Home / Sinopsis Drama Korea / Sinopsis The Legend of The Blue Sea Episode 13 Bagian Kedua Drama Korea

Sinopsis The Legend of The Blue Sea Episode 13 Bagian Kedua Drama Korea

Sumber Dok Gambar: SBS TV Korea Selatan

Untuk memudahkan chingu mencari tautan sinopsis di www.aktriskorea.web.id. Silahkan chingu kinjungi juga semua tautan sinopsis di sinop.web.id

[Baca juga: Sinopsis The Legend of The Blue Sea Episode 13 Bagian Pertama Drama Korea]

Meskipun demikian Joon Jae tetap menyarankan agar mereka menelusuri siapa tim medis ahli penyakit jiwa yang menangani Dae Young, dan detektif Hong tanpa berpikir setuju. Joon Jae menyuruh mereka menepikan mobilnya. “Lagi, lagi, lagi,” ucap Joon Jae.

Setelah Joon Jae keluar dari mobil, rekan Detektif Hong protes karna mereka begitu taat padanya. Detektif Hong berkata itu palsu, dan bahwa mereka hanya memanfaatkan Joon Hae sebagai umpan untuk menangkap Dae Young, meskipun rekannya berkomentar bahwa dia merasa bukan seperti itu.

Si Ah diam-diam mengintip Yoo Ran dari balik kaca saat menyuapi Sim Chung dengan masakan buatannya, dan dia kembali teringat dengan informasi yang diberikan Nam Doo beberapa waktu lalu tentang ibu Joon Jae dimana Joon Jae telah berpisah dengan ibunya saat berumur 10 tahun dan sampai sekarang mereka belum menemukan keberadaannya. Dia menggigit jarinya setelah menyadari fakta bahwa Yoo Ran adalah ibu Joon Jae.

Yoo Ran bertanya bagaimana rasa masakannya. Sim Chung menjawab ‘rasa nuklir’ yang berarti sangat lezat, dan menjelaskan itu adalah kata yang banyak digunakan orang-orang di internet.

Si Ah datang bergabung bersama mereka, dan Yoo Ran bertanya kapan kekasihnya akan datang. “Kekasih siapa? Mungkin? Heo …?,” tanya Sim Chung dengan nada suara yang tinggi. Belum sempat menyebutkan nama lengkapnya, Si Ah langsung menutup mulutnya dengan tangannya.

“Apa kita harus pergi sekarang?” tanya Si Ah dengan gugup sambil terus menengok ke pintu depan. Sim Chung melepaskan tangan Si Ah, dan bertanya, “Ada apa denganmu?”

Si Ah langsung membawa Yoo Ran keluar dari rumah, meskipun tetap waspada agar tidak bertemu dengan Joon Jae. Saat keluar dari pintu gerbang, Si Ah gugup saat melihat Joon Jae tengah berjalan di tangga dan akan mendekati mereka — meskipun pandangannya tidak lurus kedepan sehingga Si Ah bersama Yoo Ran bisa secepatnya masuk ke mobil sambil menutupi wajahnya dengan sebuah tas.

Sementara itu, Jin Joo begitu prustasi melihat putrinya masih belum juga bisa mengerjakan daftar perkalian, setelah mengajarinya berulang kali. Melihat Si Ah datang, Jin Joo bertanya  kemana mereka pergi, dan setelah Yoo Ran tidak ada di dekat mereka, Si Ah langsung bertanya pada Jin Joo apa dia telah mendengar sesuatu tentang putra pembantu rumah tangga mereka.

Jin Joo menjawab putranya tampan dan kuliah di KAIST. Saat Jin Joo menjelaskan bahwa setelah Yoo Ran bercerai, dia tinggal terpisah dengan putranya dan hanya mendengar kabar dari satu sama lain dari waktu  ke waktu, Si Ah seketika itu lesu saat membayangkan setiap ucapan kasar yang selama ini ia ucapkan pada  Yoo Ran.

Si Ah diam-diam masuk ke kamar Yoo Ran. Dia membuka ponselnya dan mencocokkan foto Joon Jae kecil bersama orang tuanya dengan foto keluarga Yoo Ran. Saat Yoo Ran datang, Si Ah bertanya apa di foto itu adalah putranya. Dia kembali lesu setelah Yoo Ran mengkonfirmasinya, dan berkomentar bahwa putranya tidak mirip dengannya.

Tapi Yoo Ran berkata orang-orang  mengatakan putranya sangat mirip dengannya. “Ada apa?,” tanya Yoo Ran setelah melihat tingkah Si Ah yang sedikit aneh. Si Ah mengangkat kepalanya, dan berkata dengan agak ragu, ‘Saya sudah memikirkan tentang hal ini sampai sekarang, ahjummoni. Bisakah saya memanggilmu ibu?”

“Mengapa saya ibumu?,” tanya Yoo Ran. Si Ah: “Memang kau bukan ibuku. Kau bukan tapi kau seperti ibuku atau kau bisa saja ibuku.” Melihat sikapnya yang tiba-tiba begitu aneh, Yoo Ran bertanya apa dia sakit. Si Ah yang keringat dingin mulai berkata ngelantur, dan tanpa berpikir panjang menyuruh Yoo Ran mengambilkannya segelas air. Tapi Si Ah segera meralat ucapannya, “Tidak, tidak. Apa kau ingin segelas air? Apa saya harus mengambilkanmu?”

Yoo Ran menduga ada sesuatu yang sangat ingin diberitahu oleh Si Ah, tapi sayang Si Ah belum memiliki keberanian yang besar untuk memberitahu yang sebenarnya. Dia berjanji akan memberitahunya sedikit lagi nanti, dan minta maaf dan bergegas keluar dari kamarnya, meskipun Yoo Ran bertanya-tanya  ada apa dengannya.

“Ada apa denganmu, Heo Joon Jae? Kau selalu memberitahuku ‘Hei, kamar atas turun,’” tanya Sim Chung saat Joon  Jae naik ke kamar lotengnya. Joon Jae merasa kamarnya sedikit berangin, dan menyuruh Sim Chung tidur di kamarnya jika dia dingin.

“Bersamamu?,” pikir Sim Chung. Joon Jae tertawa kecil dan berkata dia akan tidur di atas sini. Joon Jae berkata ada sesuatu yang membuatnya penasaran, dan bertanya apa Dae Young mengambil air saat Sim Chung diculik olehnya.

Sim Chung berkata ya dalam pikirannya, dan bahwa Dae Young sudah tahu dia adalah putri duyung karna melihatnya dalam sebuah mimpi dan ingin mengkonfirmasinya secara pribadi. “Tapi saya tidak bisa memberitahumu hal ini,” ucap Sim Chung dalam pikirannya.

Joon Jae berkata jangan, jika itu sesuatu yang sulit untuk kau katakan dan kemudian memeluk Sim Chung.  “Aku takut karna orang itu telah mengetahui rahasiaku,” ucap Sim Chung dalam pikirannya.

Joon Jae berkata: “Jangan takut. Tidak akan ada yang terulang. Apapun yang terjadi sebelumnya tidak akan terjadi kali ini. Saya akan membuatnya seperti itu.”

CEO Gil Joong keluar dari kamarnya untuk mencari Seo Hee, ditengah pandangannya yang begitu kabur. Seo Hee sebenarnya ada di dekatnya tapi dia hanya diam, dan pada akhirnya ayah Joon Jae jatuh dari tangga. Untungnya, beberapa detik kemudian Chi Hyun datang ke rumah  dan segera membawa ayahnya ke rumah sakit, meskipun menatap ibunya dengan kecurigaan yang berdiri di atas tangga.

Di rumah sakit Chi Hyun menunggu dengan harap-harap cemas, sampai dokter keluar dari ruang ICU dan menjelaskan bahwa operasinya ayahnya berjalan lancar meskipun mengalami pendarahan dalam ketika datang ke ruang gawat darurat, namun dokter masih belum bisa memberikan kepastian apa ayahnya masih memungkinkan melakukan kegiatan kesehariannya.

Chi Hyun masuk ke ruang perawaran ayahnya setelah diberitahu oleh suster bahwa ayahnya mencarinya. Tapi saat mendekatkan telinganya untuk mendengar apa yang diucapkan oleh ayahnya, dia malah mendengar nama “Joon Jae’ berulang kali, yang sepertinya membuat Chi Hyun begitu kecewa.

Dia keluar dari ruang perawatan ayahnya, dan mengabaikan ibunya. Chi Hyun pergi ke sebuah tempat yang sunyi, dan membakar semua foto-fotonya bersama ayah tirinya.

Joon Jae membaca segala informasi tentang Dam Ryung termasuk keterangan dari Si Ah yang menduga bahwa barang-barang milik Dam Ryung yang ditemukan sepertinya berasal dari kapal yang tenggelam, yang berada dalam perjalanan ke tempat pengasingan dimana dia meninggal setelah kapalnya tenggelam.

Tiba-tiba saja, sebuah penglihatan yang sepotong-sepotong muncul dalam pikiran Joon Jae tentang kejadian yang terjadi di kehidupan sebelumnya — dimana Joon Jae akan diasingkan dan berangkat dengan sebuah perahu dan Tuan Yang menyalakan lampion untuk menangkap Se Hwa.

Joon Jae memandangi gambar Dam Ryung dan bertanya, “Jadi, apa kau melindunginya dengan baik disana?”  Tapi dia segera menutupi artikel itu saat Sim Chung datang. Sim Chung berkata sekarang dia tahu, karna hari ini telah menemukan banyak hal.

Kemudian kita melihat dalam sebuah flashback Sim Chung menonton sebuah informasi di video yang semuanya tentang pria dan bagaimana bersikap dalam sebuah hubungan. Dia bertanya-tanya apa artinya tampak gampang, tapi susah untuk didapatkan, dan mengapa dia harus menolak skinship ketika itu menakjubkan. Kemudian dia begitu terkejut dengan artikel terakhir yang menulis ‘cinta pertama seperti sebuah stigma’ bagi seorang pria.

Sim Chung berkata pada Joon Jae, “Saya mendengar cinta pertama bagi seorang pria seperti sebuah stigma. Ketika itu telah tertempel dalam hatimu, itu tidak menghilang. Bagimu, Se Hwa adalah cinta pertamamu.”

Joon Jae berusaha meyakinkan bukan seperti itu, tapi Sim Chung berkata tidak apa-apa. Sim Chung tahu karna Se Hwa telah meninggalkan stempel besar dalam hatinya,  dan itulah mengapa dia mengalami mimpi sesedih itu.  Joon Jae ingin mengklarifikasinya, tapi Sim Chung menyela ucapannya, mengatakan bahwa dia juga menemukan: “Cinta pertama seorang pria tidak menjadi kenyataan.”

Sim Chung lega karna dia bukan cinta pertamanya, karna menganggap akan ada masalah besar jika dia adalah cinta pertamamu,” sementara Joon Jae tampak sedih mendengarnya.

Dae Young meneguk alkohol untuk menenangkan dirinya saat Seo Hee tiba-tiba menelpon. Di telpon, Seo Hee menegurnya karna dia hampir saja tertangkap karna berusaha menculik seorang gadis, bukannya Joon Jae seperti yang ia perintahkan.

Dae Young memanggilnya ‘Ji Yeon,’ dan Seo Hee  segera mengklarifikasi bahwa dia bukan Ji Yeon tapi ‘Kang Seo Hee.’ Dae Young menceritakan bahwa dia mempunyai sebuah mimpi, dan  melihat kehidupan sebelumnya. Dia tahu Seo Hee mungkin tidak percaya, tapi dia meyakinkannya itu benar adanya.

Dae Young berkata bahwa dalam  mimpinya, Joon Jae ada disana begitu pula Seo Hee: “Dan wanita itu.” Dae Young memberitahu bahwa wanita yang ia culik dalam mimpinya adalah seekor putri duyung, dan Seo Hee tak percaya, menuduh Dae Young hanya berhalusinasi karna tidak mengkonsumsi obatnya. Dae Young berkata bahwa mimpi itu begitu nyata sehingga dia hampir gila. Seo Hee sepertinya tak ambil pusing dengan mimpi anehnya, dan berkata bahwa mereka sedikit lagi akan sukses – dimana CEO Hae telah mereka atasi. Dia memerintahkan Dae Young untuk mengatasi Joon Jae, sehingga mereka bertiga akan bisa hidup dengan bahagia – dia, Dae Young dan Chi Hyun. “Kita telah lama menanti hari ini,” ucap Seo Hee.

Seo Hee menasihatinya untuk meminum obatnya dan berhenti membicarakan tentang mimpi yang aneh itu.

Joon Jae datang menemui terapis kenalannya, dan menjelaskan tentang mimpi-mimpi aneh yang dia alami. Joon Jae menceritakan bahwa suatu hari, tiba-tiba sebuah kejadian yang aneh masuk dalam pikirannya.

Detektif Hong diberitahu oleh rekannya bahwa Dae Young mulai dari tahun 2009 sekali tiap beberapa bulan menemui seorang dokter untuk mendapat perawatan bernama ‘professor Jin Gyeong Won.’

Kita kembali pada Joon Jae, dokter psikiater kenalannya bertanya apa dia ingin melihat akhir dari mimpi itu. Joon Jae berkata jika orang itu memiliki sebuah kisah yang ingin dia beritahu, maka dia harus melihatnya sepenuhnya. Meskipun diperingatkan bahwa melihat hal itu  bisa memberikan trauma yang serius, Joon Jae tetap setuju untuk melakukannya. Sementara itu, Dae Young datang mencari Profesor Jin, dan telah berdiri di depan pintunya.

Joon Jae mulai dihipnotis  untuk bisa melihat dunia alam bawah sadarnya.

Flashback. Sebelum pergi ke tempat pengasingan Dae Ryung menemui sahabatnya yang masih di rawat di sebuah  kediaman seorang tabib, dan mengingatkan agar dia tidak melupakan permintaannya. Dam Ryung tahu tidak banyak lagi waktu yang tersisa untuknya, namun dia yakin mereka akan kembali bertemu sebagai sahabat baik.

Para warga telah berkumpul di dermaga, yang tampak bersedih, untuk melepas kepergian Dam Ryung  menuju tempat pengasingannya. Dam Ryung pun lega setelah melihat  jenderal  yang dekat dengannya akan mengawalnya sampai ke tempat pengasingannya.

Sementara itu di tempat lain, setelah menerbangkan banyak lampion, para anak buah Tuan Yang mempersiapkan jaring di kapal yang akan mereka gunakan untuk menangkap Se Hwa, si putri duyung. Se Hwa melihat cahaya lampion dari dasar laut, sehingga ia bergegas berenang naik ke atas laut karna mengira Dam Ryung yang menerbangkannya.

Di atas kapal Dam Ryung melihat lampion terbang di atas langit, dan dia merasa ada sesuatu yang janggal. Tuan Yang dari atas laut melihat kehadiran Sim Chung  dan segera memerintahkan anak buahnya untuk melemparkan jaringnya.

Dam Ryung teringat sekumpulan anak buah Tuan Yang saat di dermaga, sehingga dia memerintahkan ‘Jenderal’ yang bertugas untuk memutar balik kapalnya. Dam Ryung memohon agar dia melakukannya karna ada sesuatu yang harus dia lakukan.

Dia menolak sehingga Dam Ryung berkata bahwa nyawa orang yang paling dia percaya tergantung pada hal itu. Si ‘jenderal’ sekali lagi menolak, membuat  Dam Ryung terpaksa merebut pedangnya dan mengacungkannya di lehernya. Anak buah si jenderal segera mengeluarkan pedang mereka, dan juga mengacungkannya di leher Dam Ryung.

Dam Ryung berkata dia berjanji segera setelah menyelesaikan hal yang harus dia lakukan, dia akan melanjutkan jalannya. “Jika  saya tidak bisa melindungi orang itu, maka tidak ada alasan bagiku untuk hidup,” ucap Dam Ryung.

Si jenderal akhirnya menyerah dan memerintahkan anak buahnya mundur, dan memberitahu mereka bahwa orang ini telah menyelamatkan ayahnya karna tuduhan palsu. Tak satupun dari anak  buahnya yang bergerak, sehingga sekali lagi si ‘jenderal’ yang mirip dengan detektif Hong di masa sekarang memerintahkan mereka mundur dan berjanji akan bertanggung jawab.

Setelah mereka melemparkan jaring, anak buah Tuan Yang melemparkan panah dan tombak ke dalam laut. Tuan Yang ingin menangkap Se Hwa entah itu hidup atau mati, dan akan memberikan hadiah pada siapa saja yang berhasil menangkapnya. Se Hwa terjebak diantara jaring itu, dan anak buah Tuan Yang dengan membabi buat melemparkan anak panah ke arahnya, dan salah satu dari anak panah itu berhasil menggores lengannya.

Disaat keadaan Se Hwa tengah terancam, untungnya kapal yang membawa Dam Ryung berhasil datang dengan cepat dan menemukan mereka.

Tuan Yang cukup terkesan dengannya tapi dia menolak perintah Dam Ryung untuk berhenti. Dia bahkan mengingatkan statusnya sekarang yang bukan lagi sebagai seorang Kepala Desa tetapi seorang kriminal yang telah diasingkan.

Si jenderal ikut campur, tapi Tuan Yang membela diri bahwa tidak ada salahnya seorang pemburu berburu di hutan begitu pula seorang nelayan memburu ikan di laut. Namun tiba-tiba saja anak buah Tuan Yang berteriak ‘darah,’ dan  Tuan Yang secepatnya berteriak memerintahkan mereka menembakkan panah untuk menangkapnya, sementara di dalam laut Se Hwa memegangi lengannya yang terluka dan berusaha menghindari dari setiap serangan panah yanga melesat ke arahnya.

Tuan Yang tertawa lebar karna merasa di atas angin. Amarah Dam Ryung memuncak, dan sambil memegang pedang di tangannya dia  melompat ke perahu Tuan Yang dan melawan mereka satu persatu, tapi seorang anak buah Tuan Yang berhasil memukul kepala bagian bekakang Dam Ryung dengan sebuah kayu.

Dia terjatuh, dan untungnya ada si ‘jenderal’ yang melindungi Dam Ryung, sementara keadaan kapal begitu kacau dan api menyala. Dam Ryung berbalik dan melihat Tuan Yang memegang sebuah tombak yang sangat tajam yang akan diarahkannya pada Se Hwa.

“Se Hwa,” teriak Dam Ryung.

Saat Tuan Yang melemparkan tombak tajam itu, Dam Ryung secepatnya terjun ke dalam laut. Tombak tajam itu dengan cepatnya melesat ke arah Se Hwa, tapi Dam Ryung memeluknya dan tombak tajam itu pun tepat mengenai jantungnya, sementara di atas kapal Tuan Yang tertawa lebar.

Di dalam air, Se Hwa memandangi Dam Ryung dan menyentuh tubuhnya dan mendapati sebuah tombak tertancap tepat di belakangnya. Se Hwa menangis dan menyentuh wajahnya. Dam Ryung tersenyum kecil dan kedua mata Dam Ryung tertutup dan kedua tangan yang memeluknya menjadi lemas.

Dam Ryung meninggal. Sejenak Se Hwa memandanginya sampai akhirnya dia memeluk Dam Ryung dengan erat dan menusuk tombak yang tertancap pada dirinya.

Kemudian kita melihat, saat Se Hwa remaja duduk bersama Joon Jae remaja di pinggir pantai. “Kau tak bisa melakukannya. Saya hidup di dalam air dan nanti di surga yang akan kita datangi setelah mati, akankah itu tetap sama atau berbeda?,” tanya Se Hwa.

Joon Jae remaja berkata bahwa surga yang akan mereka datangi setelah meninggal adalah tempat yang sama. “Surga tidak memiliki perbedaan antara air,” tambahnya.

“Jika kita mereka bertemu di tempat lain, saya berharap kau akan menjadi dirimu dan saya akan menjadi diriku. Dengan cara itu, saya bisa mengenalimu.” ucap Se Hwa.

Joon Jae remaja: “Pasti. Jika kita bertemu kembali, kau adalah kau dan saya adalah saya.”

Se Hwa remaja: “Apa kita akan bisa mengingat apa yang kita bicarakan sekarang?”

Di dalam laut mata Se Hwa mulai tertutup, dan suara Joon Jae remaja berkata, “Saya berjanji, bahkan jika kita terlahir kembali, saya akan menemukanmu, bertemu denganmu dan melindungimu. Percakapan kita sekarang, saya akan mengingatnya.”

Kemudian tubuh Se Hwa dan Joon Jae perlahan tenggelam ke dasar laut dan gelang pemberian Dam Ryung pun terlepas dari tangan Se Hwa.

Sumber Dok Gambar: SBS TV Korea Selatan

Untuk memudahkan chingu mencari tautan sinopsis di www.aktriskorea.web.id. Silahkan chingu kinjungi juga semua tautan sinopsis di sinop.web.id

One comment

  1. Makin penasaran dengan cerita selanjutx…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*