Home / Sinopsis Drama Korea / Sinopsis The Legend of The Blue Sea Episode 19 Bagian Kedua Drama Korea

Sinopsis The Legend of The Blue Sea Episode 19 Bagian Kedua Drama Korea

Sumber Dok Gambar: SBS TV Korea Selatan

Untuk melihat semua tautan sinopsis aktriskorea.web.id, silahkan kunjungi www.sinop.web.id

[Baca juga: Sinopsis The Legend of The Blue Sea Episode 19 Bagian Pertama Drama Korea]

Saat Ibu tiri Joon Jae dibawa keluar dari kantor polisi, telah ada banyak reporter yang berkumpul untuk meliputnya dan beberapa orang bahkan melemparinya dengan telur, meneriakinya: “Kau bukan manusia.” Melihat diantara kerumunan massa itu ada Yoo Ran, Ibu Tiri Joon Jae berteriak di depannya bahwa  dia belum menang, dan ini belum berakhir.

Dae Young menonton berita tentang penangkapan Seo Hee yang berteriak histeris ‘’Jangan mengakhirinya seperti ini! Jangan mengakhirinya.” Dae Young kemudian mengambil ponselnya dan menghubungi Profesor Jin Kyung.

Setelah dihubungi oleh Dae Young, Profesor Jin Kyung kemudian menelpon Joon Jae  untuk menginformasikan bahwa Dae Young akan datang ke tempatnya. Sebelum menyusul ke tempatnya, Joon Jae menghubungi Nam Doo dan memintanya untuk menghubungi Detektif Hong.

Dae Young berkata dia hanya mengingat saat dia  bertemu dengan gadis itu, dan Profesor Jin Kyung bertanya mengapa dia tiba-tiba ingin mencari ingatannya. Dae Young menjawab, “Apa anda pernah berkeliling tanpa ingatan? Perasaan terjebak dalam kayu dengan dua mata tertutup tapi mendengar suara hewan-hewan dimana-mana. Ketakutan tergigit oleh hewan bukan itu yang sulit, tapi ketakutan tidak mengetahui kapan dan dimana itu akan melompat ke arahmu. Itulah yang membuatku menggila.”

Profesor Jin Kyung bertanya bukanlah  lebih baik ketakutan dibanding kenyataan. “Aku harus tahu,” ucap Dae Young. “Karena sebuah dosa yang bahkan tidak  bisa kuingat. Aku tak bisa hidup membayar hukumannya.”

Dia kemudian berbaring dan dihipnotis untuk bermimpi di alam bawah sadarnya tentang kehidupan sebelumnya.

Flashback ke Jaman Joseon: Selir Tuan Yang meminta seorang dukun yang ia kenal sebagai dukun terbaik yang bisa memberitahu nasib seseorang untuk membacakan nasib mereka, yang merupakan reinkarnasi dari Profesor Jin Kyung di kehidupan sekarang.

Si dukun itu berkata bunga-bunga indah yang menembus salju yang keras dan bermekaran dimana pun akan menjadi miliknya. Meskipun selir Tuan Yang sedikit kecewa itu bukan emas, dan si dukun menambahkan bahwa aroma dari bunga yang memikat itu akan menyerap dalam celah-celah tubuhnya sampai ia mati. Dia berkata bahkan jika mereka mati dan terlahir kembali, mereka tidak akan meninggalkan satu sama lain dan akan bersama-sama.

Selir Tuan Yang bertanya apa itu berarti sesuatu yang baik, dan si dukun berkata, “Dosa tidak bisa menentukan nasib baik dan buruk.”

Tuan Yang bertanya bagaimana dengan dirinya. Si dukun hanya menjawab, “Sebuah pohon yang terkena petir masih memiliki nyawa yang tersisa sehingga kembali bertumbuh. Apa kau menerima hukuman agar kau bisa hidup? Atau kau hidup supaya kau bisa menerima hukuman? Kau akan menjalani kehidupan yang membingungkan.”

Si dukun menambahkan bahwa dia mungkin akan terkena petir dan terbakar menjadi abu hitam: “Akan lebih baik jika kau tidak terlahir kembali. Tapi ini juga sebuah takdir dimana kau tak punya pilihan,” dan Tuan Yang dibuat geram mendengarnya.

Kemudian  kita melihat Tuan Yang melarikan diri bersama selirnya yang dibantu oleh Park Moo, tapi tiba-tiba saja dia melayangkan pedangnya ke arahnya. Park Moo memperkenalkan dirinya adalah anak dari Park Na Joon, orang yang telah dibunuh oleh Tuan Yang, setelah ayahnya mengancam akan membeberkan kejahatan perampokan yang ia lakukan di laut.

“Ini untukku dan untuk Kim Dam Ryung,”  ucap Park Moo saat menusuk Tuan Yang dengan pedangnya.

Sebelum menghembuskan nafas terakhirnya, Tuan Yang berkata  dia akan terlahir kembali dan akan memiliki semuanya apa yang tak bisa ia miliki di dunia ini. “Lakukan saja,” ucap Park Moo. “Seberapa kalipun kau bereinkarnasi, sebanyak itu pun saya akan membalas dendam.”

Kemudian Park Moo meminumkan racun pada Selir Tuan Yang, ekstrak dari bunga wolfsbane  — sebuah bunga indah yang menghasilkan racun mematikan, sebagai pembalasan atas perbuatannya yang telah memasukkan racun pada minuman ayahnya. Sahabat Dam Ryung maupun Park Moo akhirnya menyaksikan kematian mereka berdua.

Kembali  ke masa sekarang. Dae Young akhirnya sadar setelah melihat semua kejadian tentang kehidupannya di Jaman Joseon – entah itu dia, si putri duyung dan Dam Ryung. Dae Young menoleh pada Profesor Jin Kyung  dan berkata bahwa dia selalu tahu, sama seperti bagaimana dia menerima hukuman dalam kehidupan ini, dan takdir yang harus ia penuhi.

 “Kau ada di pihak siapa?,” tanya Dae Young. dan Profesor Jin Kyung menjawab, “Kau seperti itu dulu dan kau seperti itu sekarang. ”

Profesor Jin Kyung berkata bahwa dia hanya seseorang yang mengamati nasib seseorang dan dia tak berada di pihak manapun, namun Dae Young mencekik lehernya dengan erat, untungnya Joon Jae datang ke kantornya tepat pada waktunya untuk menghentikan niat jahatnya. Disaat keduanya saling berhadapan, kita terpotong pada pertemuan Tuan Yang dan Dam Ryung.

Tuan Yang tertawa sendiri sambil berkata: “Ingat. Saya telah kembali menang melawanmu dua kali. Nasib akan berada di pihakku kali ini. Dalam kehidupan ini, pada akhirnya semuanya akan terulang. Cinta yang tanpa harapan antara manusia dan si jahat. Penderitaan akan menunggu di akhirnya.”

Dam Ryung: “Tidak perduli nasib ada di pihak siapa. Pada akhirnya kemalangan itu, kita bersama-sama, sehingga kita bahagia. Sama seperti sekarang,” dan Tuan Yang berhenti tertawa.

Dae Young mengeluarkan pisau lipatnya untuk melukai Joon Jae, untung saja Detektif Hong datang tepat waktu bersama Nam Doo untuk menghentikannya. Nam Doo segera menghampiri Joon Jae untuk memastikan ia baik-baik saja, tapi saat Dae Young dibawa oleh polisi, Nam Doo malah merasa aneh dengan tatapannya, padahal sepengetahuannya ini baru pertemuan pertama mereka.

Si Ah datang menjenguk Chung yang masih di rawat di rumah sakit. Saat diam-diam meletakkan bunga di atas ranjang Chung, Si Ah kaget ketika dia tiba-iba membuka matanya, setelah mengira dia sedang terlelap tertidur.

Chung bertanya apa sekarang dia mengkhawatirkannya. Si Ah berusaha mengelak meskipun dia mengakui bahwa ini pertama kalinya dia mengunjungi seseorang yang terkena tembakan, dan kemudian bertanya dia terkena dimana. Chung berkomentar dia terdengar seperti menikmati keadannya, dan Si Ah segera membantahnya, bahwa meskipun dia tidak suka dengannya, tapi dia tak mungkin bahagia melihatnya terkena tembakan.

“Saya menyukaimu,” ucap Chung, meskipun Si Ah cukup terkejut mendengar pengakuannya yang terang-terangan. Si Ah bertanya mengapa, dan Chung menjawab, “Saya selalu menginginkan  ingin menjadi sepertimu. Kau bisa bertambah tua dengan orang yang kau sukai.”

Chung: “Kau bisa menghabiskan banyak waktu dengan orang yang kau sukai.”

Si Ah: “Apa yang bisa kulakukan ketika saya memiliki waktu? Orang yang  ingin kuajak menghabiskan waktu hanya melihatmu.”

Chung berkata orang yang ditakdirkan untuknya akan muncul, dan Si Ah skeptis mendengarnya sehingga Chung berusaha meyakinkannya saat berkata: “Saya telah lama menantinya dan mereka muncul. Jadi milikmu pun akan muncul.” Si Ah memberitahu Chung bahwa dia akan menjauh dari Joon Jae, setelah melihat dirinya tak bisa dibandingkan dengan pengorbanan Chung yang rela tertembak untuk Joon Jae.

Setelah pulang dari rumah sakit, Tae Oh telah sengaja menunggui Si Ah di jalan untuk mengantarnya pulang. Awalnya Si Ah sengaja mengacuhkannya, namun pada akhirnya dia bersedia pulang bersama Taoe Oh dengan berjalan kaki di tengah salju turun.

Si Ah tiba-tiba saja berkata saljunya cantik, sehingga Tae Oh mengeluarkan ponselnya, dan Si Ah langsung merebutnya dari tangannya untuk memotret dirinya. Dia tertarik memeriksa foto yang biasa diam-diam diambil oleh Tae Oh di ponselnya, tapi malah mendapati sejumlah foto Chung ada disana. Seketika itu membuatnya tersadar bahwa ‘Unni” yang ia sukai bukan dirinya tapi Chung.

Si Ah marah besar mengingat bagaimana Tae Oh mempermainkannya selama ini dengan berpura-pura mengaku suka padanya, sementara dia malah salah paham dengan perasaannya. Si Ah menebak Tae Oh selama ini pasti menertawainya, dan karna kesal dia berjalan kencang mendahului Tae Oh.

Jengkel karna menebak Tae Oh terus mengikutinya, dia berbalik untuk menyuruhnya berhenti mengikutinya tapi malah di depannya berdiri seorang pria mesum yang membuka bajunya. Dia mencoba untuk menggangu Si A, dan Tae Oh muncul dengan memukuli pria itu menggunakan payung di tangannya.

Tao memeluk Si Ah yang sedang menangis untuk menenangkannya dan berkata minta maaf. Dia menghapus air mata di pipi Si Ah, dan kemudian mencium bibirnya – sebuah ungkapan perasaannya.

Dokter dan suster memperbincangkan tentang keanehan yang terjadi pada Chung tentang kondisinya yang mengherankan dimana tak ada darah yang membekas di perban luka tembakannya begitu pula luka tembakan yang tiba-tiba sembuh dengan cepat saat di ruang operasi. Mereka bertanya-tanya apa  pasien itu adalah vampire, alien atau bahkan zombie, meskipun demikian salah seorang dari mereka menginformasikan bahawa Pimpinan mereka akan melaporkan kasus aneh ini pada Asosiasi Jantung, dan juga telah menghubungi reporter untuk meliputnya.

Joon Jae telah menguping pembicaraan mereka. Dia berpura-pura menabrak seorang staf rumah sakit, dan diam-diam mengambil kartu ID dari kantungnya tanpa disadari orang itu. Joon Jae menyamar  sebagai dokter dan masuk keruang pusat penyimanan data pasien dan kemudian menghapus catatan medis Sim Chung. Setelah semuanya beres, Joon Jae kemudian membawa Sim Chung pulang.

Setibanya di rumah, Joon Jae memanggil Chung dengan antusias ‘Hei kamar lantau dua.” Dengan agak malu-malu Joon Jae berkata dia tidak bisa tidur di kamarnya jika ibunya pindah sehingga  dia menyarankan agar dia dan Chung tinggal bersama di satu kamar. Joon Jae tak ingin berlama-lama menunggu sampai ibunya datang, sehingga ia melangkahkan kakinya untuk naik ke atas kamarnya, tapi Sim Chung berkata tidak dan menutup pintu kamarnya.

Joon Jae menggerutu karna sebelumnya Chung juga pernah  memaksa  datang ke kamarnya tapi sekarang dia telah berubah. Setelah tidak memperbolehkan Joon Jae naik ke kamar lotengnya, Chung membunyikan lagu dengan volume keras untuk mencegah Joon Jae mendengar rintihan sakit di jantungnya. Mekipun sepertinya Joon Jae merasa ada sesuatu yang sedang disembunyikan oleh Chung.

Jin Joo mengantar Yoo Ran ke rumah Joon Jae dan berkomentar rumah putranya cukup bagus, tapi ia cukup kecewa karna Yoo Ran bahkan tidak mengundangnya masuk, padahal itu adalah alasan mengapa ia sengaja mengantarnya.

Setelah baru saja tiba di rumah sehabis mengantar  ibu Joon Jae, Dong Sik menunjukkan sepatunya yang ketinggalan, sehingga Jin  Joo berinisiatif menggunakan itu sebagai alasan untuk kembali.

Sepasang suami istri itu datang membawakan sepatu Yoo Ran – lengkap dengan Jin Joo berpura-pura harus ke kamar mandi, dan Dong Sik yang  berpura-pura tenggorokannya sedikit kering, sebagai alasan untuk bisa masuk ke dalam rumahnya.

Setelah diberitahu oleh Yoo Ran bahwa putranya ada di rumah, Jin Joo dan suaminya memutuskan untuk menyapanya untuk pertama kalinya sebelum pergi. Joon  Jae dan Nam Doo bersama Chung turun ke lantai bawah, dan tak menyangka akan bertemu dengan Jin Joo dan suamimya. Jin Joo mengenali Nam Doo sebagai ‘Ayah Goo Baek’ begitu pula Joon Jae ‘si Tim J’ yang pernah datang ke rumahnya, dan Chung kemudian mengajak mereka ke ruang belakang untuk berbicara.

Nam Doo khawatir, tapi Joon Yae meyakinkannya bahwa semua akan baik-baik saja. Saat kembali baik Jin Joo maupun Dong Sik sama sekali telah lupa pernah bertemu dengan mereka berdua.

Yoo Ran kemudian memperkenalkan pada Jin Joo dan suaminya bahwa Joon Jae adalah putranya, begitu pula Nam Doo temannya. Jin Joo berkata dia telah berkenalan dengan Chung, dan memujinya baik hati. Dia juga memuji putranya yang cukup tampan begitu pula temannya yang begitu menarik, telah lupa dengan nama samarannya ‘Ayah Goo Baek.’

Jin Joo berkata tapi dia merasa sebelumnya pernah bertemu dengan mereka berdua, dan baik Nam Doo maupun  Joon Jae saling memandangi dengan gugup. Tapi mereka lega saat Jin Joo menduga mereka sebelumnya pernah bertemu di Dubai, dan suaminya segera mengklarifkasi bahwa mereka tidak pernah pergi kesana.

Jin Joo bertanya-tanya dengan suara keras mengapa kata Dubai tiba-tiba muncul di kepalanya, dan kemudian  Joon Jae dan Nam Doo ikut tertawa lebar. Jin Joo dan suaminya bersikap seolah ini pertama kalinya mereka bertemu dengan Nam Doo dan Joon Jae – dan kemudian Joo  Jae menoleh pada Chung, karna tahu ini perbuatannya.

Setelah Jin Joo dan suaminya pergi, Nam Doo menebak Chung telah menghapus ingatannya, sama seperti yang telah ia lakukan padanya dan Joon Jae saat berada di Spanyol. Nam Doo kemudian memberikan sebuah tawaran yang tak masuk akal, menyuruh Chung menghapus ingatan Bill Gates agar mereka bisa menjadi konglomerat dunia.

Chung berkata dia tidak akan melakukan hal seperti itu yang akan membuat Nam Doo sibuk tak berguna. “Kalau saya sibuk, saya tidak akan punya waktu untuk bertemu dengan Joon Jae,” tambah Chung. Nam Doo kemudian menggodai Joon Jae, bahwa  Chung bisa datang padanya jika dia putus dengannya.

Disaat Nam Doo menggodai Joon Jae ingin memeluk Chung, Chung tiba-tiba memegang dadanya karna merasakan sakit di bagian jantungnya. Nam Doo mengira itu terjadi karna Chung terlalu cepat keluar dari rumah sakit, sementara Joon Jae bertanya, “Apa jantungmu terasa sakit.” dan Chung hanya diam.

Joon Jae menyadari jika kondisi Sim Chung tidak sehat, meskipun Chung berusaha tampak baik-baik saja di depannya.  Dia sejenak naik ke kamarnya, untuk memastikan keadaannya saat Chung sedang tertidur.

Rumah sangat sepi saat Joon Jae sibuk memasak pasta di dapur sehingga Chung bertanya kemana semua orang pergi. Joon Jae berkata, “Saya yang menyuruh mereka pergi. Karna saya ingin makan hanya berdua bersamamu.” Joon Jae berkata karna kondisinya belum membaik, dia menyarankan agar Chung tak pergi kemanapun dan lebih baik berpesta di rumah hanya berdua saja.

Chung kemudian berdandan secantik mungkin, begitu pula Joon Jae yang semakin tampan saat mengenakan jas.

Saat di meja makan, Chung menawarkan apa mereka bisa minum. Joon Jae berkata tidak, dan menambahkan: “Jika saya minum  saya mungkin akan memintamu untuk tinggal.”

Joon Jae meminta Chung untuk memberitahunya apa ada sebuah cara lain untuk menolongnya, karna melihat setelah operasi yang ia jalani, Chung hampir tidak makan, tidak bisa tidur dan menahan rasa sakitnya.

“Apa yang harus kulakukan? Apa saya hanya harus melihatmu mati,” tanya Joon Jae dengan mata berkaca-kaca. Joon Jae kemudian mengembalikan gelang giok pemberian Chung dan memakaikannya di tangannya.

Dia bertanya, “Apa   kau akan baik-baik saja, jika kau kembali ke laut? Apa kau akan sehat?”

Usai makan malam, Joon Jae kemudian memeluk Chung dari belakang, dan berkata, “Berjanjilah padaku satu hal. Bahwa saat kau pergi, kau tidak akan menghapus ingatanku.”

Chung: “Mengapa?”

Joon Jae: “Kau juga seperti itu. Kau mengatakan kau lebih memilih mencintai dan menderita dibanding tidak mengingat dan tidak bisa mencintai. Karna ada kenangan yang bisa menghiburku, saya bisa mengantarmu pergi.”

Chung: “Maka kau akan menyedihkan. Bisa saja selamanya saya tidak akan kembali. Maka kau tidak akan tahu apa saya hidup atau mati, kau hanya bisa menunggu.”

Joon Jae: “Jika kau tidak bisa kembali selamanya, saya akan terlahir kembali. Kau juga melakukannya. Kuberitahu. Cintaku, lebih lama dari waktuku”

Chung: “Saya berharap kau akan bahagia.”

Joon Jae: “Jika  kita saling mengingat satu sama lain, kita tidak akan melupakan jalan mana untuk kembali. Jadi kita akan kembali bertemu.”

“Baiklah,” ucap Joon Jae. Dia bersedia memberikan sepenuhnya pilihan pada Chung apa dia akan menghapus ingatannya atau pergi.

“Saya telah membuat pilihanku,” ucap Chung dengan mata yang berkaca-kaca dan kemudian menyentuh dengan lembut wajah Joon Jae dan mencium bibirnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*