Home / Sinopsis Drama Korea / Sinopsis The Legend of The Blue Sea Episode 14 Bagian Pertama Drama Korea

Sinopsis The Legend of The Blue Sea Episode 14 Bagian Pertama Drama Korea

Sumber Dok Gambar: SBS TV Korea Selatan

Untuk melihat semua tautan sinopsis aktriskorea.web.id, silahkan kunjungi www.sinop.web.id

[Baca juga: Sinopsis The Legend of The Blue Sea Episode 14 Bagian Kedua Drama Korea]

Setelah melihat Dam Ryung tewas karna sebuah tombak tajam yang menembus jantungnya, Se Hwa memeluknya dengan erat dan menusuk dirinya dengan tombak tajam itu. Dam Ryung dan Se Hwa pada akhirnya tewas.

Joon Jae terbangun dari hipnotisnya dan menangis dengan terisak-isak, “Saya tidak bisa melindunginya. Pada akhirnya karena saya …” Dia kembali menangis saat membayangkan Sim Chung menusuk dirinya menggunakan tombak tajam yang tertancap pada tubuh Dam Ryung: “Karena saya tidak bisa melindunginya.”

Ucapan Dam Ryung remaja terngiang dalam telinga Joon Jae yang berjanji pada Se Hwa bahwa bahkan setelah dia terlahir kembali, dia akan mencarinya, bertemu dengannya, mencintainya dan melindunginya: “Saya akan pastikan mengingatnya.”

Joon Jae berkata setelah berjanji seperti itu, dia melupakan semuanya, meskipun Se Hwa terlahir kembali dan mencarinya, bertemu dengannya, dan mencintainya, dia tak bisa mengingatnya dan hanya membuatnya menangis.

“Saya tidak bisa melindungi apapun,” ucap Joon Jae sambil menangis.

Dae Young berdiri di depan pintu ruangan seorang dokter, dan saat dia membuka pintunya, dia mendapati Joon Jae ada disana sedang menceritakan apa yang ia lihat di alam bawah sadarnya bagaimana Dam Ryung harus tewas untuk menyelamatkan Se Hwa yang terperangkap di jaring, dan pada akhirnya mereka berdua meninggal karna Se Hwa menusuk dirinya menggunakan tombak yang menusuk Dam Ryung.

Si terapis berkomentar itu adalah takdir yang menyedihkan, sementara Joon Jae bertanya-tanya mengapa mereka terlahir kembali dan kembali bertemu.

Si terapis berkata bahwa bagi seseorang yang terlahir kembali, itu berarti ada sebuah mimpi yang belum terpenuhi, dan bahwa mimpi itu bisa saja sebuah cinta yang belum terpenuhi atau bisa saja sebuah ketamakan yang belum terpuaskan.

Joon Jae bertanya mengapa takdir malapetaka kembali terulang, dan si terapis bertanya diantara dua takdir ini mana yang  benar-benar merupakan takdir malapetaka – apakah takdir antara Joon Jae dan orang yang berusaha untuk menyakitinya, atau takdir antara dirinya dan orang yang ia cintai.

Si terapis berkata, “Jika kau tidak mencintainya dan jika dia tidak mencintaimu, maka tidak akan ada akhir tragis seperti itu. Cinta kalian pada akhirnya membunuh satu sama  lain. Apa ada takdir yang lebih buruk dari itu?”

Joon Jae bertanya apa dia berpikir semua ini akan kembali terulang, dan si terapis menjawab jika dia berhenti disini dan mengirim wanita itu kembali di tempat dimana dia seharusnya berada, dia akan bisa menghindari akhir yang tragis.

Joon Jae berkata tidak, karna fakta bahwa semua kembali terulang bukan sebuah kutukan tapi sebuah kesempatan – sebuah kesempatan untuk mengubah akhirnya.

Dalam perjalanan pulang, Joon Jae kembali merenungkan pertanyaan terapis kenalannya – apa dia percaya bisa merubah takdir itu. Kita melihat Joon Jae berkata pasti ada alasan mengapa dia mengingat semuanya. “Kali ini … saya akan melindunginya. Saya pastikan akan melindunginya,” ucap Joon Jae.

Dia mengeumudikan mobilnya dengan kecepatan penuh, dan sesampainya ia di rumah Joon Jae dengan tergesa-gesa bertanya Chung ada dimana. Nam Doo berkata tak tahu, dia baru saja keluar. Setelah Joon Jae pergi dengan tergesa-gesa untuk menyusulnya, Nam Doo berkomentar, “Ketika seorang pria dibutakan oleh seorang gadis, dia akan menjadi seperti itu. Dia sama sekali normal sebelumnya.”

Joon Jae berlari dengan kencang untuk menyusulnya. Saat mendapati Sim Chung sedang  berada di depan mesin pengambil boneka, dia menghampirinya dan memeluknya dengan erat. “Heo Joon Jae, apa kau bermimpi mengerikan?,” tanya Sim Chung yang tampak bingung karna tiba-tiba dipeluk.

“Mimpi yang menakutkan. Saya telah menyelesaikannya. Saya tidak akan memimpikannya lagi,” ucap Joo Jae. Joon Jae menatap Sim Chung, dan sejenak mengingatkannya akan wajah Se Hwa di jaman Joseon. Dia kemudian bertanya apa ada sesuatu yang ingin Sim Chung  lakukan.

“Sesuatu yang ingin kau lakukan. Ayo kita lakukan semuanya,” ucap Joon Jae. Sim Chung: “Semuanya.” Joon Jae: “Ya. Semuanya.”

Sim Chung berkata mereka seharusnya menikmati formalitas yang kosong dan kesia-siaan, dan menjelaskan bahwa sebenarnya ada tiga tingkatan cinta: Cinta yang romantis, cinta yang panas dan cinta yang kotor.

Dia menyarankan agar mereka melakukan cinta yang romantis. Joon Jae bertanya cinta romantis seperti apa, dan Sim Chung menjelaskan seperti formalitas yang sia-sia — minum teh, nonton film, makan bersama, merencanakan acara khusus, mengungkapkan cinta, dan hal-hal seperti itu. Sim Chung menambahkan bahwa ‘semua itu akan bergerak pada cinta yang kotor.’ Sim Chung mengakui dia juga penasaran tentang hal itu, tapi yang ia tahu semua itu hanya bisa dilakukan oleh orang ahli, dan menambahkan bahwa jika mereka dengan ceroboh mendekatinya, itu bisa berakhir dengan cara yang menjijikkan, sehingga dia memperingatkan agar mereka berhati-hati dan lebih baik terlebih dahulu menikmati formalitas yang sia-sia.

Joon Jae setuju, dan mengajak Sim Chung melakukan semuanya.  Mereka berjalan bersama sambil bergandengan tangan dengan romantis, saling menyuapi satu sama lain di sebuah warung makan jalanan dan bahkan kemesraan mereka menjadi perhatian dua orang pelanggan yang kebetulan makan disana, dan bahkan bermain games bersama-sama.

Mereka kemudian nonton film ‘Titanic,’ dan Sim Chung menangis dengan terisak-isak sampai Joon Jae harus menenangkannya meskipun sedikit tertawa kecil melihat tingkahnya yang imut karna menangis.

Setelah ruangan bioskop kosong, petugas kebersihan mendapati beberapa mutiara di tempat kursi Sim Chung.

Selesai nonton, mereka singgah di sebuah restoran. Joon Jae kemudian menyinggung tentang tokoh pria yang meninggal karna menyelamatkan kekasihnya dalam film yang mereka tonton. Sim Chung masih merasa sedih, dan Joon Jae meyakinkan Sim Chung bahwa hal itu tidak akan terjadi dan memintanya untuk tidak memikirkannya terlalu mendalam, dan kemudian Joon Jae bertanya jika dia mati seperti itu, apa yang akan dilakukan oleh Sim Chung.

Sim Chung tanpa berpikir menjawab dia akan mengikutinya, dan menambahkan: “Jika kau hidup, saya harus hidup bersamamu dan jika kau mati, saya harus mati bersamamu.”

“Apa kau bodoh?,” tanya Joon Jae dengan kesal. Joon Jae berkata bahwa pria yang meninggal itu berpesan pada kekasihnya untuk mendengarkan permintaannya agar dia akan tetap hidup dan tidak akan menyerah, hidup sampai akhir, menemukan orang yang baik dan  bertambah tua dengan bahagia.

Sim Chung bertanya, “Apa kau akan melakukannya? Jika saya tidak ada di dunia ini, apa kau akan bertemu dengan orang yang baik dan bertambah tua dengan bahagia?.” Joon Jae sejenak terdiam, dan berkata ya, dia akan melakukannya dan meminta Sim Chung melakukan hal yang sama.

“Seandainya, seandainya benar-benar terjadi sesuatu padaku, kau hidup dengan baik. Jangan menyerah. Hal-hal yang baik, hal-hal yang indah, miliki semuanya,” ucap Joon Jae dengan nada yang serius.

Sim Chung bertanya  ada apa dengannya, mengapa berubah menjadi serius seperti itu: “Apa sesuatu akan benar-benar terjadi padamu?.” Joon Jae meyakinkan Sim Chung bahwa itu hanya ‘seandainya,’ dan memintanya untuk berjanji jika sesuatu terjadi, Sim Chung tidak akan memikirkan pikiran yang aneh-aneh: “Berjanjlah sampai akhir, kau akan hidup dengan baik.”

Sim Chung berkata tidak, karna dia merasa jika dia berjanji sesuatu yang buruk seperti itu akan terjadi. Joon Jae meyakinkan Sim Chung bahwa itu hanya ‘seandainya,’ tapi Sim Chung menegaskan bahwa dia tak suka dengan ‘seandainya’. Joon Jae sekali lagi bertanya apa  Sim Chung tidak akan berjanji padanya, dan Sim Chung bersikeras tidak akan berjanji.

Sehingga dalam perjalanan pulang, Joon Jae hanya diam saat mengemudikan mobilnya dan bahkan menolak untuk memegang tangan Sim Chung. Sim Chung tetap tidak menolak dan bertanya mengapa dia harus membuat janji seperti itu. Joon Jae tak menjawab dan keduanya hanya diam-diaman di dalam mobil, bahkan sesampainya di rumah Joon  Jae mengabaikan Sim Chung dan malah memanggil Tae Oh untuk bicara.

Nam Doo bertanya apa Sim Chung dan Joon  Jae bertengkar, karna menyadari atmosfir yang aneh terjadi di antara mereka. Sim Chung menjawab bahwa Joon Jae terus mengatakan hal-hal yang aneh, seperti jika sesuatu terjadi padanya dia harus hidup dengan baik. Nam Doo berkomentar bahwa waktu itu telah tiba, dan Joon Jae telah lelah. Dia menjelaskan bahwa waktu sah akan cinta adalah tiga bulan, dan sekarang Joon Jae dan Sim Chung telah memasukinya.

Nam Doo memperingatkan agar Sim Chung mengatasi ini dengan baik atau itu sebuah KTX (kereta cepat) menuju putus, dan menambahkan bahwa dia telah mengenal Joon Jae selama 10 tahun,  dan dia belum memiliki pacar lebih dari tiga bulan. Nam Doo tersenyum sambil bergumam,”Itu benar,” membenarkan firasatnya tapi membuat Sim Chung sangat kesal.

Sementara itu, Joon Jae memerintahkan Tae Oh untuk menghubungkan sebuah saluran padanya sehingga dia bisa memonitor setiap ruangan di rumah kapanpun, dan memberikan ‘tanda’ padanya ketika terdeteksi ada usaha masuk dari luar. Tae Oh bertanya apa itu karna Dae Young, dan wajah Joon Tae tampak serius.

Beberapa saat setelah Joon Jae pergi, Dae Young datang menemui  professor Jin Gyeong Won dan berkata sudah 9 bulan mereka tak bertemu. Dae Young tahu Joon Jae tadi datang kemari dan telah melihat akhir hidupnya di Jaman Joseon. Dia juga ingin mengetahui akhir hidupnya di Jaman Josen sehingga dia bisa tahu mengapa kehidupannya menjadi seperti ini.

Dae Young berkata bahwa ketika dia dilahirkan kembali, dia selalu berpikir bahwa dia sedang dihukum, tapi sekarang dia merasa jawabannya ada dalam kehidupan di jaman Joseon. Dae Young kemudian dihipnotis, dan setelah dia tersadar Dae Young berkata, “Bukan saya.” Si terapis kemudian bertanya siapa yang membunuh mereka.

Belum sempat mendengar jawabannya, kita terpotong pada Chi Hyun yang datang ke perusahan dan mengumumkan bahwa dia yang akan memimpin rapat para investor. Chi Hyun menampik bahwa ayahnya sangat sakit, dan hanya menginformasikan kepada para pejabat tinggi perusahaaan bahwa ayahnya  melakukan sebuah perjalanan untuk memulihkan kesehatan. Dia bahkan mengumumkan bahwa ayahnya berencana untuk mundur dari pekerjaan, setelah kembali.

Salah seorang direktur berkata bahwa masih ada banyak hal yang masih harus mereka laporkan langsung pada ayahnya, tapi Chi Hyun menatapnya dengan sinis dan bertanya apa dia tidak bisa mempercayainya. Dia memperingatkan jika mereka ada di pihak ayahnya dan tidak bisa bekerja di bawah kepemimpinannya, mereka bisa keluar dari ruangan tapi tak satupun yang beranjak pergi, sehingga mereka memulai rapatnya.

Usai rapat, Chi Hyun datang menemui ayahnya di rumah sakit yang telah siuman dan memberitahukan bahwa hasil kesehatannya baik-baik saja. Ayah komplain tentang penglihatannya yang semakin memburuk, dan Chi Hyun berusaha meyakinkannya bahwa dia baru saja menjalani operasi karna pendarahan yang dialaminya, sehingga sulit melakukan operasi untuk matanya.

CEO Gil Joong bertanya apa dia telah menghubungi Joon Jae, dan  Chi Hyun mengarang cerita bahwa dia telah menghubungi Joon Jae segera setelah dia terjatuh. Dia berkata Joon Jae mungkin sedang sibuk dan berjanji akan kembali  menelpopnnya, tapi diam-diam wajah Chi Hyun berubah sinis.

Joon Jae dan Sim Chung masih ngambek-ngambekan. Joon Jae hampir tersedak saat minum ketika mendengar isi pikiran Sim Chung yang mengatainya ‘pria rendahan.’ Sambil menonton TV, Sim Chung menjelek-jelekkan Joon Jae dalam pikirannya, “Berpikiran sempit! Dia cemberut karna hal itu dan tidak akan bicara padaku? Saya pasti telah dibutakan oleh cinta. Dulu saya naif. Saya hidup di dalam air sepanjang hidupku dan datang ke daratan untuk pertama kalinya, Jadi, apa yang kutahu? Satu-satunya pria yang kebetulan kutemui adalah Heo Joon Jae. Jadi kupikir dia yang terbaik. Jika Seoul jauh, dia seharusnya memberitahuku. Dia naik pesawat, tapi  membutuhkan  3 bulan 10 hari bagiku, hanya karna dirinya, saya berenang sampai sejauh ini sampai saya berpikir tulang ekorku akan patah. Mengapa dia meminta membuat janji yang bukan-bukan?”

Joon Jae tak tahan mendengar semua ucapan buruk tentang dirinya, dan kemudian memberitahu Sim Chung berhenti. Sim Chung bertanya apa, dan Joon Jae berkata dia tahu Sim Chung sedang mengutukinya di dalam pikirannya sekarang. Sim Chung bertanya-tanya dalam pikirannya bagaimana Joon Jae bisa tahu, dan dia hanya menebak dalam pikirannya bahwa Joon Jae mungkin memiliki semacam indera sehingga bisa tahu apa yang terjadi.

Tapi Sim Chung kembali berkata dalam pikirannya, menyebut Joon  Jae sok merasa satu-satunya orang tampan di dunia yang memiliki ‘Sindrom Pangeran’ dan berpikir semua orang tertarik padanya. Joo Jae kesal, dan berteriak: “Hei!” “Apa?,” ucap Sim Chung dengan nada suara yang keras.

Nam Doo datang bergabung dan berkata berhenti: “Jika memang sudah tidak ditakdirkan bersama, putus saja.” Keduanya tak menanggapi ucapan Nam Doo, dan Joon Jae menyuruh Sim Chung jangan keluar dan tetap tinggal di rumah. Sim Chung berkata dia tak mau, karna ada sebuah janji. Joon Jae bertanya siapa yang akan dia temui, dan Sim Chung balik menanyakan hal yang sama, tapi Joon Jae terdiam. Joon Jae memerintahkan Nam Doo untuk pergi dengan Sim Chung, dan Sim Chung berkata dengan ketus, “Saya tidak mau. Ini janjiku. Saya tidak butuh siapapun.”

Joon Jae menghela nafasnya, dan berkata, “Baiklah. Lakukan apapun yang kau mau.” Setelah Joon Jae pergi, Nam Doo berkomentar dengan sebuah istilah yang aneh bahwa Joon Jae sedang ditemani oleh ‘Me-mi’ dan akan menjadi satu. Sim Chung bertanya apa itu, dan Nam Doo menjawab kesengsaraan yang menggila, orang-orang yang obsesif dan terkurung. Sim Chung berkata dia menyukainya, tapi Nam Doo berkata bahwa karna Sim Chung seperti ini, Joon Jae menjadi muak.

Ternyata Joon Jae datang menemui Sekertaris ayahnya, yang telah ia anggap sebagai paman – meskipun dia masih belum bisa bicara.  Dia kemudian memberitahu Paman bahwa di kehidupan sebelumnya, dia adalah teman baiknya dan selalu berada di sampingnya.

Joon Jae berkata kali ini, dia terlahir sedikit lebih cepat dan berada di sampingnya bahkan ketika dia masih kecil. Dia berjanji akan menemukan pelaku yang membuat keadannya seperti ini. Dia kemudian menunjukkan foto Dae Young di ponselnya, yang dicurigai Joon Jae adalah pelakunya, dan Paman mengedipkan matanya dua kali untuk mengkonfirmasinya.

Joon Jae bertanya apa ada seseorang yang berhubungan dengan Dae Young yang berada di sekitar Paman, dan dia kembali mengedipkan matanya dua kali. Sayang kebersamaan mereka terganggu oleh kedatangan Chi Hyun.

Mereka berdua pergi berbicara di kantin rumah sakit, dan Chi Hyun berusaha mengklarifikasi bahwa apa yang ia ucapkan terakhir kali – bahwa Joon Jae harus melindungi ayahnya, ucapan itu keluar hanya karna ia mabuk. Chi Hyun memberitahu  Joon Jae bahwa kesehatan ayahnya sudah jauh lebih baik sekarang, dan menambahkan bahwa ayah mereka telah memberikan semua pekerjaan perusahaan padanya dan sedang pergi melakukan perjalanan bersama temannya.

Chi Hyun kembali berbohong saat menginformasikan bahwa ayahnya telah mewariskan semua asetnya kepadanya dan ibunya. Chi Hyun berkata dia telah memberitahu ayah mereka untuk mempertimbangkan hal ini berulang kali, tapi dia menduga ayah mereka pasti terluka setelah pertemuannya dengan Joon Jae terakhir kali sehingga tidak memberinya sepeserpun.

“Apa kau  selalu menjadi seorang pria yang ramah? Saya sendiri yang membenci ayahku. Kau tidak perlu mendorongku untuk membencinya. Jika kau terus melakukan ini, sepertinya kau memiliki motif tersembunyi,” ucap Joon Jae.

Saat Joon Jae akan pergi, Chi Hyun tiba-tiba bertanya, “Bagaimana kabar Chung? Apa dia baik-baik saja?” Chi Hyun berkata bahwa dia hanya selalu memikirkannya sehingga meminta Joon Jae untuk mengirimkan salamnya padanya.

Joon Jae menolak, dan Chi Hyun berkata:”Lupakan saja, kalau kau tak mau,” dan beranjak pergi.

Si Ah terbaring di kamarnya dan begitu stres karna bingung bagaimana untuk memberitahu Joon Jae yang sebenarnya tentang ibunya. Saat pembantu rumah tangganya datang membawakan bubur untuknya karna dia sakit, Si Ah segera bangun dari tempat tidurnya dan bersikap ramah padanya. Dia tidak lagi memperlakukannya sebagai pembantu rumah tangga dan bahkan dengan sukarela membereskan sendiri piring kotornya.

Saat ibu Joon Jae akan keluar dari kamarnya, Si Ah tiba-tiba memeluknya dari belakang dan berkata, “Saya ingin melakukannya sekali ini saja.”

Ibu Joon Jae segera  melaporkan pada Jin Joo bahwa Si Ah benar-benar sangat sakit setelah melihat tingkahnya begitu aneh, tapi Jin Joo tak menanggapinya dan berkomentar bahwa Si Ah memang tidak pernah normal.

Jin Joo kebetulan menyebut nama Kang Seo Hee saat menelpon, sehingga ibu Joon Jae memberanikan diri untuk menanyakan tentang putra kandung CEO Heo. Dia mengakui mengenal putra kandungnya, tapi dia begitu terkejut saat diberitahu bahwa putra kanndung CEO Heo lari dari rumah 10 tahun yang lalu, dan sebaliknya putra kandung Kang Seo Hee yang menanangani  perusahaan.

Jin Joo membantah bahwa putra kandung CEO Heo pergi  belajar keluar negeri, tapi dia lari dari rumah. Jin Joo berkomentar bahwa CEO Heo tidak secemerlang itu, dia sendiri tak paham mengapa mengabaikan putra kandungnya, dan malah mendedikasikan dirinya pada putra orang lain hanya karna seorang wanita.

Ibu Joon Jae minta permisi untuk pergi ke suatu tempat, tapi Jin Joo menghalanginya karna harus menyiapkan snack makan siang anak-anaknya. Si Ah datang, dan mengijinkannya pergi dan bahkan bersedia menggantikannya untuk menyiapkan  makanan kecil untuk keponakannya. Sementara Jin Joo hanya menganga melihat perubahan sikap Si Ah yang begitu baik pada Yoo Ran.

Setelah Yoo Ran pergi, Jin Joo mengomel tapi Si Ah  membelanya bahwa  pasti ada sesuatu yang harus dia urus. Si Ah kemudian mengkritik Jin Joo karna memanggilnya ‘ajumma,’ dan sebaliknya menyarankan agar mereka memanggilnya ‘Ibu/Ibu mertua.” Jin Joo protes harus memanggilnya ‘Ibu’ karna  perbedaan usia antara dia dan pembantu rumah tangga mereka tidak jauh, dan Si Ah malah  berkata – ‘Ibu’ adalah berbagi makanan yang sama dan tidur di atap yang sama. Tapi Si Ah tiba-tiba berteriak histeris saat menyadari: “Saya bahkan membiarkan Ibu mencuci pakaian dalamku!”

Ibu Joon Jae datang ke rumah mantan suaminya, dan saat berdiri di depan pintu gerbang kita kembali flashback: Ibu Joon  Jae membawa koper untuk pergi meninggalkan rumah suaminya dan bertemu dengan Seo Hee dan putranya di depan.

Sebelum pergi, Yoo Ran  meminta Seo Hee untuk membesarkan Joon Jae dengan baik, tapi Seo Hee berpesan agar dia tidak muncul sampai Joon Jae dewasa agar dia bisa terbiasa dengan keluarga barunya. Seo Hee bahkan berjanji dia akan mencintai dan membesarkan Joon Jae lebih dari putranya.

Kembali ke masa sekarang, Yoo Ran menarik dalam nafasnya sebelum memencet bel pintu rumahnya. Seo Hee mempersilahkannya masuk, dan berpura-pura menyapanya dengan ramah sayang Yoo Ran sudah tahu yang sesungguhnya tentang Joon Jae.

Sumber Dok Gambar: SBS TV Korea Selatan

Untuk melihat semua tautan sinopsis aktriskorea.web.id, silahkan kunjungi www.sinop.web.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*