa tidak menghargai seniormu hanya karna kamu tidak punya ayah? Kau bangga tidak punya ayah?”

Mata Sun Woo menatapnya dengan penuh kemarahan, tapi tiba-tiba kepalan tinju mengenainya.

Sinopsis Reply 1988 11

Tapi bukan kepalan tinju dari Sun Woo – yang memukul ternyata Jung Hwan. Dia memukul wajahnya dan menjatuhkannya dengan hanya satu pukulan. “Apa kau tidak punya otak, bajingan gila? Apa kau pikir bisa mengatakan apapun yang kau mau hanya karna mulutmu itu terbuka lebar. Hati-hati dengan perkataanmu sebelum bicara.”

Duk Seon dan kakaknya beres-beres dan sepertinya ini adakah hari terakhir acara perkabungan Neneknya. Sekarang yang tinggal hanya anggota keluarga, dan mereka tak tahu apakah paman tertua mereka akan datang dari Amerika. Duk Seon menghampiri ayahnya dan menyuruhnya untuk tidur, dan dia tersenyum pada putrinya dan berkata dia baik-baik saja.

Sinopsis Reply 1988 12Sinopsis Reply 1988 13

Ayahnya masih tampak baik-baik saja sampai Duk Seon melihat ketika seorang pria datang dari pintu depan dan wajah ayahnya segera berubah ketika kakaknya memanggilnya, “Dong-Il, Dong il.”

Paman mendekati dan menggengam wajah ayah dengan tangannya, dan tak menunggu lama ayah menangis dengan tersedu-sedu, bertanya mengapa ibunya harus segera pergi, sekarang mereka tidak bisa lagi melihatnya.

Tante-tante mereka juga lari memeluk paman dan ayahnya sambil menangis, dan akhirnya Duk Seon mengerti. Dia bercerita bahwa orang dewasa hanya bersikap seolah-olah kuat karna usia mereka. Orang dewasa juga merasa sakit.

Sinopsis Reply 1988 14Sinopsis Reply 1988 15

Semua orang menangis, dan setelah itu Paman memberi penghormatan terakhirnya pada Nenek sebelum duduk bersama saudara-suadaranya. Dan kita bisa melihat di ujung ruangan itu, terpajang vas yang dulu ngotot diminta oleh Nenek. Dia menaruh tanaman pada vas itu dan menunjukannya dengan bangganya.

Ketiga sekawan itu pulang ke rumah, dan tampak luka memar di wajah Jung Hwan. Mereka sama sekali tidak menyinggung secara langsung tentang perkelahian tadi, tapi Jung Hwan bertanya pada Sun Woo apa yang akan ia lakukan dengan kalungnya. Sun Woo menjawab dia tidak akan memakainya lagi: “Bagaimana dengan wajahmu?” Jung Hwan memberitahunya untuk mengkhawatirkan dirinya sendiri.

Sinopsis Reply 1988 16

Sun Woo pulang ke rumah dan melihat ibunya di depan TV – dan dia mengingat belum memakan bekal makan malam yang dibuat oleh ibunya. Dia pergi ke sudut halaman rumah mereka dan memakan bekalnya agar ibunya tidak sedih.

Sun Woo melahap makanannya meskipun seperti biasa harus menemukan kulit telur didalamnya. Duk Seon bercerita bahwa tidak apa-apa kadang-kadang ditipu. Jika kau bisa membuat ibumu bahagia dengan membuatnya berpikir bahwa makanannya enak, cukup mudah untuk menyantap makan siang yang tidak enak.

Dia masuk ke dalam rumah setelah selesai makan, dan ibunya dengan bahagianya bertanya apa makan siangnya enak. Sun Woo menjawab makanannya enak. Suara Duk Seon berkata, “kadang-kadang kau butuh sebuah ilusi untuk bahagia.”

Sinopsis Reply 1988 17Sinopsis Reply 1988 18

Di rumah Duk Seon, Ayahnya menonton berita terbaru tentang Taek yang kembali memenangkan kompetisi baduk di China. Ibu Duk Seon mengatakan bahwa ibu Taek pasi sangat bahagia di surga, tapi ayah berkata, “Kematian adalah akhir. Apa gunanya perbuatan baik dari anak setelah orang tuamu meninggal? Kau harus merawat orang tuamu dengan baik saat mereka masih hidup.”

Ketika bola lampunya mati, ayah Duk Seon pergi keluar untuk membeli yang baru dan menyapa Taek yang sedang dalam perjalanan menuju rumahnya. Ayah Duk Seon bertanya apa dia mau jadi teman minumnya, dan ketika Taek menuangkan, Ayah berkata bahwa sekarang dia sudah dewasa.

Taek berkata dia minta maaf karna tidak bisa datang, dan Ayah berkata padanya mengapa dia mengungkitnya kembali karna akan membuatnya menangis. Dia bertanya pada Taek kapan dia paling merindukan ibunya, dan mata Taek memerah sampai menitihkan air mata. “Setiap hari. Saya merindukan ibuku setiap hari,” kata Taek.

Sinopsis Reply 1988 19

Duk Seon bercerita bahwa anak dewasa seperti hanya satu tanpa keluhan. Hanya saja mereka sudah terbiasa ke dunia orang dewasa dan mereka telah dewasa menggunakan ilusi yang ada disekitar mereka: “Anak dewasa masih tetap saja anak kecil.” Dia mengatakan sebuah ilusi pendek tapi kesalah pahaman berlangsung lama. Itulah mengapa ilusi menawarkan kebebasan sedangkan kesalah pahaman mengikatmu.

Taek pulang ke rumah yang tenang dan sepi, tapi ketika dia membuka pintu kamarnya, teman-temannya sudah menunggu dengan kue ulang tahun dan lagu ucapan selamat ulang tahun.

Mereka semua sangat semangat merayakan ulang tahunnya sementara Taek hanya diam memandang mereka tanpa mengatakan sepatah katapun. Mereka mengeluh bagaimana terlambatnya dia datang dan pakaian yang ia kenakan (Apa kau seorang kakek?) dan Duk Seon memakaikannya topi kerucut. Dia disuruh untuk meniup lilinnya dan memberikan kaset Jeon In Kwon yang mereka janjikan.

Sinopsis Reply 1988 20

Setelah itu Sun Woo menyalakan TV, Duk Seon sibuk mencicipi kue ulang tahunnya sedangkan dua cowok lainnya memeriksa tasnya untuk mengambil minuman keras – dan melihat botol minuman itu Duk Seon berteriak ingin melaporkan mereka.

Duk Seon bercerita bahwa Taek adalah yang terakhir dari mereka pindah ke lingkungan ini. Kita bisa melihat serangkaian foto kecil mereka yang selalu bersama dan suatu hari anak baru pindah ke kompleks mereka.

Taek dan ayahnya pindah kesana setelah ibunya meninggal, dan Duk Seon mengatakan dia tidak mengerti mengapa ayah dan anak ini memilih tinggal di kompleks mereka; tapi hari itu mereka akhirnya mempunyai teman baru. Dan kita bisa melihat kepribadian mereka berempat waktu kanak-kanak: Dong Ryung dan Jung Hwan nakal sedangkan Sun Woo dan Duk Seon anak yang baik.

Sinopsis Reply 1988 21Sinopsis Reply 1988 22

Akhirnya dari yang hanya berempat sekarang berlima, dan dalam sebuah insiden, Taek kecil jatuh dari tangga dan lengannya patah karna permainan mereka, dan keesokan paginya Dong Ryung dan Jung Hwan membawa tasnya, Sun Woo memberikan permainannya, dan Duk Seon membopongnya.

Duk Seon berkata: “Taek selalu ada bersama kami. Bahkan ketika kami melakukan hal-hal yang nakal atau melakukan hal-hal yang menyedihkan dia slalu ada disisi kami. Tentu saja, dia slalu mempunyai wajah tanpa ekspresi. Tapi meskipun demikian, dia slalu ada bersama kami. Tetap saja, kompleks ini menciptakan persahabatan melalui kekuatan waktu. Itulah bagaimana anak pendiam dan empat anak tukang rebut menjadi teman. Dan itulah bermula bagimana kami sekarang menjadi berlima”

Kembali ke pesta ulang tahun, Duk Seon mengejek keempat temannya yang dengan mudahnya mabuk, dan keempat pria itu semuanya berbaring dengan pipi mereka yang berwarna merah. Jung Hwan mengatakan dia akan mati jika mencobanya, tapi Duk Seon tak takut.

Sinopsis Reply 1988 23Sinopsis Reply 1988 24

Dia menuangkan minuman itu ke gelas dan meneguknya. Dan setelah dia meneguk minuman itu — dia merasa tercekik dan berjalan tertatih-tatih menuju kamar mandi – dan para cowok-cowok itu hanya bisa menghela nafas mereka.

Ketika Duk Seon telah pulang ke rumahnya, para cowok menonton film Joey Wang dan terpukau dengan kecantikannya. Dong Ryung berkata bahwa tidak ada gadis seperti itu dalam kehidupan nyata, dan pembicaraan mereka kali ini beralih kepada wanita-wanita paling cantik yang mereka temui dalam kehidupan mereka.

Dong Ryong menyebutkan semua gadis-gadis cantik yang ia kenal, dan anehnya Sun Woo mengenali semua gadis paling cantik yang ia sebutkan. Tapi kemudian menambahkan, “Sepertinya akhir-akhir ini Duk Seon sedikit semakin imut?” dia mendorong Sun Woo yang berbaring di sampingnya, yang setuju: “Ya, sedikit.” Sun Woo bertanya pada Taek yang ada di sampingnya, yang tersenyum dan juga mengangguk. Yang terakhir Jung Hwan, yang marah dan berteriak, “Kalian semua pasti sudah gila. Kalian pasti sudah tidak sadar? Apa kalian semua sudah mabuk?”

Sinopsis Reply 1988 25

Duk Seon menggosok giginya untuk menghilangkan rasa tidak enak dari minuman keras itu dan menuju kamarnya, dan marah ketika dia mendapati kakaknya ada di dekat buku hariannya. Kakaknya membantah telah membaca buku hariannya, tapi Duk Seon tak langsung percaya,  saat mereka berbaring untuk tidur Duk Seon masih bertanya tentang buku diarynya.

Kakaknya masih membantah, tapi dia kemudian mengutip kata-kata romantis yang merupakan ungkapan perasan suka Duk Seon kepada seorang pria,dan bagaimana dia mencoba mengumpulkan keberaniannya untuk mengungkapkan isi hatinya. Duk Seon berusaha menutup mulut kakaknya, tapi kakaknya berteriak: “Mama! Duk Seon menyukai seseorang! Dia bahkan memberinya coklat!” Dia tertawa saat Duk Seon memukulnya berkali-kali.

Sinopsis Reply 1988 26

Di masa sekarang, Duk Seon dewasa (Lee Mi Yeon) membaca diarynya dan merasa risih dengan tulisannya yang sangat memalukan itu. Dan duduk di sampingnya, suaminya (Kim Joo Hyuk) mengomel karna dulu dia menghabiskan banyak waktu dengan begitu banyak laki-laki.

Duk Seon menuduhnya telah membaca diarynya, yang disangkalnya mentah-mentah. Tapi dia kemudian bertanya kepada siapa dia memberikan cokelat itu karna dia sendiri tidak pernah menerimanya. Dia memukulnya karna telah membaca diarynya, dan bersumpah bahwa dia memberikan cokelat itu padanya. Suaminya: “Bukan saya.”

Duk Seon: “Saya memberikannya. Jadi bukan kamu? Kamu orangnya.” Suaminya kemudian berkata pada si pewawancara bahwa dia akan kembali setelah merokok dan Duk Seon bersikeras bahwa dia orangnya, dan suaminya tidak mengingat karna itu terjadi 30 tahun yang lalu – meskipun sebenarnya terlihat dia yang lupa-lupa ingat.

Sinopsis Reply 1988 27

Tapi sepertinya kamera rekam memberikan jawaban siapa yang mendapat coklat itu. Saat pesta di rumah Jung Hwan, Duk Seon berhenti untuk menyelipkan coklat di salah satu tas para cowok-cowok itu yang ada di depan pintu.

Kemudian mereka keluar dari kamar untuk membeli topokki: Jung Hwan dan Dong Ryung mengambil tas mereka tapi tak satupun diantara tas mereka  ada coklat di dalamnya. Duk Seon keluar bersama Taek tapi tak satupun diantara mereka yang mengambil tas, dan yang terakhir Sun Woo yang berhenti untuk mencium adiknya dan kemudian mengambil tas yang berisi coklat didalamnya.

One comment

  1. Thanks sinopsisnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*