Home / Sinopsis Drama Korea / Sinopsis The Legend of The Blue Sea Episode 17 Bagian Kedua Drama Korea

Sinopsis The Legend of The Blue Sea Episode 17 Bagian Kedua Drama Korea

[Baca juga: Sinopsis The Legend of The Blue Sea Episode 17 Bagian Pertama Drama Korea] 

Yoo Ran datang menjenguk Sekertaris Nam yang tengah terbaring koma di rumah sakit. Istri Sekertaris Nam lega mendengar dia telah bertemu dengan Joon Jae, dan Ibu Joon Jae berusaha menghiburnya bahwa ia yakin Sekertaris Nam juga akan segera bangun dari komanya. Istri Sekertaris Nam berkata butuh sebuah keajaiban agar suaminya bisa pulih dalam kondisinya seperti ini, tapi  selama mereka hidup suaminya selalu dalam pihak yang tidak beruntung.

Ibu Joon Jae berusaha membantunya untuk berpikir positif, memberitahunya bahwa hal yang buruk dan baik diukur untuk setiap orang dan karna sampai sekarang mereka terus mengalami hal yang buruk, maka sekarang yang tersisa hanya hal yang baik – seperti sebuah keajaiban.

Di alam bawah sadarnya, Sekertaris Nam kembali bermimpi dia melihat dirinya di kehidupan sebelumnya, bersembunyi dari kejaran dua orang pria yang mengejarnya dengan membawa sesuatu yang sangat penting di tangannya karna permintaan Dam Ryung, tapi dia ketahuan oleh salah satu dari mereka – pria yang mirip dengan Nam Doo di kehidupan sekarang.

Dan kita melihat tangan sekertaris Nam yang tengah koma sedikit bergerak.

Nam Doo datang ke sea world  dan menyamar sebagai Choi Min Gyu dan bertemu dengan manajer disana. Dia diajak berkeliling disekitar sea world dan Manajer menjelaskan nilai yang sangat fantastis  untuk hiu harimau pasir atau hiu paus yang bernilai 1 milyar won.

Mulut Nam Doo menganga, dan bertanya berapa harga seekor putri duyung. Dia menjelaskan bukan semacam bintang di sebuah acara pertunjukan putri duyung, tapi putri duyung sungguhan.

Si manajer tertawa kecil seolah tak percaya. Tapi dia sendiri pernah mendengar  ada sebuah insiden ketika sebuah bangkai yang ditemukan yang dianggap seekor putri duyung telah ditemukan – meskipun  belum diketahui itu hoax atau bukan.  Meskipun demikian, dia memberikan taksiran harga jika putri duyung sungguhan itu benar-benar ada bisa bernilai sekitar beberapa ribu miliar won. Manajer itu bertanya mengapa Nam Doo menanyakan tentang hal itu, dan Nam Doo menjawab dia hanya penasaran. Nam Doo berkata dia memiliki seorang teman yang kebetulan berteman dekat dengan putri duyung, tapi si  manajer malah tertawa, mungkin karna mengira dia hanya bercanda. Tapi sepertinya Nam Doo telah mengeatahui siapa sebenarnya Sim Chung.

Flashback: Nam Doo berdiri di dekat kolam renang dan  bertanya-tanya mengapa saat itu dia menyuruh  Sim Chung menangis. Dia datang ke kamar loteng Sim Chung untuk memeriksa sesuatu, dan mendapati sekumpulan  mutiara di sebuah tempat yang mengkonfirmasi firasatnya.

Kemudian dia  tanpa sengaja mendengar saat Joon  Jae sedang berbicara empat mata di dekat kolam renang dan memanggil Sim Chung ‘putri duyung yang sedang berpura-pura. ’

Kembali ke masa sekarang, Nam Doo  memandangi ikan-ikan yang ada di dalam akuarium – entah apa yang sedang ia pikirkan.

Dua sahabat Sim Chung – Yoo Na dan si tunawisma segara datang ke rumahnya setelah dia tiba-tiba menelpon mereka. Mereka berkumpul di kamar lotengnya dan Sim Chung berkata dia hanya ingin melihat wajah mereka, tapi dia berkata dalam pikirannya bahwa dia mungkin harus meninggalkan tempat ini dalam waktu dekat dan sebelumnya harus mengucapkan selamat tinggal.

Yoo Na bisa mendengar isi pikirannya, sehingga Sim Chung memberinya tanda untuk diam. Dia berkata Yoo Na adalah teman pertamanya yang baik hati yang ia temui ketika datang disini, dan kapanpun dia mengalami kesulitan, Yoo Na bisa menjadi seseorang yang bisa dia andalkan dan kadang-kadang Yoo Na lebih seperti seorang kakak baginya. Meskipun demikian, Yoo Na berkata itu terdengar sebuah beban baginya.

Si tunawisma bertanya bagaimana dengan dirinya, dan apa artinya dirinya bagi Sim Chung. Sim Chung berkata dia adalah seorang guru, dan ketika dia datang kesini tanpa mengetahui apapun, dialah yang mengajarkan segalanya. Sim Chung berkata dia sangat pandai, dan kisahnya terlalu bagus untuk tidak dibagikan.

Si tunawisna berkata tapi Sim Chung satu-satunya orang yang mendengarkannya, dan bahwa jika dia mencoba untuk mengajak orang lain berbincang, mereka malah memberinya uang atau malah meludahinya. Si tunawisma menebak hal itu karna penampilannya. Meskipun demikian Sim Chung berkata, terlepas dari penampilannya, dia adalah pelatih yang sangat hebat baginya: “Tidak sengaja bertemu denganmu disini adalah sebuah keberuntungan.”

“Mereka mengatakan bahwa kehidupan adalah serangkaian kesempatan pertemuan,” ucap si tunawisma. “Ketika kau menghargai kesempatan pertemuan itu, maka kehidupan akan diisi dengan hubungan yang baik, atau jika tidak, kehidupan akan menjadi kesepian.”

Sim Chung memujinya, bahwa apa yang ia katakan langsung masuk ke telinganya karna dia adalah pengajar kehidupan yang sangat hebat. Yoo Na setuju, dan berkata bahwa dia juga selalu belajar ketika bersamanya. Sim Chung kemudian memeluk kedua temannya sebagai tanda perpisahan.

Si Ah memberanikan diri menelpon Joon Jae dan mengajaknya bertemu di sebuah kafe untuk membicarakan sesuatu. Joon Jae setuju dan juga memberitahunya bahwa ada sesutau yang ingin ia beritahu padanya. Bertemu di kafe, Joon Jae yang berinisiatif untuk berbicara duluan, berkata bahwa Si Ah pasti sudah mendengar tentang ibunya.

Si Ah berkata ia sudah tahu, dan menambahkan bahwa saat mereka tinggal di rumah yang sama, entah mengapa ibunya tampak lebih ramah dan tidak terasa seperti orang asing tapi setelah mendengar bahwa dia adalah ibunya membuatnya menjadi asing.

Si Ah memberanikan diri berkata, “Untuk saat-saat seperti ini pasti ada hubungan.” Joon Jae bertanya hubungan seperti apa, dan Si Ah awalnya ragu sampai akhirnya dia memberanikan dirinya untuk mengakui bahwa dia sangat menyukainya bukan sebagai seorang teman, tapi sebagai seorang pria.

Si Ah mengaku selama 7 tahun ini dia lebih sering melihat belakang Joon Jae ketimbang matanya. Dia berkata akan menunggu, meskipun dia tahu telah ada Sim Chung di hatinya. Si Ah berkata Sim Chung adalah wanita yang aneh, unik, penuh pesona, dan cantik, tapi dia tak percaya Sim Chung akan tetap tinggal terus bersamanya.

Tapi Joon Jae segera memotong ucapannya, dan berkata dengan tegas, “Jangan menungguku. Chung tidak akan pergi kemanapun. Dia akan tetap tinggal bersamaku. Bahkan jika Chung pergi ke tempat lain, saya akan mengikutinya, jadi jangan menungguku, Si Ah.”

Joon Jae menasihatinya agar mulai dari sekarang, dia jangan melihatnya bahkan dari belakangnya tapi sebaiknya menemukan seorang pria yang baik hati yang bisa menatap matanya. Dia minta maaf karna baru memberitahu hal itu sekarang, dan Si Ah hanya bisa menangis setelah cintanya ditolak.

Usai bertemu dengan Si Ah, Joon Jae pulang ke rumah, tapi dia mendapati Chi Hyun telah menungguinya di luar rumah.  Joon Jae bertanya mengapa dia ada disini, dan kemudian menghadiahinya dengan dua pukulan di wajahnya.

Chi Hyun balik bertanya mengapa dia datang ke rumah mereka. Dia memberitahu Joon Jae bahwa Ayah mereka mengatakan dia tidak ingin bertemu dengan putranya yang seorang penipu. Joon Jae menarik kera bajunya dan menyuruhnya menutup mulutnya. Namun Chi Hyun berkata bahwa apa yang ia katakan benar, bahwa Joon Jae adalah seorang penipu.

Joon Jae bertanya mengapa Chi Hyun tidak memberitahu tentang mata Ayah mereka, dan Chi Hyun membela diri bahwa dia telah memberitahu Joon Jae, tapi Joon Jae sendiri yang mengabaikannya. Joon Jae memperingatkan bahwa  hal itu terjadi karna ibunya: “Apa kau tahu tidak tahu semua yang yang telah dilakukan oleh ibumu? Apa kau terus membiarkannya meskipun kau tahu semuanya?”

“Mengapa?,” teriak Joon Jae. “Kau bilang dia adalah ayah pertama yang kau miliki, bagaimana bisa kau melakukannya?” Joon Jae memperingatkan agar Chi Hyun menghentikan ibunya untuk berbuat sesuatu yang lebih jauh pada ayahnya karna dia tidak akan tinggal diam,  kalau tidak dia mengancam akan membunuh mereka berdua – dia dan ibunya.

Joon Jae mendorongnya dan kemudian berjalan pergi, tapi Chi Hyun berkata bahwa Joon Jae sengaja mengirim Chung datang menemuinya supaya dia bisa masuk ke dalam rumahnya: “Apa kau pikir kau dalam posisi untuk melindungi seseorang?” Tapi Joon Jae mengabaikannya, dan berjalan pergi.

Joon Jae masuk ke kamarnya dan naik ke kamar loteng Sim Chung untuk mematikan sebuah lagu yang sedang diputar oleh Sim Chung dengan volume yang keras.

Joon Jae tahu Sim Chung sengaja memutarnya agar dia tidak mendengar isi pikirannya, sehingga Joon Jae mendesaknya untuk diberitahu isi pikiranya dan memberikan penjelasan mengapa dia murung seperti ini.

Sim Chung kemudian menyinggung gelang giok yang ia berikan pada Joon Jae. Dia berkata ketika menemukannya di laut yang dalam, dia berpikir itu sebuah kebetulan, tapi ketika kembali memikirkannya itu bukanlah sebuah kebetulan.

“Itu adalah saat ketika semuanya kembali dimulai,” ucap Sim Chung. “Saya selalu bertanya-tanya apa alasannya sehingga saya berenang sejauh itu disepanjang laut untuk bertemu denganmu. Tapi itu bahkan berubah menjadi takdir. Takdir yang tidak seharusnya kembali di mulai.”

Joon Jae bertanya apa yang sedang ia bicarakan, dan Sim Chung bertanya mengapa dia berbohong bahwa di kehidupan sebelumnya mereka hidup dengan baik, tidak sakit atau tidak terluka, umur panjang dan bahagia sampai usia lanjut.

“Itu tidak berakhir bahagia,” ucap Sim Chung. “Di akhirnya kita meninggal: Kau karna diriku, dan Saya karna dirimu. Di laut yang dingin.”

Joon Jae bertanya bagaimana dia bisa tahu, dan Sim Chung memberitahunya bahwa ia telah memegang tangan Dae Young untuk menghapus semua kisahnya, tapi sebaliknya hal itu malah membuatnya melihat kisah terakhir mereka yang tertinggal dalam ingatannya.

Sim Chung berkata dia akhirnya mengetahui arti dari mimpi mengerikan yang ditakutkan oleh Joon Jae. “Jadi, saya, adalah mimpi menakutkan bagimu,” tanya Sim Chung. ”Tidak,” jawab Joon Jae, dan Sim Chung bertanya apa Joon Jae masih menginginkan mengambil jalan itu lagi meskipun tahu hal itu akan terulang.

Joon Jae berkata dengan mata yang berkaca-kaca, “Saya bilang itu tidak betul. Siapa yang bilang itu kembali terulang? Itu tidak akan terulang.”

Sim Chung: “Saya tidak seharusnya datang. Maka tidak akan ada yang kembali dimulai.”

Joon Jae bertanya: “Jadi? Apa kau menyesalinya? Bertemu denganku, datang kesini dan kita yang bersama-sama?”

Sim Chung teringat setiap momen pertemuan pertama mereka saat berada di Barcelona, dan pertemuan pertama mereka di Korea – saat pertama kali bertemu dengan Joon Jae di akuarium laut dan saat menyaksikan kembang api di sungai Han bersama-sama, sampai saat pertama kali berjalan bersama di tengah hujan yang deras di bawah payung.

Chung: “Tidak. Saya tidak menyesalinya.Bagaimana bisa saya menyesalinya?”

Joon Jae: “Saya juga sama. Meskipun mengetahui semuanya, saya tidak bisa menyesalinya. Bertemu denganmu adalah sesuatu yang tidak bsia kusesali tidak perduli bagaimana saya melihatnya.”

Chung: “Saya takut kau akan mati karnaku.”

Joon Jae: “Maksudku seandainya, apa yang kau takutkan terjadi, jantungmu harus terus berdetak. Kau harus tahu ini dari sekarang, bahwa bahkan jika saya tidak berada disampingmu, saya akan terus mencintaimu.”

Tae Oh sedang asyik bermain games saat Si Ah tiba-tiba menelpon dan memakinya: “Hei kau sialan! Saya hancur karna dirimu. Apa yang harus kulakukan sekarang?”

Dia menangis dengan terisak-isak sambil menyanyikan sebuah lagu di tempat karaokean. Tae Oh menyusulnya, dia berdiri disana dan tersenyum tipis entah karna  Si Ah tampak lucu dengan ekspresi patah hatinya atau karna sesuatu yang lain ????

Si Ah bertanya pada Tae Ho dengan nada yang lirih menggunakan sebuah mic di tangannya, “Hei, Tae Ho, apa kau sesakit ini? Apa kau sesedih ini? Bagiku … Bagiku … Terasa sakit seakan hatiku akan terkoyak. Saya benar-benar … sangat menyukainya sudah sangat lama.” Dan entah mengapa Tae Oh duduk disampingnya dan kemudian menarik Si Ah ke dalam dekapannya untuk menenangkannya dan Si Ah menangis dengan tersedu-sedu dalam pelukannya.

CEO Gil Joong tiba-tiba terbangun di tengah malam dan mendapati Seo Hee tidak ada disampingnya. Dia keluar sambil meraba-raba setelah penglihatannya rusak, dan turun  ke lantai bawah untuk mengambil ponselnya. Seo Hee sedang berbicara dengan Dae Young di ruang tamu dan menyuruhnya tinggal di ruangan basement untuk sementara saat siang hari dan dia boleh naik ke atas di malam hari setelah pengurus rumah tangga mereka pulang pukul 5 sore.

Rumah mereka telah disadap sehingga Detektif Hong dan asistennya mendengar perbincangan mereka. Mereka bertanya-tanya siapa sebenarnya yang sedang diajak bicara oleh Seo Hee, karna orang yang diajak bicara oleh Seo Hee tidak mengatakan sepatah katapun.

Seo Hee memerintahkan Dae Young agar dia berpura-pura membantu CEO Gil Joong sebagai sekertarisnya dan memastikan tidak ada seorang pun yang menghubunginya. Tapi Seo Hee malah dibuat prustasi dengan sikap Dae Young yang tampak seperti orang kebingungan.

Seo Hee bertanya dengan nada yang prustasi, “Apa kau masih tak bisa mengingat apapun?.” Dae Young menggelengkan kepalanya dan Seo Hee berkata: “Sadarlah. Demi tuhan, kita sudah hampir mencapai akhir.”

CEO Gil Joong mendengar perbincangan mereka di balik pintu, tapi kakinya tidak sengaja menabrak anak tangga saat akan kembali ke kamarnya. Seo Hee mendengar sebuah bunyi sehingga Seo Hee segera berdiri dari kursinya untuk memeriksa. CEO Gil Joong bersembunyi, sayang karna buta dia tidak menyadari tempat ia bersembunyi transparan oleh sebuah kaca sehingga Seo Hee memergokinya.

Detektif Hong memperdengarkan rekaman hasil penyadapan mereka di rumah CEO Gil Joong kepada Joon Jae tentang pembicaraan Seo Hee yang memerintahkan seseorang untuk mencegah ayah Joon Jae keluar ataupun menghubungi seseorang melalui ponsel.

Mereka tak tahu siapa yang sedang diajak bicara oleh Seo Hee, tapi Sim Chung yang juga ikut mendengarkan suara rekaman itu menebak orang itu adalah “Ma Dae Young.” Sim Chung memberitahu mereka bahwa saat ini dia tidak bisa mengingat apapun.

Detektif Hong bertanya mengapa Sim Chung bisa tahu Dae Young tidak mengingat apapun, dan Joon Jae hanya merespon bahwa dia bisa menanyainya langsung pada Dae Young ketika menangkapnya. Detektif Hong memberitahu Joon Jae bahwa mereka akan mendapatkan surat izin penggeledehan esok hari, tapi Nam Doo diam-diam menoleh pada Sim Chung, sepertinya mencurigai ada rahasia lain mengapa dia bisa tahu Dae Young lupa ingatan.

Seo Hee kemudian datang membawakan obat untuk ayah Joon Jae, dan juga memastikan ponsel suaminya tidak ada di dalam kamarnya. CEO Gil Joong bertanya sejak pertama kali mereka bertemu, apa ada satu momen ketika dia mencintainya. Seo Hee berbohong padanya saat berkata tak ada satu momenpun dia tidak mencintainya.

CEO Gil Joong tahu dia berbohong dan diam-diam membuang obatnya ke tempat sampah, tapi dia tak menyadari bukan air putih yang diberikan oleh Seo Hee, tapi sepertinya sejenis minuman yang telah dicampur sesuatu, sehingga karna dia buta dia langsung meneguknya. Sementara asisten Detektif Hong yang mengawasi rumah CEO Gil Joong menyalakan mesin mobilnya  untuk membuntuti Seo Hee saat dia pergi keluar dari rumah.

Di jalan, Seo Hee menelpon Chi Hyun dan mengajaknya untuk minum bersama, tapi Chi Hyun yang menaruh sedikit curiga menolak, beralasan bahwa dia ada jadwal dan sedang bersama orang lain. Setelah menutup telponnya, Chi Hyun segera memerintahkan supir pribadinya untuk secepatnya kembali ke rumah.

Setelah meminum airnya, CEO Gil Joong tiba-tiba merasa sakit di dadanya. Dia bergegas bangun dari tempat tidur, mengambil ponsel yang ia sembunyikan di bawah tempat tidurnya. Dia mengerahkan kekuatannya untuk mengaktifkan ponselnya dan menelpon Joon Jae, sayang Joon Jae sedang berdiskusi dengan Detektif Hong di ruang tamu sehingga tidak mendengar suara ponselnya yang berdering di dalam kamarnya.

Chi Hyun tiba di rumah dan mendapati Dae Young  akan keluar untuk membuang bunga kesukaan ibunya. Dia berkata, “Kau seharusnya belum berada di rumah,” dan Chi Hyun segera naik ke lantai atas untuk memeriksa kondisi ayahnya.

Setelah selesai berdiskusi dengan Detektif Hong, Joon Jae kembali ke kamarnya dan mendapati sebuah pesan suara dari ayahnya yang berbunyi: “ Joon Jae … Ayahmu salah. Joon Jae … “

Menyadari ayahnya berada dalam bahaya, dia mengambil kunci mobilnya dan bersiap untuk pergi, tapi sebelum itu dia berpesan pada Nam Doo untuk menghubungi Detektif Hong. Dia juga berpesan bahwa malam ini dia mungkin tidak akan pulang ke rumah sehingga meminta Nam Doo untuk menjaga Chung.

Setelah Joon Jae pergi, Nam Doo  diam-diam menatap Sim Chung dari belakang, seolah ada sesuatu yang sedang ia rencanakan dalam pikirannya.

Joon Jae mengemudikan mobilnya dengan kencang dan kembali  menyalakan pesan suara ayahnya yang berbunyi: “Kau benar. Keputusanku salah dari awal hingga akhir. Saya tak tahu mengapa mengakuinya sangatlah sulit. Saya tak tahu mengapa membutuhkan waktu yang sangat lama. Saya selalu merindukanmu ……dan ibumu. Saya ingin kembali ke masa-masa itu. Mengapa saya hidup tanpa menerima perasaan itu? Mengapa kata ‘saya minta maaf’ begitu sulit untuk diucapkan. Saya sangat menyesal sekarang.”

“Seandainya saya terlahir kembali, saya ingin sekali lagi hidup sebagai suami istriku dan ayah putraku. Saya kira itu hanya keserakahan saya? Maaf Joon Jae. Aku mencintaimu putraku.”

Joon Jae menangis saat mendengar pesan ayahnya, tapi sesampainya di rumah ayahnya dia malam mendapati dua orang sedang membawa sebuah tandu mayat. Dia perlahan menghampiri tandu itu, dan dia begitu terpukul saat mendapati ayahnya telah meninggal.

“Itu tidak benar. Seharusnya itu tidak terjadi. Itu tidak seharusnya selesai, Ayah.” tangis Joon Jae.

Joon Jae menangis dengan terisak-isak  dan saat mobil ambulance itu membawa pergi mayat ayahnya, Joon Jae berteriak sambil menangis: “AYAH. Ayah, maaf. Maaf.”

2 comments

  1. kalau boleh tau judul lagu yang dinyanyikan si ah di karaoke apa? makasih ^^

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*