Home / Sinopsis Drama Korea / Sinopsis The Legend of the Blue Sea Episode 20 (Akhir) Bagian Pertama

Sinopsis The Legend of the Blue Sea Episode 20 (Akhir) Bagian Pertama

Sumber Dok Gambar: SBS TV Korea Selatan

Untuk melihat semua tautan sinopsis aktriskorea.web.id, silahkan kunjungi www.sinop.web.id

[Baca juga: Sinopsis The Legend of the Blue Sea Episode 20 (Akhir) Bagian Kedua]

Usai makan malam, Joon Jae kemudian memeluk Chung dan memintanya untuk berjanji satu hal padanya bahwa saat ia pergi, dia tidak akan menghapus ingatannya.

Chung bertanya mengapa, dan Joon Jae menjawab: “Kau juga seperti itu. Kau mengatakan kau lebih memilih mencintai dan menderita dibanding tidak mengingat dan tidak bisa mencintai. Karna ada kenangan yang bisa menghiburku, saya bisa mengantarmu pergi.”

Chung berkata maka Joon Jae akan menyedihkan karna bisa saja selamanya dia tidak akan kembali – Joon Jae tidak akan tahu apa dia hidup atau mati, dia hanya bisa menunggu.”

 “Jika kau tidak bisa kembali selamanya dalam hidupku, saya akan terlahir kembali,” ucap Joon Jae. “Kau juga melakukan hal yang sama. Kuberitahu. Cintaku, lebih lama dari waktuku”

Chung berkata bahwa dia menginginkan agar Joon Jae tenang, tapi Joon Jae berkata jika mereka saling mengingat satu sama lain, mereka tidak akan melupakan jalan untuk kembali dan pada akhirnya mereka akan kembali bertemu.

Chung hanya diam sehingga Joon Jae bersedia untuk memberikan sepenuhnya pilihan pada Chung apa dia akan menghapus ingatannya atau meninggalkannya seperti apa adanya ingatannya.

 “Saya telah membuat pilihanku,” ucap Chung dengan mata yang berkaca-kaca dan kemudian menyentuh dengan lembut wajah Joon Jae dan mencium bibirnya.  Dan beberapa saat kemudian, Chung telah membawa semua barang-barangnya untuk pergi, dan sepertinya dia memilih untuk menghapus ingatan Joon Jae akan dirinya.

Sesaat setelah dia baru saja keluar dari rumah, Chung bertemu dengan Nam Doo, Tae Oh dan ibu Joon Jae. Nam Doo bertanya kemana dia akan pergi dan apa mereka bertengkar, karna baru saja mereka diminta oleh Joon Jae untuk keluar sebentar.

Chung berkata dia akan pergi ke suatu tempat sebentar, dan kemudian mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan mereka satu persatu – untuk menghapus ingatan mereka akan dirinya.

Saat Si Ah akan keluar bersama keluarganya, dia mengkritik jaket bulu yang dikenakan oleh Jin Joo karna menurutnya hanya untuk membuat jaket bulu itu berapa banyak binatang kecil lucu yang harus mati.

Jin Joo balik menyinggung jaket bulu Si Ah yang ketinggalan zaman, dan bertanya apa Si Ah hanya merasa kasihan terhadap binatang-binatang kecil dan tidak kasihan terhadap bebek yang bulunya dicabuti satu persatu. Dia mendemonstrasikan seolah-olah mencabut bulu bebak itu di dada suaminya yang pasti terasa sakit, dan Si Ah hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.

Chung datang ke rumah Si Ah, dimana Jin Joo dan suaminya mengenali bahwa dia adalah kekasih Joon Jae – meskipun Si Ah menambahkan bahwa dia adalah seseorang yang menerima cinta tak terbalas dari pria lain,  yang merujuk pada Tae Oh.

“Kau pasti sangat bahagia. Ponsel Tae Oh penuh dengan fotomu,” ucap Si Ah. Si Ah berkata dia telah menghapus semuanya, dan Chung berterima kasih, namun Si Ah berkata, “Saya tidak melakukannya untuk mendapatkan pujian darimu.”

Chung berkata dia akan pergi ke suatu tempat sehingga ingin mengucapkan selamat tinggal pada semua orang. Saat ditanya oleh Jin Joo kemana dia akan pergi, Chung hanya diam dan mengulurkan tangannya untuk menghapus ingatan mereka akan dirinya.

Setelah datang ke rumah Si Ah, Chung sengaja menunggui Yoo Na di jalan yang akan ia lewati pulang untuk mengucapkan selamat tinggal. “Saya akan merindukan semua makanan disini,” ucap Chung dan kemudian menjabat tangannya. Saat Chung akan beranjak pergi, dia terkejut karna Yoo Na masih mengenalinya setelah baru saja menjabat tangannya.

“Ada sesuatu yang aneh tentang dirimu,” ucap Chung, begitu pula kemampuan Yoo Na yang dapat mendengar isi pikirannya yang tidak dapat didengar oleh orang lain. Chung bertanya mengapa dan Yoo Na menjawab, “Saya melihatmu di dalam mimpiku. Dan di dalam mimpi itu kau adalah putri duyung, dan juga saya.”

Kita sejenak terpotong di jaman Joseon: Saat Se Hwa di tangkap, Yoo Na mendengar isi pikiran Se Hwa yang meminta tolong berbeda dengan anak-anak lain yang berlari ketakutan.

Yoo Na menceritakan bahwa di dalam mimpinya, ayahnya adalah nelayan dan ibunya adalah putri duyung. Yoo Na berkata karna dia bisa berkomunikasi dengan putri duyung, dia bisa mengetahui banyak hal.

Kita kembali sejenak terpotong di zaman Joseon, dimana Yoo Na berlari menghampiri para nelayan untuk melarang mereka pergi ke laut hari ini karna akan ada ombak yang besar. Para nelayan itu menuruti kata-katanya, karna sebelumnya beberapa kali tebakannya benar yang berhasil menyelamatkan mereka.

Chung bertanya apa yang terjadi, dan Yoo Na berkata bahwa dalam mimpinya semua orang baik-baik saja dan bahagia. “Ketika saya bangun dari mimpiku, saya merasa baik sepanjang hari,” ucap Yoo Na. Chung lega mendengarnya, dan menjelaskan bahwa mimpi yang dilihatnya bukanlah dongeng, dan bahwa itu benar-benar terjadi.

Chung tiba di laut, dan sejenak berdiri di pinggir pantai sebelum akhirnya dia masuk ke dalam laut dan berubah menjadi putri duyung. Memandangi indahnya hamparan laut, Chung berkata dalam pikirannya: “Dia berkata bahwa memiliki kenangan adalah jalan untuk kembali. Kisah kita yang hanya saya bisa mengingatnya di dunia ini. Sehingga kisah itu tidak akan menyedihkan dan tidak akan menghilang. Saya akan melindunginya. Saya akan menghargainya. Dan saya akan kembali.”

Joon Jae terbangun dari tidurnya, dan memandangi sebuah mutiara yang ada di samping mejanya dengan penuh tanda tanya.

Tiga tahun kemudian

Ibu memanggil tiga sekawan untuk sarapan pagi, dan Nam Doo menggodainya, “Saya tidak bisa meninggalkan rumah ini karnamu, Ibu.” “Pergi,” ucap Joon Jae dan kemudian mengulangi ucapan Nam Doo yang terus saja mengucapkan akan pergi ketika cuaca lebih hangat, dan ketika cuacanya lebih dingin. “Sudah tiga tahun,” tambah Joon Jae.

Tapi Ibu berkata bahwa mereka berdua tak perlu membuang-buang uang untuk menyewa rumah, dan mereka bisa tinggal disini sampai mereka menikah. Joon Jae protes, dan Nam Doo berkata dia tidak pernah memiliki kesempatan memanggil seseorang “Ibu,”  tapi sekarang dia akhirnya bisa memanggilnya.

“Saya juga,” ucap Tae Oh sambil tersenyum kecil.

Nam Doo kemudian bertanya mengapa mereka selalu menyediakan sebuah kursi yang ada di sebelahnya ketika mereka makan. Joon Jae hanya menjawab itu sebuah kebiasaan, dan Nam Doo berkata bahwa terasa seperti ada pemilik dari kursi ini.  “Bukankah itu aneh,” ucap Joon Jae sambil tertawa, dan Joon Jae menjawab, “Ada banyal hal yang aneh bagimu.”

Joon Jae tiba di sebuah ruangan kantor kejaksaan untuk magang sebagai mahasiswa jurusan hukum dan memperkenalkan dirinya.  Sementara itu, Jin Joo memperkenalkan ibu Joon Jae pada teman-temannya, dan menginformasikan bahwa dia adalah seorang ibu yang memiliki putra yang memberikan semua sahamnya padanya dan sekarang putranya mengambil jurusan hukum untuk menjadi seorang jaksa.

Para ibu-ibu kaya itu kagum, dan Jin Joo memberitahu mereka bahwa Yoo Ran bahkan menggunakan sebagian sahamnya untuk menyediakan sebuah tempat peristirahatan bagi para remaja yang lari dari rumah mereka.  Ibu Joon Jae berkata itu bukan apa-apa, dan menjelaskan bahwa dia  memikirkan hal itu karna sebelumnya putranya pernah lari dari rumah saat masih SMA dan banyak menderita.

Jin Joo berkata dia bisa menjadi CEO dengan saham yang dimilikinya, dan Yoo Ran menolak karna menurutnya hal itu seharusnya dikerjakan oleh seseorang yang lebih berpengalaman. Jin Joo merasa dia begitu rendah hati, dan berkata bahwa melihatnya dia menyadari satu hal: “Kau tidak pernah tahu apa yang akan terjadi dalam hidupmu. Jangan melihat pada situasimu yang sekarang. Bahkan jika orang-orang tidak berubah keadaan  benar-benar akan berubah.”

Jin Joo mengucapkan terima kasih karna berkat Yoo Ran mereka bisa memiliki investasi yang baik, dan berasumsi bahwa di kehidupan sebelummya dia dan Yoo Ran adalah seperti saudara sungguhan setelah melihat takdir yang terjalin begitu kuat diantara mereka.

Kopi di gelas Yoo Ran habis, dan tanpa sungkan Jin Joo segera  menawarkan diri untuk kembali mengambilkannya kopi baru sekaligus Apel-Mangga kesukaannya.

Sementara itu di tempat magangnya di jam makan siang, Joon Jae bertanya mengapa mereka tidak pergi makan secara bersamaan. Si jaksa bertanya menurutnya apa yang paling penting bagi seorang jaksa,  Joon Jae sejenak berpikir dan berkata, “Rasa keadilan.”

Si jaksa berkata itu juga penting, tapi ada sesuatu yang lebih penting dari itu bahwa mereka tidak boleh meninggalkan  kantor mereka. Si jaksa  memelankan suaranya untuk memberitahu Joon Jae bahwa beberapa waktu lalu mereka telah dirampok oleh seorang penipu.

Joon Jae bertanya dengan polos bagaimana itu terjadi, dan si jaksa berkata itu terjadi ketika mereka semua pergi makan siang bersama-sama, yang terjadi tiga tahun lalu.

Joon Jae seketika itu teringat dialah pelakunya bersama Nam Doo dan Tae Oh, dan si jaksa berkata dengan jengkel bahwa orang itu duduk di kursinya dan berpura-pura menjadi jaksa dan bertemu dengan para kliennya, dan bahkan menghapus semua rekaman CCTV.

Joon Jae memperlihatkan bulu kuduknya yang merinding, dan bersikap seolah-olah tak tahu apa-apa. Si jaksa berkata dia bisa menangkap bajingan itu seandainya dia bisa datang lima menit lebih awal, tapi dia terhalang karna ada masalah dengan lampu jalan raya – dan itu adalah ulah Tae Oh yang menghack sistem lalu lintas.

Si jaksa berkata mereka masuk dengan alasan untuk mengganti filter air minum, dan Joon Jae tanpa berpikir panjang mengoreksi ucapannya ‘untuk memperbaiki elevator.’ Si jaksa bertanya bagaimana dia bisa tahu, dan Joon Jae hanya menjawab dia mendengar hal seperti itu terjadi di daerah Gangnam.

Si jaksa mengakui sejak saat itu dia semakin sedikit mempercayai orang. Joon Jae memukul keras mejanya dan berkata dengan nada yang meluap-luap, “Saya akan menangkap semua bajingan itu.”

Joon Jae mendampingi si jaksa untuk menangani sebuah kasus penipuan dimana si tertuduh bersikeras tidak melakukan penipuan terhadap kliennya tapi setelah membaca dengan teliti berkas kasusnya Joon Jae berhasil mendapati bukti bahwa dia telah menipu kliennya, yang  ia anggap sebuah transaksi finansial tanpa barang perdagangan.

Joon  Jae berkata bahwa pria ini masih berjudi, dan tahu berapa banyak kekalahan yang ia alami akhir-akhir ini. Joon Jae menaksir penipuan yang telah ia lakukan telah memakan korban sebanyak 3000 orang yang bernilai 10 juta dollar, dan pria ini tak bisa berkutik apapun.

Saat pulang kerja Joon Jae hanya diam saat di tanya oleh si jaksa bagaimana dia bisa tahu semuanya. Detektif Hong datang menjemputnya, dan ia segera pamit pergi, sementara si jaksa bertanya-tanya, “Siapa sebenarnya dia?”

Joon Jae dan Detektif Hong makan bersama di sebuah restoran. Detektif Hong bertanya apa sesulit itu belajar, karna melihat berat badannya yang turun. “Tentu saja, belajar sulit. Apa kau pikir saya melakukannya karna itu menyenangkan dan mudah?,” ucap Joon Jae. Detektif Hong berkata dia bahagia Joon Jae sudah bisa mengatur perasaannya setelah sebelumnmya dia melihat Joon Jae tampak hilang akal dan mengatakan hal-hal yang gila. Detektif Hong mengakui saat itu dia takut melihat keadaannya saat Joon Jae menghilang dan menutupi jejaknya.

“Apa yang kau alami bukan sesuatu yang bisa diatasi seseorang dengan mentalitas yang normal.” ucap Detektif Hong. “Saya berpikir kau mungkin berubah menjadi aneh.”

“Saya hampir tidak ingat sekarang,” ucap Joon Jae. “Bahkan ketika saya mencoba untuk mengingat saat itu, saya tidak bisa mengingatnya dengan baik.”

Detektif Hong bertanya  sekarang apa yang dilakukan oleh Nam Doo, dan Joon Jae menjawab seminar khusus.

Nam Doo berada di sebuah ruangan  dan memperkenalkan dirinya sebagai seorang dosen bintang yang memberikan seminar khusus terhadap sejumlah  ibu-ibu VIP dari Depertment Sore tentang materi ‘menghindari hukum atau mensahkan hukum,’ yang mengupas tentang pajak.

Setelah menyelesaikan seminarnya, dia bergabung dengan Joon Jae dan Detektif Hong yang masih berada di sebuah restoran. Detektif Hong bertanya apa Nam Doo menipu mengatas namakan seminar.

“Apa saya sudah gila,” jawab Nam Doo, dan menambahkan bahwa dia lebih baik berhenti dibanding ditangkap oleh Joon Jae nantinya. Nam Doo mengakui tak percaya melihat Joon Jae memutuskan menjadi pegawai pemerintah, yang mengambil kuliah hukum untuk menjadi seorang jaksa penuntut. Detektif Hong berkata itu semua karna Joon Jae bertemu dirinya, tapi Nam Doo bertanya apa sebenarnya sampai Joon Jae tiba-tiba memutuskan menjadi seorang jaksa.

“Sebuah pemikiran yang ekstrim,” ucap Nam Doo dan Joon Jae hanya menjawab, “Mungkin ada sebuah faktor yang memicunya, tapi saya tak bisa mengingatnya dengan baik.”

Mereka kembali minum alkohol di rumah sampai mabuk, dan Detektif Hong kembali mengulangi bertanya apa Tae Oh juga telah membersihkan dirinya. Nam Doo berkata Tae Oh sekarang telah menjadi seorang hacker putih ‘bug bounty,’ dan menjelaskan bahwa dia melakukan serangan pura-pura untuk melihat apa perusahaan mudah di hack atau tidak dan memperkuat sistem keamanan  mereka.

Nam Doo bertanya apa Detektif Hong paham dengan penjelasannya, dan Detektif Hong berkata dia tak yakin tapi sekali lagi mengingatkan Tae Oh untuk tidak melakukan hal-hal bodoh, tapi pada akhirnya ponsel Nam Doo dan borgol detektif Hong malah ada di tangan Tae Oh.

Saat Detektif Hong akan pergi, Joon Jae menarik tangannya dan berkata, “Hari ini tak ada seorang pun yang boleh pergi.” Joon Jae menundukkan kepalanya dan tiba-tiba saja menangis dengan terisak-isak. “Saya merindukannya,” tangis Joon Jae dan Nam Doo bertanya dengan suara keras siapa yang sangat ia rindukan setiap kali ia minum. Sementara itu jauh di dalam laut, Chung juga menangis merindukan Joon Jae yang menghasilkan banyak mutiara.

Usai menangis, Joon Jae masuk ke kamarnya dan mengambil sebuah buku catatannya tentang Chung di dalam sebuah brankas. Dia membaca buku catatan itu dengan mata yang berkaca-kaca, dan baik Nam Doo, Detektif Hong maupun Tae Oh hanya bingung melihat Joon Jae yang tiba-tiba menangis tanpa sebab. Dan jauh di dalam laut, Chung juga menangis karna merindukan Joon Jae, yang menghasilkan banyak mutiara.

Dan kita mendengar suara Nam Doo bercerita bahwa sejak saat itu, Joon Jae berubah aneh — dia pergi ke laut untuk melihat matahari terbit dan kembali pergi untuk melihat matahari terbenam, tapi ketika dia bertanya mengapa Joon Jae melakukan itu, Joon Jae hanya berkata dia tak tahu mengapa dia melakukannya.

Kemudian, bekas jejak kaki tampak di sebuah pinggir pantai – entah dimana, dan seorang pria si pengantar barang dengan ketakutan datang dan meletakkan dua bungkusan di atas sebuah bangku, dan bergegas pergi. Sebuah tangan mengambil bungkusan itu – dan kemudian kita melihat Chung berada di sebuah kamar mandi umum telah mengenakan pakaian rapi dan sebuah kacamata.

Usai berdandan cantik dia kemudian menaiki sebuah tour bus yang akan mengantarnya menuju Seoul. Setibanya di Seoul, mencium bau emisi dan sekumpulan orang di jalan, dia merasa seperti di rumah, meskipun ia mendapati sebuah bangunan tinggi telah selesai berbeda saat ia pergi tiga tahun yang lalu.

Usai menjual mutiara hasil tangisnya ketika merindukan Joon Jae di sebuah toko perhiasan, dia lewat di sebuah restoran ikan dan melihat seorang wanita (Kim Seul Gi), yang tengah memandangai ikan-ikan segar di dalam akuarium kecil. “Kau dari laut mana,?” tanya Chung, dan Kim Seul Gi langsung kaget karna dia bisa tahu siapa dia sebenarnya.

Kim Seul Gi menjawab dari Pulau Jeju, dan mengangguk saat ditanya apa dia sedang lapar. Chung mengajaknya masuk untuk memesan makanan dan langsung menghentikannya saat dia akan langsung menyantap makanan dengan tangannya.

Chung memberitahunya bahwa dia akan dianggap orang bodoh jika dia makan seperti itu disini, dan kemudian menunjukkan bagaimana memakan ikannya menggunakan sumpit.

Kim Seul Gi berusaha mengambil ikannya dengan sumpit di tangannya meskipun agak kesulitan, dan Chung bertanya mengapa dia ada disini. Kim Seul Gi dengan tersipu malu berkata dia merindukan satu orang, dan menjelaskan bahwa saat bermain di daerah Ju-Mun, dia bertemu seorang pria yang tinggal di Seoul, sehingga dia berenang selama 15 hari dan berhasil datang kesini.

Chung kemudian berlagak seperti Jo Jung Suk, bertanya tiga hal – apa pria itu memberitahunya untuk datang, apa pria itu mengatakan dia mencintainya, dan apa pria itu memintanya untuk menikah dengannya.

Kim Seul Gi mengakui pria yang ditaksirnya tidak mengatakan itu, sehingga Chung berkomentar mengapa dia berani datang ke daratan tanpa konfirmasi apapun. Chung menjelaskan bahwa hanya ada satu cara agar dia bisa terus bernafas dan jantungnya terus berdetak adalah apabila pria yang ia cintai balik mencintainya, dan Seul Gi baru tahu itu.

Kim Seul Gi berkata itu bisa saja mungkin terjadi seandainya dia bisa bertemu dengan pria itu, tapi pria itu tidak menjawab telponnya sehingga mereka tak bisa bertemu — dan Chung menyarankan agar dia kembali ke laut segera setelah menyelesaikan makanannya.

Kim Seul Gi kemudian bertanya apa Chung telah bertemu dengan pria seperti itu. Chung menjawab dia telah bertemu dengan seorang pria bodoh yang tampan yang hanya mencintainya sehingga itulah mengapa jantungnya bisa berdetak dengan baik.

Sumber Dok Gambar: SBS TV Korea Selatan

Untuk melihat semua tautan sinopsis aktriskorea.web.id, silahkan kunjungi www.sinop.web.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*