Home / Sinopsis Drama Korea / Sinopsis The Legend Of The Blue Sea Episode Spesial Bagian Pertama Drama Korea

Sinopsis The Legend Of The Blue Sea Episode Spesial Bagian Pertama Drama Korea

[Baca juga: Sinopsis The Legend Of The Blue Sea Episode Spesial Bagian Kedua Drama Korea]

Suara Dam Ryung bernarasi, “Saya bermimpi sebuah mimpi. Dalam mimpi itu, saya hidup dalam dunia yang aneh. Dan di dunia itu, kau juga ada disana. Saya sudah menggambarkan dirimu dan aku dalam mimpi itu. Saya bertanya-tanya apa itu hanya sebuah mimpi atau saya benar-benar bereinkarnasi. Satu hal yang yang kuyakini kejadian yang terjadi saat ini juga terjadi disana.”

Di dalam laut, terjadi sebuah ombak besar dan Sim Chung terhempas ke pinggir pantai di dekat hotel tempat Joon Jae menginap. Dia diam-diam berenang di kolam renang, dan saat dia berenang dia melihat Joon Jae.

Joon Jae terbangun karna mendengar suara aneh. Dia  mendapati ruangannya berantakan dan melihat Shim Chung bersembunyi dalam sebuah hanger yang tergantung. Joon Jae bertanya siapa dia dan mengapa dia ada disini, tapi Sim Chung tidak menjawab. Sim Chung kemudian menendang Joon Jae dan keluar dari kamarnya.

Tapi dia melihat laut tanpa menyadari ada dinding kaca yang menghalanginya. Dia berlari dengan kencang tanpa berpikir panjang, dan pada akhirnya dia menempel di dinding kaca itu dengan pose yang aneh dan jatuh pingsan.

Kemudian Joon Jae menelpon polisi dan mereka memborgolnya. Joon Jae tiba-tiba menunjukkan kepedulian karna tangannya diborgol, tapi polisi berkata bahwa dia adalah tersangka utama.

Setelah mendapat sms dari Nam Doo bahwa gelang itu bernilai 6 milyar won, Joon Jae segera datang ke kantor polisi. Joon Jae mengeluarkan korek apinya, yang ia gunakan untuk menghipnotis dan memberitahu polisi bahwa dia adalah istrinya. Segera si polisi berhalusinasi melihat Sim Chung mengenakan gaun pengantin dan mereka keluar dari kantor polisi begitu saja.

Joon Jae minta maaf dan mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan tapi Sim Chung sama sekali tak tahu apa artinya itu. Joon Jae ingin memegang gelangnya, tapi Sim Chung dengan sigap mengepalkan tangannya, dan untuk menghilangkan kecurigaannya Joon Jae berkata gelangnya cantik.

Sim Chung tak tahu bagaimana menyeberang, sehingga saat berdiri di pinggir jalan dia merentangkan kedua tangannya. Joon Jae menggelengkan kepalanya dan bertanya, “Apa sebenarnya identitasmu?”

Joon Jae membawa Sim Chung ke mall, tapi dia tak tahu bagaimana cara menggunakan eskalator. Joon Jae menggendongnya dan mereka disorak-soraki oleh orang-orang yang ada di mall. Joon Jae kemudian membelikannya sepatu dan berkata, “Bagaimana bisa kaki wanita seperti ini? Banyak bekas lukanya.”

Joon Jae membelikannya sesuatu untuk dimakan, tapi Sim Chung malah memakan pastanya dengan tangannya. Joon Jae menggelengkan kepalanya dan  duduk disampingnya, bertanya, “Apa kau berasal dari hutan? Apa kau dibesarkan oleh serigala?” Dia kemudian hipnotis Sim Chung dan memberikannya sebuah kalung dan selanjutnya kita melihat gelang giok dengan ukiran ‘Kim Dam Ryung’ tidak ada lagi di pergelangan tangan Sim Chung, tapi ada di tangannya.

Di jalan, Joon Jae tiba-tiba teringat saat meninggalkan Sim Chung di mall dan menyuruhnya menunggu disana. Mall akan tutup, dan Sim Chung masih menunggu. Pekerja mall mengusirnya keluar dan hujan mulai turun. Dia duduk berjongkok  di depan pintu masuk mall, dan seorang pria memegang sebuah payung datang – Heo Joon Jae kembali untuknya.

Sim Chung tersenyum. Dia mengulurkan tangannya dan Joon Jae memegang tangannya. “Apa kau tahu apa yang paling kubenci? Pergi tanpa mengucapkan selamat tinggal. Itulah mengapa saya kembali. Untuk mengatakan selamat tinggal. Tidak ada alasan lain,” ucap Joon Jae.

Sim Chung menggigil kedinginan, dan Joon Jae membawanya ke hotel tempatnya menginap. Di dalam kamarnya Sim Chung kembali bermain-main. Sim Chung menyalakan dan mematikan listriknya saat Joon Jae sedang mandi. Joon Jae datang sambil mengenakan jubah mandi dan Sim Chung tiba-tiba malu-malu kucing di depannya. Melihat sikapnya, Joon Jae berkata dia bukan tipenya dan jangan pernah memimpikannya.

Para mafia datang ke hotel tempat mereka menginap sehingga mereka secepatnya pergi untuk meloloskan diri. Mereka dikejar oleh para mafia, dan Sim Chung menendang dan memukul mereka bahkan salah satu dari mereka terbang karna pukulannya.

Keduanya kemudian naik sepeda dan  layaknya seperti sebuah kencan ada musik dan gelembung-gelembung sebagai latar. Kemudian beberapa orang berhasil mengejar mereka dengan sepeda, tapi Sim Chung menendang sepeda mereka.

Mereka pergi bersembunyi ke sebuah taman yang berkelok-kelok. Joon Jae menyuruh Sim Chung mengikutinya, tapi diam-diam Sim Chung berbalik dan menghadapi para mafia satu persatu – menendang dan memukul mereka. Sim Chung kemudian memegang  tangan Joon Jae dan menuntunnya menuju jalan keluar.

“Bagaimana kau bisa tahu jalan keluarnya. Kau sudah melakukan yang terbaik, ding dong,” ucap Joon Jae sambil tersenyum.  Joon Jae mengeluarkan satu persatu dedaunan yang menempel di rambutnya, dan kemudian memegang tangannya dan mengajaknya pergi bersama-sama.

Sim Chung menatap Joon Jae dengan tajam, sehingga dia bertanya, “Apa yang sedang kau lihat?” Sim Chung: “Bola matamu. Bersinar. Cantik.”

“Benar. benar. Mataku selalu indah,” ucap Joon Jae yang besar kepala karna pujiannya.

Mereka berbaring di sebuah kamar, dan Sim Chung bertanya apa artinya cinta. Joon Jae berkata cinta sebenarnya berbahaya dan mulai menjelaskan apa maksudnya tapi Sim Chung menyela ucapannya dan mengatakan, “Aku cinta padamu.”

Masih di Spanyol, Joon Jae menepikan mobilnya, dan kemudian menjelaskan tempat-tempat yang bagus yang bisa mereka datangi di Seoul nanti – misalnya restoran khusus, melihat kembang api di Sungai Han. Joon Jae  berkata itu sangat cantik, dan akan menontonnya bersama-sama dengannya.

Sim Chung: “Bersama-sama?” Joon Jae: “Benar. Bersama-sama denganku.”

Sim Chung mengangguk, dan Joon Jae berpesan agar Sim Chung menepati janjinya. Joon Jae: “Mengapa janji dibuat?” Sim Chung: “Untuk ditepati.” “Benar!,” ucap Joon Jae saat mengusap rambutnya.

Kemudian keberadaan mereka ditemukan oleh para mafia. Mereka berlari untuk meloloskan diri tapi para mafia menghujani mereka dengan tembakan, dan mereka malah mendapati jalan buntu karna di depan mereka sebuah laut lepas.

Sim Chung memegang tangan Joon Jae dan melompat ke laut lepas. Joon Jae sama sekali tenggelam, dan suara Sim Chung bernarasi, “Dahulu kala, seorang anak muda mencintai putri duyung. Dia mendengar suara putri duyung. Tapi dia tidak tahu sesuatu yang penting. Putri duyung memiliki sebuah kemampuan khusus. Yaitu melalui sebuah ciuman, dia bisa menghapuskan dirinya dalam ingatan manusia. Dengan cara itu, putri duyung menghapus dirinya sendiri dalam ingatan pria itu dan menghilang seperti gelembung. Kau mungkin tidak akan mengingatku sekarang, Tapi tetap saja…”

Sim Chung berubah menjadi putri duyung untuk menyelamatkannya dan Joon Jae membuka matanya dan melihat bahwa dia adalah putri duyung. Segera setelah menciumnya, kita melihat Sim Chung menghilang dalam ingatan Joon Jae.

Setelah menyelamatkannya, Sim Chung mengenakan gelang gioknya di pergelangan tangan Joon Jae dan berkata bahwa dia akan menepati janjinya dan akan datang padanya. Sim Chung juga berkata ‘Aku mencintaimu’ sebelum berjalan pergi.

Tak lama, Joon Jae terbangun dan dia mendengar suara seseorang berkata , “Aku mencintaimu.” Dia bertanya-tanya pada dirinya sendiri mengapa dia ada disini dan melihat gelang Sim Chung ada di tangannya. Kemudian Sim Chung tampak bersedih setelah melihat pesawat yang ia duga dinaiki Joon Jae terbang kembali ke Seoul.

Di Korea, kita melihat sekilas sosok Dae Young yang berhasil melarikan diri dan menjadi buronan kepolisian saat Joon Jae baru saja tiba di bandara. Setibanya Joon Jae di rumah, Nam Doo bertanya tentang gelangnya dan Joon Jae balik bertanya bagaimana dia bisa tahu.

Nam Doo berkata Joon Jae yang memberitahunya bahwa dia mendapatkannya dari seorang wanita yang ia temui di Spanyol. Dia mencoba untumk mengingat apa yang terjadi di Spanyol, tapi dia tak mengingat apa-apa. Malam itu, Joon Jae bermimpi dia tenggelam dan mendengar suara wanita berkata, “Aku mencintaimu.”  Dia terbangun dan merasakan jantungnya berdetak kencang.

Sementara itu, di tengah laut Sim Chung tiba-tiba muncul dan bertanya pada beberapa nelayan dimana Seoul.

Kemudian, Sim Chung berjalan di pinggir pantai dan bertanya pada beberapa ahjumma apa dia sudah berada di Seoul. Dengan rambut yang  berantakan, kaos yang kebesaran, celana olahraga, sandal yang berbeda warna, dia kemudian berpetualang ke  Seoul.  Dia bertanya-tanya, “Ada begitu banyak orang. Bagaimana saya bisa menemukan Heo Joon Jae?”

Joon Jae datang ke sea world untuk merayakan ulang tahunnya dan Sim Chung juga ada disana, tapi dia berada dalam akuriam dan difoto oleh para pengunjung. Dia melihat Joon Jae di luar akuarim  dan mengikuti langkahnya. Joon Jae berbalik dan melihatnya tapi sama sekali tidak mengenalinya. Sehingga Sim Chung keluar dari air untuk mengikutinya dan dia terpaksa harus berhadapan dengan para pekerja sea world, dan dia tidak sengaja memukul salah satu dari mereka yang terbang ke dalam air karna kekuatannya.

Sementara itu, Nam Doo mengirimkan foto Joon Jae bersama Sim Chung yang dia dapatkan dari pemimpin gereja di Spanyol. Joon Jae mengenali dia adalah wanita yang dia lihat tadi di akurium dan dia kembali.

Mereka bertemu, dan air mata Sim Chung berkaca-kaca saat Joon Jae perlahan menghampirinya.

“Aku tanya padamu? Kutanya sekali lagi. Apa kau mengenalku,” Joon Jae bertanya saat menatapnya, dan mata Sim Chung berkaca-kaca karna air mata. Dua polisi datang, dan Joon Jae memeluk Sim Chung, berpura-pura sebagai pasangan untuk mengeluarkannya dari sana.

Hari telah malam, dan Sim Chung tampak lucu saat berjalan di belakang Joon Jae yang memegangi bajunya. Joon Jae menyelamatkannya saat Sim Chung hampir ditabrak oleh pemain skateboard, dan Sim Chung langsung menatapnya dengan penuh kekaguman, seolah menganggapnya seorang pahlawan.

Kembang apinya mulai, dan Sim Chung segera menutupi tubuh Joon Jae mengatakan bahwa dia akan melindunginya karna mengira suara senjata. Tapi pada akhirnya Sim Chung yang benar-benar ketakutan dan bahkan takut membuka matanya karna berpikir bahwa kembang api itu berbahaya. Joon Jae menyuruhnya membuka matanya dan meyakinkannya bahwa itu hanya kembang api.

Sim Chung terperangah melihat keindahannya, dan Joon Jae bertanya apa ini pertama kalinya dia melihat kembang api. Kemudian Sim Chung teringat saat masih berada di Spanyol bagaimana Joon Jae berkata dia akan membawanya untuk melihat kembang api ketika mereka tiba di Seoul .

Sim Chung mengulurkan tangannya untuk menikmati keindahan kembang api itu bersama Joon Jae.

Saat Joon Jae datang membawa Sim Chung ke rumah, Nam Doo sempat protes, “Hei! Bagaimana bisa kau membawa wanita itu ke rumah? Apa kau sudah gila?” Tapi dia segera menutup rapat mulutnya, saat Sim Chung menoleh. Nam Doo bertanya-tanya apa dia mendengarnya.

Joon Jae menunjukkan kamar loteng sebagai kamar tidurnya, dan  Sim Chung melompat-lompat kegirangan di atas ranjangnya. Tapi dia segera berbaring saat Joon Jae berkata dengan nada suara yang keras dari bawah, “Hei! Saya bisa mendengar semuanya! Apa kau mau ditendang ditengah malam?,” dan kemudian tersenyum tipis.

Saat akan  keluar rumah, Joon Jae begitu terganggu karna Sim Chung terus menempel padanya — dia ke kiri, Sim Chung juga ke kiri.

Setelah Sim Chung keluar dari rumahnya, Joon Jae diam-diam mengikuti Sim Chung dengan GPRS ponselnya dan mendapatinya tengah membagikan selebaran di jalan.

Seorang pria mendekatinya dan meminta nomor telponnya. Tapi Joon Jae yang dari tadi mengawasinya menelpon Sim Chung dan memperingatkan untuk tidak memberikan nomornya pada sembarang orang.  Joon Jae berkata dia hanya perlu mengigitnya jika mereka datang mendekatinya, dan segera Sim Chung memasang wajah sangar untuk menakutinya.

Sim Chung bertanya dia ada dimana. Joon Jae menjawab dia berada di tempat yang sangat jauh, tapi dia malah kedapatan sedang berada di dekatnya.

Sim Chung dengan bahagia berlari menghampirinya dan berbisik di telinganya, “Heo Joon Jae, saya sedang mengumpulkan banyak uang disini. Jika saya menghasilkan banyak uang, saya akan memberikan semua padamu.”

Sim Chung berbaring di ranjangnya sambil teringat peringatan yang diberikan oleh Jung Hoon bahwa dia tidak seharusnya mengikuti orang yang dicintainya ke daratan. Jung Hoon menjelaskan bahwa ketika putri duyung meninggalkan air dan datang ke daratan, jantungnya mulai mengeras, dan cara agar dia akan terus bernafas dan jantungnya terus berdetak adalah pria yang ditaksirnya harus mencintainya dan dengan demikian jantungnya akan mengatasi panas.

Dia turun dari kamar lotengnya untuk berbicara dengan Joon Jae. Sim Chung berkata ada sesuatu yang sangat mendesak yang membuatnya penasaran. “Kapan kau akan mulai menyukaiku?,” tanya Sim Chung.

Sim Chung tahu sekarang Joon Jae belum menyukainya, dan dengan agak ragu bertanya kedepannya apa dia mempunyai rencana untuk mencintainya.  Joon Jae berkata tanpa berpikir bahwa dia tidak punya rencana, tapi Sim Chung berkata dia akan akan memberinya beberapa waktu lagi.

“Jika kau memberikannya padaku, apa saya harus menerimanya,” tanya Joon Jae. “Apa kau berpikir ketika menyangkut menyukai seseorang, jika kau memberikan mereka beberapa hari akan terjadi sebuah keajaiban? Apa itu sangat mudah? Itu adalah hal tersulit di dunia.”

Sim Chung berkata, “Itu tidak benar. Saya menemukan bahwa mencintai seseorang adalah hal termudah. Bahkan ketika saya mencoba sekeras mungkin untuk tidak mencintai, saya mendapati sulit untuk tidak mencintai.”

Sebelum kembali ke kamar lotengnya, Sim Chung meminta Joon Jae untuk memberitahunya jika dia telah berencana untuk menyukainya.

Saat salju pertama turun di Seoul, Sim Chung dan Joon Jae bersiap-siap datang ke Namsam Tower untuk bertemu. Mobil yang dikendarai Joon Jae lebih dulu sampai, dan dia tidak melihat saat Sim Chung baru saja tiba di depan pintu masuk. Dia berdiri di tengah jalan sambil memandangi Namsam Tower, tapi tiba-tiba saja mobil Chi Hyun menabraknya.

Saat terbaring di ruangan UGD, jantung Sim Chung tiba-tiba berhenti berdetak. Joon Jae begitu terpukul. Dia memegang erat tangan Sim Chung, dan begitu ajaibnya Sim Chung kembali hidup. Sim Chung memandang Joon Jae dan berkata, “Saya bermimpi.”

Joon Jae mengajak Chi Hyun berbicara empat mata, dan bertanya untuk mengkonfirmasi apa dia yang telah menabrak Sim Chung. Chi Hyun meminta Joon Jae menggunakan kata yang sopan karna dia adalah kakaknya, tapi Joon Jae berkata berhenti bersikap seolah-olah mereka adalah keluarga.

Chi Hyun menjelaskan bahwa Sim Chung tiba-tiba berdiri di depan mobilnya, dan itu hanya sebuah kecelakaan. Kata terakhir Chi Hyun membuat Joon Jae kembali terkenang dengan masa lalunya saat mereka masih tinggal serumah.

Flashback: Chi Hyun meyakinkan ayahnya bahwa itu hanya sebuah kecelakaan saat memecahkan pigura foto Joon Jae di kamarnya. Dia berusaha menjelaskan pada ayah mereka bahwa dia tidak sengaja menjatuhkannya, namun Joon Jae tahu dia hanya berbohong.

Saat ayah mereka keluar dari kamarnya, Chi Hyun tersenyum seolah meledeknya, dan hal itu membuat amarah Joon Jae memuncak sehingga memukulnya berkali-kali.

Kembali ke masa sekarang: Joon Jae berkata tidak ada yang  yang namanya kecelakaan baginya. Joon Jae memegang lengan Chi Hyun saat akan pergi, dan bertanya apa dia mengikutinya. Dia hanya diam, dan Joon Jae menuduh Chi Hyun yang juga  telah mengikutinya belum lama ini: “Atau mungkin ibumu?”

Masih di rawat di rumah sakit, Sim Chung menelpon Joon Jae dan  bertanya dengan nada suara yang lemas seolah mendramatisir keadaannya, “Apa yang harus kulakukan? Saya harus mengosongkan perutku (untuk sebuah operasi yang mungkin dikakukan)”

Setelah menutup telponnya, Joon Jae menelpon pihak rumah sakit dan komplain tentang keadan yang sedang dialami Sim Chung yang harus mengosongkan perutnya demi sebuah operasi. Dia berusaha meyakinkan mereka bahwa kondisi pasien telah stabil dan kakinya tidak berdarah lagi. Dengan nada yang meluap-luap dia protes, dan akhirnya permintaannya disetujui.

Keesokan harinya, Joon Jae diam-diam datang ke rumah sakit, dan mengintip dari balik pintu bagaimana akhirnya Sim Chung bisa menyantap makanan kesukaannya. Dia tersenyum tipis memandanginya, sampai dia bertanya-tanya pada dirinya sendiri, “Apa sekarang kau merasa bahagia? Jangan lakukan itu.”

Sim Chung menelpon Joon Jae  dan memberitahukan bahwa dia baru saja telah menerima makanannya, tapi ditelpon Joon Jae berkata dia sibuk dan menutup telponnya.

Joon Jae mengajak Sim Chung ke tempat ski untuk menikmati salju pertama mereka yang sempat tertunda dan mengajarinya bagimana bermain ski. Tapi belum juga selesai  menjelaskan, Sim Chung telah meluncur dengan kencang. Dia kehilangan kendali karna tak tahu bagaimana menghentikannya. “HEO Joon JAE,” teriak Sim Chung.

Joon Jae bergegas menyusulnya. Dia telah berdiri di depannya, merentangkan kedua tangannya untuk menagkap Sim Chung. Mereka terjatuh dan keduanya tertawa saat berbaring di lapangan ski.

Joon Jae kemudian berkata ada sesuatu yang ingin ia konfirmasi. Joon Jae: “Bisakah kau mengatakan kata ini” Sim Chung: “Kata apa?” Joon Jae: “Aku mencintaimu.”

Sim Chung bertanya, “Maka apa kau milikku? Apa kau telah menyerah? Apa kau telah kalah?” Sim Chung lanjut berkata bahwa ketika salju pertama turun dia ingin menyerah terlebih dahulu tapi dia tak menyangka Joon Jae yang mengatakannya terlebih dulu.

Joon Jae bingung dengan sikapnya, dan Sim Chung mengulangi ucapan Joon Jae saat di Spanyol bahwa  jika kau mengatakan kau mencintai seseorang, itu berarti kau menyerah – dan jika kau mengatakan ‘aku mencintaimu’ itu berarti kau milikku, dan itulah yang dimakud dengan cinta.

Karna  telah lupa, Joon Jae bertanya siapa yang telah mengatakan hal omong kosong itu. Sim Chung menjawab ada seseorang, orang yang baik hati.

Joon Jae menjelek-jelekkan dirinya sendiri, memberitahu Sim Chung bahwa orang yang mengatakan itu adalah seorang yang angkuh dan playboy. Sim Chung kembali menceritakan bahwa ketika hujan pria itu memayunginya dengan payung dan ketika sendirian, dia memegang tangannya.

Joon Jae tertawa kecil dan berkomentar bahwa pria itu melakukannya agar dia jatuh cinta padanya.

Dia kemudian meminta Sim Chung untuk tidak menyalah artikan ucapannya barusan. Lidahnya agak keselip sehingga tidak menyebutkan katanya dengan benar, tapi malah menyebutkan ‘luv ya.’ Joon Jae berkata bahwa bukan berarti dia benar-benar mencintainya, tapi dia hanya ingin mengkonfirmasi sesuatu.

Tiba-tiba saja Sim Chung berkata, “aku mencintaimu,” dan sepertinya membuat Joon Jae terperangah.

Joon Jae sedang tertidur, dan dia bermimpi saat Dam Ryung mencari-cari Se Hwa yang telah ditangkap oleh Tuan Yang. Sementara itu, di tempat lain Dae Young tiba-tiba terbangun dari tidurnya karna suara guntur.

Joon Jae kemudian datang untuk bertemu dengan sekertaris ayahnya di sebuah  tempat bangunan tua yang telah lama ditinggalkan. Disana, dia tidak menemukan ‘Paman’ sehingga membuatnya bertanya-tanya, namun dia kaget saat ponselnya tiba-tiba-tiba berdering.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*